Penulis: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Filologi pada Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran).
KECANGGIHAN teknologi dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di era Gen Z saat ini, tampaknya sudah tidak terelakan lagi. Apa yang harus dilakukan untuk meredam beragam unsur budaya yang secara tidak langsung menggerogoti karakter dan kepribadian suku bangsa dan bangsa yang ada di Nusantara ini. Tentu saja kita harus mencari cara untuk menghadangnya atau mencari solusinya.
Kiat apa yang harus kita lakukan? Kiat dan strategi apapun untuk meredamnya, salah satunya melalui pembentukan karakter generasi muda, agar memiliki kepribadian yang baik, berkakter, dan melalui pengenalan kembali kearifan lokal budaya dan tinggalan budaya yang mampu memperkokoh kepribadian, baik yang sudah dimiliki oleh generasi muda kita, maupun yang sedang diupayakan pemerintah. Salah satu cara dan solusinya adalah melalui pengenalan kembali karya tinggalan nenek moyang karuhun, yang bersifat religius, berjenis Pupujian dan Nadoman”, yang dikemas lewat manuskrip. Teks naskah Pupujian, sangat bermanfaat dan dapat digunakan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain.
Teks Manuskrip Pupujian, dapat dijadikan sebagai salah satu cara dan wahana membentuk kepribadian dan pembentukan karakter generasi muda khsusnya. Kiprah dimaksud pun dalam upaya ikut serta melestarikan, mengenalkan, dan mengembangkan bahasa Daerah yang tersimpan dalam wujud manuskrip. Apalagi, saat ini, eksistensi Pupujian dan Nadoman tersebut, sudah ‘jarang’ terdengar di beberapa pesantren, mushola, bahkan mesjid., teksnya sudah jarang diperdegarkan, terutama di kota-kota besar. Kalau di desa, Pupujian maupun nadoman tersebut, masih sering terdengar dilantunkan dan disenandungkan oleh anak-anak maupun remaja.
Andai kita cermati, isi teks manuskrip Pupujian mampu mengungkap dan membentuk karakter bangsa. Jika dibiarkan dan tidak segera direvitalisasi dan diungkap isinya, lama kelamaan, baik manuskrip, tradisi, maupun budaya yang terkandung dalam manuskrip Pupujian itu akan musnah ditelan zaman.
Isi Pupujian yang dilantunkan, andai dicermati, disesuaikan dengan perkembangan zaman. Umumnya berupa nasihat, mengajak, menuntun, dan mengingatkan kita terhadap keesaan Tuhan, Sejarah Nabi, silaturahim, patriotisme, kebersamaan, hormat menghormati, tolong menolong, yang berupaya membentuk karakter bangsa serta menjungjung tinggi nilai-nilai religius. Semua itu, sangat berguna bagi pendidikan moral, ketaatan, ketakwaan, kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, keimanan, keislaman, keikhsanan, dalam upaya perkembangan akhlak generasi penerus bangsa dan negara kesatuan RI, yang aman, damai, tentram, sejahtera dan adil, serta beradab berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Pembentukan karakter sebenarnya saling berkaitan dengan yang disebut ‘Pancawaluya”, yang sekarang sedang disosialisasikan oleh pemerintah Jawa Barat kepada anak-anak sekolah, mulai dari TK, Sekolah Dasar, maupun Sekolah Menengah. Karakter dimaknai sebagai akhlak. Karakter seseorang dalam proses perkembangan dan pembentukannya, sebenarnya dipengaruhi oleh dua faktor, lingkungan (nurture) dan faktor bawaan (nature). Tinjauan teoretis perilaku berkarakter secara psikologis merupakan perwujudan dari potensi Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quentient (EQ), Spritual Quotient (SQ) dan Adverse Quotient (AQ) yang dimiliki oleh seseorang. (Nur, dalam Sumarlina, 2024).
Terkait Pancawaluya, yang meliputi cageur, bageur, bener, pinter, dan singer, sebenarnya sejalan dengan penjelasan yang penulis sampaikan sebelumnya. Bageur diartikan orang yang suka memberi, baik perilakunya, dan tidak nakal. Kesalehan sosial sangat diperlukan oleh siapapun, karena ini berhubungan dengan Emotionaility Ability/EQ. Istilah Bener ‘benar’, tidak salah, sungguh-sungguh. Siapapun harus lurus dan menjungjung tinggi kebenaran, memiliki sifat jujur, baik dalam perkataan, pemikiran, maupun perbuatan agar dipercaya oleh orang lain, sehingga terjalin kesepahaman yang harmonis. Adanya kesepahaman antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Apa yang dilihat, dan didengar harus sesuai dengan apa yang diucapkan, selaras dengan Moral Ability atau SQ.
Pinter ‘pintar’/pandai, berpengetahuan, mampu bekerja, mudah mengerti. Pemimpin harus memiliki berbagai macam pengetahuan dan berwawasan tinggi. Seorang pemimpin selain pinter ‘cerdas’ juga harus memiliki keseimbangan rasa dalam bertindak, menyangkut Intelectual Ability (IQ). Sementara itu, Singer yang berarti ‘trampil, gesit, cekatan’, ‘rapekan’ , segala bisa, multi talenta dan pro aktif. Selama hidupnya tetap berkarya. Keinginannya untuk berkarya dengan kualitas unggul dan terbaik, berkenaan dengan Personal Abality (PQ) (Sumarlina, 2025).
Andai dicermati. pembentukan karakter merupakan tujuan dari pendidikan Nasional. Hal ini sesuai dengan Pasal I, Undang-undang Sidiknas, tahun 2003. Dinyatakan bahwa tujuan pendiknas adalah, mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Terbentuknya karakter pada seseorang akan memberikan dampak bagi dirinya. Karakter seseorang akan memberi pengaruh besar bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Karena itulah pembentukan karakter merupakan sesuatu yang sangat diperlukan untuk membentuk generasi yang semakin baik dari masa ke masa. Teks manuskrip Pupujian, sebagian besar ada keterjalinan dengan Kitab Kuning terkait dengan pembentuk karakter dan kepribadian bangsa, yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan. (****
