PADA suatu malam di awal Januari 2025, saya sempat merenung yang cukup lama, sekitar hampir 2 jam. Dalam perenungan itu, koq tiba tiba muncul pikiran “Kenapa sih Pak Jokowi saat menjabat Presiden Ke-7 itu bersikeras membangun kawasan Ibukota Nusantara (IKN) di Kalimantan (Timur) ? Kenapa harus jauh jauh ke Kalimantan ? Apakah karena di Pulau Jawa itu sempit dan sudah padat penduduk ? Kenapa tidak di Pulau Sumatera, misalkan Lampung, yang letaknya dekat dengan Jakarta ?” dan berbagai pertanyaan lain menggelayut di benak
Dalam keadaan pikiran yang penuh sejuta pertanyaan tersebut, tiba tiba muncul sosok almarhum ayah, karena pada tahun 1982 saat itu saya masih duduk di bangku kelas satu SMP pernah bercerita tentang Jakarta dan Ibukota. Apa yang dikatakan ayah saya, hanyalah sebuah cerita atau dongeng sebelum tidur, karena Jakarta di tahun 1982 itu tidak seramai tahun 2025 dengan gedung gedung (termasuk hotel) pencakar langit maupun bertebaran di setiap sudut jalan.
Pikiran sederhana seorang bocah ingusan, bahwa ayah bercerita Jakarta, mungkin beliau pernah berkunjung ke ibukota dan pernah pula satu kali mengajak saya ketika masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Itu saja.
Namun pikiran saya saat ini berkata, koq ayah bicara Jakarta dan masa depan yang belum tentu dialaminya ? Bahkan, beliau mengatakan bahwa Ibukota Negara (maksudnya DKI Jakarta) sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia akan dipindahkan (walaupun tidak menyebutkan dipindahkan kemana, hanya menyebutkan ke luar Pulau Jawa). Barulah saya sadar, ketika Presiden Pak Jokowi membangun pusat pemerintahan Indonesia di Ibukota Nusantara (IKN) Kalimantan (Timur) mencakup 3 kabupaten, tepatnya yang menjadi pusat pemerintahannya di Paser Penajam Utara, Kalimantan Timur. Adapun tujuan dibangunnya Ibu Kota Nusantara untuk mencapai target Indonesia sebagai negara maju, sesuai Visi Indonesia 2045. Dibangun dengan identitas nasional, IKN akan mengubah orientasi pembangunan menjadi Indonesia-sentris, serta mempercepat Transformasi Ekonomi Indonesia.
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Basuki Hadimuljono “Kita ingin mewujudkan kota cerdas dan modern berstandar internasional, menjadikan ikon urban desain sebagai representasi kemajuan bangsa yang unggul.” Hal ini disampaikan dalam Kuliah Umum Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 Agustus 2019.
Kembali ke obrolan almarhum ayah saya, yang menyebutkan bahwa Ibukota Negara akan dipindahkan, dan terbukti benar adanya saat pemerintahan Presiden Joko Widodo. Almarhum ayah pun memberikan alasan dipindahkannya ibukota Indonesia itu, bahwa kelak (Entah aku sendiri akan menyaksikan prediksi almarhum ayah atau tidak) DKI Jakarta itu akan dilanda bencana alam dahyat, yakni ”bumi” (maksudnya wilayah) Jakarta akan ”amblas” ketika terjadi gempa bumi. Benarkah ? Entahlah….!!! Itu hanya dongeng sebelum tidur. Kenapa bisa ”amblas” ketika gempa bumi ? Kata almarhum, karena dibawah tanah Jakarta itu sudah ”gorowong” keropos/ berlubang (seperti terowongan) akibat banyaknya sumur bor / arteis yang setiap detik menyedot air dengan kedalaman ratusan meter oleh gedung gedung/ hotel hotel pencakar langit, pabrik pabrik besar dll.
Pada tahun 1982, (sekali lagi) ketika almarhum bicara kondisi DKI Jakarta, tidak seramai tahun 2025 dengan gedung/ hotel hotel pencakar langit, pabrik pabrik besar dll yang menggunakan sumur bor/ arteis ratusan meter untuk menyedot air. Bahkan pada tahun 1980-an itu, penggunaan sumur bor untuk rumahan saja masih belum ada lho…! Karena penggunaan listrik masih sangat sedikit.
Namun,almarhum ayah sudah menyebutkan bahwa tanah/bumi di Jakarta akan ”gorowong” keropos/ berlubang akibat banyaknya sumur bor / arteis .Dengan entengnya, beliau berkata ”Jika kondisi di dalam tanah itu sudah keropos, ketika terjadi gempa bumi, maka permukaan tanah di Jakarta akan amblas akibat terlalu berat menahan beban bangunan pencakar langit (gedung gedung perkantoran, rumah, hotel dll). Tak terkecuali yang berdekatan dengan Istana Negara tentunya…..!!! Ketika bumi/tanah amblas, karena Jakarta itu dekat dengan laut, maka…..air laut itu akan memperparah kondisi bencana alam yang menimba DKI Jakarta ??!!! Jika prediksi almarhum ayahanda itu TERJADI, sungguh sangat mengerikan……!!!
Pemindahan IKN Gagasan Presiden Soekarno ?
Rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, memang nyata adanya. Ini digagas sejak tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo, pembangunan IKN Nusantara dimulai pertengahan tahun 2022. Menurut Jokowi, proses pemindahan ibu kota akan dilakukan secara bertahap, dimulai pada 2024 dan telah diresmikan. Pada tahun tersebut, kemungkinan yang lebih dahulu pindah adalah istana negara dan sejumlah kementerian. Jokowi pun memperkirakan, proses perpindahan ke ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur akan memakan waktu hingga 20 tahun
Rupanya, gagasan pemindahan ibu kota negara tak sepenuhnya lahir di era Jokowi. Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto lebih dulu mengusulkan wacana tersebut. Hanya saja, ide itu tak terealisasi karena sejumlah alasan. “Ini sudah dimulai gagasan besar ini sejak tahun 1957 oleh Bung Karno. Tetapi karena ada pergolakan, sehingga direm oleh Bung Karno,” kata Jokowi saat memberikan sambutan pada Rapim TNI-Polri 2022 di Mabes TNI, Jakarta, Selasa (1/3/2022).
Tak terwujud di era Soekarno, rencana pemindahan ibu kota negara berlanjut di rezim Soeharto. Namun, rencana itu lagi-lagi gagal karena adanya pergolakan di tahun 1997-1998. Pemindahan ibu kota negara sebenarnya pernah dilakukan di era Soekarno. Kala itu, 4 Januari 1946, ibu kota dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan tersebut merespons situasi genting jelang Agresi Militer Belanda.Situasi baru dinilai aman tiga tahun setelahnya atau 27 Desember 1949. Saat itulah ibu kota negara dikembalikan ke Jakarta. Tahun 1950-an, gagasan pemindahan ibu kota negara kembali dimunculkan Soekarno. Ide ini lahir lantaran Bung Karno merasa perlu membagi beban Jakarta yang sejak dulu menjadi daya tarik warga Indonesia.
Sebagaimana diberitakan Harian Kompas edisi 25 Januari 1997, Soekarno mempunyai visi bahwa sebaiknya ibu kota baru berada di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur. Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjadi salah satu kota yang diincar Soekarno. Pada 17 April 1957, Soekarno meletakkan batu pertama di kota tersebut sebagai “sister city” Jakarta. Beberapa kontraktor dari Rusia bahkan sudah datang ke Palangkaraya dan membangun jalan besar menuju Kotawaringin.
Namun demikian, Soekarno sejatinya tak berencana secara langsung memindahkan ibu kota. Peran Palangkaraya hanya berbagi beban terhadap kebutuhan daya tampung Jakarta. Gagasan tinggallah gagasan. Sebagaimana yang disampaikan Jokowi, niat Soekarno itu tak terwujud karena adanya pergolakan politik. Hingga akhirnya presiden pertama RI itu turun tahta dan digantikan Soeharto.
Pada 15 Januari 1997 Soeharto bahkan sempat menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 1997. Keppres tentang Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol sebagai Kota Mandiri itu disebut-sebut sebagai landasan hukum awal rencana pemindahan ibu kota. Namun, tak lama setelah Keppres tersebut terbit, terjadi pergolakan besar-besaran. Peristiwa ini memaksa Soeharto meninggalkan kursi RI-1 pada 21 Mei 1998 setelah 32 tahun berkuasa.
Presiden Jokowi Wujudkan IKN
Gagasan pemindahan ibu kota negara kembali diusung Presiden Jokowi. Jokowi mengatakan, kajian soal pemindahan ibu kota negara sudah dilakukan sejak lama. Namun, perlu keberanian untuk mengeksekusinya. “Kalau tidak kita eksekusi kajian-kajian yang ada ini, ya sampai kapan pun tidak akan terjadi. Memang butuh keberanian, ada risikonya dari situ, tapi kita tahu kita ingin pemerataan bukan Jawa-sentris tapi Indonesia-sentris,” ujarnya. Ada sejumlah alasan yang mendasari pemerintahan Jokowi memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara. Mulai dari pemerataan ekonomi hingga populasi.
Jokowi mengungkap, saat ini, 58 persen produk domestik bruto (PDB) ekonomi atau perputaran uang ada di Pulau Jawa. Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Masyarakat berbondong-bondong ingin tinggal di Pulau Jawa, khususnya Jakarta, karena daya tarik ekonominya yang tinggi. Harapannya, memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dapat menjadi magnet baru ekonomi, sehingga perputaran uang tidak hanya berpusat di Jakarta atau Pulau Jawa saja.”Bukan sekadar pindahkan gedung dari Jakarta, bukan itu, visi besarnya bukan di situ. Kalau magnetnya tidak hanya Jakarta, ada Nusantara, magnetnya ada dua bisa ke sana, bisa ke sini. Artinya perputaran ekonomi tidak hanya di Jawa,” ucap Jokowi.
Selain itu, pemindahan ibu kota negara didasari dari tidak meratanya populasi penduduk Indonesia. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengungkap, 56 persen atau 156 juta penduduk RI berkutat di Pulau Jawa. Oleh karenanya, supaya tidak terjadi ketimpangan ekonomi, infrastruktur, dan populasi, presiden ingin pembangunan ibu kota baru segera dieksekusi. “Kita putuskan yang namanya ibu kota negara baru namanya Nusantara dan itu juga sudah secara politik ketatanegaraan sudah disetujui 8 fraksi dari 9 fraksi di DPR,” kata dia.
Jokowi telah menandatangani Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang IKN. Aturan turunan dari UU tersebut juga terus dikebut pemerintah.
Apresiasi Warga Kalimantan
Jadi jelaslah, bahwa pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke luar Pulau Jawa (tepatnya ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur) bukan gagasan Presiden Jokowi, sehingga tidak harus ”nyinyir” menyalahkan beliau karena ambisinya. Itu salah besar….!!! Pak Jokowi lah yang telah mewujudkan keinginan besar Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto yang alasannya jelas seperti dijelaskan di bagian atas.
Kembali ke almarhum ayahanda. Beliau tidak mungkin tahu alasan alasan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto maupun Presiden Joko Widodo, karena beliau hanyalah rakyat jelata yang berpendidikan hanya SR (sekolah rakyat, kalau sekarang sekolah dasar). Itu pun hanya sampai kelas 3 SR. Saya sendiri heran, kenapa ayah bilang bahwa Jakarta akan amblas akibat bencana alam gempa bumi, dan menyebutkan ibukota negara akan pindah ke luar Pulau Jawa. Apakah Presiden Soekarno,Presiden Soeharto dan Presiden Jokowi satu pemikiran dengan almarhum ayahanda, bahwa pemindahan ibukota negara karena kelak akan terjadi bencana alam dahyat berupa gempa bumi yang melanda Jakarta ? Walahualam bi sowab.
Saya menulis kisah ini bukan hendak apa apa. Ada kepenasaran dan ingin membuktikan ucapan almarhum ayahanda yang selama ini benar adanya. Padahal, almarhum itu orang biasa biasa, sekolah hanya sampai kelas 3 SR dan ikut pesantren juga jadi santri kolong yang hanya ngaji selama 2 tahun. Beliau berasal dari keluarga kurang mampu meskipun ayahnya seorang guru ngaji di mushola. Almarhum ayahanda itu orangnya pendiam dan kalah oleh almarhumah istrinya yang tak lain ibunda saya. Almarhum tidak pernah melawan meskipun dimarahi almarhumah.Cukup diam dan atau pergi meninggalkan istrinya jika sedang marah.,Namun, jujur saja, apa yang diucapkan almarhum ayahanda selalu benar dan tepat sekali. Pekerjaan sehariannya saja serabutan, meski masih mudanya sempat menjadi Bos Tukang Kridit di Langensari Kab.Ciamis (sekarang masuk wilayah Kota Banjar) dengan 40 karyawan.
Dalam benak saya saat ini yang berusia 57 tahun (lahir 19 Juni 1968 – 19 Juni 2025) bertanya tanya, apakah ucapan/prediksi atau apa namanya yang diungkapkan almarhum ayahanda akan terjadi bahwa Jakarta akan dilanda bencana alam besar akibat gempa bumi sehingga wilayahnya amblas ? Apakah akan menyaksikan sendiri atau keburu maut menjemput saya ? Kalau pemindahan ibukota negara (IKN) sudah saya saksikan sendiri dan kini berada di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Pada bulan Juni 2024, saya sempat melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pontianak Kalimantan Barat, dan nginap di sebuah hotel di Kota Kubu Raya. Itu sih hanya transit saja sehingga hanya sehari. Karena tujuan utamanya Kota Samarinda Kalimantan Timur. Itu sebabnya, perjalanan dari Pontianak gunakan pesawat di Bandar Udara Supadio menuju Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda pakai kendaraan darat (mobil carteran) melewati jalan tol yang ternyata menuju Penajam Paser Utara, dimana Ibukota Negara Nusantara berada.
Selama perjalanan Balikpapan-Samarinda itu, penulis banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan sejumlah masyarakat, dan mereka umumnya menyambut antusias IKN pindah dari Jakarta ke Kalimantan Timur dan memuji keberanian Presiden Jokowi membuka hutan belantara menjadi jalan tol dan bahkan ”membangun” Kota Metropolitan, sehingga tak mengherankan sebagian besar mendukung Pak Jokowi. Tak mengherankan, ketika Jokowi mendukung Prabowo Subianto,masyarakat Kalimantan umumnya dan Kalimantan Timur khususnya sangat mendukung agar ”IKN Terwujud” Kota Metropolitan berada di sana
”Pak Jokowi itu Presiden Indonesia paling berani, karena dapat membuka lahan hutan belantara menjadi jalan tol, membangun insfrastruktur terutama di kawasan Ibukota Nusantara, membangun Kota Megapolitan, bukan Metropolitan lagi. Pak Jokowi mampu menjadikan orang desa menjadi orang kota dalam hitungan tahun saja.Kami masyarakat miskin yang tertinggal menjadi masyarakat kota yang penuh harapan,”ungkap seorang warga Balikpapan.
Hal senada diungkapkan warga lain. Dia mengaku, ketika masih hutan belantara dan insfrastruktur jalan masih sangat rusak, harga bensin per liternya sangat mahal dan kini hanya beda seribu rupiah dengan harga di Pulau Jawa. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda yang sebelumnya harus melintasi hujan dengan kondisi jalan yang rusak, kini hanya butuh waktu yang sangat cepat, terlebih sudah adanya jalan tol. “Harga kebutuhan sembako saja, kini jauh lebih murah,”ungkapnya.
Kota Samarinda merupakan kota sekaligus ibu kota provinsi dari Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini juga merupakan kota dengan penduduk terbesar di Pulau Kalimantan. Kalau kelak Ibukota Nusantara terwujud, maka Kota Samarinda ini akan semakin ramai, karena jaraknya tidak begitu jauh.
Galunggung Meletus
Selain ucapan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, ucapan/prediksi almarhum ayahanda yang terbukti dan saya saksikan sendiri dengan mata kepala sendiri. Ada banyak “kejadian” yang terbukti .Beberapa di antaranya sebagai berikut:
Pada tahun 1976 saya masuk SD ketika berusia 8 tahun /Tahun 1980 berusia 12 tahun (kelas 4). Usia 12 tahun, tentu belum tahu apa apa soal hidup dan kehidupan. Namun, almarhum ayah selalu bicara masalah masa depan dan lainnya, terutama situasi dan kondisi alam. Saya cuma mendengar sepintas pintas saja, terutama kalau ayah bicara sama orang lain (orang dewasa) atau istrinya atau ibu saya.
•Pada awal tahun 1982 (saat itu saya kelas 6 sekolah dasar), ayah bilang bahwa Gunung Galunggung akan “MELETUS”….Koq meletus, bukankan Gunung Galunggung bukan gunung berapi seperti yang saya baca di buku geografi ? “Debu Galunggung bisa sampai ke luar negeri” katanya. Apa yang diucapkan ayah ke tetangga (dan bahkan ke almarhum ibu saya), malah ditertawain, tapi beliau cuek saja. Ibu saya malah melarang menyebarluaskan ke masyarakat atau tetangga (meski saat itu jumlah warga kampung belum begitu banyak).
•Pada 1 April 1982, pagi pagi sebelum berangkat bekerja, ayah sempat bicara kepada kami.”Tadi malam sekitaran jam 12, bapak mau ambil wudhu ke Tampian (tempat mandi,BAB/wudhu terbuat dari bambu yang biasa di atas kolam dan kebetulan berada di pinggir Sungai Cigede aliran dari Sungai Ciloseh) melihat segerombolan Binatang (harimau, monyet, ular, babi hutan, banteng dll) lari terbirit-birit kea rah timur mengikuti aliran Sungai Ciloseh kemudian aliran Sungai Cigede. Segerombolan binatang itu seperti ketakutan dan tidak melirik kekiri-kekanan. Naluri binatang jauh lebih peka dibanding manusia. Gerombolan binatang itu seperti berasal dari Gunung Galunggung,apakah mereka ketakutan dan mengungsi, karena gunung mau meletus ? ” ungkap ayah. Lagi lagi ibu saya bilang, mungkin itu hanya BAYANGAN saja.
•Pada 2 April 1982, ayah meminta kami untuk membundel/membungkus seluruh pakaian dengan kain sarung/samping. Kalau mau ngungsi, cukup melangkah 1 langkah yakni ke mushola yang jaraknya hanya 2 meter dari rumah kontrakan. Kebetulan rumah kontrakan itu sudah lapuk dan atap/gentengnya sudah pada bocor, sehingga khawatir ambruk…..!!!! Kali ini, ibu saya meng-IYA-kan omongan ayah. “Semalam setelah tawasul dan ketiduran, mimih (panggilan sendiri ibu saya), bermimpi didatangi Eyang Kuncung Putih dan memberitahukan bahwa Gunung Galunggung akan meletus pada minggu minggu ini.”katanya.
•Pada 3-4 April 1982, cuaca cukup panas, badan terasa gerah. Pada 4 April 1982 (malam hari sekitar jam 10-an), terasa ada getaran gempa dan percik api di arah barat atau atas Gunung Galunggung.Kata ayah, yang Meletus itu bukan Gunung Galunggung,tapi Gunung Jadi (anaknya Gunung Galunggung).
•Pada 5 April 1982, Gunung Ganggung benar benar meletus dahsyat, debunya sampai ke luar negeri (Singapura, Malaysia dan Australia).
Jalan Kereta Api
Beberapa bulan Gunung Galunggung meletus, almarhum ayahanda pun sempat bicara ke saya, bahwa nanti akan ada ”jalan kereta api” yang menuju ke Sukaratu berada di kaki Gunung Galunggung, yang kondisinya rusak akibat tertimbun lahar dan larva dari letusan gunung. Bahkan, bakal ada lapangan udara (kemudian beliau bilang bahwa pasir Galunggung akan digunakan untuk membangun bandar udara dan ternyata benar untuk Bandara Soekarno Hatta karena material pasirnya dari Galunggung).
Dalam hati, saya hanya berucap “Apa mungkin akan ada rel kereta api ke Sukaratu ? Untuk apa fungsinya jalan kereta api ke kaki Gunung Galunggung yang baru saja meletus ?” dan pertanyaan lainnya.
Jujur saja, saya yang masih kecil tidak bisa membayangkan, akan ada rel kereta api yang menuju Sukaratu di kaki Gunung Galunggung yang beberapa bulan meletus sangat dahsyat. Kondisi wilayah perkampungan-desa yang tertimbun lahar dan larva panas dari Gulung Galunggung membutuhkan perbaikan sekian tahun saat itu.
Pasir Galunggung
Namun demikian, ternyata pasir dari letusan Gunung Galunggung itu ternyata multi manfaat, karena dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan insfrastuktur di Jakarta karena kualitasnya sangat bagus. Ratusan dum truk warna kuning setiap harinya mengangkut pasir Galunggung dari wilayah Kemantren (sebelum jadi Kecamatan) Sukaratu diangkut ke Jakarta. Ratusan truk pengangkut pasir Galunggung ke Bandung maupun Jabodetabek, terutama katanya, untuk membangun Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang. Konon katanya, ratusan truk pengangkut pasir Galunggung itu dikelola Bapindo, miliknya Mbak Tutut putrinya Presiden Soeharto.
Karena tiap hari ratusan truk pengangkut pasir Galunggung (dimana bobot tiap truknya cukup berat mengangkut pasir basah) mengakibatkan kondisi jalan raya Tasikmalaya – Bandung – Jakarta – Tangerang bagian kirinya menjadi miring dan rusak. Surat kabar harian nasional pun memberitakan kondisi jalan rusak akibat dilalui ratusan truk pasir Galunggung tiap hari.
Dalam hitungan bulan, ternyata pemerintah melalui Bapindo berinisiatif membangun “Jalan Kereta Api” dari Babakan Jawa Kec.Indihiang menuju halte putus di Kampung Pirusa Desa Budersari Kec.Sukaratu. Puluhan gerbong kereta api mengangkut pasir Galunggung menggantikan ratusan truk yang merusak jalan Tasikmalaya-Tangerang.
Almarhum ayahanda pun berucap,”Inilah jalan kereta api yang bapak ucapkan tempo hari,”katanya.
Saya hanya menganggukan kepala yang tidak begitu mengerti.
Jalan kereta api pengangkut pasir Galunggung itu melewati rumah kami yang hanya sekian puluh meter. Walau kemudian, jalan kereta api itu pun akhirnya tidak berfungsi, karena pasir Galunggung sudah digunakan untuk pembangunan Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang yang selesai. Dan entah kenapa/apa alasan Bapindo yang menghentikan pengangkutan pasir Galunggung, yang pada akhirnya rel kereta api dari Babakan Jawa ke Pirusa Sukaratu itu berhenti, tidak melakukan aktivitas lagi. Saat itu saya tidak mengerti apa-apa.
Presiden Soeharto Ke Tasikmalaya
Pada awal Januari 1988, saat itu saya sudah beranjak dewasa karena menjelang berusia 20 tahun (19 Juni 1968-19 Juni 1988), dan pada usia itu saya sudah mulai terjun ke dunia tulis menulis/jurnalistik (10 Oktober 1987).Saya berprofesi sebagai penulis meskipun banyak orang yang menyebut sebagai wartawan freelance. Entahlah, bagi saya tidak penting, karena yang penting mendapatkan cuan dari berita berita yang dikirimkan ke berbagai media cetak saat itu/
Nah, selama itu almarhum ayahanda sering bercerita dan berkata, kalau Presiden Indonesia pertama Ir Soekarno seringkali berkunjung ke Tasikmalaya dan Ciamis. ”Pak Karno sering ke Tasikmalaya, terutama ke Gunung Galunggung, untuk menenangkan pikiran.”ungkapnya. Benar-tidaknya, saya tidak tahu, hanya itu cerita almarhum meskipun almarhum ayahanda tidak pernah bertemu Ir Soeharno jika berkunjung ke Tasikmalaya.
Kecuali itu, almarhum ayahanda sempat menyaksikan Wakil Presiden RI Dr Mohammad Hatta yang menghadiri Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya pada tanggal 12 Juli 1947 dan hari pergerakan itu ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.Sekaligus, membentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya. Lalu kita mengenal Moh. Hatta sebagai bapak koperasi. ”Pada waktu itu, bapak masih usia remaja,”katanya.
Walaupun Presiden Seokarno sering ke Tasikmalaya, kata almarhum ayahanda, tetapi Presiden RI kedua Soeharto belum pernah sekalipun berkunjung. Entah kenapa dan entah apa alasannya.Tapi bapak yakin, kalau Presiden Soeharto pada suatu saat akan berkunjung ke Tasikmalaya.”Kalau sudah waktunya, Pak Harto juga akan berkunjung ke Tasikmalaya, tapi entah kapan…..”tuturnya pada suatu hari.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya awal November 1994, saya mendapat kabar dari orang Bagian Humas Setda Kabupaten Tasikmalaya bahwa Presiden Soeharto bakal menghadiri acara Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna pimpinan KH Mohammad Ilyas Ruhiat yang akan diselenggarakan 1-5 Desember 1994. Ternyata benar ucapan almarhum ayahanda, bahwa Presiden Soeharto hadir di acara Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Cipasung.
Jujur saja, karena saya ini hanyalah penulis atau wartawan freelancer, maka saya tidak punya identitas resmi untuk dapat meliput kunjungan Presiden Soeharto Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna. Bahkan, wartawan yang bertugas di Kabupaten Tasikmalaya (saat itu wartawan di Tasikmalaya hanya ada sekitar 21 orang saja) tidak bisa masuk arena muhtamar, karena sudah adanya ”wartawan istana” yang bertugas di Istana Negara dan mendampingi Presiden Soeharto setiap saat.
Saya putar otak, bagaimana caranya bisa masuk ke arena Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Cipasung yang super ketat tanpa identitas (ID Card) yang khusus dikeluarkan panitia muhtamar maupun biro humas kepresidenan atau mendapat kartu undangan baik sebagai peserta muhtamar dan atau tamu undangan menghadiri kunjungan Presiden Soeharto. Alhamdulillah, saya menemukan jalan keluar, yakni sebagai asisten Dr.KH.Baban Zaenal Arifin,Ph.D yang diundang sebagai tokoh ulama Tasikmalaya, walaupun saya tidak bisa leluasa masuk ring satu: mendekati Presiden Soeharto yang pengawalannya super ketat.Presiden Soeharto nampak tersenyum ketika tiba di lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1 Desember 1994. Beliau didampingi Ibu Tien dan sejumlah menteri kabinetnya ketika disambut Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mohammad Ilyas Ruhiat. Rombongannya pun disambut ratusan muktamirin (peserta musyawarah) yang datang dari berbagai pelosok Indonesia.Begitu datang di ruang pertemuan yang besar, Soeharto langsung duduk di kursi paling depan. Anehnya, tak terlihat Ketua Umum PBNU, KH Abdurrahman Wahid, menyambut dan menyalaminya. Gus Dur, begitu sapaan akrab cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, itu malah duduk di kursi belakang barisan ketiga. Soeharto tanpa menoleh dan menyalaminya pula. Gus Dur tahu betul Presiden Soeharto tengah jengkel dengan dirinya. Gus Dur sebelum-sebelumnya memang sering mengkritik kebijakan Soeharto. “Akan ada badai dan laut akan sangat berombak. Dan lebih dari pada sebelumnya, NU akan memerlukan seorang kapten yang berpengalaman,” ucap Gus Dur kala itu seperti diutarakan Greg Barton dalam bukunya Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003).
Muktamar ke-29 NU di Cipasung dianggap paling menegangkan dan panas dalam sejarah NU. Suasana tegang pun terlihat di sekeliling arena muktamar yang dijaga ketat sekitar 1.500 personel tentara dan 100-an intel, serta panser. Aparat keamanan tak berseragam bahkan ada yang menyamar memakai seragam Bantuan Ansor Serbaguna (Banser). Selebihnya memonitor aktivitas para delegasi dalam setiap agenda sidang.“Tahun 1994 lah yang dianggap paling menegangkan dan terpanas di tubuh NU. Muktamar itu merupakan puncak terjadinya kedholiman rezim Orde Baru terhadap NU,” tulis Muhamamd Faizol dalam Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung yang dimuat di laman nu.or.id, 19 September 2016.
Bagi saya saat itu, acara Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna tidaklah penting. Karena yang dianggap penting itu, apa yang diucapkan almarhum ayahanda memang benar, dimana Presiden Soeharto akhirnya bisa berkunjung ke Tasikmalaya.Itu saja…..!!!
Petani Mirip Presiden Soekarno
Walaupun di bagian atas tulisan ini, almarhum ayahanda mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan sosok Presiden Soekarno (kecuali dalam mimpinya—mungkin) selama usia dewasa hingga tua (dan tentu saja Presiden Soekarno wafat). Apalagi almarhum ayahanda berasal dari rakyat jelata yang berada di kampung. Sementara itu, Presiden Soekarno dikabarkan sering ke Tasikmalaya yakni ke pusat kota Sukapura (sekarang berganti nama Tasikmalaya dan kini jadi dua wilayah yakni Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya).
Namun demikian,ayahku sempat bilang, bahwa pada suatu hari sempat bertemu dengan seorang petani yang wajahnya mirip Presiden Soekarno, sedang mencangkul sawah seorang diri. Karena jumlah penduduk pada waktu itu, baik di kampung maupun satu desa, yang tidak banyak. Jadi,ayahku akan mengenal siapa siapa orang kampung tetangga sekampung hingga satu wilayah desa sekalipun luas.Contohnya, Desa Sukamahi yang cukup luas sehingga dimekarkan menjadi 2 desa yakni Desa Sukamahi dan Desa Sukagalih. Ayahkun mengaku, semua warga Desa Sukamahi hapal, karena tiap kampung hanya dihuni oleh beberapa ”suhunan” rumah atau kepala keluarga (KK).Tiap kampung rata rata 5-10 KK saja.
Bahkan, almarhum ayahanda banyak kenal warga masyarakat dari luar desa, misalnya Kampung Ciburuy Desa Sukasukur Kec.Cisayong atau Desa Budeursari dan Desa Sukaratu Kec.Sukaratu.
Nah, suatu hari ayahku yang masih remaja usia 14 tahunan, main ke sebuah kampung yang berada di kaki Gunung Galunggung. Beliau harus jalan kaki pergi pulang sekitar 17 km. Pada saay pulang, sekitar pukul 02.00 WIB siang hari, ayahku melihat seorang petani yang mencangkul di lahan sawah. Seorang diri dengan memakai dudukuy cetok (topi petani yang terbuat dari bambu yang melinggar agak besar biasa digunakan para petani bila ke sawah atau kebon). Ayahku menyapa petani yang sedang mencangkul dengan posisi membungkuk,” Mang macul wae, geus beurang geura mulang….(Paman mencangkul saja, sudah siang, waktunya pulang) ”panggil.
”Iya,nak….” kata si petani yang dipanggil paman.
Ayahku mengaku heran, petani kampung di sana, menjawab pertanyaannya pakai bahasa Indonesia dan logatnya Jawa. Ayahku berhenti,dan si petani itu pun menghampiri, kemudian berjalan tangan. Ketika berjabat tangan itulah, ayahku katanya sempat memperhatikan wajah si petani itu, ”Koq wajahnya mirip Pak Karno,”guman hatinya.
”Geura mulang,mang (Segera pulang, paman)“ kata ayahku
”Iya, sebentar lagi, tanggung tinggal sedkit lagi.”jawabnya
Setelah basa basi,ayahku langsung pulang, dan sepanjang perjalanan bertanya tanya. Apakah orang yang barusan itu., sebenarnya Presiden Soekarno yang sedang menyamar sebagai petani ?
PRESIDEN SOEHARTO LENGSER
”Benarkah ?” saya sempat bertanya hal itu kepada almarhum ayahanda. Bukankah Pak Harto itu “orang super kuat”, Presiden Terkuat Indonesia, sebagai Panglima Tertinggi ABRI (TNI-Red) ,Jenderal Bintang Lima dari TNI AD, masih berkuasa di pemerintahan, dapat menguasai partai politik (Golkar, PDI dan PPP) dari pusat sampai daerah, berkolaborasi dan mendapat dukungan dari konglomerat 9 NAGA (9 orang pengusaha keturunan China) yang menguasai perekonomian Indonesia bersama keluarga Cendana. Powernya sangat kuat. Tak tergoyahkan.
Karenanya, saya sempat tidak percaya kalau Presiden Soeharto “Bisa Lengser atau Dilengserkan” oleh sebuah kekuatan.Siapa yang bakal melengserkan Pak Harto ? Jawaban almarhum ayahanda cukup mengagetkan.”Pak Soeharto dilengserkan oleh rakyat….!!!” katanya.
Koq dilengserkan oleh rakyat ?
Almarhum ayahanda bilang, bahwa apa yang diucapkannya “bocor” (diomongkan ke orang lain), terutama ke pemerintah. Alasannya,karena apa yang beliau ucapkan belum tentu benar adanya.”Bapak ngomong begini,karena sesuai bacaan bathin, petunjuk bathin saja. Bapak sering bermimpi juga bahwasanya Presiden Soeharto akan lengser atau dilengserkan. Kalau soal waktunya, entah tahun kapan, karena Bapak sendiri tidak tahu….!!”ungkapnya
Dan lagi-lagi, ucapan almarhum ayahanda terbukti, karena Presiden Soeharto lengser akibat dilengserkan oleh pergerakan mahasiswa dan rakyat yang menjadi kekuatan besar tersebut .Presiden Indonesia kedua, Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998 setelah runtuhnya dukungan untuk kepresidenannya yang telah berlangsung selama 32 tahun. Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian mengambil alih kursi kepresidenan. Sebelum lengser, adanya pergerakan mahasiswa dan masyarakat yang menimbulkan kerusuhan besar besaran di Jakarta dan sekitarnya, juga merambat ke daerah daerah/kota lainhya. Kerusuhan tersebut dipicu oleh korupsi, masalah ekonomi, termasuk kekurangan pangan dan pengangguran massal. Kerusuhan ini akhirnya berujung pada pengunduran diri Presiden Soeharto dan jatuhnya pemerintahan Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Meningkatnya kerusuhan politik dan kekerasan menggerogoti dukungan politik dan militer yang sebelumnya kuat, yang menyebabkan pengunduran diri Soeharto pada Mei 1998. “Periode Reformasi” pun dimulai di bawah pemerintahan Presiden Habibie yang baru dilantik.
Apa latar belakang jatuhnya rezim Soeharto?
Cengkeraman kekuasaan Suharto melemah setelah krisis ekonomi dan politik yang parah akibat krisis keuangan Asia tahun 1997. Perekonomian mengalami pelarian modal asing, yang menyebabkan penurunan drastis nilai tukar rupiah Indonesia , yang berdampak buruk pada perekonomian dan mata pencaharian masyarakat.Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998. Hal inipun mengakibatkan penurunan jabatan Presiden Soeharto, serta pelantikan B. J. Habibie.
Salah satu penyebab utama dari Tragedi Trisakti adalah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1990-an. Krisis ekonomi ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk kenaikan suku bunga internasional dan spekulasi mata uang asing.Mengapa mahasiswa melakukan demonstrasi pada tahun 1998? Mahasiswa menganggap bahwa kepemimpinan Habibie masih sama dengan Soeharto, salah satunya adalah karena Dwifungsi ABRI masih ada. Ketika Sidang Istimewa MPR berlangsung pada November 1998, masyarakat bergabung dengan mahasiswa melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Ketika terjadi kerusuhan besar hingga melengserkan Presiden Soeharto bulan Mei 1998, kebetulan usia saya 30 tahun dan sudah berumahtangga serta tinggal di Kota Tasikmalaya. Karena itu, saya pun langsung menemui ayahanda yang tinggal di kampung, memang tidak jauh sih.”Pak Harto lengser karena memang sudah waktunya dan garis hidupnya seperti itu. Alam yang bicara,”katanya.
Presiden Setelah Soeharto
Karena penasaran, saya pun bertanya kepada ayahanda, ”Setelah Presiden Soeharto lengser dan atau dilengserkan (almarhum ayahanda menyebutkan lengser karena alam), siapakah penggantinya ? Apakah ada Presiden Soekarno ?”
Ayahanda lengsung menjawab,”Penggantinya Gus Dur (Abdurrahman Wahid) karena keturunan Waliyulloh, tapi sebentar, keburu di-kudeta. Baru kemudian anaknya Pak Karno,”
”Siapakah anaknya Presiden Soeharno: Guntur, Guruh atau Taufan ?”
“Bukan anak laki-laki.tapi anaknya yang perempuan yang paling disayang Pak Karno (ayahanda tidak menyebutkan nama anak perempuan Presiden Soekarno, karena saya sendiri tidak menanyakannya).
Dan ternyata, anak perempuan yang dimaksud almarhum ayahanda adalah Megawati Soekarnoputri, yang memang paling disayang Presiden Soekarno dan terjun ke dunia politik secara total karena sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan. “Itupun tak akan lama menjabat presidennya,”singkatnya
Siapakah penggantinya ?
“Seorang jenderal….”
Apakah Prabowo Subianto yang Kopassus mantan menantunya Presiden Soeharto ?
“Bukan Prabowo, tapi seorang jenderal, bapak tidak tahu namanya….! Kalau Prabowo, jika Alloh memberi umur panjang, beliau akan menjabat Presiden Indonesia.
Walaupun tidak menyebutkan nama jenderal dimaksud, namun kemudian diketahui yang menjadi Presiden Indonesia itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono, seorang jenderal TNI yang menjabat presiden selama dua periode.
Sebelum Pilpres 2014, saya memperlihatkan foto dan nama yang bakal menjadi Presiden Indonesia; mulai dari Prabowo Subianto, Jenderal Wiranto, Yusuf Kalla, Megawati Soekarno Hatta, BJ Habibie,Hamzah Haz, Yusril Ihza Mahendra, pengusaha dan sejumlah nama lainnya. Sederet nama dengan foto yang disodorkan, tidak ada yang dipilih, dan bilang bukan mereka. ”Ini hanya penglihatan bathin bapak saja. Presiden yang akan dipilih rakyat, yakni orang Surakarta (maksudnya Solo), beliau bukan orang TNI dan juga bukan keturunan raja atau keluarga kerajaan. Beliau rakyat biasa sama seperti kita, rakyat jelata. Walau sesungguhnya, beliau ada tetesan darah ningkat dari Kerajaan Mahapahit,”katanya
“Bapak tidak tahu namanya. Badannya tinggi kerempeng. Beliau memiliki keberanian yang luar biasa,ada titisan dari Presiden Soekarno. Beliau berani melawan Amerika dan negara adi kuasa lainnya. Beliau presiden yang hebat dan patut dihormati, karena beliau akan membangun pulau pulau yang tertinggal di luar Pulau Jawa, hingga memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke luar Pulau Jawa,”paparnya.
Nah, ketika hendak pelaksanaan Pilpres 2014, almarhum ayahanda melihat foto Joko Widodo (Jokowi) sebagai kandidat Presiden RI dan langsung menunjuk bahwa ”Inilah orangnya yang akan menjadi Presiden Indonesia paling pemberani yang bapak maksudkan. Bapak melihat dari kaca mata bathin, beliau ini orang jujur, berani, bersih, sopan santun, dicintai rakyat meski banyak dibenci, hidupnya sederhana. Beliau akan banyak dimusuhi oleh orang orang yang iri hati, dengki, jail dan lainnya. Pilihlah beliau, karena beliau yang akan menjadi Presiden Indonesia. Pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia karena dipilih Allah SWT.” jelasnya. (CATATAN: Selama itu, almarhum ayahanda selalu Golput saat melaksanaan Pilpres maupun Pilkada).
“Kalau bisa, Pak Jokowi ini dijadikan sebagai Presiden Indonesia seumur hidup, agar Indonesia subur makmur loh jinawi. ”pesannya.
Pada pelaksanaan Pilpres 2019, ayahanda Harun Sahrudin tidak menyaksikan calon yang akan bersaing (Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno), dan yang terpilih pasangan Joko Widodo – KH Ma’ruf Amin. Artinya, Pak Jokowi menjadi Presiden RI selama dua periode.
Innaa lilahi wa inna ilaihi roji’un telah berpulang ke rahmatulloh “Bapakku-Pahlawanku-Idolaku” Harun Sahrudin pada hari Senin 4 Desember 2017 pukul 03.15 WIB, semoga iman islam dan amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT. Ammin YRA....
Pilpres 2024 ketika akan digelar, saya menjadi teringat ucapan almarhum ayahanda, terlebih saat melihat pasangan calon presiden dan wakil presiden. Ada nama Prabowo Subianto didampingi Gibran Rakabuming Raka yang tak lain anaknya Presiden Jokowi yang tentu akan sangat mendukungnya, makanya saya optimis Prabowo-Gibran bakal jadi Presiden Indonesia ke 8, akan mengalahkan pasangan calon Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo – Mahfud MD. Bahkan, saya sempat tebak-tebakan dengan seorang spiritualis/paranormal dan juga dengan seorang pengacara asal Malang Jawa Timur, dengan penuh percaya diri saya bilang “Prabowo Subianto-Mas Gibran yang bakal terpilih sebagai Presiden RI Ke-8“
Mungkin karena tersugesti almarhum ayahanda, makanya saya optimis yang bakal menjadi Presiden Indonesia pada Pilpres 2024 adalah Prabowo Subianto, terlebih Gus Dur juga bilang demikian. Apalagi adanya dukungan penuh dari Pak Jokowi, yang sebenarnya, bukan melihat karena anaknya (Gibran Rakabuming Raka) menjadi Wakil Presiden. Sebab, janji Pak Jokowi akan mendukung Pak Prabowo Subianto, apalagi jika dipasangkan dengan Ganjar Pranowo atau bakan dengan siapapun.Pak Jokowi akan menepati janjinya kepada Pak Prabowo yang bakal meneruskan kepemimpinnya, membangun Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Jika saja ayahanda masih ada saat ini, beliau akan tersenyum……..”Semua itu karena Kuasa Allah Yang Maha Segalanya, dan alam yang bicara,”
Almarhum ayahanda selain hal hal tersebut di atas, juga pernah berucap bahwa dunia akan dilanda penyakit ganas yang mematikan bernama Tho’un (mungkin maksudnya Covid 19 yang sempat menggemparkan dunia), juga membicarakan oknum yang mengaku keturunan Rasulullah SAW atau habaib yang masuk penjara karena ”lidah” ucapannya yang tidak mencerminkan perilaku Nabi Muhammad SAW. Kemudian bilang juga, bahwa nanti dunia itu akan sebesar genggaman dan terbukti dengan munculnya ponsel android/ smaryphone. Untuk masalah penyakit Tho’un/Covid, oknum habaib , dan hal lain akan saya kupas di tulisan ini secara bersambung agar lebih mengerti dan paham lagi.
Taziek,01 Januari 2025
Komentar