Oleh : Dede Farhan Aulawi
Kesombongan dibangun atas dasar ego dan ilusi kekuasaan atau superioritas. Namun semua itu tidak kekal, karena waktu, ujian hidup, dan realitas akan menggugurkan bangunan kesombongan itu, menunjukkan betapa rentannya manusia.
Singgasana yang dibangun tinggi, tapi tak berpijak pada kebenaran, maka satu tiupan angin kehidupan saja cukup untuk merobohkannya.
Seberapa sering kita membanggakan sesuatu yang sejatinya bukan milik kita selamanya ?
Apakah kita duduk di “singgasana” yang sesungguhnya yaitu ketulusan, kerendahan hati, dan kebijaksanaan, atau di kursi rapuh dari kesombongan ?
Rapuhnya singgasana kesombongan manusia,
Dibangun dari pujian yang fana,
Ditegakkan oleh ketakutan, bukan kesadaran,
Satu luka, satu cela,
runtuh sudah segalanya.








Komentar