Oleh: Gilarsi W. Setijono
Abstrak
Coba, bayangkan sebentar: setiap pagi Anda membeli kopi dalam gelas plastik sekali pakai, membeli nasi bungkus dengan styrofoam, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa pernah bertanya “darimana ini berasal?” dan “ke mana ini akan berakhir?”. Kegiatan sederhana ini—diulang jutaan orang setiap hari—menciptakan gunung sampah yang menyumbat sungai, memicu banjir di Sumatra, dan meninggalkan jejak karbon yang membuat hutan terbakar di tempat lain. Selama ini, masyarakat sering ditempatkan sebagai korban bencana iklim dan penonton pembangunan yang merusak.
Tulisan ini adalah provokasi sederhana: bagaimana jika posisi itu dibalik? Bagaimana jika setiap warga—dari ibu rumah tangga yang mengompos sampah dapur, nelayan yang menolak pukat harimau, hingga anak muda yang memilih produk bebas deforestasi—adalah subjek utama perubahan?
Kita tidak perlu menunggu kebijakan besar dari atas. Perubahan dimulai dari pilihan harian yang tampak sepele namun terhubung dengan sistem yang jauh lebih besar. Setiap kali kita membeli tanpa bertanya, kita sedang menandatangani kontrak kecil dengan bencana. Setiap kali kita memilih untuk bertanya, memilah, dan berbagi—kita sedang mendesain masa depan yang layak huni.
Esai ini menceritakan praktik-praktik kecil yang bisa direplikasi di manapun anda tinggal: kompos rumah tangga, bank sampah komunitas, gerakan menolak produk yang memicu deforestasi, dan sekolah yang menjadikan hutan kota sebagai laboratorium hidup. Ini bukan utopia—ini hanya kembali ke logika gotong royong yang sudah lama kita lupakan.
Pilihan Harian Anda Terhubung dengan Banjir di Sumatra
Setiap kali Anda membeli sebungkus mie instan dengan kemasan plastik berlapis yang tidak bisa didaur ulang, atau setiap kali Anda membuang sisa sayuran ke tempat sampah tanpa memilah—Anda tidak sedang melakukan kesalahan kecil yang tidak penting. Anda sedang berpartisipasi dalam sistem ekonomi linear yang sama yang menebang 222.000 hektar hutan Sumatra dalam dua tahun, yang memicu banjir bandang November 2025 dengan korban lebih dari 400 jiwa. Ini bukan metafora. Ini adalah rantai sebab-akibat yang sangat konkret.
Plastik yang Anda buang berakhir di sungai, menyumbat aliran air, dan memperparah banjir saat hujan deras datang. Minyak sawit dalam sabun cuci piring Anda mungkin berasal dari perkebunan yang membuka hutan gambut—hutan yang seharusnya menyerap air dan mencegah kebakaran. Kertas tissue yang Anda pakai sekali lalu buang mungkin berasal dari pohon yang seharusnya masih berdiri di hulu Daerah Aliran Sungai, menahan tanah agar tidak longsor.
Seperti kata pepatah, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Pilihan harian yang kita anggap remeh, ketika dikalikan jutaan orang setiap hari, menciptakan bukit sampah, bukit emisi, dan bukit bencana yang kita sebut “takdir alam”.
Tapi jika pilihan kita bisa menciptakan bencana, maka pilihan kita juga bisa mencegahnya. Dan di sinilah kita harus menggeser posisi—dari konsumen pasrah yang hanya menunggu kebijakan pemerintah, menjadi warga penjaga rumah bersama yang sadar bahwa setiap keputusan harian adalah desain masa depan.
Best Practices
- Kompos Rumah Tangga: Mengubah Sampah Dapur Jadi Tanah Subur
Di banyak rumah tangga Indonesia, 60 persen sampah yang dibuang adalah sampah organik—sisa sayuran, kulit buah, nasi basi, daun kering. Sampah ini, ketika tercampur dengan sampah anorganik dan dibuang ke TPA, akan membusuk tanpa oksigen dan menghasilkan gas metana—gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam memicu perubahan iklim. Tapi bayangkan jika sampah itu tidak dibuang, melainkan dikembalikan ke tanah.
Metode pengomposan rumah tangga—seperti metode Takakura atau ember tumpuk—sangat sederhana. Anda hanya butuh ember berlubang, serbuk gergaji atau sekam padi sebagai bahan cokelat, sisa sayuran sebagai bahan hijau, dan sedikit air serta bakteri pengompos seperti EM4 atau MOL. Dalam 2-3 minggu, sampah dapur Anda berubah menjadi kompos yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Tidak ada bau busuk. Tidak ada lalat. Yang ada justru tanah subur yang menghidupi cabai rawit, tomat, atau kangkung di belakang rumah.
Ini bukan sekadar mengurangi sampah—ini adalah siklus tertutup yang meniru cara kerja hutan. Daun gugur jadi kompos, kompos jadi nutrisi tanah, tanah jadi pohon—tidak ada yang terbuang. Ketika satu keluarga melakukannya, dampaknya kecil. Tapi ketika satu RT dengan 50 rumah melakukannya, itu berarti 30 ton sampah organik per tahun tidak lagi masuk ke TPA, tidak lagi menyumbat sungai, tidak lagi memicu banjir.
2. Bank Sampah Komunitas: Dari Sampah Jadi Tabungan
Bank Sampah adalah inovasi sederhana namun revolusioner—warga memilah sampah anorganik yang bernilai (plastik, kertas, kaleng, kaca), membawanya ke bank sampah, dan mendapat imbalan uang yang dicatat sebagai tabungan. Bank Sampah Kota Karang di pesisir Lampung, misalnya, didampingi oleh Mitra Bentala, berhasil mengubah kebiasaan warga dari membuang sampah sembarangan menjadi memilah dan menabung.
Dalam satu kegiatan edukasi saja, 62 peserta berhasil mengumpulkan 452,9 kg sampah yang tidak lagi berakhir di TPA, melainkan dipilah dan diarahkan untuk didaur ulang. Uang yang diperoleh warga tidak seberapa—mungkin Rp 20.000-50.000 per bulan—tapi yang berubah adalah cara pandang. Sampah tidak lagi dilihat sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang bisa memberi manfaat ekonomi.
Yang lebih penting lagi, bank sampah adalah ruang belajar bersama tentang ekonomi sirkular. Warga belajar bahwa plastik yang mereka buang tidak hilang begitu saja—ia akan ada selama ratusan tahun di tanah atau laut. Mereka belajar bahwa pilihan mereka untuk memilah hari ini bisa mengurangi beban TPA, mencegah sampah menyumbat sungai, dan mengurangi risiko banjir di daerah hilir. Seperti yang dikatakan Sulastri, Ketua Bank Sampah Kota Karang: “Kami memahami bahwa sampah plastik menjadi ancaman serius bagi ekosistem pesisir, sehingga melalui bank sampah ini kami ingin menjadi bagian dari solusi bersama”.
- Gerakan Menolak Produk yang Mendorong Deforestasi
Deforestasi tidak terjadi dengan sendirinya—ia terjadi karena ada permintaan pasar. Setiap kali kita membeli produk yang mengandung minyak sawit dari perkebunan yang membuka hutan, atau kertas dari perusahaan yang tidak transparan tentang sumber kayunya, kita sedang memberi sinyal ke pasar bahwa kita tidak peduli darimana produk itu berasal.
Tapi bayangkan jika konsumen mulai bertanya. Bayangkan jika sebelum membeli sabun, sampo, atau mie instan, kita mengecek apakah produsen punya komitmen bebas deforestasi. Beberapa perusahaan besar seperti SMART Tbk sudah menerapkan sistem kemamputelusuran (traceability to plantation/TTP) hingga 95 persen untuk rantai pasok kelapa sawit mereka, memastikan bahwa sawit tidak berasal dari hutan yang baru dibuka. Perangkat seperti Global Forest Watch PALM memungkinkan perusahaan dan konsumen melihat di mana deforestasi terjadi di rantai pasokan minyak kelapa sawit.
Ketika konsumen sadar dan mulai menolak produk yang tidak transparan, perusahaan akan merespons. Pada 2022, RSPO mencabut sertifikasi sebuah pemasok sawit besar menyusul dugaan deforestasi, dan perusahaan barang konsumsi membatalkan kontrak mereka. Ini adalah bukti bahwa tekanan konsumen bisa mengubah praktik industri. Di Indonesia, kampanye seperti yang dilakukan UGM dan KOBI menolak keras rencana perluasan perkebunan sawit yang mengancam 66,2 juta hektar hutan alam dan lahan gambut. Suara warga—yang dimulai dari pilihan harian—bisa menjadi kekuatan politik yang nyata.
- Sekolah-Sekolah yang Menjadikan Kebun dan Hutan Kota sebagai Laboratorium Hidup
Pendidikan konservasi tidak harus dimulai dari buku teks yang membosankan. Di Sulawesi Selatan, kegiatan Visit to School oleh BBKSDA melibatkan anak-anak SD dan SMP untuk belajar langsung tentang fungsi hutan, jenis satwa yang dilindungi, dan pentingnya menjaga kelestarian hutan. Materi disampaikan dengan cara yang menyenangkan—sesi tanya jawab dengan souvenir bagi yang bisa menjawab—sehingga anak-anak tidak hanya hafal, tapi paham kenapa hutan penting bagi kehidupan mereka.
Beberapa universitas di Indonesia bahkan punya hutan di dalam kampus mereka—seperti Hutan Kota UI seluas 70 persen dari luas kampus, Hutan Biologi UGM seluas 1,6 hektar, dan Taman Hutan Kampus IPB seluas 20 hektar. Hutan-hutan ini tidak hanya berfungsi sebagai area resapan air DAS Ciliwung, tapi juga sebagai wahana koleksi keanekaragaman hayati dan laboratorium hidup bagi mahasiswa dan masyarakat.
Di tingkat yang lebih kecil, sekolah-sekolah bisa membuat kebun sayur di halaman sekolah, mengajak siswa menanam pohon, atau mengunjungi hutan kota terdekat sebagai bagian dari kurikulum. Ketika anak-anak belajar bahwa tomat yang mereka panen berasal dari kompos yang mereka buat sendiri, atau ketika mereka merasakan udara segar di bawah pepohonan hutan kota, mereka tidak hanya belajar ekologi—mereka belajar bagaimana hidup dalam harmoni dengan alam.
SETIAP KALI MEMBELI TANPA BERTANYA, KITA MENANDATANGANI KONTRAK DENGAN BENCANA
Inilah kalimat yang harus kita ingat setiap hari: “Setiap kali kita membeli tanpa bertanya ‘darimana ini berasal? ke mana ini akan berakhir?’, kita sedang menandatangani kontrak kecil dengan bencana”.
Ketika Anda membeli produk dengan kemasan plastik berlapis yang tidak bisa didaur ulang—Anda sedang menandatangani kontrak agar plastik itu tetap ada selama ratusan tahun di tanah atau laut. Ketika Anda membeli sabun yang mengandung sawit tanpa sertifikasi bebas deforestasi—Anda sedang menandatangani kontrak agar hutan di Sumatra terus ditebang, agar banjir terus datang, agar 400 jiwa berikutnya meninggal dalam banjir bandang. Ketika Anda membuang sampah organik ke TPA tanpa mengomposnya—Anda sedang menandatangani kontrak agar gas metana terus diproduksi, agar perubahan iklim terus memburuk, agar cuaca ekstrem terus terjadi.
Ini bukan bahasa berlebihan. Ini adalah mekanika sistem yang sangat konkret. Dan jika kita bisa menandatangani kontrak dengan bencana, maka kita juga bisa menandatangani kontrak dengan keberlanjutan—dengan memilih produk yang transparan, dengan mengompos sampah dapur, dengan menolak plastik sekali pakai, dengan menanam pohon di halaman rumah.
Ayo Gotong Royong: Bentuk Komunitas Hidup Berkelanjutan dimanapun Anda Tinggal
Perubahan besar tidak dimulai dari Jakarta atau Jenewa. Perubahan besar dimulai dari RT, dari kelurahan, dari komunitas terkecil yang memutuskan untuk tidak lagi pasrah. Bayangkan sebuah RT di mana warga sepakat untuk:
- Berbagi alat: Satu mesin pemotong rumput untuk 10 rumah, bukan 10 mesin yang masing-masing hanya dipakai sebulan sekali. Satu set perlengkapan pesta untuk RT, bukan setiap keluarga beli sendiri lalu disimpan di gudang.
- Menukar barang: Baju anak-anak yang sudah kekecilan bisa ditukar dengan tetangga yang punya anak lebih kecil. Buku pelajaran yang sudah tidak terpakai bisa dipinjamkan ke adik kelas. Ini bukan soal tidak mampu membeli baru—ini soal tidak perlu membeli baru jika yang lama masih bisa dipakai.
- Menanam bareng: Setiap akhir pekan, warga RT berkumpul untuk merawat kebun komunal—sayuran untuk konsumsi bersama, pohon buah untuk generasi mendatang, dan tanaman hias yang membuat lingkungan lebih hijau. Kompos dari rumah tangga dipakai untuk menyuburkan kebun ini.
- Belajar bareng: Mengundang narasumber untuk mengajarkan cara membuat kompos, cara memilah sampah, cara memilih produk bebas deforestasi, atau cara menanam sayur di lahan sempit. Pengetahuan ini tidak harus mahal—cukup satu warga yang paham, lalu berbagi ke yang lain.
Ini bukan utopia. Ini sudah terjadi di banyak tempat—Kampung Edukasi Sampah di Sidoarjo yang mengubah warga dari cuek menjadi semangat mengelola sampah, Bank Sampah Kota Karang yang memberdayakan masyarakat pesisir untuk memilah sampah, dan program “Kampung Bahagia” di Jambi yang menghidupkan kembali gotong royong di tingkat RT. Seperti yang dikatakan Edi, salah satu tokoh Kampung Edukasi Sampah: “Kuncinya adalah gotong royong, keteladanan, dan keberanian untuk memulai. Dari lingkup RT/kampung yang selama ini dianggap tidak penting, kita bisa menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin asalkan dilakukan bersama-sama”.
Penutup
Selama ini kita ditempatkan—dan sering kali menempatkan diri sendiri—sebagai korban bencana iklim yang tidak bisa kita hindari, atau sebagai penonton pembangunan yang merusak tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi esai ini adalah ajakan untuk mengubah posisi itu secara radikal.
Kita bukan korban. Kita adalah desainer masa depan lewat pilihan harian kita. Kita bukan penonton. Kita adalah aktor utama yang menentukan apakah rumah bersama ini akan layak huni untuk generasi berikutnya atau akan tenggelam dalam banjir, sampah, dan bencana yang kita ciptakan sendiri.
Bersama kita bisa, “Memayu hayuning bawana”—meningkatkan kecantikan bumi. Dan membangun kemajuan dengan mendesain ekonomi dan gaya hidup yang membuat ekosistem lebih sehat dan lebih cantik—karena hanya ekosistem yang sehat yang bisa menopang kehidupan jangka panjang.
Pertanyaan terakhir untuk Anda yang membaca ini: Sanggupkah kita menatap mata anak cucu kita dan berkata bahwa kita telah meninggalkan kebiasaan berkelanjutan, bukan bukit sampah dan tagihan bencana? Ataukah kita akan terus membeli tanpa bertanya, membuang tanpa memilah, dan menunggu orang lain mengubah sistem—sementara kita sendiri terus menandatangani kontrak kecil dengan bencana setiap hari?
Keberanian untuk berubah hari ini adalah keberanian untuk tidak populer, untuk dianggap ribet, untuk dibilang terlalu idealis. Tapi keberanian itu juga adalah investasi paling nyata untuk masa depan yang layak huni. Dan itu dimulai dari satu keputusan sederhana: hari ini, saya akan bertanya sebelum membeli. Hari ini, saya akan memilah sebelum membuang. Hari ini, saya akan menjadi warga penjaga rumah bersama—bukan lagi konsumen pasrah yang menunggu bencana datang. (****
GWS, 20 Desember 2025
