Ciamis,LINTAS PENA—Sebagai tempat menimba ilmu, lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan sangat penting diciptakan. Guna mendorong kondisi tersebut, SMK PK Al-Ikhlas Susuru mengadakan kegiatan Roots Day Anti Perundungan pada hari Kamis, (03/11/2022) di lingkungan SMK Al-Ikhlas Susuru.
Roots Day Anti Perundungan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Progam SMK PK Skema Pemadanan yang sedang dijalankan oleh SMK Al-Ikhlas Susuru. Kegiatan ini dilaksanakan oleh dewan guru, siswa Agen Perubahan serta peserta didik SMK Al-Ikhlas Susuru dari setiap kejuruan.
Tujuan umum dari kegiatan Roots day ini adalah membangun interaksi positif di sekolah dengan memusatkan peran pelajar di sekolah sebagai ‘Agen Perubahan’ untuk menyebarkan pesan dan perilaku baik di lingkungan sekolah, baik kepada teman sebaya maupun kepada seluruh warga sekolah dengan mengampanyekan pesan anti perundungan melalui berbagai kreasi seni.
Kegiatan ini diawali dengan pembukaan secara resmi oleh Ipin Aripin, S.Ag, M.Pd.I, selaku Kepala Sekolah, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi Workshop oleh Syamsul Bahri, S.Ag.,M.Si. BKPSDM Kab. Ciamis .
Dalam materinya, Syamsul berpesan agar menghindari perilaku negatif, khususnya perundungan dan kekerasan di sekolah. Ia juga memberikan materi dengan metode outbound yang menyenangkan, sehingga peserta didik sangat bersemangat dan berantusias dalam mengikutinya.
Selanjutnya, siswa Agen Perubahan pun tampil untuk menyampaikan pesan dan membacakan deklarasi anti perundungan serta mengajak seluruh elemen di SMK Al-Ikhlas Susuru untuk berkomitmen menghapus segala bentuk perundungan di sekolah. Sehingga, SMK Al-Ikhals Susuru dapat menjadi sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.
Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni oleh peserta didik mulai dari penampilan tari, puisi, fashion show, akustik dan nyanyi solo.
Agen Perubahan terpilih juga secara kreatif mendesain kampanye anti perundungan ini melalui poster-poster. Sehingga peserta kegiatan Roots Day mampu menangkap pesan anti perundungan dan anti kekerasan yang terdapat dalam kreasi seni.
“Harapan ke depannya semoga para peserta didik dapat mengambil nilai positif dari kegiatan ini, mampu melaksanakan gerakan anti perundungan dan tindak kekerasan di sekolah kepada warga sekolah, sehingga tercipta sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.” ujar Ipin.
Mari kita suarakan dengan lantang untuk tidak ada perundungan di sekolah.
“Stop bullying, tebarkan prilaku positif!” (HENDAYA)***
