oleh

Tidak Ada Keramat Tanpa Tirakat

Oleh: Alvian Fachrurrozi

ORANG-orang Nusantara itu sejak dahulu mengakrabi tradisi asketisme atau tirakatan, apalagi masyarakat Jawa itu malah gudangnya orang-orang yang suka laku tirakat. Tetapi ya itu dulu, itu cerita lama sebelum pandemi hedonisme efek globalisasi dari Barat berhembus juga meracuni masyarakat Jawa, terutama merusak mental generasi muda-mudinya. Sekarang akan jarang sekali ditemui anak muda Jawa yang masih hobi mesu batin, tirakat, laku mengurangi kesenangan hidup. Bahkan anak-anak muda yang mengaku ikut perguruan silat pun juga sudah pada enggan melakoni tirakat, padahal guru-guru besar pendiri perguruan silat itu pada umumnya adalah para ahli tirakat, adalah orang-orang yang menyesapi asketisme dan kesederhanaan sebagai gaya hidup. Jadi kesenangan dangkal dan instan yang ditawarkan oleh hedonisme Barat saat ini memang mengecohkan generasi muda bangsa Timur dari jati diri spiritualnya.

Bahkan tradisi pendidikan pesantren sekarang ini juga sudah banyak yang meninggalkan tradisi gemblengan tirakat, dan hanya berfokus pada studi kitab. Tak pelak juga ada kesan jika pesantren yang masih mengajari santrinya gemblengan-gemblengan tirakat seperti laku puasa bertahun-tahun tanpa putus atau laku lelono berjalan kaki menggelandang itu dipandang sebagai pesanten jadoel dan ketinggalan jaman. Banyak orangtua juga enggan memasukkan anaknya ke pesantren semacam ini, padahal pesantren seperti inilah yang mengajari keilmuan Islam secara utuh, baik aspek eksoteris (syariat) dan esoteris (hakikat), juga pesantren inilah yang secara estafet meneruskan warisan tradisi asketisme dari para leluhur Nusantara. Didikan dari pesantren yang kental laku tirakat inilah yang tidak akan menjadikan para santri kelak menjadi berpaham keagamaan dangkal dan radikal. Cek saja background para teroris yang pernah tertangkap itu, tidak ada satu pun dari mereka yang alumni dari lembaga pesantren yang masih kuat mengajarkan laku tirakat. Baik dalam Islam, Buddhisme, Hinduisme, maupun Kejawen, jika orang hanya berkutat pada studi kitab suci atau wejangan para sesepuh, tapi minus laku tirakat, pasti ia akan menjadi sosok yang “dangkal” dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran yang ada di dalam keyakinan spiritualnya. Tetapi sebagaimana umumnya generasi Jawa hari ini yang sudah pada berjarak dan bahkan meninggalkan tradisi tirakat, begitu juga para generasi muda Islam, Hindu, dan Buddha pada era kekinian pun juga sudah pada enggan melakoni tirakat seperti para sesepuhnya dahulu. Padahal buah dari tirakat itu nyata adanya, tidak akan pernah ada sebuah keramat (kemuliaan) tanpa didahului dengan laku tirakat.

Sejauh pembacaan saya tentang tradisi tirakat, khususnya dalam budaya Jawa, setidaknya buah atau tujuan laku tirakat secara umum itu ada tiga macam; Pertama, laku tirakat yang paling rendah, yaitu sebuah laku tirakat yang bertujuan untuk memperoleh kekayaan, semisal orang miskin yang ingin suatu hari dirinya atau keturunannya nanti menjadi orang kaya raya maka ia menjalani suatu disiplin tirakat tertentu untuk memperoleh hasil atau buah tirakat yang dimaksud. Kedua, tirakat madya atau pertengahan, yaitu sebuah laku tirakat untuk memperoleh pangkat atau status sosial baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keturunannya, dalam sejarah pendirian kerajaan-kerajaan di Jawa, pasti lekat dengan cerita-cerita dimana para pendahulunya bertirakat sangat keras dulu, agar kemudian hari kewahyon (mendapat anugerah) menjadi raja atau anak turunnya yang mendapatkan kemuliaan itu. Maka sejak dahulu sebenarnya orang Jawa dibiasakan untuk tidak gumun atau heran ketika mendapati seorang dengan keturunan dari keluarga biasa-biasa saja tapi kemudian hari kewahyon menjadi petinggi negeri dan mendapatkan kuasa politik yang diperhitungkan secara luas. Sebenarnya tirakat jenis madya ini tidak terbatas pada hajat kepemimpinan politik saja, ada juga orang yang menjalankan disiplin tirakat keras agar kemudian hari ketika membuka perguruan atau pesantren mendapatkan banyak murid dan pesantren atau perguruannya itu masyhur terkenal dimana-mana, serta awet sampai berumur panjang tidak hanya seumuran jagung saja sudah bubar. Ketiga, jenis tirakat yang teringgi, yaitu sebuah laku tirakat yang tidak untuk bertujuan mencapai derajat kekayaan harta benda, tidak juga untuk mencapai derajat staus sosial dan politik yang tinggi, melainkan disiplin laku tirakat yang dijalani adalah untuk mencapai “derajat ruhaniah” yang tinggi, baik tirakatnya ditujukan untuk dirinya sendiri maupun untuk anak keturunannya, atau bahkan tirakatnya ditujukan kepada murid-muridnya. Tirakat jenis tertinggi ini yang paling esensial daripada dua jenis tirakat yang sebelumnya. Karena seseorang derajatnya secara ekonomi bisa saja tinggi, derajatnya secara pangkat sosial juga bisa saja tinggi, tetapi justru derajatnya secara ruhaniah atau spiritual bisa saja sangat rendah, dan akan kurang berguna juga laku tirakat panjang yang dilakukan oleh seseorang jika tidak menghasilkan buah derajat ruhaniah yang tinggi atau kualitas spiritual yang menjadi lebih baik, buah laku tirakat seperti kekayaan dan pangkat justru bisa menjadi jigalan (batu sandungan) dalam kenaikan derajat ruhaniah. Oleh karena itu tidak perlu heran jika melihat orang yang gentur laku tirakat, tetapi tetap menjadi orang yang biasa-biasa saja dan tidak menjadi orang yang kaya raya atau orang dengan pangkat politik yang tinggi. Karena siapa tahu orang yang demikian memang penekun tirakat tingkat tinggi, yang murni bertujuan untuk kenaikan derajat ruhaniah. Karena seperti dalam konsep catur warna Hindu, golongan manusia itu bermacam-macam, golongan sudra (penjual jasa) biasanya tidak suka laku tirakat, walau hidupnya sendiri memang penuh keprihatinan dan kepahitan, tetapi itu tidak dapat disebut tirakat karena adalah sebuah keterpaksaan dan bukan atas tekad dan pilihan sadar, golongan waisya (pemilik usaha) biasanya menyukai laku tirakat dengan buah kekayaan, golongan kesatria (birokrat) biasanya menyukai tirakat dengan buah kenaikan pangkat atau jabatan, dan hanya golongan brahmana/rohaniawan/ulama/bhikkhu yang menyukai tirakat dengan buah kenaikan derajat ruhaniah.(****

Ngawi, 17.05.2025

Komentar