Oleh : Yuda Wibiksana, CH,CHT, CBRM | Spirit meets Science
Ada bahasa yang pernah menjaga Sunda selama 500 tahun…Sekarang hampir punah. Tapi kata-katanya masih berbisik hingga sekarang….
Bahasa Sunda zaman sekarang lembut. Tapi 500 tahun lalu, ia tajam, berat, dan penuh kekuatan. Kita lupa bahasanya. Tapi cara leluhur kita menjaga hidup… masih relevan sampai hari ini. Inilah seni cara Membaca yang Menghidupkan Mantra. ‘Ngahung yang sekarang hampir punah. Tapi kata-katanya masih berbisik hingga sekarang.
Pada naskah lontar Sunda Buhun abad ke-15 itu. merupakan bahasa sunda kuno yang dipakai 500-1000 tahun lalu yang ditulis pakai Aksara Kaganga (Sunda Kuno), dimana bentuk aksara atau tulisannya tajam-tajam dan melengkung, mirip aksara Bali dan Jawa Kuno. Sangat berbeda dan jauh sekali sama bahasa Sunda sekarang lumayan jauh perbedaan bahasa atau aksaranya. Ada beberapa bahasa sunda buhun yang sering muncul pada naskah lontar buat ngingetin soal adab, dosa, dan hukum adat. tapi sekarang sudah jarang muncul bahkan nyaris ilang termasuk keilmuan nya. Dan sekarang bahasa buhun cuma dipelajari ahli sejarah, sastrawan, dan praktisi budaya, Tapi banyak kata buhun yang masuk lagi ke bahasa Sunda modern biar kesannya lebih mudah dipahami
Keilmuan buhun sendiri merupakan ilmu tradisional yang diturunkan turun-temurun, bukan ilmu modern buatan paranormal maupun supranatural sekarang, tapi sistem keilmuan sunda kuno yang udah diuji sama alam selama ratusan tahun dan dipraktikkan ratusan tahun lamanya melalui pengalaman yang panjang. Kosakata gaya bahasa yang digunakan pada mantranya lebih tua dan banyak serapan Sanskerta, Banyak kata yang sekarang sudah punah atau ganti, maka keilmuan dari suku suku sangat jarang bisa dioplas sama praktisi ilmu hikmah, supranatural dan paranormal sekarang. Karena Ilmu Buhun bukan ilmu instan. Ia telah diuji alam ratusan tahun silam, diturunkan lewat pengalaman panjang.
Di keilmuan khas sunda buhun nggak langsung main perintah. Harus nyembah dulu ke sumber tertinggi, baru manggil kekuatan lokal buat nurunin kekuatan itu ke alam manusia. Biasanya yang begini diturunin langsung dari guru jampi tua yang dalam khasanah keilmuan nusantara dikenal dengan nama “simah” alias didaftarkan secara adat gaib oleh ketua suku atau ketua adat setempat maupun orang yang sudah pernah melakukan simah inilah kaedah lama dalam membaca mantra dalam tradisi suku suku tua di nusantara – Tidak langsung memerintah. Namun pertama-tama menyembah Sumber Tertinggi, baru memanggil kekuatan alam.
Pada mantra kuno buhun atau jampi tua buhun menggunakan pola klasik jampi Sunda wiwitan yang menggunakan struktur entitas suci, dewa, roh leluhur, tempat dan kekuatan alam. Dalam tradisi buhun mantra bukan kata-kata, tapi dianggap punya daya kekuatan dahsyat kalau diucapkan dengan niat dan ritme yang bener. Oleh sunda buhun dikenal dengan tatacara “ngahung” artinya dibacanya pelan, berbisik, hampir kayak gumam, tapi jelas tiap kata. Di adat Sunda buhun, jampi tua tidak cuma dibaca saja. Tapi ada etika dan tata cara biar “nyambung” sama yang dipanggil. Kalau asal baca, dan kalau hatinya masih bimbang, jampinya nggak jalan dan dianggap kosong.
Inilah ‘Ngahung Sebuah Seni Cara Membaca yang Menghidupkan Mantra, dimana mantra dibaca dengan pelan, berbisik, tapi jelas. Karena bagi mereka, mantra bukan kata. Ia hidup, kalau hatinya sungguh-sungguh.
Kita mungkin lupa bahasanya. Tapi cara pandangnya masih relevan hingga sekarang. Itulah cara leluhur menurunkan ilmunya.
TEAM PARANORMAL EDUCATION & ANALISIS METAFISIKA NUSANTARA
