Oleh: Andre Vincent Wenas ,MM,MBA., Pemerhati Ekonomi dan Politik, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.
FOKUS saja pada tujuan, jangan pedulikan nyinyiran para haters. Sambil terus perkuat struktur partai, tetaplah riang gembira. Kaesang Pangarep, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Solidaritas Indonesia bilang, “Percuma kalau DPP-nya kuat, tapi di tingkat bawahnya enggak. Itu kenapa saya selalu ngomong, kita ini fokus sama struktur. Enggak usah fokus sama yang lain dulu. Kalau strukturnya kuat, kita mau diserang, kita mau diapa-apainlah, apa pun itu. Kita pasti akan tetap berdiri dengan kokoh.”
Itu disampaikan dalam sambutannya pada perayaan HUT ke-11 PSI di Kantor DPP PSI, Jakarta pada Minggu 16 November 2025 malam kemarin. Dalam kesempatan itu Kaesang juga menyinggung soal kritik serta cibiran yang kerap dialamatkan kepada PSI. Banyak yang menghina dan mencaci partainya, bahkan hingga partai ini berusia 11 tahun.
Persisnya dia bilang begini, “Dan saya ini jujur, di ulang tahun yang ke-11 dari partai ini, banyak yang menghina, mencaci, ataupun apa pun lah itu. Kita ini sebagai gajah, tadi sudah disampaikan oleh Pak Ustadz, ya sudah lah biarin aja. Kita ini kuat, yang penting adalah tujuan kita.” PSI akan tetap berfokus pada niat untuk memberikan kontribusi terbaik bagi negeri.
Oleh karena itu, pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-11 PSI mengusung tema “Udayah Navasaktih”, ini adalah istilah Sanskerta yang berarti “kebangkitan kekuatan baru”. Ini sesuai dengan realitas kontemporer PSI sendiri yang akhir-akhir ini banyak tokoh bergabung, di pusat maupun di berbagai daerah.
Milestone politik penting yang barusan dilewati PSI adalah pemilihan Ketua Umumnya lewat mekanisme “one man one vote”, dan sistemnya diaudit oleh pihak ketiga yang independen. Grace Natalie menegaskan, “Belum pernah ada di republik ini, dan kita sudah memulainya membawa konsep Partai Super Terbuka, bahwa partai ini milik semua anggota.” Ini langkah yang boleh dibilang revolusioner, sekaligus meniupkan angin segar dalam kancah perpolitikan nasional yang dirasa semakin sumpek.
Langkah politik PSI yang menerapkan mekanisme “one man one vote” ini telah meneguhkan sistem demokrasi dan transparansi dalam tubuh PSI. Sekaligus memperlihatkan partai ini sama sekali tidak berkubang dalam format “demokrasi prosedural” belaka seperti yang terjadi pada banyak parpol lainnya, dimana di panggung belakang masih dikendalikan oleh oligarki tertentu. Politik uang dan jual beli jabatan parpol jadi kelaziman yang diselubungi jargon “membela wong cilik” padahal sejatinya mereka “membela wong licik”.
Kita juga mencatat apa yang disampaikan Grace Natalie (sekarang ia anggota Dewan Pendiri PSI) yang bilang bahwa PSI selalu Pro-Jokowi. Bisa kita maknai bahwa sekarang pasca masa kepresidenannya selama dua periode, Pro-Jokowi artinya pro (berpihak atau memihak) pada semangat pembangunan bangsa yang Indonesia Sentris, merata ke segala penjuru Nusantara, tidak sekedar Java Sentris atau bahkan cuma Jakarta Sentris. “Developmentalisme” yang dibarengi semangat kebersamaan (gotong-royong, atau koalisi besar yang mencakup segala komponen bangsa).
Dengan fakta Jokowi ada di belakang manuver-manuver politik PSI maka PSI dilihat oleh banyak pengamat telah dan akan terus memainkan peran yang amat signifikan di kancah perpolitikan nasional. Statement (pernyataan) Jokowi sendiri yang terang-terangan menyatakan full mendukung dan akan bekerja keras untuk PSI memperkuat aura parpol ini dan telah membuat parpol lainnya bersikap waspada.
Masuknya politisi-politisi kawakan seperti Ahmad Ali dan Bestari Barus yang berganti bendera dari Nasdem menjadi PSI telah membuat dunia persilatan politik di tanah air menjadi ramai. Tambah lagi relawan mantan kader PDI Perjuangan seperti Barisan Sudarsono Jokowi Lovers yang akhirnya bermetamorfosa menjadi Barisan Solidaritas Jokowi Lovers lantaran terafiliasi dengan PSI membuat PSI makin cemerlang. Tahun 2025 ke depan diramalkan PSI menjadi kekuatan politik yang patut diperhitungkan.
Dalam acara peringatan ulang tahun PSI kemarin, Grace Natalie juga menyinggung hasil survey elektabilitas yang semakin menjanjikan dan meyakinkan bahwa PSI siap untuk menjadi partai besar. Kata-katanya agak bersayap, “Sekarang ini kita sudah tidak bicara lagi soal ikut Pemilu untuk lolos threshold, tapi saya pikir dalam situasi ini, juga berdasarkan survei terakhir, tapi soal angkanya biar Mas Ketum saja yang menyampaikan kalau beliau berkenan, kita sudah sangat layak untuk percaya bahwa PSI akan segera menjadi partai besar.”
Keyakinan Grace Natalie yang mengatakan bahwa PSI akan menjadi partai besar bukanlah ramalan tanpa topangan program yang didukung tokoh sekaliber “Yth Bapak J”. Siapa lagi beliau kalau bukan Jokowi. Ini langkah besar dalam perjalanan politik PSI yang akan membawa PSI ke liga utama dalam kompetisi menuju Gedung Parlemen.
Walaupun mendapat dukungan Jokowi, perjalanan politik PSI bukanlah otomatis mulus. Justru ini menjadi tantangan lantaran kekuatan-kekuatan poitik riil lainnya akan segera bereaksi, jelas mereka tidak akan tinggal diam. PSI sudah merasakan gejala-gejala retaliasi dalam bentuk black-campaign yang dilancarkan tertubi-tubi. Pada Jokowi, pada Gibran, pada Kaesang, pada Raja Juli Antoni, pada Grace Natalie dan tokoh-tokoh sentral PSI lainnya. Semua lawan politik ingin mendegradasikan citra PSI yang semakin moncer.
Isu seperti ijazah palsu, makam palsu, Jokowi palsu yang semuanya tidak masuk akal sehat bakal terus dikumandangkan. Dasar teori agitasinya sederhana, kebohongan yang diulang-ulang pada akhirnya akan diterima sebagai kebenaran (firehose of falsehood). Teori yang dipraktekkan secara gemilang oleh Joseph Goebbels (menteri propaganda Hitler) telah terbukti berhasil menyihir bangsa Jerman untuk terjerumus kedalam kubangan politik rasis.
Walau pada akhirnya bangsa Jerman harus menanggung malu pada generasi pasca Perang Dunia 2 dan masih harus menata psikologis bangsanya untuk bisa berkoeksistensi damai dengan bangsa-bangsa lain (utamanya bangsa Yahudi) yang dulu hendak mereka eksterminasi. Sebuah pelajaran pahit dalam sejarah umat manusia.
Politik kebencian dan kebohongan yang tanpa rasa malu dulu dipropagandakan rezim Hitler ini rupanya telah diadopsi oleh sementara kalangan di Indonesia. Dengan memanfaatnya pion-pion macam Roy Suryo, Tifa, Rismon dan lain-lainnya itu mereka ingin mengulang “kisah sukses” Joseph Goebbels. Tapi kita tahu bahwa ujung dari politik ini adalah “rasa malu bangsa”.
Maka “Udayah Navasaktih” sebuah ungkapan dari bahasa Sanskerta yang bermakna bangkitnya kekuatan baru menjadi mantra sakti untuk melawan sihir dari kekuatan jahat propaganda mereka.
Konstelasi perpolitik di Indonesia yang semakin kumuh lantaran ulah para petualang-petualang politik yang libidonya untuk berkuasa sambil terus mengeruk kekayaan negeri ini sudah tak terbendung lagi. Sihir jahat ini harus dilawan dengan “Udayah Navasaktih” bangkitnya kekuatan baru demi Indonesia Maju. Kakuatan yang bisa mendiseminasikan politik baik dan politik kegembiraan.
Selamat ulang tahun ke-11 Partai Solidaritas Indonesia, tetap fokus pada tujuan untuk mengembalikan politik pada posisinya yang mulia, “bonum commune” atau “bonum publicum”, demi kemaslahatan rakyat banyak.
Jakarta 25 November 2025









Komentar