oleh

Haidar Alwi: Polri di Garis Depan Bencana, Dari Evakuasi, Internet Darurat, hingga Trauma Healing

JAKARTA—-Bencana selalu datang tanpa memberi waktu untuk bersiap. Ia meruntuhkan kehidupan dalam hitungan menit, memaksa negara untuk menunjukkan kemampuan sejatinya: apakah ia sekadar hadir dalam dokumen, atau benar-benar hidup dalam tindakan aparatnya. Ketika banjir bandang menyapu Aceh Tamiang, longsor menutup akses Tapanuli Utara, dan lahar dingin menghantam Agam serta Tanah Datar, yang terlihat di mata rakyat bukanlah gedung-gedung pemerintahan , tetapi sosok-sosok Polri yang turun ke air, ke lumpur, dan ke reruntuhan.

Menurut Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta wakil ketua dewan pembina ikatan alumni ITB, bencana adalah panggung paling jujur bagi negara. “Di tengah bencana, rakyat tidak menilai negara dari kata-katanya, tetapi dari siapa yang pertama tiba ketika hidup mereka runtuh. Dan dalam banyak peristiwa, sosok itu adalah Polri,” ujar Haidar Alwi.

Di era ancaman bencana yang semakin kompleks, Polri telah bergerak melampaui peran formalnya. Mereka tidak lagi sekadar merespons; mereka menjaga keberlanjutan sebuah bangsa.

Reaksi Cepat dan Investigasi Lingkungan: Polri Menyelaraskan Kemanusiaan dan Penegakan Hukum.

Dalam bencana, waktu adalah hukum tertinggi. Setiap menit memisahkan hidup dari kehilangan. Di Aceh Tamiang, Polri mengevakuasi ratusan warga dari rumah-rumah yang terendam hingga atap. Di Tapanuli Utara, mereka membersihkan longsoran tebal yang mengubur jalur utama, memastikan pasokan logistik dan medis tidak terhenti. Kehadiran Polri tidak hanya menyelamatkan, tetapi mengembalikan fungsi kehidupan yang lumpuh.

Namun di balik evakuasi yang dramatis, ada dimensi lain yang menunjukkan kedewasaan institusi ini. Ketika gelondongan kayu dalam jumlah besar ditemukan hanyut bersama banjir, Polri tidak membiarkan hal itu berlalu sebagai kejadian alam semata. Mereka menerbangkan drone untuk melacak sumber kayu, memetakan kerusakan hutan, dan menyisir hulu sungai untuk mencari potensi pembalakan liar atau penyimpangan izin.

Langkah investigatif ini kemudian berkembang menjadi operasi terkoordinasi bersama Kementerian Kehutanan dan Satgas PKH. Mereka mencocokkan pola potongan kayu, menelaah peta konsesi, hingga menggunakan perangkat identifikasi kayu otomatis (AIKO) untuk memastikan apakah ada pelanggaran yang turut memperparah bencana.

Haidar Alwi menilai langkah ini sebagai bentuk kecerdasan negara. “Penyelamatan tanpa penyelidikan hanya membuat bangsa ini mengulang luka yang sama. Polri memilih melihat bencana bukan hanya dari airnya, tetapi dari akarnya,” tegas Haidar Alwi.

Inilah standar baru: Polri yang menyelamatkan hari ini, sekaligus mencegah bencana esok hari.

Internet Darurat: Ketika Negara Menghidupkan Kembali Jaringan Kehidupan.

Namun penyelamatan tidak hanya terjadi pada tubuh; ia juga terjadi pada komunikasi. Di era digital, hilangnya jaringan berarti hilangnya kemampuan meminta bantuan, memberi kabar, dan mengoordinasikan upaya penyelamatan. Ketika BTS padam dan listrik terputus di berbagai wilayah terdampak, Polri bergerak menghadirkan internet darurat.

BTS portable, satelit komunikasi, repeater radio, hingga mobile command unit dikerahkan untuk menghubungkan kembali puluhan titik bencana. Dalam hitungan jam, warga dapat menghubungi keluarga, posko bisa berkoordinasi, dan distribusi bantuan berjalan lebih tepat sasaran.

Menurut Haidar Alwi, inilah pergeseran paradigma yang patut dihargai. “Polri menunjukkan bahwa manajemen bencana di abad ini bukan hanya menyelamatkan tubuh, tetapi menjaga aliran informasi tetap hidup. Komunikasi adalah denyut nadi negara,” ungkap Haidar Alwi.

Untuk memperkuat analisis, Haidar Bagir menambahkan:“Di tengah kehancuran, kemampuan negara menghubungkan rakyatnya adalah simbol peradaban. Polri menjaga simbol itu dengan ketepatan yang membanggakan.”

Internet darurat ini juga mendukung investigasi kayu gelondongan, memudahkan pemantauan risiko susulan, serta memastikan koordinasi lintas lembaga berjalan tanpa hambatan. Ia bukan sekadar akses internet; ia adalah infrastruktur penyelamat nyawa.

Trauma Healing dan Stabilitas Sosial: Polri Menjaga Luka yang Tidak Terlihat.

Bencana merusak tanah dan bangunan, tetapi ia jauh lebih dalam ketika merusak rasa aman. Anak-anak kehilangan tawa, ibu-ibu kehilangan ketenangan, dan banyak keluarga kehilangan masa depan. Inilah luka yang tidak bisa disembuhkan oleh alat berat, tetapi oleh empati dan ilmu psikologi.

Melalui Direktorat Psikologi Polri, layanan trauma healing dilakukan di berbagai titik pengungsian. Anak-anak diajak bermain dan menggambar, ibu-ibu diberikan ruang bercerita, dan korban kehilangan diberikan pendampingan emosional. Ini adalah dimensi bencana yang sering diabaikan, tetapi Polri memahaminya sebagai fondasi stabilitas sosial.

Menurut Haidar Alwi, trauma healing bukan kosmetik kemanusiaan, tetapi instrumen negara. “Bangsa yang ingin bangkit harus memulihkan jiwa rakyatnya. Polri menyentuh ruang yang tidak terlihat, tetapi paling menentukan,” jelas Haidar Alwi.

Ketika psikologi masyarakat pulih, konflik dapat dicegah, rasa aman kembali tumbuh, dan proses pemulihan sosial berjalan lebih cepat. Polri memahami bahwa negara bukan hanya hadir dalam fisik, tetapi juga dalam batin masyarakat.

Negara Dicintai Karena Cara Ia Melindungi Rakyatnya.

Bencana adalah cermin. Ia memperlihatkan wajah institusi negara dengan kejujuran yang tidak dapat ditutupi kata-kata. Dan dalam bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar, Polri membuktikan bahwa mereka adalah pilar yang berdiri kokoh di garis depan. Mereka mengevakuasi tubuh, menjaga komunikasi,
menyelidiki akar bencana,
dan memulihkan trauma jiwa rakyat.

“Ketika negara bergerak cepat melalui tangan Polri, republik ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki kekuatan untuk melindungi rakyatnya dalam keadaan apa pun,” pungkas Haidar Alwi. (ABAH YUSUF BACHTIAR)

Komentar