oleh

Mencari Nahkoda Baru ISI Padangpanjang: Antara Jiwa Seni, Kepemimpinan, dan Masa Depan Perguruan Tinggi Seni Indonesia

Oleh: Dr. Sastra Munafri, S.Sn., M.Sn.___Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Bidang Seni Budaya dan Olahraga DPP ADAKSI (Asosiasi Dosen Akademisi dan Keahlian Seluruh Indonesia).

BESOK, keluarga besar Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang akan menentukan arah baru perjalanan institusi melalui pemilihan rektor. Momentum ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan administratif, tetapi merupakan penentuan arah masa depan sebuah perguruan tinggi seni yang telah melahirkan ribuan seniman, akademisi, budayawan, dan pemimpin kebudayaan Indonesia.

Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, perguruan tinggi seni menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Seni tidak lagi hanya dipahami sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, diplomasi budaya, inovasi, identitas bangsa, bahkan penggerak ekonomi kreatif.

Karena itu, memilih rektor ISI Padangpanjang sejatinya adalah memilih arah masa depan seni Indonesia.

Kampus Seni Memiliki Karakter yang Berbeda

Perguruan tinggi seni tidak dapat dikelola sepenuhnya dengan pendekatan birokrasi sebagaimana institusi pendidikan pada umumnya.

Di dalamnya hidup kreativitas, kebebasan berpikir, proses penciptaan, laboratorium artistik, studio, panggung, serta ruang dialog budaya yang memerlukan pemahaman khusus.

Di sisi lain, kampus juga dituntut memenuhi indikator kinerja perguruan tinggi modern: akreditasi, publikasi ilmiah, penelitian, hilirisasi, kerja sama internasional, tata kelola yang baik, digitalisasi, hingga efisiensi anggaran.

Di sinilah muncul pertanyaan yang selalu menarik.

Apakah kampus seni lebih tepat dipimpin oleh seorang seniman atau seorang manajer?

Jawabannya sesungguhnya bukan memilih salah satu.

ISI Padangpanjang membutuhkan pemimpin yang memiliki jiwa seni sekaligus kemampuan manajerial.

Pemimpin Seni dan Pemimpin Manajerial

Pemimpin yang berasal dari dunia seni memiliki kelebihan karena memahami denyut kehidupan kampus seni. Ia memahami bagaimana sebuah karya lahir, bagaimana karakter seniman berkembang, bagaimana studio, panggung, laboratorium, dan ruang kreatif menjadi bagian penting dari proses akademik.

Namun, kemampuan artistik saja belum tentu cukup.

Perguruan tinggi saat ini dituntut mampu mengelola organisasi yang besar, membangun jejaring nasional dan internasional, mengembangkan sumber pendanaan, mempercepat transformasi digital, meningkatkan kualitas tata kelola, serta memastikan setiap program benar-benar terlaksana.

Sebaliknya, pemimpin yang memiliki kemampuan manajerial yang kuat biasanya mampu menggerakkan organisasi secara efektif dan efisien.

Namun apabila kurang memahami karakter perguruan tinggi seni, terdapat risiko bahwa kampus lebih banyak dikelola dengan pendekatan administratif daripada pendekatan kreatif yang menjadi ruh institusi.

Oleh sebab itu, ISI Padangpanjang tidak membutuhkan sekadar seorang seniman ataupun sekadar seorang administrator.

Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu menggabungkan sensitivitas artistik, integritas moral, pengalaman organisasi, dan kemampuan manajemen modern.

Belajar dari Falsafah Minangkabau

Sebagai institusi yang tumbuh di Ranah Minang, ISI Padangpanjang sesungguhnya memiliki warisan filosofi kepemimpinan yang sangat kaya.

Pepatah Minangkabau mengatakan,”Didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang.”

Pemimpin bukanlah orang yang merasa lebih tinggi daripada yang dipimpinnya.

Ia hanya diberi amanah untuk berjalan sedikit di depan agar mampu menunjukkan arah.

Pemimpin juga tidak boleh berjalan sendiri.

Budaya Minangkabau mengenal konsep musyawarah, mufakat, serta tigo tungku sajarangan, yaitu kepemimpinan yang dibangun melalui kolaborasi antara berbagai unsur masyarakat.

Nilai-nilai tersebut sangat relevan bagi kepemimpinan perguruan tinggi.

Rektor bukan sekadar pengambil keputusan.

Ia adalah pemersatu sivitas akademika.

Agenda Besar yang Menanti

Siapa pun yang terpilih besok akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.

ISI Padangpanjang harus mampu memperkuat kualitas akademik, meningkatkan reputasi penelitian dan penciptaan seni, memperluas jejaring internasional, mempercepat digitalisasi pembelajaran, mengembangkan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari inovasi seni, meningkatkan perolehan Hak Kekayaan Intelektual, serta mendorong hilirisasi karya seni menuju industri kreatif.

Kampus juga harus semakin hadir di tengah masyarakat.

Seni harus menjadi solusi bagi pendidikan, pariwisata, mitigasi bencana, kesehatan mental, diplomasi budaya, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dengan kata lain, ISI Padangpanjang harus menjadi pusat lahirnya karya-karya yang tidak hanya indah, tetapi juga berdampak.

Kampus Seni Harus Menjadi Pusat Peradaban

Perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan.

Ia harus menjadi penjaga memori budaya bangsa.

Ia harus menjadi ruang lahirnya inovasi.

Ia harus menjadi pusat peradaban seni Nusantara.

Tradisi harus tetap hidup.

Namun tradisi juga harus mampu berdialog dengan teknologi, dunia digital, kecerdasan buatan, dan perkembangan global.

Seni yang besar adalah seni yang mampu menjawab zamannya tanpa kehilangan akar budayanya.

Kesejahteraan Dosen Adalah Investasi Kampus

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika berbicara mengenai kemajuan perguruan tinggi, yaitu kesejahteraan dosen.Padahal kualitas pendidikan tidak mungkin melampaui kualitas dosennya.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesejahteraan dosen menjadi perhatian nasional dan terus diperjuangkan oleh ADAKSI (Asosiasi Dosen Akademisi dan Keahlian Seluruh Indonesia).

Perjuangan tersebut bukan semata-mata mengenai tunjangan kinerja, tetapi juga menyangkut penghargaan terhadap profesi dosen, kepastian jenjang karier, perlindungan profesi, serta martabat akademisi Indonesia.

Rektor memang tidak memiliki kewenangan menetapkan kebijakan nasional.

Namun seorang rektor memiliki kewajiban moral menjadi penyambung aspirasi sivitas akademika kepada pemerintah, membangun komunikasi yang sehat dengan kementerian, serta menciptakan lingkungan kerja yang adil, kondusif, dan menghargai pengabdian dosen maupun tenaga kependidikan.

Kampus yang besar bukan hanya ditandai oleh megahnya gedung atau banyaknya prestasi.

Kampus besar adalah kampus yang mampu memuliakan manusia yang menghidupinya.

Menilai Visi, Mengawal Implementasi

Empat bakal calon rektor telah menyampaikan visi dan gagasan terbaik mereka.Sebagian menekankan pusat peradaban seni, sebagian berbicara mengenai kampus berdampak, sebagian mengangkat keunggulan global, digitalisasi, kewirausahaan, maupun integritas akademik.Semua visi tersebut memiliki semangat yang sama, yaitu memajukan ISI Padangpanjang.Namun pengalaman mengajarkan bahwa kualitas kepemimpinan tidak hanya diukur dari indahnya visi yang tertulis di atas kertas.

Ukuran sesungguhnya adalah kemampuan menerjemahkan visi menjadi kebijakan, kebijakan menjadi program, program menjadi budaya kerja, dan budaya kerja menjadi prestasi institusi.

Saatnya Memilih Pemimpin Masa Depan

Besok, pilihan akan ditentukan.

Pilihan itu bukan hanya tentang siapa yang menjadi rektor.

Pilihan itu adalah tentang seperti apa wajah ISI Padangpanjang beberapa tahun ke depan.

Apakah menjadi kampus seni yang hanya mengikuti perubahan?

Ataukah menjadi kampus yang memimpin perubahan?

Semoga sivitas akademika memilih dengan hati yang jernih, pikiran yang objektif, dan pertimbangan yang matang.

Karena kepemimpinan adalah amanah.

Dan amanah hanya pantas diberikan kepada mereka yang mampu menjaga kepercayaan.

Sebagaimana falsafah Minangkabau,”Didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang.”

Pemimpin bukanlah orang yang paling tinggi.

Pemimpin adalah orang yang bersedia memikul tanggung jawab paling besar.Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling banyak berjanji. Sejarah akan mencatat siapa yang paling mampu mewujudkan janji melalui integritas, karya, dan pengabdian.

Selamat memilih. Semoga ISI Padangpanjang memperoleh nahkoda terbaik yang mampu membawa kampus seni ini menjadi pusat keunggulan, pusat kebudayaan, dan pusat peradaban seni Indonesia.

Keuntungan dan Penguatan Peran Alumni ISI Padangpanjang

Rektor yang akan datang perlu memandang alumni bukan sekadar lulusan, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun reputasi dan kemajuan ISI Padangpanjang. Kampus yang maju selalu memiliki hubungan yang kuat dengan alumninya.

Beberapa agenda yang dapat diwujudkan antara lain:

  • Membangun Pusat Karier dan Jejaring Alumni untuk mempermudah lulusan memperoleh pekerjaan, proyek seni, residensi, dan peluang kolaborasi.
  • Melibatkan alumni dalam kurikulum, kuliah tamu, mentoring, dan pembinaan mahasiswa sehingga terjadi transfer pengalaman dari dunia profesional ke kampus.
  • Membentuk Dana Abadi Alumni (Endowment Fund) untuk mendukung beasiswa, riset, produksi karya seni, dan pengembangan fasilitas kampus.
  • Mengembangkan inkubator industri kreatif yang melibatkan alumni sebagai mentor dan investor bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha di bidang seni dan budaya.
  • Memberikan penghargaan kepada alumni berprestasi sebagai bentuk apresiasi sekaligus inspirasi bagi mahasiswa.
  • Memperkuat jejaring alumni nasional dan internasional sebagai duta ISI Padangpanjang dalam diplomasi budaya dan promosi institusi.
  • Membangun sistem tracer study dan database alumni yang terintegrasi, sehingga kampus mengetahui perkembangan karier lulusan dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran berdasarkan kebutuhan dunia kerja.

“Kemajuan ISI Padangpanjang tidak hanya ditentukan oleh mahasiswa yang sedang belajar hari ini, tetapi juga oleh ribuan alumni yang telah berkarya di berbagai daerah dan negara. Rektor yang akan datang perlu menjadikan alumni sebagai mitra strategis, bukan sekadar data lulusan. Ketika alumni merasa memiliki kampusnya, mereka akan kembali dengan jejaring, pengalaman, gagasan, bahkan dukungan sumber daya untuk membangun almamater.”

Menguatkan Sinergi Seni, Pendidikan, Pariwisata, dan Keilmuan Lainnya

ISI Padangpanjang saat ini bukan lagi perguruan tinggi yang hanya berfokus pada penciptaan karya seni. Perkembangan institusi telah menghadirkan berbagai program studi dan bidang keilmuan yang memperkaya ekosistem akademik, seperti pendidikan seni, pariwisata, kewirausahaan, kajian budaya, serta berbagai disiplin ilmu pendukung lainnya. Keberagaman ini merupakan modal besar untuk membangun perguruan tinggi seni yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

Dalam konteks ini, seluruh program studi harus memperoleh ruang berkembang yang setara sesuai karakter dan kontribusinya. Program studi seni tetap menjadi identitas utama institusi, sementara program studi non-penciptaan seni menjadi penguat yang memperluas dampak seni bagi masyarakat.

Sebagai contoh, Program Studi Pariwisata dapat menjadi motor pengembangan wisata budaya, desa kreatif, festival seni, dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Program studi kependidikan memiliki peran strategis dalam melahirkan pendidik seni yang profesional, memperkuat literasi budaya, serta mengembangkan model pembelajaran seni yang inovatif. Sementara itu, program-program penciptaan karya tetap menjadi jantung institusi melalui lahirnya seniman, komposer, koreografer, perupa, desainer, sineas, dan pelaku seni yang mampu menjawab tantangan zaman.

Ke depan, Rektor ISI Padangpanjang perlu membangun budaya kolaborasi lintas program studi sehingga lahir inovasi yang menghubungkan seni, pendidikan, pariwisata, teknologi, manajemen, dan industri kreatif. Sebuah festival budaya, misalnya, tidak hanya membutuhkan seniman sebagai pencipta karya, tetapi juga ahli pendidikan, pengelola pariwisata, pakar komunikasi, pelaku bisnis kreatif, dan pengembang teknologi digital.

Dengan demikian, ISI Padangpanjang tidak hanya menjadi kampus yang melahirkan karya seni, tetapi juga melahirkan pendidik, pengelola budaya, pengembang pariwisata, wirausahawan kreatif, dan inovator yang mampu menjadikan seni sebagai kekuatan pembangunan masyarakat.(***