oleh

Menjawab Pertanyaan Akademis Vincent Repu: Dari CUKK ke Cooperative Science — Sebuah Analisis Filsafat Ilmu

Oleh: Prof. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Ph.D.__-Pengembang Teori Koperasi Kuantum

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 25 September 2026

Pendahuluan: Pertanyaan yang Mengguncang Fondasi

Saudara Vincent Repu yang saya hormati,

Pagi ini saya menerima pertanyaan Anda dengan penuh rasa syukur. Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan metodologis—ia adalah pertanyaan epistemologis yang menyentuh inti dari apa yang telah saya kerjakan selama bertahun-tahun. Anda bertanya:

“Apakah mungkin pengalaman praksis koperasi seperti CUKK bukan hanya menjadi objek untuk menguji suatu teori, tetapi justru menjadi sumber lahirnya ilmu koperasi itu sendiri—yakni ilmu yang menjelaskan bagaimana relasi, kepercayaan, pendidikan, solidaritas, organisasi, dan modal dapat diubah menjadi kapasitas ekonomi, kesempatan kerja, penghasilan, dan kesejahteraan bersama?”

Dan Anda menambahkan:

“Ilmu apa yang dapat dibangun dari pengalaman CUKK untuk menjelaskan bagaimana manusia membangun kapasitas ekonomi secara bersama?”

Inilah pertanyaan yang telah menghantui saya sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Sintang dan Sekadau. Inilah pertanyaan yang melahirkan buku Koperasi Kuantum. Dan inilah pertanyaan yang akan saya coba jawab dalam esai ini—dengan bantuan para filsuf sains besar: Thomas Kuhn, John Dewey, Robert Pirsig, Alfred North Whitehead, dan lainnya.

Bagian I: Membaca Pertanyaan Vincent Repu dengan Kacamata Kuhn

1.1 Paradigma, Anomali, dan Revolusi Ilmiah

Thomas Kuhn, dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962), mengajarkan bahwa ilmu tidak berkembang secara kumulatif dan linier. Ilmu berkembang melalui revolusi—pergeseran paradigma yang mengubah cara kita melihat dunia.

▪️ Paradigma: “Seluruh konstelasi keyakinan, nilai, teknik, dan sebagainya yang dimiliki bersama oleh anggota komunitas tertentu” (Kuhn, 1962: 175).

▪️ Ilmu normal: Berlangsung dalam kerangka paradigma yang ada. Ilmuwan memverifikasi asumsi, bukan menantangnya.

▪️ Anomali: Fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh paradigma yang ada.

▪️ Krisis: Ketika anomali menumpuk, paradigma memasuki krisis.

▪️ Revolusi ilmiah: Ketika krisis mencapai puncaknya, terjadi pergeseran paradigma.

1.2 CUKK sebagai Anomali bagi Paradigma Neoklasik

Pertanyaan Anda menyentuh inti persoalan ini: CUKK adalah anomali.

▪️ Paradigma neoklasik memandang koperasi sebagai “firma” yang harus bersaing dengan perusahaan kapitalis. Ia mengukur keberhasilan dengan efisiensi, produktivitas, dan maksimalisasi laba.

▪️ CUKK tidak dapat dijelaskan oleh paradigma ini. Ia tumbuh dari Rp 291.000 menjadi Rp 2,3 triliun dalam 32 tahun—pertumbuhan 10 juta kali lipat, setara dengan 60% per tahun. Tidak ada model neoklasik yang dapat menjelaskan ini.

▪️ CUKK tidak didasarkan pada insentif finansial. Anggota tidak menabung karena bunga tinggi; mereka menabung karena kepercayaan. Mereka tidak meminjam karena suku bunga rendah; mereka meminjam karena hubungan.

▪️ CUKK tidak dikendalikan dari atas. Ia tumbuh dari bawah, dari kelompok-kelompok kecil, dari musyawarah, dari gotong royong.

Anomali ini menumpuk dan tidak dapat diabaikan. Paradigma neoklasik memasuki krisis.

1.3 Koperasi Kuantum sebagai Paradigma Baru

Dalam bahasa Kuhn, Koperasi Kuantum adalah paradigma baru—paradigma yang lahir dari anomali CUKK.

▪️ Koperasi Kuantum tidak dapat dibandingkan dengan paradigma neoklasik secara langsung. Mereka menggunakan bahasa yang berbeda, kategori yang berbeda, dan standar yang berbeda.

▪️ Koperasi Kuantum menawarkan pertanyaan baru: Bukan “berapa efisiensinya?” tetapi “seberapa kuat medan kesadarannya?” Bukan “berapa keuntungannya?” tetapi “seberapa dalam keterjeratan sosialnya?”

▪️ Koperasi Kuantum menawarkan jawaban baru: Bukan “koperasi yang baik adalah koperasi yang efisien” tetapi “koperasi yang baik adalah koperasi yang koheren.”

1.4 Jawaban atas Pertanyaan Vincent Repu

Dengan kacamata Kuhn, jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

Ya, sangat mungkin. Bahkan, itulah yang seharusnya terjadi.

CUKK bukanlah objek untuk menguji teori. CUKK adalah sumber—sumber pengetahuan, sumber kebijaksanaan, sumber ilmu. Ilmu yang lahir dari CUKK adalah Cooperative Science—ilmu yang menjelaskan bagaimana relasi, kepercayaan, pendidikan, solidaritas, organisasi, dan modal dapat diubah menjadi kapasitas ekonomi, kesempatan kerja, penghasilan, dan kesejahteraan bersama.

Cooperative Science bukanlah ilmu tentang koperasi (yang memandang koperasi sebagai objek), melainkan ilmu dari koperasi (yang memandang koperasi sebagai sumber pengetahuan). Ia lahir dari pengalaman empiris CUKK, sebagaimana teori evolusi lahir dari pengalaman empiris Kepulauan Galapagos.

Bagian II: Membaca Pertanyaan Vincent Repu dengan Kacamata Dewey

2.1 Pragmatisme dan Pengalaman

John Dewey, dalam Experience and Nature (1925) dan Logic: The Theory of Inquiry (1938), mengajarkan bahwa pengetahuan lahir dari pengalaman. Ia menolak dikotomi antara teori dan praktik, antara pikiran dan tindakan.

▪️ Pengalaman bukanlah sekadar “pengamatan pasif.” Ia adalah transaksi aktif antara organisme dan lingkungannya.

▪️ Pengetahuan bukanlah “cermin realitas” yang pasif. Ia adalah alat untuk bertindak—untuk memecahkan masalah, untuk mengubah dunia.

▪️ Kebenaran bukanlah “kesesuaian dengan realitas” yang abstrak. Ia adalah keberhasilan dalam praktik—kemampuan untuk memandu tindakan yang efektif.

2.2 CUKK sebagai Laboratorium Pengalaman

Dengan kacamata Dewey, CUKK adalah laboratorium pengalaman—tempat di mana pengetahuan lahir dari transaksi aktif antara manusia dan lingkungannya.

▪️ Anggota CUKK tidak “mempelajari” koperasi dari buku. Mereka mengalami koperasi—mereka menabung, meminjam, bermusyawarah, bergotong royong.

▪️ Pengetahuan CUKK bukanlah pengetahuan teoretis. Ia adalah pengetahuan praktis—pengetahuan tentang bagaimana mengelola koperasi, bagaimana membangun kepercayaan, bagaimana menyelesaikan konflik.

▪️ Kebenaran CUKK bukanlah kebenaran abstrak. Ia adalah kebenaran yang terbukti dalam praktik—terbukti dalam kemampuan CUKK untuk bertahan dari krisis, untuk tumbuh, untuk menyejahterakan anggotanya.

2.3 Cooperative Science sebagai Pengetahuan Praktis

Dengan kacamata Dewey, Cooperative Science adalah pengetahuan praktis—pengetahuan yang lahir dari pengalaman dan bertujuan untuk memandu tindakan.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “murni” yang hanya bertujuan untuk memahami. Ia adalah ilmu terapan yang bertujuan untuk mengubah—untuk mengubah koperasi menjadi lebih baik, untuk mengubah kehidupan anggota menjadi lebih sejahtera.

▪️ Cooperative Science tidak dimulai dari teori besar. Ia dimulai dari masalah nyata—dari kemiskinan, dari ketidakadilan, dari ketidakberdayaan. Ia lahir dari kebutuhan untuk bertindak.

▪️ Cooperative Science tidak berakhir di jurnal akademik. Ia berakhir di lapangan—dalam praktik koperasi yang lebih baik, dalam kehidupan anggota yang lebih sejahtera.

2.4 Jawaban atas Pertanyaan Vincent Repu

Dengan kacamata Dewey, jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

Ya, sangat mungkin. Bahkan, itulah satu-satunya cara yang benar.

Cooperative Science tidak dapat lahir dari laboratorium atau perpustakaan. Ia harus lahir dari pengalaman—dari praktik nyata koperasi seperti CUKK. Ia harus lahir dari transaksi aktif antara peneliti dan praktisi, antara teori dan praktik, antara pemikiran dan tindakan.

Bagian III: Membaca Pertanyaan Vincent Repu dengan Kacamata Pirsig

3.1 Kualitas dan Seni Pemeliharaan

Robert Pirsig, dalam Zen and the Art of Motorcycle Maintenance (1974), mengajarkan bahwa kualitas bukanlah “nilai subjektif” atau “properti objektif.” Ia adalah peristiwa—pertemuan antara subjek dan objek, antara pemikir dan yang dipikirkan.

▪️ Kualitas bukanlah “sesuatu” yang dapat didefinisikan. Ia adalah peristiwa yang terjadi ketika seseorang peduli—ketika seseorang memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

▪️ Kualitas bukanlah hasil akhir. Ia adalah proses—proses pemeliharaan, proses perawatan, proses mencintai apa yang kita kerjakan.

▪️ Kualitas bukanlah “kemewahan”. Ia adalah kebutuhan dasar—kebutuhan untuk melakukan sesuatu dengan baik, untuk peduli, untuk mencintai.

3.2 CUKK sebagai Manifestasi Kualitas

Dengan kacamata Pirsig, CUKK adalah manifestasi kualitas—manifestasi dari kepedulian, perhatian, dan cinta.

▪️ Anggota CUKK tidak hanya “bekerja”. Mereka peduli—peduli pada koperasi, peduli pada sesama anggota, peduli pada masa depan.

▪️ Pengurus CUKK tidak hanya “mengelola”. Mereka memelihara—memelihara kepercayaan, memelihara solidaritas, memelihara nilai-nilai.

▪️ CUKK bukanlah “mesin” yang berjalan sendiri. Ia adalah organisme hidup yang harus dirawat, dijaga, dihidupkan.

3.3 Cooperative Science sebagai Ilmu Kualitas

Dengan kacamata Pirsig, Cooperative Science adalah ilmu kualitas—ilmu tentang bagaimana menciptakan dan memelihara kualitas dalam kehidupan bersama.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “objektif” yang memisahkan peneliti dari yang diteliti. Ia adalah ilmu partisipatif yang melibatkan peneliti dalam proses penciptaan kualitas.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “netral”. Ia adalah ilmu yang berpihak—berpihak pada kualitas, pada kepedulian, pada cinta.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “kognitif” yang hanya melibatkan pikiran. Ia adalah ilmu afektif yang melibatkan hati—yang melibatkan cinta pada apa yang kita kerjakan.

3.4 Jawaban atas Pertanyaan Vincent Repu

Dengan kacamata Pirsig, jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

Ya, sangat mungkin. Bahkan, itulah yang paling penting.

Cooperative Science bukanlah ilmu yang dingin dan impersonal. Ia adalah ilmu yang hangat dan personal—ilmu yang lahir dari kepedulian, dari perhatian, dari cinta. Ia bukanlah ilmu yang hanya “mengukur” koperasi; ia adalah ilmu yang memelihara koperasi.

Bagian IV: Membaca Pertanyaan Vincent Repu dengan Kacamata Whitehead

4.1 Proses dan Realitas

Alfred North Whitehead, dalam Process and Reality (1929), mengajarkan bahwa realitas adalah proses. Bukan “benda” yang statis, melainkan peristiwa yang dinamis. Bukan “substansi” yang tetap, melainkan hubungan yang terus berubah.

▪️ Realitas bukanlah “sesuatu” yang berada di belakang proses. Realitas adalah proses itu sendiri.

▪️ Realitas bukanlah “kumpulan benda”. Realitas adalah jaringan hubungan—jaringan peristiwa yang saling terkait.

▪️ Realitas bukanlah “materi” yang mati. Realitas adalah proses yang hidup—proses menjadi, proses berkembang, proses mencipta.

4.2 CUKK sebagai Proses

Dengan kacamata Whitehead, CUKK adalah proses—bukan “organisasi” yang statis, melainkan peristiwa yang dinamis.

▪️ CUKK bukanlah “benda” yang dapat didefinisikan sekali dan untuk selamanya. CUKK adalah proses yang terus berubah, terus berkembang, terus mencipta.

▪️ CUKK bukanlah “kumpulan individu”. CUKK adalah jaringan hubungan—jaringan peristiwa yang saling terkait, yang saling mempengaruhi.

▪️ CUKK bukanlah “mesin” yang berjalan menurut hukum-hukum mekanistik. CUKK adalah organisme hidup yang tumbuh, yang beradaptasi, yang berevolusi.

4.3 Cooperative Science sebagai Ilmu Proses

Dengan kacamata Whitehead, Cooperative Science adalah ilmu proses—ilmu tentang bagaimana koperasi menjadi, bagaimana koperasi berkembang, bagaimana koperasi mencipta.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “statis” yang hanya memotret koperasi pada satu waktu. Ia adalah ilmu dinamis yang melacak proses koperasi dari waktu ke waktu.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “reduksionis” yang hanya menganalisis bagian-bagian. Ia adalah ilmu holistik yang memahami koperasi sebagai keseluruhan yang utuh.

▪️ Cooperative Science bukanlah ilmu “deterministik” yang hanya memprediksi masa depan. Ia adalah ilmu kreatif yang memahami koperasi sebagai proses yang terbuka, yang penuh kemungkinan.

4.4 Jawaban atas Pertanyaan Vincent Repu

Dengan kacamata Whitehead, jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

Ya, sangat mungkin. Bahkan, itulah satu-satunya cara yang memadai.

Cooperative Science tidak dapat memahami koperasi jika ia memandangnya sebagai benda yang statis. Ia harus memandangnya sebagai proses yang dinamis—sebagai peristiwa yang terus menjadi, terus berkembang, terus mencipta.

Bagian V: Sintesis — Cooperative Science sebagai Ilmu dari Koperasi

5.1 Definisi Cooperative Science

Dengan bantuan para filsuf sains ini, kita dapat merumuskan definisi Cooperative Science:

Cooperative Science adalah ilmu yang lahir dari pengalaman praktis koperasi, yang bertujuan untuk memahami dan memandu bagaimana relasi, kepercayaan, pendidikan, solidaritas, organisasi, dan modal dapat diubah menjadi kapasitas ekonomi, kesempatan kerja, penghasilan, dan kesejahteraan bersama.

5.2 Karakteristik Cooperative Science

▪️ Berakar pada pengalaman (Dewey): Ia lahir dari praktik nyata koperasi, bukan dari laboratorium atau perpustakaan.

▪️ Bersifat partisipatif (Pirsig): Ia melibatkan peneliti dalam proses penciptaan kualitas, bukan memisahkan peneliti dari yang diteliti.

▪️ Memandang realitas sebagai proses (Whitehead): Ia memahami koperasi sebagai proses yang dinamis, bukan sebagai benda yang statis.

▪️ Bersifat revolusioner (Kuhn): Ia menawarkan paradigma baru yang tidak dapat dibandingkan dengan paradigma lama.

5.3 Metodologi Cooperative Science

▪️ Induksi reflektif: Dimulai dari pengalaman empiris, mencari pola-pola dasar, lalu merefleksikannya secara filosofis.

▪️ Riset aksi partisipatif: Melibatkan praktisi dalam seluruh proses penelitian, dari perumusan masalah hingga implementasi solusi.

▪️ Etnografi koperasi: Mendokumentasikan dan menganalisis praktik-praktik terbaik koperasi di berbagai daerah.

▪️ Studi longitudinal: Melacak perkembangan koperasi dari waktu ke waktu, bukan hanya memotretnya pada satu waktu.

5.4 Cooperative Science dan Koperasi Kuantum

Koperasi Kuantum adalah paradigma yang lahir dari Cooperative Science. Ia adalah kerangka konseptual yang memungkinkan kita memahami koperasi sebagai sistem hidup—sebagai medan kesadaran, keterjeratan, superposisi, efek pengamat, dan keutuhan.

Cooperative Science adalah ilmu yang memungkinkan kita mengembangkan Koperasi Kuantum. Ia adalah metodologi yang memungkinkan kita menggali pengetahuan dari pengalaman, dari praktik, dari kehidupan.

5.5 Jawaban Akhir atas Pertanyaan Vincent Repu

Saudara Vincent Repu yang saya hormati,

Jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

Ya, sangat mungkin. Bahkan, itulah yang seharusnya terjadi.

CUKK bukanlah objek untuk menguji teori. CUKK adalah sumber—sumber pengetahuan, sumber kebijaksanaan, sumber ilmu. Ilmu yang lahir dari CUKK adalah Cooperative Science—ilmu yang menjelaskan bagaimana relasi, kepercayaan, pendidikan, solidaritas, organisasi, dan modal dapat diubah menjadi kapasitas ekonomi, kesempatan kerja, penghasilan, dan kesejahteraan bersama.

Cooperative Science bukanlah ilmu tentang koperasi (yang memandang koperasi sebagai objek), melainkan ilmu dari koperasi (yang memandang koperasi sebagai sumber pengetahuan). Ia lahir dari pengalaman empiris CUKK, sebagaimana teori evolusi lahir dari pengalaman empiris Kepulauan Galapagos.

Dan sebagaimana Anda katakan, aset mungkin merupakan ukuran pertumbuhan koperasi, tetapi manusia dan kehidupannya adalah alasan mengapa pertumbuhan itu bermakna. Cooperative Science menempatkan manusia—bukan aset—sebagai pusat. Ia menempatkan martabat—bukan keuntungan—sebagai tujuan. Ia menempatkan kebersamaan—bukan individualisme—sebagai fondasi.

Bagian VI: Penutup — Dari Tapang Sambas untuk Indonesia

Saudara Vincent Repu yang saya hormati,

Pertanyaan Anda telah membawa kita pada perjalanan yang panjang—dari Tapang Sambas ke Galapagos, dari Kuhn ke Dewey, dari Pirsig ke Whitehead. Kita telah melihat bahwa Cooperative Science bukanlah utopia. Ia adalah kenyataan yang dapat diwujudkan—asalkan kita berani membangun ilmu dari pengalaman, dari praktik, dari kehidupan.

CUKK telah menunjukkan jalannya. Ia telah membuktikan bahwa modal sosial, kultural, dan spiritual dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih kuat daripada modal finansial. Ia telah membuktikan bahwa kepercayaan, solidaritas, dan gotong royong dapat menjadi energi penggerak utama—bukan sekadar pelengkap.

Kini, tugas kita adalah membangun Cooperative Science—ilmu yang lahir dari pengalaman CUKK, yang dapat memandu ribuan koperasi lain di seluruh Indonesia. Tugas kita adalah menggali, menghidupkan, dan mengaktifkan kembali kekuatan terdalam yang telah dimiliki—kekuatan yang selama ini terpendam oleh dominasi paradigma lama.

Cooperative minds are quantum minds.

Pikiran-pikiran yang berpikir secara koperasi adalah pikiran-pikiran yang berpikir secara kuantum: holistik, partisipatif, terjerat, dan kreatif. Dan dengan pikiran kuantum itu, kita akan membangun peradaban baru yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat.

Dari Tapang Sambas untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia.

Merdeka!

Ketapang, 26 September 2026

DAFTAR PUSTAKA

  • Dewey, J. (1925). Experience and Nature. Chicago: Open Court.
  • Dewey, J. (1938). Logic: The Theory of Inquiry. New York: Henry Holt and Company.
  • Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: University of Chicago Press.
  • Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman—Studi Kasus Koperasi Kredit Keling Kumang 1993–2025. Jatinangor: Universitas Koperasi Indonesia.
  • Pirsig, R. M. (1974). Zen and the Art of Motorcycle Maintenance: An Inquiry into Values. New York: William Morrow & Company.
  • Whitehead, A. N. (1929). Process and Reality: An Essay in Cosmology. New York: Macmillan.
  • Zohar, D. (2022). Zero Distance: Management in the Quantum Age. Singapore: Palgrave Macmillan.
  • Zohar, D., & Marshall, I. (2004). Spiritual Capital: Wealth We Can Live By. San Francisco: Berrett-Koehler Publishers.(***