Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)
Imam Syafi’i Rahimahullah pernah memberikan pelajaran hidup yang begitu dalam melalui bait syairnya:
الدَّهْرُ يَوْمَانِ ذَا أَمْنٍ وَذَا خَطَرٍ
وَالْعَيْشُ عَيْشَانِ ذَا صَفْوٍ وَذَا كَدَرٍ
أَمَا تَرَى الْبَحْرَ تَعْلُو فَوْقَهُ جِيَفٌ
وَتَسْتَقِرُّ بِأَقْصَى قَاعِهِ الدُّرَرُ
وَفِي السَّمَاءِ نُجُومٌ لَا عِدَادَ لَهَا
وَلَيْسَ يُكْشَفُ إِلَّا الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
“Hidup itu ada dua keadaan; kadang aman, kadang penuh bahaya. Kehidupan juga ada dua rasa; kadang jernih dan menyenangkan, kadang keruh dan penuh kesusahan.
Tidakkah engkau melihat lautan..? Di permukaannya mengapung bangkai-bangkai, sedangkan mutiara justru tersimpan di dasar terdalamnya.
Dan di langit ada begitu banyak bintang yang tak terhitung jumlahnya, namun yang paling tampak hanyalah matahari dan bulan.”
Betapa agung cara Imam Syafi’i memandang kehidupan. Beliau tidak sedang mengajarkan pesimisme, tetapi sedang mengajarkan hakikat dunia; bahwa kehidupan memang tidak diciptakan untuk selalu sesuai dengan keinginan manusia.
Kadang kita berada di atas, kadang dijatuhkan keadaan. Hari ini dipuji, esok dicaci. Hari ini dikelilingi banyak manusia, esok merasa sendiri meski berada di tengah keramaian.
Begitulah dunia berjalan. Karena bila hidup selalu mudah, manusia akan lupa diri. Dan bila hidup selalu sulit, manusia akan kehilangan harapan. Maka Allah menggilir antara nikmat dan ujian agar hati manusia belajar dewasa dan mengenal Tuhannya dalam segala keadaan.
Lalu Imam Syafi’i memberikan permisalan yang sangat indah:
أَمَا تَرَى الْبَحْرَ تَعْلُو فَوْقَه جِيَفٌ
وَتَسْتَقِرُّ بِأَقْصَى قَاعِهِ الدُّرَرُ
“Tidakkah engkau melihat lautan..? Bangkai-bangkai mengapung di permukaannya, sedangkan mutiara tersimpan di dasar terdalamnya.”
Yang ringan memang mudah terapung. Tetapi sesuatu yang berharga justru berada dalam kedalaman.
Begitu pula manusia. Tidak semua yang terkenal itu mulia. Dan tidak semua yang tersembunyi itu hina.
Kadang manusia yang paling banyak dipuji hanyalah mereka yang pandai menampakkan diri di hadapan dunia, sementara orang-orang tulus justru memilih diam, memperbaiki diri, menyembunyikan amal, dan menanggung lukanya sendirian.
Uwais al-Qarni adalah bukti nyata. Di bumi beliau tidak dikenal, tidak memiliki pengikut, tidak memiliki kedudukan duniawi, bahkan pakaiannya sederhana. Tetapi namanya masyhur di langit hingga Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menyebut kemuliaannya kepada para sahabat.
Karena mutiara tidak lahir di air yang dangkal.
Orang-orang yang pernah dihancurkan kehidupan seringkali justru memiliki kedalaman jiwa yang tidak dimiliki manusia biasa. Mereka belajar sabar dari luka, belajar ikhlas dari kehilangan, dan belajar mengenal Allah ketika seluruh pintu makhluk tertutup untuknya.
Kemudian Imam Syafi’i berkata:
وَفِي السَّمَاءِ نُجُومٌ لَا عِدَادَ لَهَا
وَلَيْسَ يُكْشَفُ إِلَّا الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
“Di langit ada banyak bintang tak terhitung jumlahnya, tetapi yang tampak hanyalah matahari dan bulan.”
Begitulah kehidupan manusia. Banyak orang baik yang tidak dikenal. Banyak hati tulus yang tidak diperhatikan. Banyak pejuang kehidupan yang menangis diam-diam tanpa pernah mendapat penghargaan manusia.
Tetapi kemuliaan sejati memang tidak selalu membutuhkan tepuk tangan dunia.
Dalam pandangan orang-orang sufi, tujuan hidup bukanlah menjadi terkenal di bumi, melainkan menjadi hamba yang dikenal di langit.
Maka jangan bersedih bila hidupmu sepi dari pujian. Jangan hancur hanya karena diremehkan manusia. Sebab tidak semua mutiara berada di permukaan laut, dan tidak semua cahaya harus menjadi matahari.
Ada cahaya-cahaya kecil yang tersembunyi dalam sunyi, tetapi justru paling dekat dengan Allah.(****
