Penulis: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)
Di Era Generasi Z saat ini, perkembangan peradaban beserta aspek-aspek pendukungnya sulit dibendung. Maka dari itu, apabila generasi mudanya tidak peduli terhadap kearifan lokal budayanya, maka sedikit demi sedikit, kekayaan dan keanekaragaman budaya yang sudah ada akan tergerus dan terkikis, sehingga tidak bisa terselamatkan. Di Era Generasi Z kini, diharapkan agar generasi muda lebih mengenal, mempelajari, bahkan ikut serta berperan menjaga dan melestarikan bahasa serta seni khususnya, agar tidak punah ditelan masa.
Bahasa dan Seni Sunda, di era Gen Z harus tetap dicintai, digunakan, diraksa diriksa tur dimumule oleh generasi mudanya sendiri. Selain itu, diharapkan agar bahasa daerah (Sunda) tetap dikenalkan dan digunakan oleh setiap keluarga di rumah, terutama ‘ibu’. Karena ibu merupakan ujung tombak pendidikan secara informal. Dengan cara pengenalan dan pemakaian basa Sunda dalam keluarga, Basa Indung akan tetap dipigandrung, mendarah daging dan bersemayam di dalam denyut jantung setiap insan Sunda, agar tidak terkikis dan musnah ditelan masa.
Perkembangan bahasa Sunda itu sendiri, sejalan dengan aksara yang berkembang di masyarakat Sunda. Abad XVI Masehi, penggunaan aksara Sunda dibarengi dengan penggunaan bahasa Sunda Kuno atau bahasa Sunda Jaman Bihari (Buhun/Kuno). Pada abad XVII & XVIII, aksara yang berkembang dan digunakan oleh masyarakat Sunda saat itu adalah aksara Pegon dan aksara Cacarakan, setelah masuknya budaya Arab dan Budaya Jawa. Pada zaman itu, bahasa yang berkembang dan digunakan oleh masyarakat Sunda oleh para ahli disebut sebagai bahasa Sunda Zaman Klasik/Peralihan atau Jaman Kamari.
Pada abad XIX, ketika orang-orang Portugis, Belanda, Jepang, Inggris, dan negara mancanagara lainnya mengenalkan tulisan, yang dikenal dengan istilah aksara Latin, hal itu memengaruhi bahasa Sunda yang digunakan oleh masyarakatnya. Orang Sunda sendiri menyebutnya sebagai aksara Latén ‘Latin’, sementara itu, bahasa Sunda yang digunakannya termasuk ke dalam bahasa Sunda Jaman Kiwari/Masa Kini.
Banyak istilah yang digunakan di masa lampau atau mangsa Bihari dan zaman klasik, yang benar-benar masih diketahui atau berbeda makna di era Gen Z saat ini, seperti kata balé bobot, balé mangu, balé nyasa, balé tulis, bumi bubut, bumi kancana,bumi manik, bumi niskala, bumi ringgit, bumi sakala, bumi tetep, bumi lamba, bumi tan parek, bumi resik, pancak saji, tumpang sanga. Beberapa keahlian, pekerjaan serta hasil kreasi para ahli dalam naskah kuno dan klasik, maupun di masa kini, seperti: danudara, panjak, panéwon, panggérék, hareup catra, pangeuyeuk kebojéngkéng, kumbang gending, pangurang dasa, mémén/ gambuh, guru widang, hulu jurit hulu kembang, legig, panghulu tandang, dan lainnya. Istilah lainnyayang terungkap dalam manuskrip Sunda, seperti palikén, palikétan, pamong, panjing, pawong, sarati, preteuleum, tohaan, Jurubarata, jurugosali, juruhadi, juruhoma, jurujalir, jurujudi, jurukawih, jurulabuan.
Bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat sangat berkaitan dengan unsur seni. Sehubungan dengan itu, seni yang dikenal di masyarakat Sundapun sama, sesuai dengan zamannya. Meskipun mungkin pendapat penulis tersebut tidak sejalan dengan pendapat orang lain yang pernah mengungkapkan sejarah tentang hal dimaksud. Seni Sunda andai mengacu kepada bahasa yang digunakan dalam manuskrip Sunda, ada seni buhun, klasik, dan modern. Dalam manuskrip Sanghyang Siksakandang Karesian, terungkap nama-nama kawih, seperti kawih bongbongkaso, babahanan,bwatuha, lalanguan panjang, panyaraman, péngpélédan, sasambatan, sisindiran, tangtung, igel-igelan, dan porod eurih. Di samping itu ada beberapa jenis permainan rakyat, seperti babakutrakan, ceta nirus, ngadu liung, ngadu nini, ubang-ubangan, yang saat ini permainannya mungkin sama, namun nama atau istilahnya saja yang berbeda.
Di era Gen Z saat ini, seni yang masih dikenal dan eksis pada dasarnya sama dengan seni yang eksis dan sama bentuknya, terbagi menjadi seni rupa, seni teater, seni musik, seni tari, dan seni sastra, seperti sisindiran, wawangsalan, guguritan, rajah, sajak, kawih, tembang. dan kakawihan, di samping kaulinan barudak. Seni buhun yang masih eksis di masyarakat adat, baik di Kampung Naga maupun Baduy, di antaranya: seni angklung, beluk, kacapian, angklung buhun, karinding, seni gambang, dsb. Sedangkan seni yang masih eksis di Kampung Naga, khususnya seni terbang, baik terbang sejak maupun terbang Gembyung.
Peran bahasa dan seni di era Generasi Z sebagaimana diuraikan dalam tulisan ini, disawalakeun ‘diseminarkan’, atas kiprah Lembaga Independen Tradisi Adat Sejarah dan Budaya Nusantara (Lintas Budaya Nusantara), pada hari Selasa, tanggal 8 Juli 2025 secara daring. Pembicara kunci/utamanya orang-orang penting di dinasnya masing-masing, khususnya yang bergerak di bidang budaya. Di antaranya pendiri/ketua umum Lintas Budaya Nusantara Dr. H. Anton Charliyan, M.PKN., Kepala Dinas Pariwisata Budaya Jabar, Iendra Sofyan, St., M.Si., Kepala Balai Bahasa Jabar Dr. Herawati, SS., MA., Rektor Universitas Perjuangan, Dr. H.D. Yadi Heryadi, M.Sc./Dr. Agus AW, M.Sn., dan Pegiat Seni & Ketua Panahan Tradisional Walet Basura Nusantara, Ully Hary Rusady, B.Mus, MA., atau dikenal dengan Ully Sigar Rusady., serta para penulis artikel Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora & Jurnal Kabuyutan, di bawah naungan Lintas Budaya Nusantara, yang terdiri dari Dosen Universitas Padjadjaran dan dosen universitas lainnya. Acara ini mendapat sambutan hangat dan perhatian yang sangat baik dari Gubernur Jabar dan masyarakat Jawa Barat dan provinsi lainnya di Indonesia.(***
