Oleh: Panji Kusuma Wijaya~69 (Senopati Ing Alogo Trah Kanjeng Sunan Kalijogo)
Salam rahayu….
Spiritualitas Jawa tidak pernah menggambarkan Tuhan dengan konsep sebagai personal…, atau sosok hebat di atas langit yang bebas melakukan apa saja terhadap manusia….; seperti menguji…, memerintah…, melarang…, menghukum…., atau memberikan hadiah dengan berbagai atribut serta perilaku manusia yang lainnya. Konsep Tuhan dalam budaya Jawa itu unik dan khas.Berbeda dengan konsep Tuhan dalam budaya bangsa lain (USA…, Timur Tengah…, Eropa…, dan lain-lain)….; yang sering memberikan gambaran Tuhan dengan sifat manusia seperti….: senang…, marah…, cemburu…, menghukum…, dan lain sebagainya.
Dalam spiritualitas Jawa…; sosok Tuhan sering disebut dengan istilah Hurip (Hidup)…, atau Sang Hyang Hurip/Yang Maha Hidup. Konsep ini bersifat abstrak dan universal…, daripada konsep tentang Tuhan sebagai sosok yang bersifat anthropomorfis tadi.
Itulah sebabnya…; dalam spiritualitas Jawa tidak ada istilah menyenangkan Tuhan…, memperjuangkan Tuhan…, membela Tuhan…, ataupun bahkan berperang atas nama Tuhan…; karena Tuhan dipahami sebagai Sumber…, Dasar…, dan Tujuan dari segala sesuatu…, kekuatan kehidupan itu sendiri (Sangkan Paraning Dumadi).
Dengan demikian…; spiritualitas Jawa dapat menghargai dan hidup harmonis selaras dengan keyakinan dan kepercayaan lain…., karena menganggap semua itu berasal dari Tuhan.
Dengan demikian…, tidak ada persaingan untuk menunjukkan atau berebut mengenai Tuhan ini milik siapa yang lebih benar…, karena semuanya toh juga berasal dan akan kembali kepada Tuhan juga…., tanpa ada pembedaan dan diskriminasi sedikitpun.
Itu sebabya juga dulu orang Jawa bisa menerima dan mempersilahkan agama dari bangsa-bangsa asing untuk bisa masuk…, hidup…, dan berkembang di tanah Jawa…; meskipun pada akhirnya tidak sedikit dari mereka yang kemudian berkembang menjadi arogan…, ekspansif…, dan bahkan ingin menghilangkan serta mengusir sang tuan rumah dari tanahnya sendiri.
Spiritualitas Jawa….; tidak pernah bicara tentang usaha untuk mendominasi…., menguasai…, dan mengatur seluruh dunia ke dalam satu sistem yang seragam dan sama. Spiritualitas Jawa menghargai keragaman dan perbedaan secara sebenarnya…, bukan basa basi di mulut saja.
Dan karena sifatnya yang demikian…, maka spiritualitas Jawa juga tidak sibuk mengatur tentang perilaku manusia…, melainkan sekedar berusaha membangkitkan kesadaran manusia…; agar dengan kesadaran diri itu manusia bisa mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik.
Spiritualitas Jawa juga tidak menciptakan doktrin yang kaku dan tidak boleh diubah…, karena menyadari bahwa pengertian manusia akan terus berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan tingkat kesadarannya seiring waktu.
Spiritualitas Jawa…, juga tidak menciptakan sistem dan lembaga yang cenderung akan menciptakan penjara baru bagi umat manusia.
Spiritualitas Jawa tidak menciptakan dokumentasi yang mati dan kaku…, karena menyadari bahwa kitab sejati letaknya ada di hati nurani dan sanubari manusia yang terdalam.Dan disitulah manusia akan bisa memahami Tuhan yang sejati…, bukan Tuhan yang sekedar sebagai “berhala mental” saja.
Spiritualitas Jawa juga tidak menciptakan teror…, menakut-nakuti…, maupun ancaman…, juga tidak ingin menciptakan perbudakan terhadap manusia berdasarkan ancaman dan rasa takut.
Di spiritualitas Jawa hanya ada welas asih…; karena welas asih adalah sifat dan hakikat Tuhan yang sejati. Semoga budaya yang begitu luhur dan indah dari leluhur tanah Jawa ini…, tidak dilupakan begitu saja oleh anak cucunya sendiri.
Salam Rahayu Kamulyaning Jagad..
PANJI KUSUMA WIJAYA~69
(Senopati Ing Alogo Trah Kanjeng Sunan Kalijogo,HP/WA : 082364484546)***