oleh

Waktu yang Terus Berjarak (Tasikmalaya 1947 – Indonesia 2026)

Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)

Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi Edisi 11 Agustus 2026

Prolog: Cerita ini ditulis pada 11 Agustus 2026, enam hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan NKRI ke‑81.

Di kaki GunungTampomas, angin pagi membawa aroma tanah kering berdebu karena musim kemarau masih berlangsung. Ditambah dengan desir bambu dari bukit di belakang rumah yang tertiup angin menambah rasa semangat menjelang peringatan hari kemerdekaan RI 17 Agustus yang biasa dirayakan dengan meriah.

Waktu terasa dekat sekaligus jauh—seperti dua titik sejarah yang saling memanggil:

Tasikmalaya 1947 dan Indonesia 2026. Di antara dua titik itu, ada satu arus yang tidak pernah berhenti:

koperasi sebagai jalan untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.

1. Proklamasi yang Masih Basah oleh Harapan

Indonesia baru dua tahun merdeka.

Tanggal 17 Agustus 1945 masih terasa hangat, seperti bara yang belum padam.

Rakyat menatap masa depan dengan dada penuh harapan, tetapi juga penuh kecemasan. Belanda kembali datang dengan agresi militer.

Bandung terbakar oleh semangat Bandung Lautan Api.

Di Tasikmalaya, dentuman senjata kadang terdengar dari kejauhan, mengingatkan bahwa kemerdekaan belum selesai. Namun di tengah ancaman itu, ada sekelompok orang yang memilih jalan lain:

bukan mengangkat senjata, tetapi mengangkat koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat.

2. Tasikmalaya Menjadi Rumah Perjuangan Baru

Tahun 1947, Tasikmalaya bukan kota besar.

Namun ia menjadi ibu kota Jawa Barat sementara, setelah Bandung porak-poranda oleh perang.

Di kota inilah para tokoh koperasi berkumpul, membawa mimpi besar tentang ekonomi rakyat. Gedung pabrik tenun milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) di Jalan Ciamis No. 40 menjadi tempat sederhana, tetapi kelak bersejarah. Di sana, pada 11–14 Juli 1947, berlangsung Kongres Koperasi Indonesia I.

3. Empat Tokoh Priangan yang Menantang Waktu

Empat tokoh dari Pusat Koperasi Karesidenan Priangan (PKKP) menjadi motor gerakan Kongres I:

Niti Soemantri — Ketua, putra Garut.

Arbijn Dibija Doengga — Sekretaris, pemuda Gorontalo yang hijrah ke Bandung

Kartawisastra — Bendahara, putra Tasikmalaya.

Djoeningsih — Pembantu Umum, putri Bandung.

Mereka bukan jenderal.

Mereka bukan pemimpin pasukan.

Namun mereka membawa sesuatu yang lebih berbahaya bagi penjajah: gagasan tentang kemandirian rakyat.

PKKP memutuskan tiga hal besar:

Mengorganisasi gerakan koperasi Jawa Barat

Mendorong pembentukan koperasi di seluruh Jawa Barat

Menyelenggarakan Kongres Koperasi Indonesia

Tasikmalaya dipilih karena relatif aman, dan karena kota itu menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat saat Bandung terbakar.

4. Dunia Baru Selesai Perang, Indonesia Baru Memulai Perjuangan

Di luar negeri, dunia baru saja selesai Perang Dunia II.

Sekutu menang.

Jepang dan Jerman kalah.

Di Indonesia, kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah membuat Belanda mencoba kembali.

Agresi militer pertama terjadi.

Rakyat mengungsi.

Pasukan gerilya bergerak di hutan dan gunung.

Namun di Tasikmalaya, di sebuah gedung pabrik tenun, 52 delegasi dari Jawa, Madura, dan Sumatra berkumpul.

Mereka tidak membawa senjata.

Mereka membawa kertas, pena, dan keyakinan bahwa koperasi adalah jalan menuju kemakmuran rakyat.

5. Bung Hatta: Bayang-Bayang yang Menuntun

Di Jakarta, Bung Hatta—Wakil Presiden RI—mengirim restu.

Ia tidak hadir secara fisik, tetapi arahannya menjadi kompas moral Kongres.

Hatta menegaskan: “Koperasi adalah alat untuk membangun ekonomi rakyat berdasarkan Pasal 33.”

Kata-kata itu menjadi bara yang menyala dalam dada para peserta kongres.

6. Keputusan yang Mengubah Arah Bangsa

Kongres menghasilkan sepuluh keputusan besar, di antaranya:

Pembentukan SOKRI

Asas Gotong Royong

Bank Koperasi

Sentral Koperasi Rakyat Desa

Distribusi barang penting oleh koperasi

Hari Koperasi 12 Juli

Dan satu keputusan yang paling visioner:

Pendidikan koperasi harus diperluas ke seluruh rakyat

Keputusan ini heroik.

Di tengah perang, mereka memikirkan pendidikan.

Di tengah agresi, mereka memikirkan masa depan.

Namun ironi sejarah berkata lain:

hingga kini koperasi belum diakui sebagai disiplin ilmu mandiri.

Tidak seperti pertanian.

Tidak seperti kedokteran.

Tidak seperti pertahanan.

Padahal Kongres I sudah melihat jauh ke depan:

tanpa ilmu, koperasi tidak akan menjadi sokoguru ekonomi Indonesia.

7. Waktu yang Terus Berjarak

Tahun 2026.

Tasikmalaya kembali ramai.

Hari Koperasi diperingati.

Menteri Koperasi dan Menteri Kebudayaan hadir. Di tengah acara itu, seorang tokoh bernama Kambara (Kamarudin Batubara), Ketua Benteng Mikro Indonesia, duduk dalam diskusi kecil.

Ia tidak berteriak.

Ia berbicara pelan, tetapi gagasannya mengguncang ruang itu:

“Situs Kongres Koperasi I harus dipugar.

Jangan pakai APBN.

Jangan minta konglomerat.

Biarkan koperasi Indonesia membangun sejarahnya sendiri.”

Pak Kambara bukan orang kaya raya.

Namun ia sudah menyumbangkan lebih dari 500 rumah gratis untuk warga kurang mampu. Ia tahu satu hal:

koperasi harus membangun sejarahnya dengan tangannya sendiri.

8. Andaikan Suprastruktur Nilai Itu Berdiri

Andaikan di Tasikmalaya, di situs Kongres I 1947 itu, dibangun sebuah organisasi suprastruktur nilai koperasi, sebuah lembaga yang menghidupkan kembali Pasal 33 UUD 1945 sebagai pedoman ekonomi rakyat, maka waktu tidak lagi berjarak.12 Juli 1947 tidak lagi menjadi tanggal yang jauh, tetapi menjadi arus yang terus mengalir, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan NKRI.

Di tempat itu, nilai koperasi akan menjelma bukan sekadar gerakan, tetapi pusat lahirnya pemikiran untuk mewujudkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia—sebagaimana dicita-citakan oleh Bung Hatta, sebagaimana diputuskan oleh Kongres I, dan sebagaimana diperjuangkan oleh rakyat yang ingin hidup adil dan makmur dalam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

9. Penutup: Waktu yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Kongres Koperasi I adalah peristiwa heroik.

Ia lahir di tengah perang, di tengah ancaman, di tengah ketidakpastian.

Ia bukan hanya rapat—ia adalah perlawanan ekonomi rakyat terhadap penjajahan. Waktu memang terus berjarak.

Namun sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Selama bambu-bambu di Tasikmalaya masih bergoyang,

selama rakyat masih percaya pada gotong royong,

selama koperasi masih menjadi alat perjuangan, maka semangat Kongres Koperasi I tahun 1947

akan terus hidup—

di antara desir angin,

di antara suara rakyat,

di antara harapan bangsa yang tidak pernah padam.