Catatan: Abah Anton Charliyan
Wangsit Sanghyang Ratu Permana Dewi
- Sing hirup hayodyaning Gusti,
- Samawing hanung raratu Permana Déwi,
- Sang Nunggal Sumara bumi.
- Ka wiwitan putra Saka Galuh
- Bagja hamuyut nuka sing sirah makaliung
- Hanurata cungcurap laras
- Cewang ka kabéh incu
- Matag aji sakaning dunya
- Titis bumi Panjalu
- Hanyakraning Déwi Suga Laras Mulya
- Mahayunan ayana kadatuan
- Pakéna gawé rahayu
- Pakeun heubeul jaya di dua buana.
PANJALU adalah sebuah kota kecil sebagai ibukota dari kecamatan Panjalu di Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat. Kota ini terlatak sekitar 100 km dari ibukota propinsi Jawa Barat Bandung atau 75 km dari Cirebon dan sekitar 30 km dari Ciamis.
Pada tahun 2004 Kota kecamatan ini telah dideklarasikan sebagai Kota Wisata Budaya Ziarah oleh Gubernur Propinsi Jawa Barat sehingga kini menjadi tanggung jawab Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat baik mengenai pengembangan dan pelestariannya. Di tengah-tengah kawasan Panjalu terdapat suatu danau buatan yang cukup indah terkenal dengan nama Situ Lengkong atau Situ Panjalu. Luas danau sekitar 58 hektar dan di tengah-tengahnya terdapat “pulau” yang dinamai Nusa Gede dengan luas sekitar 9 (kuburan) leluhur keluarga besar turunan para raja hektar. Di Nusa Gede terdapat beberapa makam Panjalu. Panjalu dahulunya adalah sebuah kerajaan yang cukup besar, berwibawa dan berpengaruh di kawasan Tatar Sunda (Jawa Barat).
Konon, menurut catatan yang terdapat di “Yayasan Borosngora”), dan ceritera turun-temurun, Kerajaan Panjalu terbentuk dari gabungan dua kerajaan yaitu Gunung Bitung (juga dikenal Soka Galuh) dan Karangtenan Gunung Sawal. Kerajaan Gunung Bitung pada awalnya diperintah oleh Sanghyang Tunggal Ratu Galuh Nyakrawati Ing
Tanah Jawa, Kemudian diwariskan kepada Batara babar Buana, diteruskan oleh Ratu Galuring Sajagat, Prabu Sanghyang Cipta Permana Dewa. Prabu Sanghyang Cipta Permana Dewa mempunyai tiga anak kembar yaitu (1) Sanghyang Bleg Tambleg Rajagulingan, (2) Sanghyang Pamonggang Sangrumanghyang dan (3) Sanghyang Ratu Permana Dewi. Putri terakhir ini konon memiliki sifat yang lembut dan ketika memimpin negara selalu mengajarkan dan mengembangkan ilmu “karahayuan dan kedamaian“.
Rangga Gumilang Yaitu salah seorang keturunan dari Kerajaan Karangtenan Gunung Sawal. Rangga Gumilang adalah putra Raja Marangga Sakti Yaitu buyutnya raja pertama Prabu Tisna jati yang mewariskan kerajaan kepada putranya Batara Layah diteruskan oleh Karimun Putih dan akhirnya kepada Marangga Sakti (Ayah Rangga Gumilang). Kembali ke kerajaan Panjalu, konon ketika Ratu Permana Dewi memerintah Negara Soka Galuh, ia sangat dicintai dan disegani oleh rakyatnya, sehingga ia diberi gelar Soka Galuh Panjalu. Kata “panjalu” diberikan sebagai kebalikan dari kata “jalu” (laki-laki) dan “pan-jalu adalah bukan laki-laki” (perempuan). Ratu Permana Dewi telah mewariskan sejumlah falsafah hidup yang sampai sekarang dipegang oleh warga Panjalu. Falsafah ini adalah: Mangan karna halal, paké karna suci, tekad-ucap-lampah sabeneré.
Dari pernikahan Ratu Permana Dewi dan Rangga Gumilang lahir seorang putra yang terkenal dengan nama Sanghyang Lembu Sampulur, dengan gelar Panjalu Luhur 1, yang meneruskan pemerintahan dan akhirnya diserahkan kepada putranya yaitu Sanghyang Cakradewa . Cakradewa mempunyai makna “menolak dewa”, karena limunya yang tinggi sehingga ia mempunyai keraguan akan dewa, sedangkan ajaran yang dikembangkannya disebut “Sunda Wiwitan”. Sanghyang Cakradewa yang kala itu berdomisili di Dayeuh Luhur (Desa M aparah sekarang)mempunyai enam orang putra yaitu:
- Sanghyang Lembu Sampulur II
- Sanghyang Borosngora
- Sanghyang Panji Barani
- Ratu Mamprang Kancana Artas Wayang
- Ratu Punut Agung
- Angga Runting
Dari keenam putranya, konon putra kedua ya Sanghyang Borosngora yang diperintahkan oleh Prabs Cakradewa (yang tidak mempercayai kepada dewa dewa) untuk mencari ilmu yang dapat menjawab keraguan dirinya dan dapat digunakan sebaga pegangan oleh seorang raja yang akan memerintah pada masa depan Kerajaan Panjalu.
Syahdan menurut kisah yang diyakini turunan Kerjaan Panjalu, bahwa Sanghyang Borosngora kemudian pergi mencari ilmu, yang dipelajarinya antara lain ilmu beladiri, ilmu kekebalan (Sunda: “Kadugalan”) dan sebagainya. Tetapi ilmu-ilmu ini bukan dimaksud dan diharapkan oleh ayahnya Prabu Cakradewa, sehingga sekembalinya Borosngora dari pencarian ilmunya tidak diterima dan diperintahkan untuk terus mencari ilmu yang dimaksud ayahnya. Kemudian Borosngora pergi lagi untuk melaksanakan tugas sang ayah, tetapi kali ini ia membawa syarat dari sang ayah yaitu ia harus membawa tempat air “gayung” dan saat pulang kelak gayung tersebut harus penuh diisi oleh air. Yang menjadi tantangan bahwa gayung tersebut berlubang di bagian bawahnya. Walaupun tidak logis, tetapi karena tugas sang Raja ia berjanji untuk melaksanakan tugasnya.’)
Konon dalam pencahariannya ia sampai ke Zajirah Arab yaitu ke kota Mekkah. Konon menurut riwayat, di sana ia belajar dari sahabat Nabi Sayidina Al r.a., memperdalam ilmu dan ajaran islam setelah ia mengagumi akan keluhuran Ilmu Sayidina Ali kemudian ia dianggapnya sebagai Guru. Bertahun-tahun Borosngora belajar di Tanah Arab, dan sepulangnya dari sana Sanghyang Borongora dibekali dengan beberapa cenderamata seperti benda tongkat (cis), pedang dan pakaian “haji” khas arab”) dan berjanji akan menyebarkan agama Islam di tanah kelahirannya. Sudah barang tentu, beliau pun tidak lucut membawa air Zam-zam dari Mekkah yang dibawanya pada “gayung berlubang dan konon kemudia dicurahkan di sebuah sumber air yang kini menjadi danau “Situ Lengkong” hasil pembendungan kawasan Legok Jambu yang telah direkayasa menjadi sebuah danau. Sepulangnya dari Tanah Suci Mekah, Sanghyang Borosngora, yang diberi nama islam Syech Abdul Iman. kemudian dinobatkan menjadi Raja Panjalu untuk meneruskan pemerintahan ayahandanya Prabu Cakradewa. la mempunya putra bernama Hariang Kancana yang kini dimakamkan di Nusa Gede . Prabu Hariang Kancana mempunyai keturunan bernama Hariang Kuluk Kunang Teko, kemudian pemerintahan diteruskan oleh Hariang Kada Cayut Martabaya dan akhirnya diteruskan oleh Hariang Kunang Natabaya yang makamnya ditemukan di beberapa daerah Panjalu.
Runtuhnya Kerajaan Panjalu
Akhirnya kerjaan Panjalu runtuk sekitar tahun 1250 (masa jayanya Pajajaran), dan kemudian bergabung dengan keraton Sunda lainnya saat itu sehingga gelar raja diganti dengan sebutan “bupati”. Salah satu keturunan kerajaan yang menjadi bupati adalah Sembah Dalem Arta Sacanata, atau Dalem Wiradipa. Kebupatian kemudian dilanjutkan oleh Sembah Dalem Cakranagara I, Sembah Dalem Cakranagara II dan bupati terakhir Sembah Dalem Cakranagara III (tahun 1819), yang makamnya ada di tengah-tengah Situ Lengkong. Keturunan terakhir yaitu Demang Prajadinata yang disebut-sebut sebagai pemilik Situ Lengkong. Kemudian turunanannya adalah R.H. Muhammad Nur Tjakrapradja, R.H. Nur Rohman Galib Tjakradinada dan yang terakhir H. Atong Tjakradinata.
Terlepas dari benar tidaknya kisah di atas, akurat atau tidaknya masa hidupnya Borosngora atau pertemuannya dengan Sayidina Ali r.a., bukanlah masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini, hanya sangat menghormati “tradisi” dan “keyakinan” keturunan Prabu Borosngora dan Kerajaan Panjalu, bahwa kisah tersebut adalah “kisah yang diyakininya” dan kita harus menghormatinya sebagai “etika budaya” dan kelestarian kebudayaan Panjalu.
Berbagai wasiat (wangsit) dan falsafah serta ajaran-ajaran yang diturunkan oleh Ratu Permana Dewi dan Prabu Borosngora kepada masyarakatnya kala itu. antara lain:
- Mangan karna halal, pake kamna suci, tekad- ucap-lampah sabenere.
- Papagon Agama (jeung) Nagara Jadikeun Amalan Lahir-batin Ulah salah. (PANJALU).
- Uriwah-Urinyah-Matanyah-Baganyah.
- Sareundeuk saigel sabobo sapihanean.
- Gailuh-Galleuh-Gallh: Nur Allah, Nur Muhamma dan Nur Adam
- Tawekal-Sabar-Jujur
- Falsafah Syekh Borosngora.
Falsafah dan wangsit inilah , mudah- mudahan ada faedahnya bagi kita semua. Perlu dicatat bahwa falsafah ini yang dicatat dan diterima secara turun Prabu Borosngora yang sampai saat ini dijaga temurun (oral tradition) oleh turunan dan akhli waris keasliannya.(***
