oleh

Workshop Culturally Responsive Teaching Bagi Guru di Kabupaten Pangandaran

Penulis : Dian Kurniawan, S.Pd., M.Pd. (Dosen S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya)

Indonesian Mathematics Education Society (I-MES) Jawa Barat Bidang Pengembangan SD dengan Ketua Dr. Asep Amam, M.Pd dari Universitas Galuh, Wakil Ketua, Samnur Saputra, M.Pd. dari Universitas Islam Nusantara, dan anggota Dian Kurniawan, M.Pd. dari Universitas Siliwangi, M. Nuur’aini Sholihat, M.Pd. dari Universitas Sebelas April,  Sonya Fanny Tauran, M.Pd. dari Universitas Advent Indonesia, Eliva Sukma Cipta, M.Pd. dari Universitas Islam Nusantara, serta Nur Azizah, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Singaperbangsa melaksanakan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat di Aula SMPN 1 Pangandaran dengan bentuk kegiatan “Workshop Culturally Responsive Teaching bagi guru di Kabupaten Pangandaran” dengan peserta sebanyak 282 Guru SD se-Kabupaten Pangandaran.

Kegiatan pada hari Jum’at, 28 Nopember 2025 ini dihadiri oleh Kabid Sekolah Dasar Disdikpora Kab. Pangandaran, Bapak Darso, Kepala SMPN 1 Pangandaran sebagai pihak dari penyedia sarana dan pra sarana di sekolah, dan 10 perwakilan dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kab. Pangandaran yang dipimpin bapak Rahlan. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini merupakan Kerjasama antara Indonesian Mathematics Education Socety (I-MES) Jawa Barat dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran. I-MES Jawa Barat dan Disdikpora Kab. Pangandaran menjalin Perjanjian Kerjasama melalui Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA). Harapan utama adalah untuk mengimplementasikan kerja sama yang konkret, terperinci, dan mengikat secara hukum berdasarkan kerangka kerja yang telah disepakati sebelumnya dalam Nota Kesepahaman (MoU) dan memastikan kolaborasi yang efektif, terstruktur, akuntabel, dan memberikan manfaat nyatabagi instansi yang terlibat. 

Pendidikan yang efektif tidak hanya mengandalkan penyampaian materi kurikulum semata, tetapi juga harus mempertimbangkan latar belakang budaya dan lingkungan peserta didik. (Nieto, S., & Bode, P., 2018). Dalam konteks Indonesia yang multikultural, keberagaman budaya, sosial, dan lingkungan hidup menjadi unsur penting yang perlu diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah. Sayangnya, pendekatan pembelajaran yang sering digunakan masih bersifat homogen dan kurang responsif terhadap konteks lokal yang dimiliki peserta didik (Yuliana, M., 2021)..

Culturally Responsive Teaching (Gay, G., 2018). adalah pendekatan pedagogis yang menekankan pentingnya hubungan antara budaya peserta didik dengan proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini, guru dapat mengaitkan materi ajar dengan realitas kehidupan peserta didik, termasuk pengalaman lingkungan tempat mereka tinggal. (Banks, J. A., 2016). Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan relevansi pembelajaran, tetapi juga memperkuat identitas kultural siswa serta meningkatkan partisipasi dan hasil belajar mereka.

Pengalaman lingkungan yang dimiliki peserta didik, seperti interaksi dengan alam, kebiasaan masyarakat lokal, hingga praktik budaya setempat, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber belajar yang kontekstual (Ladson-Billings, G., 2009).. Dengan mengintegrasikan pengalaman ini ke dalam pembelajaran melalui pendekatan CRT, peserta didik akan merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk belajar. Namun, implementasi pendekatan ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya pemahaman guru tentang konsep CRT dan keterbatasan bahan ajar yang kontekstual (Santoso, B., 2020). Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana Culturally Responsive Teaching dapat dimanfaatkan sebagai strategi untuk mengembangkan pengalaman lingkungan peserta didik ke dalam proses pembelajaran, serta untuk mengidentifikasi praktik terbaik yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Tabel 1. Integrasi ZPD dalam CRT. (Margolis, A.A., 2020)

KomponenZPD (Teori Vygotsky)CRT (Pendekatan Inklusi Budaya)Integrasi ZPD dalam CRT
Peran GuruMKO  (Pemberi Scaffolding)Fasilitator budaya & akademisMKO yang menggabungkan konteks budaya dan akademik
Materi & MetodeSkalasi sesuai tingkat potensi siswaRelevansi budaya dalam materi ajarMateri kulturan yang memfasilitasi Scaffolding ZPD
Strategi PembelajaranProgresif Scaffolding hingga mandiriKeterlibatan siswa berdasarkan budayaKolaborasi antar siswa dengan Scaffolding budaya
EvaluasiMenilai perkembangan dan potensi siswaPenilaian inklusif dan kontekstual budayaPenilaian berdasar kemampuan ZPD dan identitas budaya

Tujuan yang diharapkan dari Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran adalah :

  1. Menghargai Keberagaman Budaya
    1. Mengembangkan sikap saling menghormati perbedaan budaya, bahasa, adat, dan nilai-nilai yang dimiliki peserta didik.
    1. Mencegah terjadinya diskriminasi dan stereotip dalam proses pembelajaran.


  • Meningkatkan Relevansi Pembelajaran
    • Mengaitkan materi pelajaran dengan konteks kehidupan nyata peserta didik sehingga pembelajaran terasa dekat, nyata, dan bermakna.
    • Membantu peserta didik memahami konsep-konsep akademik melalui contoh yang sesuai dengan pengalaman dan lingkungan mereka.
  • Meningkatkan Motivasi dan Partisipasi
    • Memberi ruang bagi peserta didik untuk berkontribusi aktif melalui pengalaman budaya dan lingkungan mereka sendiri.
    • Meningkatkan rasa percaya diri dan keterlibatan siswa dalam proses belajar.
  • Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Empati
    • Mendorong peserta didik untuk menganalisis isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan secara kritis.
    • Membantu peserta didik membangun empati terhadap perspektif yang berbeda.
  • Mendukung Pembelajaran yang Berkeadilan
    • Menyediakan kesempatan belajar yang setara bagi semua peserta didik tanpa memandang latar belakang budaya atau sosial-ekonomi.
    • Menyesuaikan metode pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan belajar yang beragam.
  • Mempersiapkan Peserta Didik untuk Hidup dalam Masyarakat Multikultural
    • Membekali peserta didik dengan keterampilan untuk berinteraksi secara efektif di lingkungan yang beragam budaya.
    • Membangun kesadaran global dan tanggung jawab sosial.