Penulis: Agus Pakpahan
Di Desa Mandalaherang ada sebuah kampung bernama Tarigu.
Jangan salah paham.
Tarigu bukan terigu.
Kalau terigu itu tepung untuk membuat roti, kue, dan mi, Tarigu adalah nama kampung.
Orang yang lahir atau tinggal di sana biasa disebut Orang Tarigu.
Salah seorang yang paling terkenal adalah Ojak.
Namanya Ojak.
Tetapi karena ia berasal dari Kampung Tarigu, lengkaplah namanya:
Ojak Orang Tarigu.
Ojak sebenarnya orang biasa.
Ia tidak punya ilmu silat.
Tidak bisa membaca telapak tangan.
Tidak bisa melihat masa depan.
Dan yang paling penting, ia tidak bisa membedakan mana ayam yang sedang sakit dan mana ayam yang sedang malas.
Namun, beberapa bulan terakhir, Ojak mendapatkan gelar baru.
Orang-orang sekarang memanggilnya:
Dukun Bekatul.
Dari Tarigu ke Bekatul
Sebenarnya perjalanan Ojak menjadi “dukun” bermula dari kesalahpahaman.
Suatu pagi ia sedang berada di warung.
Seorang tetangga bertanya,
“Jak, kamu Orang Tarigu, ya?”
“Betul.”
“Tarigu itu yang tepung?”
Ojak langsung melotot.
“Bukan! Tarigu itu kampung!”
“Oh… kirain terigu.”
Ojak menghela napas.
“Kalau saya orang terigu, mungkin dari dulu sudah jadi bakwan.”
Orang-orang di warung tertawa.
Sejak itu Ojak sering menjelaskan:
“Tarigu itu kampung. Terigu itu tepung. Jangan sampai saya dikira hasil penggilingan.”
Pertemuan Pertama dengan Bekatul
Suatu hari Ojak melihat orang sedang menggiling padi.
Dari mesin penggilingan keluar beras putih.
Di sampingnya ada tumpukan bahan berwarna kecokelatan.
Ojak menunjuk.
“Itu apa?”
“Bekatul.”
“Buat apa?”
“Buat ayam.”
Ojak mengambil sedikit.
Ia memandangnya lama.
“Jadi ini bagian dari beras?”
“Iya.”
“Kalau begitu kenapa ayam yang makan?”
Tetangganya menjawab,
“Karena ayam mau.”
Ojak mengangguk.
“Berarti ayam kita lebih pintar dari manusia.”
“Kenapa?”
“Dia tahu makanan bagus sebelum manusia tahu.”
Sejak saat itu Ojak mulai memperhatikan bekatul.
Ojak Mulai Belajar
Ojak mulai membaca.
Mulai bertanya.
Mulai mencoba.
Kemudian ia menemukan bahwa bekatul dapat diolah dan bahkan difermentasi.
Ojak semakin bersemangat.
Ia membeli sebuah wadah.
Ia membuat bekatul fermentasi.
Ia mencium aromanya.
“Wah!”
Tetangganya bertanya,
“Enak?”
Ojak menjawab,
“Belum tahu.”
“Terus kenapa bilang wah?”
“Karena kalau saya bilang ‘aduh’, nanti saya dikira gagal.”
Fermented Rice Bran
Hari berikutnya Ojak membawa bekatul fermentasi ke warung.
Ia menunjukkan kepada teman-temannya.
“Ini namanya Fermented Rice Bran.”
Mang Udin melihatnya.
“Bahasa Indonesianya?”
“Bekatul fermentasi.”
“Kenapa harus bahasa Inggris?”
Ojak menjawab serius,
“Kalau namanya bahasa Inggris, harganya biasanya naik.”
Mang Udin mengangguk.
“Betul juga.”
Ojak menambahkan,
“Tapi kalau dijual ke tetangga, tetap pakai bahasa Indonesia.”
“Kenapa?”
“Supaya tidak ditawar pakai bahasa Inggris.”
Warung kembali ramai oleh tawa.
Semua Masalah Menjadi Bekatul
Sejak itu Ojak semakin terkenal.
Setiap ada orang datang bertanya tentang bekatul, Ojak langsung membuka buku catatannya.
Suatu hari seorang ibu datang.
“Jak, saya mau tanya.”
“Tentang bekatul?”
“Iya.”
“Silakan.”
“Kalau bekatul dicampur nasi bagaimana?”
“Bisa.”
“Kalau dicampur bubur?”
“Bisa.”
“Kalau dicampur jus?”
“Bisa.”
Ibu itu semakin penasaran.
“Kalau dicampur kopi?”
Ojak berpikir.
“Bisa.”
“Benarkah?”
Ojak menjawab tenang,
“Belum pernah saya coba.”
“Lho!”
“Saya tadi bilang bisa secara teori. Kalau soal rasa, itu urusan Ibu.”
Ibu itu langsung tertawa.
Suatu hari seorang pemuda datang.
“Jak, katanya bekatul bisa bikin badan sehat?”
Ojak mengangguk.
“Bekatul itu pangan. Tetapi jangan berpikir satu makanan bisa menyelesaikan semua masalah hidup.”
Pemuda itu kecewa.
“Kenapa?”
“Karena kalau begitu, orang yang makan bekatul tidak perlu bekerja.”
“Lalu?”
“Cukup makan bekatul sambil menunggu kaya.”
Pemuda itu tertawa.
Ojak menepuk bahunya.
“Sayangnya ilmu bekatul belum sampai ke situ.”
Lahirnya Dukun Bekatul
Lama-kelamaan masyarakat mulai memberi Ojak gelar.
Bukan profesor.
Bukan dokter.
Bukan ahli gizi.
Tetapi:
DUKUN BEKATUL
Ojak protes.
“Kenapa saya dukun?”
Ketua RT menjawab,
“Karena semua masalah kamu jawab dengan bekatul.”
“Contohnya?”
“Orang sakit perut, bekatul.”
“Tidak begitu.”
“Orang susah tidur, bekatul.”
“Bukan begitu.”
“Orang tidak punya pekerjaan, bekatul.”
Ojak berpikir sebentar.
“Yang terakhir memang agak jauh.”
Ketua RT tertawa.
Bekatul Bukan Obat Segala Masalah
Suatu malam Ojak duduk di depan rumah.
Seorang anak muda datang.
“Jak.”
“Heh?”
“Kalau saya mau sukses, bagaimana?”
Ojak diam.
Kemudian bertanya,
“Sudah bekerja?”
“Sudah.”
“Sudah belajar?”
“Sudah.”
“Sudah menabung?”
“Sedikit.”
“Sudah berhenti membeli barang yang tidak perlu?”
Anak muda itu terdiam.
Ojak mengangguk.
“Nah.”
“Apa?”
“Masalahmu bukan kekurangan bekatul.”
“Terus?”
“Kekurangan disiplin.”
Anak muda itu tertawa.
“Kirain semua masalah ada hubungannya dengan bekatul.”
Ojak menjawab,
“Tidak. Bahkan saya sendiri masih punya masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan bekatul.”
“Apa?”
Ojak menunduk.
“Utang di warung.”
Anak muda itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Bekatul dan Pengetahuan
Sejak malam itu, Ojak mempunyai kesimpulan baru.
Ia berkata kepada orang-orang kampung:
“Bekatul bukan obat segala penyakit. Bekatul juga bukan jimat kekayaan.”
Lalu ia mengangkat segenggam bekatul.
“Tetapi sesuatu yang selama ini kita anggap sisa ternyata masih punya nilai.”
Orang-orang mendengarkan.
Ojak melanjutkan:
“Masalahnya bukan selalu pada barangnya. Kadang-kadang masalahnya ada pada pengetahuan kita.”
Mang Udin menyela,
“Jadi sekarang bekatul mahal?”
Ojak menjawab,
“Kalau sudah dikemas bagus, iya.”
“Kalau masih seperti ini?”
Ojak melihat segenggam bekatul di tangannya.
“Murah.”
Mang Udin tersenyum.
“Kalau begitu, saya beli yang murah.”
Ojak langsung menjawab,
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena saya belum bilang mau jual.”
Warung langsung meledak oleh tawa.
Ojak Orang Tarigu
Begitulah Ojak.
Orang Tarigu dari Desa Mandalaherang.
Dulu ia hanya tahu bekatul sebagai sesuatu yang diberikan kepada ayam.
Sekarang ia melihat bekatul sebagai sesuatu yang perlu dipelajari.
Ia tidak benar-benar menjadi dukun.
Tetapi sejak orang-orang mulai menyebutnya Dukun Bekatul, Ojak mempunyai satu kebiasaan baru.
Setiap kali melihat bekatul dibuang, ia akan berkata:
“Jangan dibuang dulu. Siapa tahu yang kita buang itu bukan bekatul, tetapi pengetahuan kita sendiri.”
Lalu ia biasanya diam sebentar.
Kemudian menambahkan:
“Tapi kalau mau dibuang ke rumah saya, boleh.”
Dan orang-orang pun tertawa.
Karena itulah Ojak.
Ojak Orang Tarigu.
Dukun Bekatul.
Dukun yang tidak punya ilmu gaib—
tetapi punya rasa ingin tahu yang tidak mau mati.
Dan sejak saat itu, setiap kali orang kampung melihat bekatul, mereka tidak lagi hanya bertanya:
“Ini makanan ayam?”
Mereka mulai bertanya:
“Apa yang sebenarnya belum kita ketahui dari bekatul?”
Dan bagi Ojak, pertanyaan itulah yang paling penting.
Karena bisa jadi, kekayaan yang paling dekat dengan kita bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh.
Kadang-kadang ia ada di depan mata.
Kadang-kadang ia berwarna cokelat.
Kadang-kadang dianggap sisa.
Dan kadang-kadang—
dimakan ayam.
Bersambung













Komentar