Penulis: Agus Pakpahan
Peneliti Militan
Sejak resmi menyandang gelar Dukun Bekatul, Ojak Orang Tarigu mengalami perubahan besar.
Ia tidak lagi sekadar bertanya.
Ia mulai meneliti.
Ia membeli buku tulis baru.
Di halaman pertama ia menulis dengan huruf besar:
CATATAN PENELITIAN BEKATUL
Oleh: Ojak Orang Tarigu, Dukun Bekatul
Desa Mandalaherang
Lalu ia melihat tulisannya sendiri.
“Kenapa saya tulis dukun?” gumamnya.
“Kan saya bukan dukun.”
Ia pun mencoret kata “Dukun” dan menggantinya dengan:
PENELITI MILITAN BEKATUL
Mang Udin yang kebetulan lewat melihat tulisan itu.
“Jak, apa itu militan?”
Ojak menjawab dengan bangga,
“Orang yang tidak mau menyerah.”
“Menyerah apa?”
“Menyerah pada kebodohan.”
Mang Udin mengangguk.
“Bagus. Tapi kenapa hurufnya miring?”
Ojak melihat bukunya.
“Karena saya menulis sambil bersandar.”
“Kenapa bersandar?”
“Karena kalau berdiri, saya tidak bisa menulis.”
Mang Udin menggeleng dan melanjutkan perjalanan.
Penemuan Aneh di Buku Lama
Suatu hari Ojak pergi ke pasar loak.
Bukan karena ia suka barang loak.
Tetapi karena ada buku murah.
Di tumpukan buku bekas, ia menemukan sebuah buku tebal.
Sampulnya sudah rusak.
Halamannya menguning.
Judulnya:
“Penyakit Beri-Beri dan Penelitian di Hindia Belanda”
Ojak membuka halaman pertama.
Ia membaca.
Lalu membaca lagi.
Lalu membaca lagi sambil mulutnya terbuka.
“Astaga,” katanya.
“Astaga,” ulangnya.
“ASTAGA!”
Penjual buku loak menegur,
“Pak, kalau mau astaga-astaga, di sini bukan tempat ibadah.”
Ojak mengangkat buku itu.
“Pak, buku ini berapa?”
“Lima ribu.”
“Lima ribu?!”
“Kurang?”
“Tidak! Saya mau beli dua!”
Penjual buku bingung.
“Kenapa dua?”
“Satu untuk dibaca. Satu untuk dipeluk kalau saya tidur.”
Penjual buku itu menggeleng.
“Orang aneh.”
Ojak tersenyum.
“Betul. Tapi orang aneh yang sedang menemukan sesuatu.”
Eijkman dan Ayam yang Lebih Pintar
Malam itu Ojak tidak tidur.
Ia duduk di bawah lampu minyak.
Membaca buku itu berkali-kali.
Di dalam buku itu tertulis tentang seorang dokter Belanda bernama Christiaan Eijkman.
Eijkman bekerja di sebuah rumah sakit di Batavia.
Ia meneliti penyakit beri-beri.
Penyakit yang membuat orang lemah, kesemutan, dan bisa mati.
Pada tahun 1890-an, Eijkman melakukan penelitian.
Ia melihat bahwa ayam-ayam di rumah sakit itu tiba-tiba sakit.
Ayam-ayam itu lemas.
Tidak mau makan.
Jalannya sempoyongan.
Persis seperti manusia yang terkena beri-beri.
Eijkman bingung.
Lalu ia menyelidiki.
Ternyata ayam-ayam itu sebelumnya diberi makan beras putih.
Beras yang sudah digiling bersih.
Beras yang kulitnya sudah dibuang.
Ketika ayam-ayam itu diberi makan beras utuh — yang masih ada kulit ari-nya — mereka sembuh!
Eijkman menyimpulkan:
Ada sesuatu di kulit beras yang penting untuk kesehatan.
Kulit beras itu adalah…
BEKATUL.
Ojak meletakkan buku itu.
Tangannya gemetar.
Mulutnya kering.
Ia melihat ke dapur.
Di sana ada segenggam bekatul yang ia simpan.
Ia bangkit.
Mengambil bekatul itu.
Meletakkannya di meja.
Menatapnya lama.
“Jadi…” katanya pelan.
“Jadi selama ini…”
Ia menelan ludah.
“Selama ini ayam sudah tahu.”
“Dan manusia…?”
Ia menunduk.
“Manusia membuangnya.”
Ojak Marah
Pagi berikutnya Ojak datang ke warung dengan wajah tidak biasa.
Mang Udin langsung curiga.
“Jak, kamu kenapa?”
Ojak meletakkan buku tebal di meja.
“Udin, kamu tahu Eijkman?”
“Siapa?”
“Eijkman. Dokter Belanda. Peneliti.”
“Tidak tahu.”
Ojak menghela napas.
“Kamu tahu beri-beri?”
“Penyakit?”
“Iya.”
“Tahu sedikit.”
Ojak menunjuk buku.
“Eijkman menemukan bahwa beri-beri bisa dicegah dengan bekatul.”
Mang Udin terdiam.
“Serius?”
“Serius.”
“Kapan?”
“Tahun 1890-an.”
Mang Udin menganga.
“Seratus tahun lebih?”
Ojak mengangguk.
“Dan kita baru tahu sekarang.”
Mang Udin menatap bekatul di meja.
“Jadi… selama ini kita buang sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawa?”
Ojak mengangguk lagi.
“Lebih parah dari itu.”
Ia menunjuk ke arah kandang ayam di belakang warung.
“Kita memberikannya ke ayam.”
“Dan ayam…”
“Lebih pintar dari kita.”
Mang Udin diam.
Lalu ia berkata,
“Jak, kamu jangan bilang begitu. Nanti ayam-ayam itu sombong.”
Ojak Menjadi Militan
Sejak hari itu, Ojak berubah.
Ia tidak hanya membaca buku Eijkman.
Ia mulai meneliti sendiri.
Ia membuat catatan.
Ia membuat tabel.
Ia membuat grafik.
Ia bahkan membuat peta konsep di dinding kamarnya.
Di tengah peta itu tertulis:
BEKATUL
Dan dari kata itu keluar garis-garis ke berbagai arah:
· Vitamin
· Mineral
· Serat
· Protein
· Antioksidan
· Fermentasi
· Pangan
· Kesehatan
Mang Udin datang berkunjung.
Ia melihat dinding kamar Ojak.
“Jak, ini apa?”
“Peta penelitian.”
“Kamu mau cari harta karun?”
“Lebih dari itu.”
“Lebih dari harta karun?”
Ojak menunjuk peta.
“Ini harta karun yang sudah ada di depan mata. Cuma kita tidak lihat.”
Mang Udin mengangguk.
“Kamu ini sudah seperti profesor.”
Ojak tersenyum.
“Bukan profesor.”
“Terus?”
“Peneliti militan.”
“Bedanya apa?”
“Profesor dapat gelar. Peneliti militan dapat…”
” Apa?”
Ojak menunjuk ke dapur.
“Utang di warung.”
Mang Udin tertawa.
Ojak Mengkritik Sejarah
Suatu malam, Ojak diundang ke balai desa.
Ada pertemuan warga.
Ketua RT bertanya,
“Ojak, katanya kamu mau bicara tentang bekatul?”
“Betul.”
“Silakan.”
Ojak berdiri.
Ia mengeluarkan buku Eijkman.
Ia membuka halaman yang sudah ditandai.
“Bapak-Ibu,” katanya.
“Saya mau bercerita tentang seorang dokter Belanda bernama Eijkman.”
Warga mendengarkan.
“Pada tahun 1890-an, ia menemukan bahwa beri-beri bisa dicegah dengan bekatul.”
Warga mulai berbisik.
“Tapi,” lanjut Ojak.
“Ada yang aneh.”
” Apa?”
“Eijkman menemukan ini karena melihat ayam.”
Warga terdiam.
“AYAM.”
Ojak mengulang.
“AYAM yang memberi petunjuk kepada manusia.”
“AYAM yang lebih dulu tahu bahwa bekatul itu penting.”
“AYAM yang tidak punya gelar profesor.”
“AYAM yang tidak bisa membaca.”
“AYAM yang tidak punya laboratorium.”
“Tetapi AYAM yang tidak membuang bekatul.”
Warga mulai tertawa.
Ojak mengangkat tangan.
“Ini bukan lelucon.”
“Ini kritik.”
“Kritik kepada manusia yang merasa pintar.”
“Kritik kepada kita yang membuang sesuatu yang berharga.”
“Kritik kepada sejarah yang lupa bahwa pengetahuan bisa datang dari mana saja.”
“Termasuk dari kandang ayam.”
Ketua RT mengangkat tangan.
“Jak, kamu ini mau jadi dukun atau kritikus?”
Ojak menjawab,
“Dua-duanya.”
“Boleh?”
“Boleh. Tapi yang kedua tidak bayar.”
Eijkman dan Nobel
Ojak melanjutkan penelitiannya.
Ia menemukan bahwa Eijkman akhirnya mendapat Hadiah Nobel pada tahun 1929.
Bukan karena bekatulnya.
Tetapi karena menemukan vitamin.
“Jadi,” kata Ojak kepada warga.
“Eijkman menemukan vitamin karena meneliti bekatul.”
“Vitamin itu apa?”
“Zat yang membuat kita sehat.”
“Dan bekatul mengandung vitamin?”
“Betul.”
“Jadi bekatul itu…”
“Gudang vitamin.”
Warga terdiam.
Lalu seseorang bertanya,
“Kalau begitu, kenapa bekatul tidak terkenal?”
Ojak menjawab,
“Karena bekatul tidak punya juru bicara.”
“Kenapa?”
“Karena bekatul sibuk memberi makan ayam.”
Warga tertawa.
Ojak menambahkan,
“Dan ayam tidak bisa bicara.”
“Kalau bisa?”
“Sudah dari dulu ayam demo di depan gedung DPR.”
Ojak dan Ayam
Suatu hari Ojak duduk di depan kandang ayam.
Ia menatap ayam-ayam itu.
“Kalian tahu,” katanya.
“Kalian lebih pintar dari saya.”
Ayam-ayam itu berkotek.
“Kalian tidak pernah membuang bekatul.”
Ayam-ayam itu mematuk bekatul di tanah.
“Kalian tidak perlu Nobel untuk tahu bahwa bekatul itu penting.”
Ayam-ayam itu mengangguk-anggukkan kepala.
Ojak tersenyum.
“Kalau saya jadi menteri, saya akan angkat kalian sebagai penasihat.”
Ayam-ayam itu berkotek keras.
“Tapi tenang,” lanjut Ojak.
“Saya tidak akan jadi menteri.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak bisa membedakan ayam sakit dan ayam malas.”
Ayam-ayam itu terdiam.
Lalu Ojak menambahkan,
“Tapi kalian juga tidak bisa membedakan saya pintar atau bodoh.”
Ayam-ayam itu berkotek.
“Jadi kita seimbang.”
Kesimpulan Ojak
Malam itu Ojak menulis di buku catatannya.
KESIMPULAN PENELITIAN #2
1. Eijkman menemukan vitamin karena meneliti bekatul.
2. Ayam lebih dulu tahu pentingnya bekatul.
3. Manusia membuang bekatul karena tidak tahu.
4. Pengetahuan bisa datang dari mana saja.
5. Termasuk dari kandang ayam.
6. Tetapi manusia sering merasa lebih pintar.
7. Padahal kadang ayam lebih jujur.
8. Bekatul bukan sisa.
9. Bekatul adalah harta yang tersembunyi.
10. Dan saya, Ojak Orang Tarigu, adalah peneliti militan yang tidak akan berhenti.
Ia meletakkan pena.
Ia membaca kembali kesimpulannya.
“Nomor sepuluh terlalu panjang,” katanya.
“Tapi tidak apa-apa. Militan tidak peduli panjang.”
Penutup
Pagi berikutnya Ojak duduk di warung.
Mang Udin datang.
“Jak, kamu sudah selesai penelitian?”
“Belum.”
“Kapan selesai?”
“Tidak tahu.”
“Kenapa?”
Ojak menunjuk ke kandang ayam.
“Karena ayam-ayam itu masih terus memberi pelajaran.”
“Pelajaran apa?”
Ojak tersenyum.
“Bahwa yang penting bukan gelar.”
“Terus apa?”
“Rasa ingin tahu.”
“Dan?”
“Keberanian untuk mengakui bahwa kita mungkin salah.”
Mang Udin mengangguk.
“Jak, kamu ini aneh.”
“Betul.”
“Tapi berguna.”
Ojak tersenyum.
“Itulah Dukun Bekatul.”
“Bukan dukun ilmu gaib.”
“Tapi dukun yang belajar dari ayam.”
Mang Udin tertawa.
Ojak menambahkan,
“Dan dari Eijkman.”
“Dan dari bekatul.”
“Dan dari kehidupan.”
Ia mengangkat segenggam bekatul.
“Dan dari sesuatu yang dianggap sisa.”
“Tetapi ternyata…”
“Adalah awal dari segalanya.”
Bersambung ke #3
Catatan: Christiaan Eijkman adalah dokter dan peneliti Belanda yang memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1929 untuk penemuan vitamin. Penelitiannya berawal dari pengamatan ayam yang sakit karena makan beras putih, lalu sembuh setelah diberi beras utuh dengan kulit ari (bekatul). Penemuan ini menjadi dasar ilmu gizi modern.










Komentar