Kab.Tasikmalaya LINTAS PENA
Permasalahan sampah hampir di tiap daerah khususnya di Kabupaten Tasikmalaya begitu kompleks karena masih rendahnya kesadaran masyarakat dan pengelolaan penanganan yang belum optimal membuat permasalahan sampah bisa berdampak kesehatan dan sosial.
“Incinerator atau mesin pembakar sampah karya kang dedi heryadi ini bisa jadi percontohan untuk di pergunakan di tiap Rukun Warga (RW) dan lainnya dalam hal pengelolaan sampah ini salah satu jalan keluar dan solusi permasalahan sampah khususnya di Kabupaten Tasikmalaya.
Ketika LINTAS PENA megunjungi tempat pembuatan mesin pembakar sampah di Jalan Cipondok (Peuteuy Jaya) Desa Jayaratu Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya ,Kang Dedi Heryadi (30 tahun) mengatakan bahwa untuk pembuatan mesin pembakar sampah jika tiap bulan bisa meduksi 20 unit dan alhamdulillah 50 unit sudah keluar adapun untuk harga 1 unit mesin untuk di kabupaten tasikmalaya relatif dan kita jual dikisaran Rp.15 juta.
Selanjutnya untuk bahan bahannya diantaranya besi plat,Drum Baru Besi As untuk alat pembakarnya cuma air olie bekas dan mesin pembakar ini bisa membakar sampah 2,5 ton dalam waktu 3 jam akan menjadi abu abunya pun bisa digunakan sebagai pupuk organik jelasnya.
Kekuatan mesin ini bisa 2 atau 3 tahun dan tetap harus di pelihara termasuk pelindung ataurumahnya agar terjaga dari panas matahari dan hujan .
“Alhamdulillah pesanan mesin pembakar sampah ini sudah ada dari daerah lain seperti Ciamis,Bekasi,Kerawang termasuk Majalengka untuk di Kecamatan Sariwangi alhamdululillah tiap desa sudah menggunakan mesin ini. Harapan kami mudah mudahan di tiap kota atau kabupaten bisa menggunaan alat pembakar sampah untuk memaksimalkana atau mengurangi masalah-masalah sampah dan menjadi salah satu alternatif pengurangan sampah di daerah masing masing. ini pun tentunya ini kalau di lihat dari keuntungan bisa jadi pemberdayaan di masyarakat.Bagi yang ingin membeli mesin alat pembakar sampah yang ramah lungukungan bisa menghubungi HP/WA : 08121263311 – 085335576758.jelasnya singkat.(ADE BACHTIAR ALIF)*









Komentar