oleh

SUMPAH PEMUDA: “Damai di Bumi Nusantara”

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong dan Tokoh Budaya Sunda)

PARA nabi, rasul, serta manusia-manusia suci , dalam berbagai kitab  suci, selalu digambarkan sosok sebagai Pemuda. Tuhan menggelari Ibrahim As, seorang Pemuda, seorang Imam, yang melawan tirani, raja dzalim Namruz. Begitu pula Musa As, yakni Pemuda yang melawan kekuatan tirani Fir’aun. Yang pada akhirnya Firaun (Parao IV) ditenggelamkan  dilaut oleh Kuasa Tuhan. Shaleh As tokoh pemuda yang melawan kepongahan Raja Tsamud. Dawud As (David) atas perintah Thalut untuk mengalahkan Jalut (Ghaliat). Isa As ibn Maryam , pemuda yang melawan kekuatan Raja Rhomawi dzalim, yaitu Herodes. Isa as diselamatkan Tuhan diangkat ke langit. Nabi yang Agung Muhammad ibn Abdullah SAW, mendapat gelaran Pemuda Ahmad, yang menurut catatan sejarah, mengalami peperangan dengan Musyrikin Quraisy, sekira 150 kali perang besar dan kecil selama 23 tahun. Tidak ada yang menyaingi lamanya peperangan sepanjang sejarah perang dimuka bumi. Tuhan Hiyang Mahakuasa, menampilkan sosok Pemuda yang bernama Ali ibn Abu Thalib As sebagai pendampingnya disaat peperangan demi peperangan. Panji kemenangan menegakan kebenaran selalu berada ditangannya atas petunjuk Rasul SAW dan kuasa Tuhan.

Perjalanan sejarah kemanusiaan, peperangan terjadi hampir sepanjang masa. Sosok Pemuda dimasa Raja2 Nusantara yg paling Populer adalah Prabu Siliwangi ( Prabu Jaya Dewata) , Abad 13 M, nama lainya dikenak Syeikh Jumadil Kubro, Jamaluddin Husein  al Kubro ada yg menyebut Syayyid Husein al Akbar. Pemuda selanjutnya Prabu Kiyan Sanntang atau Walang Sungsang, Ki Shamadullah, nama sejatinya Syayyid Abdullah Aiman. Dizaman kolonial Belanda, sangat Populer, yaitu Pangeran Diponegoro, 1828. Begitupun Pemuda Maulana Yusuf al Makassari , Maulana Hasanuddin al Bantani, dan Untung Surapati melawan kekuatan Penjajahan Belanda. Sementara di Sulawesi, seorang Pemuda Sultan Hasanuddin Gowa, melawan kekuatan penjajah Portugis. Maluku, Pemuda Patimura. Begitupula diwilayah Nusantara lainnya yg massa itu koloni VOC ( Portugis, Inggris, Francis , Spanyol, Belanda) , koloni tersebut mengeksploitasi SDA nusantara untuk dibawa dan dperdagangkan di Negaranya.

Masa menjelang Republik Indonesia. Para Pemuda, Pelajar berhimpun pada organisasi kepemudaan daerah masing-masing. Kelak organisasi regionalnya bernama: Jong Sumatranen Bond; Jong Java; Jong Celebes; Jong Borneo; Jong Ambon, Maluku; Jong Bali; Jong Nusatenggara; Jong Timor; dan Papua.

Jong Java dan Jong Celebes adalah dua organisasi kepemudaan yang aktif sebelum Sumpah Pemuda pada 1928. Berikut beberapa informasi tentang keduanya:

  • Jong Java: Organisasi ini didirikan pada 7 Maret 1915 dengan nama awal Tri Koro Dharmo (TKD) oleh dr. Satiman Wirjosandjojo di Gedung STOVIA. Tujuannya adalah memperkokoh persatuan Indonesia melalui hubungan tali persaudaraan dengan suku bangsa lainnya. Jong Java juga aktif dalam kongres dan diskusi tentang persatuan Indonesia, dan pada 1928, organisasi ini siap bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya untuk memperkuat persatuan bangsa.
  • Jong Celebes: Jong Celebes adalah organisasi kepemudaan yang mewakili Sulawesi dalam Kongres Pemuda Kedua pada 1928. Dalam kongres tersebut, R.C.L. Sendoek menjadi salah satu pembantu dalam kepanitiaan kongres .

Kedua organisasi ini berperan penting dalam memperkuat rasa persatuan dan kebangsaan Indonesia yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Organisasi kepemudaan yang berbasis regional seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan Jong Borneo merupakan bagian penting dari sejarah pergerakan nasional Indonesia. Mereka mewakili wilayah-wilayah berbeda dan berperan dalam membangun kesadaran nasional dan mempersatukan Indonesia melalui

Kongres Pemuda.

  • Jong Java: Mewakili Jawa, organisasi ini fokus pada persatuan dan kemajuan pemuda Jawa, dengan tokoh seperti Soegondo Djojopuspito.
  • Jong Sumatranen Bond: Mewakili Sumatra, organisasi ini aktif dalam pergerakan nasional dan menjadi bagian dari Kongres Pemuda.
  • Jong Celebes: Mewakili Sulawesi, dengan tokoh seperti *Arnold Mononutu dan R.C.L. Senduk, mereka berkontribusi dalam Kongres Pemuda II.
  • Jong Ambon: Mewakili Maluku, organisasi ini berpartisipasi dalam Kongres Pemuda dan mendukung persatuan bangsa Indonesia.
  • Jong Borneo: Mewakili Kalimantan, organisasi ini juga menjadi bagian dari Kongres Pemuda dan berperan dalam membangun kesadaran nasional.

Kongres Pemuda II pada 1928 menjadi titik penting di mana organisasi-organisasi ini bersatu dan melahirkan Sumpah Pemuda, yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Jong Bali adalah organisasi kepemudaan yang aktif di Bali pada awal abad ke-20. Organisasi ini berperan dalam membangun kesadaran nasional dan mempromosikan nilai-nilai modernisasi di kalangan pemuda Bali. Jong Bali juga berpartisipasi dalam Kongres Pemuda II pada 1928, yang menjadi momentum penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Jong Bali menjadi bagian dari gerakan pemuda yang lebih luas di Hindia Belanda, yang bertujuan untuk mempersatukan berbagai kelompok etnis dan wilayah di Indonesia dalam semangat persatuan dan kemerdekaan. Organisasi ini juga berkontribusi pada pengembangan bahasa dan budaya Indonesia, serta memperkuat identitas nasional.

Jong Nusatenggara  adalah organisasi kepemudaan yang mewakili wilayah Nusa Tenggara dalam konteks pergerakan nasional di Indonesia. Organisasi ini menjadi bagian dari upaya mempersatukan berbagai kelompok etnis dan wilayah di Hindia Belanda untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Jong Nusatenggara, seperti organisasi pemuda lainnya seperti Jong Java, Jong Celebes, dan Jong Sumatranen Bond, berperan dalam membangun kesadaran nasional dan mempersiapkan generasi muda untuk berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan.

Organisasi ini juga menjadi wadah bagi pemuda Nusa Tenggara untuk mengembangkan potensi dan memperjuangkan hak-hak mereka dalam konteks nasional. Mereka berpartisipasi dalam Kongres Pemuda II pada 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda, sebuah tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Jong Timor adalah organisasi kepemudaan yang mewakili Timor pada masa pergerakan nasional di Indonesia. Meskipun Timor tidak secara langsung disebutkan dalam beberapa catatan sejarah Kongres Pemuda II 1928, organisasi seperti Jong Timor berperan dalam membangun kesadaran nasional dan mempersatukan berbagai kelompok etnis di Hindia Belanda.

Timor, khususnya Timor Leste (sekarang Timor Leste atau Timor Timur), memiliki dinamika sejarah yang kompleks, termasuk integrasi ke dalam Indonesia pada 1975 dan referendum kemerdekaan pada 1999 yang menghasilkan kemerdekaannya pada 2002.

Jong Papua tidak secara langsung disebutkan dalam konteks organisasi kepemudaan yang berpartisipasi dalam Kongres Pemuda II pada 1928. Pada masa itu, wilayah Papua masih berada di bawah administrasi Belanda sebagai bagian dari Hindia Belanda Timur (Nederlands Nieuw-Guinea), dan kesadaran nasional di Papua belum berkembang seiring dengan wilayah lain di Indonesia.

Namun, kesadaran akan pentingnya persatuan dan kemerdekaan mulai tumbuh di Papua setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945. Tokoh seperti Frans Kaisiepo dan Silas Papar* menjadi pendukung kuat integrasi Papua ke dalam NKRI.

Berikut beberapa tokoh pemuda yang hadir dan mewakili daerahnya masing-masing dalam Kongres Pemuda II pada 1928:

  1. Jong Java  Diwakili oleh Soegondo Djojopuspito, Mohammad Yamin, dan lainnya.
  2. Jong Sumatranen Bond: Diwakili oleh Mohammad Amir Sjarifoeddin dan A.K. Gani.
  3. Jong Celebes: Diwakili oleh Arnold  Mononutu dan R.C.L. Senduk.
  4. Jong Ambon: Diwakili oleh  Oktavianus Manuhutu  dan  Johan Manuhutu.
  5. Jong Batak: Diwakili oleh A.P. Rangkuti dan Todung Sutan Gunung Mulia.
  6. Jong Minahasa: Diwakili oleh Sondaakh.

Tokoh-tokoh ini berperan penting dalam menyusun dan mengesahkan Sumpah Pemuda yang dibacakan oleh Mohammad Yamin pada 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh pemuda yang mengumandangkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah Mohammad Yamin. Pada Kongres Pemuda II di Batavia (sekarang Jakarta), Mohammad Yamin membacakan teks Sumpah Pemuda yang terdiri dari tiga poin  penting:

  1. Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, menandai kesadaran nasional dan tekad untuk bersatu sebagai bangsa Indonesia.Tokoh lain yang berperan penting dalam Kongres Pemuda II antara lain Muhammad Tabrani, A.K. Gani  dan Soegondo Djojopuspito..

Setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan, digelorakan keseluruh penjuru Tanah Air Republik Indonesia, 1928,  maka tokoh Pemuda berikutnya yang memproklamirkan Kemerdekaan RI 1945 adalah Soekarno  – Hatta.

Mr. Muhammad Yamin, membacakan teks Sunpah Pemuda 1928, sebagai persiapan untuk kemerdekaan RI. Pada 17 Agustus 1945, Soekarno- Hatta, membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan.

Kesemua pemuda, tokoh pergerakan kemerdekaan, mereka lahir dari keluarga yang berlatar belakang keyakinan, keagamaan, dan kebangsaan yang kuat. Kesemuanya mendapat bimbingan dan dukungan para  sultan, raden , ‘ulama, dan kiyai , dan mereka berlatar pendidikan di luar negeri (Belanda) dan Soekarno dari Institutec Teknologi Bandung -ITB-( yang mulanya dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI).

Bung Tomo terkenal karena perannya dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.  Pada 10 November 1945, Bung Tomo memimpin perjuangan rakyat Surabaya melawan pasukan Inggris yang ingin mengambil alih kota setelah Jepang menyerah. Seruan-seruan emosionalnya melalui radio membangkitkan semangat rakyat , Arek-Arek Surabaya, dan para santri , kiyai , dibawah komando KH. Hasyim Asyari, menambah kekuatan Bung Tomo, untuk terus melawan. Bung Tomo menjadi simbol perlawanan dan keberanian dalam sejarah kemerdekaan Indonesia .

Sejarah Panjang Pemuda, sepanjang  massa, dari Zaman Kenabian, Kerasulan ,, Kewalian , Kesultanan  sampai kiwari , untuk mengjbarkan panji -panji kemanusiaan, keadilan, keadaban, hingga memerdekakan satu bangsa, satu negara , selalu berada ditangan PEMUDA. Pemuda pasca kemerdekaan, mereka selain bersumpah setia pada ketiga teks yang dibacakan Mr. Muh. Yamin dan Teks Proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta.

Pemuda diera Presiden RI ke 8, Prabowo Subisnto, dari seluruh elemen masyarakat dan bangsa, para Pemuka Agama, Pupuhu Adat, Sultan -Raja Nusantara , Pakarang Adat ,  Para Rektor, para prajurit TNI-POLRI, Seniman, Budayawan, Para Pelajar dan Mahasiswa, Para Pesilat-Pendekar, Milenial, dan Zilenial, melakukan Sumpah setia pada 4 Konsensus Kebangsaan, untuk menjalankan : Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika, dan menjaga keutuhan NKRI, serta Mengawal Kepemimpinan Nasional , Presiden Prabowo Subianto, untuk membersihkam Pemerintahan dari tangan tangan kotor para KORUPTOR dan Para Mavia.  Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, serta mengokohkan fondasi terwujudnya masyarakat adil makmur dan Indonesia Emas yang dirahmati Tuhan Hiyang Mahakuasa.

Cag!@Abah Yuduf-Doct/Kabuyutan.

5 Jumadil Awal 1447 H

27 Oktober 2025 M

Komentar