Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Masyarakat Jawa Barat)
“Si Badu, ia selalu terlambat datang ke sekolah, setiap 15 menit belajar di kelas dimulai, guru dikelas tidak mengijinkan murid masuk kelas, ahirnya si Badu, pergi ke Perpustakaan, memanfaatkan waktunya, sebelum pergantian Guru pelajaran berikutnya. Keesokan harinya terlambat lagi , bahkan 30 menit, leboh lambat dari hari sebelumnya. Si Badu dipanggil oleh Guru Pembina Kesiswaan, Badu sudah ketakutan, karena pasti akan disuruh pulang, namun Badu menyampaikan tentang, alasan mengapa ia slalu terlambat. “Badu berceritera, bahwa ia setiap setelah shalat subuh, mengantar Ibunya ke pasar , karena Ibunya berjualan nasi kuning, nasu uuduk”. Mendengar ceritera Badu, Guru Pembina Kesiswaan baru mengetahuinya, Guru menyampaikan kepada Kepala Sekolah, kemudian esoknya diadakan rapat Guru, untuk masalah Badu.
Diketahui Badu tidak kesekolah sudah dua hari. Badu lebih mengutamakan bantu Ibunya. Hari berikutnya Badu dan Ibunya dipanggil ke Sekolah, dan Ibunya menyampaikan kondisi Badu. Hasil pertemuaan, disepakati, bahwa Badu diberikan layanan khusus pada mata pelajaran yang tertinggal dan waktu mengantar belanja Ibunya yg asalnya setelah shalat subuh, jadi sebelum shalat subuh. Perjuangan Ibunya diikuti Badu. Dan Badu tidak terlambat lagi ke Sekolah.”..
Guru dalam padanan kata, secara akronim, di Gugu dan ditiru. Peran Guru, sebagai Pendidik, Pengajar, Pembimbing, Mitra dalam belajar., Sebagai model , panutan, dalam mengarungi, menyelami lautan ilmu.
Guru atau Mursyid, melaksanakan tradisi para nabi , rasul, dan manusia suci. Ketika seorang guru menerima seorang murid, hakekatnya ia telah menerima amanat dari Sang Hiyang Widi , Gusti nu maha’alim. Guru dan murid adalah kafilah ruhani, yg akan menuju dan berjalan pada ketentuan Rabul Alamin.
Ki Hajar Dewantara, menyampaikan tentang peran Guru:” Ing ngarso sung tulodo, ing madio mangun karso, tut wuri handayani, jer besuki mowo beo”. Seorang Guru menjadi suriteladan , membangun
karsa ,kesempurnaan berfikir , menjadi penuntun, pembimbing agar murid tidak salah jalan, dan gagal dalam metaih ilmu , dan ilmu tersebut memberi manfaat bekal kehidupan bagi murid selepas murid menyelesaikan masa pendidikannya.
Setelah Hirosima dan Nagasaki, Jepang di bom oleh tentara sekutu, th 1942. Kaisar Hiro Hito, melakikan Restorasi Meiji , akibat bom atom tersebut banyak warga Jepang yg meninggal , Hiro Hito bertanya pada Panglimanya , Berapa Guru yg masih hidup?. Peran Gurulah, Jepang Menjadi Macan Asia, pada era ’80 an. Berikutnya, Korea Selatan. Tahun 1978, Pemerintahan Malaysia, PM Mahatir, mengirim mahasiswa ke Indonesia, untuk didik jadi para Guru di Malaysia. Jepang, Korsel, Malaysia menempatkan Guru,sebagai posisi strategis, derajat Guru diangkat, dalam bahasa Malaysia -Melayu- disebut Cik Gu (Tuan Guru).
Di Indonesia, pasca kemerdekaan , dalam mengimbangi percepatan pendidikan , didirikan Sekolah Calon Guru, SGA SGB , SGO, PTPG , IKIP ( PGSD), Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK) makin dikembangkan. IKIP Bandung jadi UPI; IKIP Jakarta jadi UNJ; IKIP Yogya jadi UNY ..dan IKIP lainnya , dimana awalnya Institute berubah jadi Universitas. Dari sejumlah IKIP yg menjadi Universitas, yg masih konsisten dan pendidikan menjadi Fokus Garapan pada pendidikan Guru adalah UPI Bandung.
Peran Guru sebagai Pendidik, mereka dibekali ilmu Psikologi Perkembangan, Psikologi Anak, Psikologi Pendidikan, Psikologi Kognitif dll. Peran Giru sebagai Pengajar , mereka dibekali Teknik2 Pembelajaran , Metodologi belajar mengajar , dan teknik2 evaluasi. Peran Guru sebagai Pembimbing, berperan mengarahkan, memotivasi , mendorong, melakukan ekspetimen, kerja kelompok ata individu. Guru sebagai mitra belajar, bersama murid , melakukan pencarian informasi tentang perkembsngan SAINTEK, baik melalui internet atau mengunjungi perpustakaan di luar sekolah. Guru sebagai Tutor, menjadi tempat pemecshan masalah dalam belajar. Guru sebagai Instruktur, membuat SOP praktikum di laboratorium atau diluar kelas.
Melihat frase di atas, tentang peran Guru . Guru adalah manusia Super, “Super Man”, tentu sekolah sesuai jenjang, ada Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran, Guru Laboratorium, Guru Coseling, Dll yg dilaksanakan Guru sebagai Team, “Team Teaching”.
Guru dalam Revolusi Belajar. Seorang Guru , ia harus mampu memetakan modalitas setiap murid. Modalitas kecerdasan murid, Visual, Auditorial, dan Kinestetikal (VAK). Pentingnya Guru mengenali murid dari sisi VAK, hal tersebut berpengaruh pada layanan murid dalam pembelajaran, agar metodologi belajar disesuaikan, sehingga murid bisa belajar secara optimal. News Iland, berhasil menjadi Negara Maju, setelah Revolusi Belajar. Pemerintahnya fokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak usia Dini.
Kembali pada sosok Guru yang tak boleh tertinggal dalam perkembangan, SAINTEK.
China (Tiongkok), berhasil melajsanakan Revolusi Belajar, Setiap mata pelajaran disiarkan oleh Guru Tutorial , chanel TV berdasarkan pada jenis mata Pelajaran, sampai ke Pedesaan. China menjadi macan Asia, dan menjadi penentu kebijakan mata uang BRICH. Di era Orba, Indonesia pernah membuat chanel khusus Pendidikan, sangat disayangkan belum optimal pengelolaannya.
Setiap kenaikan Gaji Guru, renumerasi , Guru tudak boleh penghasilannya dibawah Gaji Pegawai Pabrik, Guru Honorer, masih minim penghasilannya.
Tahun 1997, satu institusi lembaga pendidikan Swasta, di Jakarta melakukan penelitian, mencari korelasi antara Gaji Guru pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar murid. Tahun itu Gaji Guru terendah Rp. 2, 5 jt per bulannya.
Penelitian terhadap sejumlah Guru, mulai dari ke pemilikan Rumah ( Rumah Pribadi, Kost , dan Kotrakan), fasilitas rumah jumlat Watt Listrik dilihat dari kening listtik: 900 Watt, 1300 watt , dan 2200 watt; dari jarak tempuh menuju sekolah: Guru pakai Kendaraan ( Angkitan kota, Bus, Ojek), pakai motor pribadi, atau mobil pribadi;
pada pengembangan SAINTEK, apakah Guru Memiliki, TV , Komputer, Berlangganan Internet, Berlangganan Majalah SAINTEK, belanja Teksbook dan Handbook.
Dari hasil penelitian terhadap guru dikeluarkan, kebijakan yang dibuat oleh lembaga pendidikan swasta tersebut, take home pay guru minimal Rp. 5 jt. Temuan hal tersebut, menjadi Kebijakan Gubernur DKI, Jendral TNI Sutiyoso, dan ditetapkan dalam APBD, bahwa Gaji Guru Minimal di DKI sebesar Rp. 5 juta. Sebaiknya saat itu, ditiru oleh pemda lain, namun belum terjadi. Terburu terjadi Reformasi ’98. Tidak diketahui nasib gaji guru ASN , apalagi honorer.
Berkaitan dengan Gaji Guru Pemerintah menetapkan, Gaji guru di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Berikut adalah beberapa poin penting terkait gaji guru:
- Gaji Pokok: Gaji pokok guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) ditentukan berdasarkan golongan dan masa kerja, dengan rentang gaji antara Rp1,6 juta hingga Rp6,3 juta per bulan.
- Tunjangan: Guru PNS berhak menerima tunjangan, seperti tunjangan profesi, tunjangan kinerja, dan tunjangan khusus bagi yang bertugas di daerah terpencil.
- Gaji Guru Honorer: Gaji guru honorer bervariasi, dengan rentang gaji antara Rp300 ribu hingga Rp.2 juta per bulan, tergantung pada kebijakan pemerintah daerah atau sekolah tempat mereka mengajar.
- Kenaikan Gaji: Pemerintah telah mengumumkan kenaikan gaji guru pada tahun 2025, dengan tambahan kesejahteraan sebesar satu kali gaji pokok untuk guru ASN (Aparatur Sipil Negara) dan Rp2 juta untuk guru non-ASN yang telah memiliki sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Melihat struktur gaji guru , timbul pertanyaan. apakah dengan menongkatnya kebutuhan hidup sehari-hari, gaji guru masih layak.?
Frase di atas baru membahas. guru persekolahan, belum guru di pesantren (madrasah) atau seminari, prividencia, apalagi menyentuh dosen dan guru besar
“GURU HEBAT NEGARA KUAT , BANGSA BERMARTABAT”.
Cag!@Abah Yusuf. Doct//Kabuyutan
5 Jumadil Akhir 1447 H – 26 November 2025









Komentar