Oleh: Acep Sutrisna-Dewan Pembina Yayasan Kabuyutan Tjiawi Tasikmalaya
BAYANGKAN suasana di alun-alun Bubat, utara Trowulan, pada 1357. Angin bergemuruh di antara tenda-tenda perang. Ratusan prajurit Sunda—yang datang dengan tulus untuk resepsi pernikahan—tumbang dalam pertumpahan darah yang tak setimpal. Di tengah kehancuran itu, Dyah Pitaloka Citraresmi, sang putri mahkota Sunda, memilih bunuh diri daripada menyerah pada aib. Tragedi. Luka. Dan di balik semua itu, berdiri seorang mahapatih dengan ambisi yang tak kalah besarnya: Gajah Mada.
Sejarah resmi mencatat, pria itu mati sakit tujuh tahun kemudian, di ujung timur Jawa, jauh dari pusat kekuasaan yang pernah ia genggam. Namun, di sebuah desa bernama Ciawi, di kaki Gunung Sawal, Tasikmalaya, cerita lain berbisik. Konon, Gajah Mada tidak mati di Madakaripura. Ia melarikan diri. Ke sini. Ke Tatar Sunda.
Pertanyaannya: mitoskah ini, atau ada benang merah fakta yang tersembunyi?
Ketika Sumber Primer Membungkam
Untuk menguji narasi pelarian, kita harus kembali ke saksi-saksi paling awal. Abad ke-14 tidak kekurangan pena yang mencatat gemerlap dan duka Majapahit. Kakawin Nagarakretagama karya Mpu Prapanca (1365), misalnya—ditulis hanya setahun setelah kematian Gajah Mada—menyebut sang mahapatih sakit keras pada 1363, lalu mangkat (wafat) pada 1364. Lokasinya? Di lingkungan ibu kota, atau Madakaripura, Probolinggo. Tidak ada koma pun yang menunjuk ke barat, ke arah Sunda.
Serat Pararaton, babad dari abad berikutnya, menambahkan nuansa dramatis: Gajah Mada diistirahatkan selama sebelas bulan pasca-Bubat, lantas diasingkan ke Madakaripura. Pengasingan. Bukan pelarian ke wilayah musuh, melainkan penjara kehormatan di tanah yang masih dalam kendali kerajaan.
Lalu ada Kidung Sunda (atau Kidung Pasunda Bubat). Karya ini memang menyuarakan penderitaan Sunda. Ia menggambarkan Gajah Mada moksa dalam balutan kebesaran bak Dewa Wisnu, atau diburu hingga tewas. Namun perhatikan: bahkan dari sudut pandang pihak yang paling terluka pun, sang tokoh tidak melarikan diri ke barat. Ia mati, atau mencapai pembebasan spiritual, di tanah Jawa.
Jadi, di manakah letak benih cerita tentang Tasikmalaya?
Babad Sukapura dan Desa yang Bernama Majapahit
Narasi pelarian bermula dari tradisi lisan—dan satu naskah yang jarang tersentuh oleh lampu akademik mainstream: Babad Sukapura. Naskah tradisional dari wilayah Sukapura (kini Tasikmalaya) ini, meski ditulis berabad-abad setelah peristiwa, menyajikan versi yang sangat berbeda. Menurut tradisi ini, Gajah Mada diburu oleh pasukan dari Wengker dan Kahuripan karena dianggap biang kerok tragedi Bubat. Terpojok, ia lari. Melintasi pegunungan, melewati hutan, hingga akhirnya menemukan perlindungan di kaki Gunung Syawal—Gunung Sawal—di wilayah yang kini dikenal sebagai Ciawi.
Bukan sekadar cerita. Ada “bukti” material yang dikaitkan: sebuah kampung bernama Kampung Majapahit, dan lahan bernama Legok Majapahit. Nama-nama itu, bagi penduduk setempat, bukan hasil migrasi masa depan. Mereka adalah jejak tapak kaki sang mahapatih.
Menarik, bukan? Hanya saja, menarik belum tentu benar.
Uji Logika: Mengapa Sunda?
Mari kita berhenti sejenak dan menelisik dengan kepala dingin. Jika Gajah Mada benar-benar melarikan diri pasca-Bubat, mengapa ia memilih Tatar Sunda—wilayah yang baru saja ia hancurkan, yang rajanya baru saja ia bunuh, yang rakyatnya tentu mengenalinya sebagai pembawa petaka?
Logika geopolitik abad ke-14 tidak mendukungnya. Seorang tokoh berusia lanjut—yang wajahnya dikenal luas—melintasi sekitar 700 kilometer pegunungan dan hutan belantara menuju jantung wilayah musuh, tanpa catatan perjalanan, tanpa prasasti, tanpa artefak yang meyakinkan. Bandingkan dengan versi resmi: Madakaripura hanya sekitar 150 kilometer ke timur, masih dalam naungan kekuasaan Majapahit. Jarak yang masuk akal, lokasi yang terkontrol.
Selain itu, nama “Kampung Majapahit” di Ciawi Tasikmalaya—sekalipun memang ada—kemungkinan besar adalah warisan migrasi penduduk Jawa Timur pada masa ekspansi Mataram Islam (abad 17–18), bukan jejak fisik dari kehadiran Gajah Mada pada 1357. Ini fenomena umum di Nusantara: nama-nama besar sering “diklaim” secara lokal untuk meninggikan status tanah kelahiran. Gajah Mada sendiri punya banyak wajah lokal di berbagai daerah.
Perhatikan perbandingan sederhana ini:
Aspek Narasi Babad Sukapura Historiografi Mainstream Penyebab akhir karier Diburu dan disingkirkan karena disalahkan atas Bubat Dinonaktifkan/diasingkan Hayam Wuruk karena kesalahan diplomatik fatal Lokasi pengasingan Kaki Gunung Sawal, Ciawi, Tasikmalaya Madakaripura, Probolinggo, Jawa Timur Akhir hayat Melarikan diri; jejak di Kampung Majapahit Sakit dan wafat 1364 M; atau moksa; atau bertapa Sumber utama Babad Sukapura, tradisi lisan Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Sunda Jarak dari Trowulan ~700 km melalui medan berat ~150 km ke timur, masih dalam kendali Majapahit Status keilmuan Tradisi lokal; tanpa dukungan sumber primer/arkeologis Didukung sumber kontemporer dan analisis akademis
Faktanya, tidak satu pun sumber primer abad ke-14 yang menyebutkan pelarian ke Sunda. Nagarakretagama, yang paling dekat secara waktu, konsisten menempatkan kematiannya di lingkungan kekuasaan Majapahit. Dan hingga hari ini, tidak ditemukan bukti arkeologis di Jawa Barat yang secara meyakinkan dapat dikaitkan dengan kehadiran fisik Gajah Mada.
Lalu, Mengapa Cerita Ini Hidup?
Jika secara historis rapuh, mengapa narasi pelarian ke Sunda begitu keras hidupnya? Di sinilah kita harus pindah dari ranah bukti fisik ke ranah jiwa kolektif. Sejarah tidak hanya tentang apa yang benar, tetapi juga tentang apa yang dirasakan benar oleh sebuah bangsa.
Pertama, narasi ini adalah counter-narrative—suara dari pihak yang kalah. Peristiwa Bubat adalah trauma nasional bagi Sunda. Dalam tradisi yang didominasi catatan Jawa, Babad Sukapura memberikan ruang bagi Sunda untuk menyatakan: “Sang penindas tidak mati mulia di istananya. Ia lari. Ia hidup dalam pengasingan di tanah kami.” Ini bukan fakta, tapi keadilan simbolis.
Kedua, cerita ini adalah terapi memori kolektif. Membayangkan Gajah Mada—sang arsitek ambisi Palapa—berakhir sebagai buronan di kaki gunung Sunda, adalah cara masyarakat untuk mengatakan bahwa kesombongan akhirnya harus bertanggung jawab di hadapan yang terzalimi. Metafora yang kuat, meski tidak harus literal.
Ketiga, ada legitimasi lokal. Dengan mengaitkan nama Gajah Mada pada Kampung Majapahit dan Legok Majapahit, masyarakat Sukapura/Tasikmalaya secara tidak langsung menaikkan derajat historis wilayah mereka. Ini fenomena etnohistoriografi yang lazim: tokoh besar diasosiasikan dengan tanah lokal untuk memperkuat identitas dan daya tarik budaya.
Jadi, narasi pelarian adalah mitos? Belum tentu. Ia adalah tradisi—warisan intangible yang bermakna, meski tidak terverifikasi secara empiris.
Yang Terverifikasi, yang Terbuka, dan yang Perlu Ditelusuri
Mari kita jujur pada batas-batas pengetahuan kita. Ada hal-hal yang sudah mapan: Gajah Mada memang bertanggung jawab atas tragedi Bubat; kariernya memang runtuh pasca-1357; ia memang diasingkan; dan ia memang wafat sekitar 1363–1364 M. Jabatan mahapatih yang pernah ia pimpin kemudian dipecah menjadi empat mahamantri oleh Hayam Wuruk. Fakta-fakta ini kokoh.
Ada pula tradisi yang berharga namun tak terbukti: pelarian ke Gunung Sawal, keberadaan Kampung Majapahit sebagai jejak Gajah Mada, dan kisah pengasingan di tanah Sunda. Tradisi ini tidak boleh dibuang, tetapi harus ditempatkan pada rak yang tepat—bukan rak fakta, melainkan rak warisan budaya dan interpretasi kolektif.
Lalu ada lacuna, celah-celah yang masih menganga. Misteri kematian Gajah Mada misalnya: Nagarakretagama menyebut mangkat, Kidung Sunda menyebut moksa. Apakah ini sekadar pilihan kata, atau ada upaya politik untuk menyembunyikan detail kematian seorang tokoh yang menjadi beban moral bagi kerajaannya? Motif pengasingan ke Madakaripura juga masih kabur: apakah hukuman, permintaan sendiri, atau bentuk perlindungan? Dan asal-usul nama Kampung Majapahit di Ciawi—kapan tepatnya nama itu muncul? Siapa yang membawanya? Semua ini masih menanti penelitian arkeologis dan filologis yang lebih mendalam, termasuk edisi kritis Babad Sukapura yang hingga kini belum ada.
Sejarah adalah Dialog, Bukan Monolog
Kembali ke pertanyaan awal: apakah Gajah Mada benar-benar melarikan diri ke Tatar Sunda?
Secara historiografis, jawabannya adalah tidak. Sumber-sumber primer abad ke-14 secara konsisten menempatkan akhir hayatnya di Madakaripura, Jawa Timur, pada 1364 M. Tidak ada bukti arkeologis di Jawa Barat yang mendukung klaim pelarian. Secara metode sejarah kritis, narasi ke Tasikmalaya tidak dapat diterima sebagai fakta.
Namun secara kultural, narasi itu hidup dan legitimate. Ia adalah cara masyarakat Sunda—khususnya Sukapura/Tasikmalaya—untuk merawat luka, merebut kembali suara mereka dalam sejarah yang selama ini ditulis oleh pemenang, dan membangun jati diri lokal yang berakar pada peristiwa besar Nusantara.
Sejarah yang sehat bukanlah tentang memilih satu sisi dan membungkam yang lain. Sejarah adalah dialog terus-menerus antara prasasti dan dongeng, antara istana dan kampung, antara Mpu Prapanca dan juru cerita di Ciawi. Kita tidak perlu mempercayai setiap narasi lisan sebagai fakta, tetapi kita juga tidak boleh merendahkan setiap tradisi sebagai sekadar omong kosong.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita manusia bukan hanya apa yang kita buktikan, tetapi juga apa yang kita ingat, apa yang kita ceritakan ulang, dan bagaimana kita—di tengah perdebatan antara mitos dan fakta—tetap menghormati kompleksitas masa lalu yang kita warisi bersama.
Referensi Konseptual: Kakawin Nagarakretagama (Mpu Prapanca, 1365), Serat Pararaton, Kidung Sunda, Babad Sukapura, karya Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (Sejarah Nasional Indonesia II), Agus Aris Munandar (Gajah Mada: Biografi Politik), Paul Michel Munoz (Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago), dan Slamet Muljana (Menuju Puncak Kemegahan).








Komentar