Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
Bangsa yang bermartabat, memiliki ciri2 tertentu, antara lain:
- Berdaulat & mandiri.
Nggak gampang didikte negara lain. Punya pendirian dalam politik, ekonomi, dan budaya. “Berdiri di atas kaki sendiri” bukan cuma slogan. - Menjunjung hukum & keadilan.
Hukum berlaku untuk semua, dari rakyat biasa sampai pejabat. Nggak ada “kebal hukum” karena kekuasaan atau uang. - Menghargai rakyatnya.
Martabat bangsa keliatan dari cara memperlakukan yg paling lemah: akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan HAM beneran jalan, bukan cuma di kertas. - Punya identitas budaya yg kuat.
Bangga sama bahasa, sejarah, seni, dan nilai lokal. Terbuka sama dunia, tapi nggak minder dan nggak ikut-ikutan hilang jati diri. - Pemimpin berintegritas.
Pejabat malu kalau korupsi. Malu kalau bohong ke publik. Mereka kerja untuk negara, bukan memperkaya diri/kelompok. - Berani membela kebenaran.
Di forum internasional, berani bersikap saat ada ketidakadilan — bukan diam karena takut rugi dagang. - Rakyatnya punya harga diri.
Nggak gampang mengemis pengakuan, nggak senang merendahkan bangsa sendiri. Kritik tetap ada, tapi niatnya membangun, bukan menjatuhkan.
Singkatnya: bangsa bermartabat itu dihormati karena karakter, bukan ditakuti karena kuasa.
Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang mampu merawat, mempertahankan, mengembangkan warisan budaya leluhurnya.
Kenapa ini jadi tanda martabat? Karena 3 hal:
- Merawat = Tanggung jawab
Tidak membiarkan bahasa daerah punah, situs sejarah hancur, atau tradisi hilang karena “tidak kekinian”. Ada usaha nyata buat jaga. Seperti BangsaJepang merawat upacara minum teh, atau Bali merawat subak. - Mempertahankan = Punya pendirian
Tidak gampang ngeklaim budaya sendiri cuma karena negara lain duluan populerikan. Tidak malu pakai batik, kebaya, angklung ke forum dunia. Berani bilang “ini kami”. - Mengembangkan = Hidup, bukan museum
Budaya tidak dibekukan di masa lalu. Wayang bisa masuk Netflix, gamelan bisa collab sama EDM, arsitektur Joglo bisa jadi inspirasi gedung modern. Leluhur kasih akar, kita bikin dia tumbuh.
Bangsa yg lupa leluhur itu kayak pohon tanpa akar — gampang tumbang kalau ada angin kencang dari luar.
Indonesia punya PR besar di sini. Kita punya 1.340 suku, 718 bahasa daerah, tapi banyak yg udah kritis. Martabat kita diuji: mau jadi penonton, atau jadi pewaris aktif?
Apakah Bangsa Indonesia sudah bisa dikatakan bermartabat?
Bisa, tapi belum lulus 100%.
Kalau pake tolok ukur “bangsa bermartabat” tadi, Indonesia ada di posisi belum selesai, masih berjuang. Ada yg sudah bagus, ada yg masih PR besar.
Yang bikin kita layak dibilang bermartabat:
- Berani merdeka & anti-penjajahan,
1945 kita rebut sendiri. Di PBB, kita konsisten bela Palestina, tolak kolonialisme. Itu harga diri politik. - Budaya hidup & diakui dunia
Batik, wayang, angklung, gamelan Pencak Silat masuk UNESCO. Dari Sabang sampai Merauke, tradisi masih jalan. Kita nggak kehilangan akar meski sudah pegang HP. - Pancasila sebagai kompas
“Kemanusiaan yang adil dan beradab” itu janji martabat. Waktu krisis 1998, tsunami Aceh 2004, gotong royong rakyatnya kelihatan.
Tapi yang bikin martabat kita bocor:
- Korupsi masih jadi budaya pejabat
Susah dibilang bermartabat kalau hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Indeks Persepsi Korupsi 2024 kita skor 34/100 — jauh dari bagus. - Warisan budaya banyak yang sekarat
11 bahasa daerah punah, 418 terancam punah menurut Kemendikbud. Kalau nggak dirawat, kita kehilangan jati diri pelan-pelan. - Sering minder di luar
Gampang silau sama “Barat”, gampang ekspor bahan mentah terus impor barang jadi. Berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi masih jauh.
Jadi jawabannya: Indonesia punya modal besar untuk bermartabat*— sejarah, budaya, SDA, SDM. Tapi martabat itu bukan status sekali dapat, terus abadi. Dia diuji tiap hari lewat keputusan pemimpin dan sikap rakyatnya.









Komentar