CIAMIS—-Pada hari Selasa 09 September 2025 , Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan tokoh budaya Sunda yang mantan Kapolda Jabar menghadiri kegiatan Milangkala Ke-16 Gong Perdamaian Dunia (GPD) yang diselenggarakan di situs bersejarah objek wisata Karang Kamulyan Kab.Ciamis.
Acara berlangsung meriah dan khidmat dengan dihadiri oleh Bupati Ciamis Dr.H.Herdiat Sunarya, Kapolres Ciamis, Dandim 0613 Ciamis, Kepala Kejaksaan Negeri Ciamis, Ketua Pengadilan Negeri Ciamis, Ketua Pengadilan Agama Ciamis, unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, para budayawan, organisasi masyarakat dan mahasiswa, serta unsur pimpinan agama di Kabupaten Ciamis. Kejaksaan serta para tokoh adat budaya Jabar , tokoh antar umat beragama , tokoh adat Perwakilan Provinsi : Jawa, Madura, Palembang, Papua dll.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi kirab yang melibatkan unsur budaya dan masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, rajah bubuka, serta tari bubuka sebagai wujud pelestarian budaya lokal.
Abah Anton panggilan akrab Anton Charliyan yang merupakan penggagas berdirinya GPD Karang Kamulyan tepatnya 09 September 2009, dimana saat itu yang bersangkutan menjabat sebagai Kapolwil Priangan menyampaikan sejarah Gong Perdamaian Dunia, yang menjadi pengingat akan pentingnya semangat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Acara kemudian berlanjut dengan prosesi pemukulan gong, prosesi ngawasuh gong, dan prosesi nyiram gong sebagai simbol penyucian, perawatan, serta kesinambungan pesan damai untuk generasi mendatang.
Abah Anton pun menyampaikan alasan utama kenapa GPD tsb disimpan di Karang Kamulyan kepada tim redaksi kami dilapangan sbb : ” Karena ditempat tsb menurut legenda ceritra rakyat dan sejarah yang tercatat dalam Naskah Wangsakerta , telah terjadi peristiwa besar berdamainya dua (2) kubu Kerajaan besar di Nusantara , yakni Kerajaan Sunda Galuh dipimpin Prabu Ciung Wanara alias Sang Manarah , dengan kubu pasukan Maharaja Mataram Kalingga Utara Rd Sanjaya yang saat itu sudah siap berperang satu sama lain .”Tapi syukur alhamdulillah berkat kegigihan para rama dan resi Kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin Resi Demunawan dari Saung Galah . Kedua belah fihak sepakat membatalkan perang dan mengadakan kesepakatan damai yang dikenal SAWALA MAPULUNGGRAHI MITRASAMAYA di Karang Kamulyan sebagai Ibukota Kerajaan Galuh saat itu ” jelas mantan Kadiv Humas Polri yang juga Ketua Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat ini
Abah Anton melanjutkan keterangannya : ”Maka dari itu kita semua masyarakat Sunda khususnya masyarakat Kab Ciamis harus bangga bahwa ternyata dari sejak dulu para leluhur Sunda Galuh lebih mengedepankan nilai-nlai perdamaian dari pada peperangan. Jika ada beberapa kerajaan diberbagai belahan dunia selalu membanggakan kebesaran kerajaan dengan kemenangan perang , bangsa Sunda, justru sebaliknya kekuatan dan kebesaranya ada dalam konsepsi : CINTA DAMAI. ”Oleh karena itu tidak heran jika salah satu pantrangan utama para raja raja Sunda Galuh adalah ; dilarang GOTRA YUDHA/ PERANG SAUDARA , siapapun raja yang melanggarnya akan diturunkan dari Tahtanya tanpa terkecuali ”ujarnya
Untuk itu, lanjut Anton Charliyan, tidak salah jika Sawala Mitra Samaya Mapulunggrahi tahun 739 M Karang Kamulyan menjadi salah satu pionir , cikal bakal. Power pertama, mengakarnya kekuatan nilai nilai perdamaian di Nusantara bahkan dunia , yakni melalui Gong Perdamaian Dunia yang dibangun di tempat tsb. sehingga sangat tepat jika GPD dibangun di Karang Kamulyan karena mempunyai cerira sejarah yang valid yang sangat fenomenal dalam rangka mewujudkan nilai perdamaian dan persaudaraan di Tatar Sunda dan Nusantara .
Menurutnya, memang dari sejak dulu para leluhur Sunda Galuh sudah mengamanatkan nilai-nilai persaudaraan & perdamaian sebagainilai dasar dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan berbangsa dan bernegara agar tetap dan terus tertanam dihati para penerus anak cucunya kelak , sehingga dengan demikian bila ada yang merasa sebagai masyarakat Sunda / Nusantara suka buat keonaran , kegaduhan, kerusuhan apalagi yg bersifat radikalisme dan kekerasan itu pasti bukan warga Sunda Nusantara , dan bila ada yang masih coba-coba berbuat demikian dipersilahkan saja dengan hormat untuk angkat kaki dari Tatar Sunda dan NKRI , ’pungkas tokoh Masyarakat Jawa Barat yang cinta seni budaya Sunda ini.
Kegiatan Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi sarana refleksi bersama akan pentingnya merawat nilai-nilai perdamaian, memperkokoh kebersamaan, serta menguatkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda di Kabupaten Ciamis. (REDI MULYADI)***








Komentar