Oleh : Yuda Wibiksana, Ch, Cht, Cbrm
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Agama dan akal bukanlah dua kutub yang saling menjauh, melainkan dua sayap yang membuat iman kita terbang lebih tinggi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُ خَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَا بَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَا بْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ ۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ۘ وَ الرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖ ۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.”(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 7)
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Rosulullah saw bersabda :
مَا خَلَقَ اللهُ خَلْقًا أَكْرَمَ عَلَيْهِ مِنَ الْعَقْلِ
“Tidaklah Allah menciptakan makhluk yang lebih mulia di sisi-Nya daripada akal”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim
Tujuan utama dari syariat adalah menjadikan manusia mencapai kebahagiaan. Untuk maksud itu, maqasidus syari’ah menerapkan lima prinsip umum (kuliyyatul khamsah), salah satunya adalah pemeliharaan akal (hifzul ‘aqli). Seseorang yang menjaga akal dengan baik, maka ia juga menjaga agamanya dengan baik.
Akal memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menjaga kemuliaan manusia. Dengan akal manusia mendapatkan kemuliaannya, bahkan mengguguli makhluk Allah yang lain, sehiggga bersedia menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Penjagaan terhadap akal membawa manusia dapat melaksanakan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Dari sini manusia dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pengabaian terhadap akal dapat berpotensi mengantarkan seseorang tersiksa di dalam neraka. Dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 8, Allah mengecam kaum musyrik Makkah karena keengganan mereka menggunakan akal untuk memikirkan ciptaan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَاۤ اِلَّا بِا لْحَقِّ وَاَ جَلٍ مُّسَمًّى ۗ وَ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّا سِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَـكٰفِرُوْنَ
“Dan mengapa mereka tidak bepikir (akal) tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 8)
Agama dan akal bukanlah dua kutub yang saling menjauh, melainkan dua sayap yang membuat iman kita terbang lebih tinggi. Akal merupakan perangkat kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal manusia dapat melaksanakan perannya sebagai khalifah di muka bumi sesuai perintah Allah swt. Ar-Ragib Al-Ashfahani menyebutkan dalam kitabnya Az-Zari’ah ila Makarimis Syari’ah:
الْعَقْلُ إِذَا أَشْرَقَ فِي الْإِنْسَانِ يَحْصُلُ عَنْهُ الْعِلْمُ وَالْمَعْرِفَةُ وَالدِّرَايَةُ وَالْحِكْمَةُ
“Ketika akal bersinar dalam diri seseorang, maka ilmu, makrifah, pengetahuan, dan hikmah akan diperoleh darinya.”
Ungkapan senada Ar-Ragib Al-Ashfahani oleh Ibnu Rusyd dalam kitab Manahij al-Adillah juga mengingatkan kita bahwa beragama tanpa akal budi, atau sekadar ikut-ikutan tanpa pemahaman, justru bisa merusak marwah agama itu sendiri. Tuhan memberikan akal agar kita bisa memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, bukan untuk ditinggalkan di depan pintu tempat ibadah.
Salah satu ungkapan yang paling masyhur dari Ibnu Rusyd adalah Bungkuslah sesuatu yang bathil dengan agama dan lalu giringlah manusia-manusia bodoh dengan agama
Mari beragama dengan cinta dan logika.
Mari beragama dengan ilmu bukan dengan nafsu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)
Dari sini manusia dapat terus beribadah serta memakmurkan bumi menunaikan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan menjaga akalnya, manusia akan mampu berkasih sayang terhadap sesama, kepada hewan, dan lingkungannya.
#Ar-Ragib Al-Ashfahani
#IbnuRusyd
#YudaWibiksana
#AgamaDanAkal
#AkalDanWahyu
#IlmuDanNafsu
#Manahijal-Adillah’Aqo’idal-Millah
#Az-Zari’ahilaMakarimisSyari’ah









Komentar