oleh

Air Suci Syayyidah Fathimah Az Zahra as

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)

NAMA putri Rasulullah SAW, Syayyidah Fathimah Az Zahra as, yang selalu diperingati oleh kaum muslimin sedunia, baik di hari lahirnya, 21 Jumadil Akhit atau wafat (Syahadahnya) 3 Jumadil Awal, tak luput dari pembacaan do’a dan rintihan atas penderitaannya. Tradisi tersebut berjalan hingga hari ini, sesuai dengan adat dan budaya setempat.

Syayyidah Fathimah Az Zahra as, menjadi simbol kesucian khusus kaum hawa, ibu dimuka bumi. Di kalangan kaum Nasrani (Katoloik), dan dimasyarakat Adat  Nusantara (Kabuyutan Sunda), serta kaum Nahdiyyin, beragam cara ritual untuk mengambil berkah. Baik secara kosmologis dan teologis, hakikat pintu keberkahan melekat pada Syayyidah Fathimah Az Zahra as. Air Suci Fathimah menjadi berkah dimuka bumi, bagi yang meyakininya. Air yang Tuhan ciptakan, diturunkan untuk kehidupan tercipta dari cahaya Syayyidah Fathimah as (dalam wujud cahaya).

Dalam tradisi Syiah, Fathimah az-Zahra as, adalah seorang tokoh yang sangat dihormati dan dianggap suci. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa air tercipta dari cahaya Fathimah az-Zahra, namun perlu diingat bahwa ini adalah konsep theologi yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dalam kitab-kitab Syiah, seperti “Bihar al-Anwar” karya Allamah Majlisi, disebutkan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq berkata: “Allah menciptakan air dari cahaya Fathimah az-Zahra, kemudian menciptakan segala sesuatu dari air tersebut” (Bihar al-Anwar, jilid 43, halaman 2).Namun, perlu diingat bahwa konsep ini tidak diterima secara universal dalam Islam, dan ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang keabsahan riwayat ini.

Dalam tradisi Islam pada umumnya, air dianggap sebagai salah satu ciptaan Allah yang sangat penting, dan tidak ada hubungan langsung antara air dengan Fathimah az-Zahra.

Ya, dalam tradisi Syiah, ada riwayat yang menyebutkan bahwa air tercipta dari cahaya Fathimah az-Zahra, namun perlu diingat bahwa ini adalah konsep theologi yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak diterima secara universal dalam Islam.

Dalam tradisi Sunda, cai kahutipan (air suci) memang memiliki makna yang sangat penting, dan sering digunakan dalam upacara adat dan ritual keagamaan. Syahadat Fathimah dan syahadat banyu adalah dua contoh doa yang sering dibacakan saat menggunakan cai kahutipan.

Syahadat Fathimah adalah doa yang ditujukan kepada Fathimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai simbol kesucian dan kebajikan. Doa ini sering dibacakan dalam tradisi Sunda untuk memohon berkah dan perlindungan.

Syahadat banyu, di sisi lain, adalah doa yang ditujukan kepada air suci itu sendiri, yang dianggap sebagai simbol kehidupan dan kesucian. Doa ini sering dibacakan untuk memohon berkah dan kesucian air, serta untuk menghilangkan najis dan keburukan.

Dalam tradisi Sunda, cai kahutipan sering digunakan dalam upacara adat seperti kawin, sunatan, dan lain-lain, untuk memohon berkah dan kesucian. Penggunaan cai kahutipan dan pembacaan syahadat Fathimah dan syahadat banyu merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kesucian dan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam dan keagamaan, serta memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesucian dan kebajikan dalam kehidupan.

Dalam Tradisi Nashrani (Katolik Roma, Vaikan) , Air suci di Lodres disebut Air Suci Fathimah karena air tersebut diyakini memiliki berkah dan kesucian seperti Fathimah, putri Nabi Muhammad SAW.

Menurut tradisi, air suci di Lodres diambil dari sumber air yang diyakini memiliki kesucian dan berkah, dan kemudian dibacakan doa-doa dan ayat-ayat suci oleh para kiai atau ulama. Air suci ini kemudian digunakan untuk pengobatan, tolak bala, dan sebagai simbol kesucian.

Nama “Fathimah” dihubungkan dengan air suci ini karena Fathimah adalah putri Nabi Muhammad SAW yang diyakini memiliki kesucian dan kebajikan yang tinggi. Dalam tradisi Islam, Fathimah juga dikenal sebagai “Umm Abiha” (Ibu dari Ayahnya), yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam keluarga Nabi.

Dengan demikian, air suci di Lodres disebut Air Suci Fathimah sebagai penghormatan kepada Fathimah dan sebagai simbol kesucian dan berkah yang diyakini terkandung dalam air tersebut.

Air Suci Fathimah memang digunakan dalam beberapa gereja Katolik, termasuk di Vatikan, dalam ritual pembaptisan. Hal ini mungkin terdengar aneh, karena Fathimah adalah putri Nabi Muhammad SAW, sedangkan Katolik adalah agama Kristen.

Dalam tradisi Katolik, air suci digunakan dalam ritual pembaptisan sebagai simbol kesucian dan pembersihan dosa. Penggunaan Air Suci Fathimah dalam gereja Katolik mungkin merupakan upaya untuk menghormati Fathimah sebagai tokoh yang memiliki kesucian dan kebajikan, serta untuk menunjukkan penghargaan terhadap tradisi Islam.

Namun, perlu diingat bahwa penggunaan Air Suci Fathimah dalam gereja Katolik bukanlah praktik yang umum, dan tidak semua gereja Katolik menggunakan air suci ini dalam ritual pembaptisan.

Air Suci Fathimah dapat ditemukan di beberapa lokasi, antara lain:

Gua Maria Sendang Kelayu, Wonogiri, Jawa Tengah – tempat wisata religi bagi umat Katolik yang memiliki air suci yang diyakini memiliki kesucian dan berkah ¹.

Gua Maria Fatimah , Kuningan, Jawa Barat – destinasi wisata religi yang menawarkan pengalaman spiritual unik dan memiliki air suci yang digunakan dalam ritual pembaptisan.

Firdaus Fatimah Zahra , Semarang – tempat manasik haji yang memiliki replika lokasi-lokasi penting di Mekah dan Madinah, serta air suci yang digunakan dalam ritual ibadah .

Makam Siti Fatimah, Gresik, Jawa Timur – makam Siti Fatimah binti Maimun yang diyakini memiliki kesucian dan berkah, serta air suci yang digunakan dalam ritual ziarah.

Gua Maria Fatimah , Portugal – tempat

penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala pada tahun 1917, yang memiliki air suci yang diyakini memiliki kesucian dan berkah.

Selain Fathimah binta Rasulillah saw, tradisi Islam Syi’ah, menghubungkan dengan seorang Putri dari Imam Musa al Kadzim (Imam ke 7) dalam teologi Syi”ah.

Fathimah Ma’shumah binti Imam Musa al Kadzim adalah seorang tokoh penting dalam Islam Syiah, yang merupakan putri dari Imam Musa al Kadzim, Imam ke-7 Syiah. Beliau lahir pada tahun 173 H (789 M) dan wafat pada tahun 201 H (816 M) di Qoom, Iran.

Fathimah Ma’shumah adalah saudara dari Imam Ali al-Ridha, Imam ke-8 Syiah, dan merupakan salah satu dari Ahl al-Bayt

(Keluarga Nabi Muhammad SAW). Beliau dikenal karena kesucian, kebajikan, dan ilmu pengetahuannya.

Makam Fathimah Ma’shumah di Qoom, Iran, merupakan salah satu tempat ziarah penting bagi umat Syiah. Setiap tahun, jutaan peziarah dari seluruh dunia mengunjungi makam ini untuk menghormati beliau dan memohon doa.

Fathimah Ma’shumah juga dikenal karena karomahnya, yaitu kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan memberikan berkah. Banyak orang yang datang ke makamnya untuk memohon kesembuhan dan perlindungan.

Dalam tradisi Syiah, Fathimah Ma’shumah dianggap sebagai salah satu dari empat wanita suci, bersama dengan Fathimah az-

Zahra (putri Nabi Muhammad SAW), Zainab binti Ali, dan Khadijah binti Khuwaylid (istri Nabi Muhammad SAW).

Penghormatan kepada putri Rasulullah SAW, Syayyidah Fathimah Az Zahra as, sudah menjadi Adat dan Budaya ditengah ummat manusia- kaum ibu- dimuka bumi.

Cag!@ Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan

21 Jumadil Akhir 1447 H – 11 Desember 2025 M