oleh

Artikel Republika: Kesaksian “Ahu” dalam Konteks Penjarahan Rumah Pejabat

Reposted by Ida Ismael and Green Berryl

Konteks Peristiwa dan Latar Belakang

Artikel Republika yang dimuat pada 31 Agustus 2025 memberikan perspektif unik melalui kesaksian seorang pemuda bernama “Ahu” yang terpisah dari rombongan demonstran[1]. Peristiwa ini terjadi dalam rangkaian unjuk rasa besar-besaran yang melanda Indonesia sejak 25 Agustus 2025, yang dipicu oleh kontroversi tunjangan perumahan anggota DPR sebesar Rp 50 juta per bulan[2][3]. Situasi semakin memanas setelah kematian pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang terlindas kendaraan taktis Brimob pada 28 Agustus 2025[2][4].

Pernyataan kontroversial Ahmad Sahroni yang menyebut masyarakat yang menuntut pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”[5][6] menjadi katalis utama kemarahan massa. Sahroni menyatakan: “Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia”[5]. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan kerja di Polda Sumatera Utara pada 22 Agustus 2025, dan kemudian memicu reaksi keras dari publik[7].

Profil Narasumber dan Signifikansi Kesaksiannya

Ahu, pemuda kelahiran 2004 asal Kecamatan Cimahi, Kota Cimahi, memberikan gambaran tentang rekrutmen dan mobilisasi massa dari daerah[1]. Dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah – hanya tamatan sekolah dasar dan bekerja sebagai penggarap sawah sewaan – Ahu merepresentasikan segmen masyarakat yang rentan dimobilisasi untuk kepentingan politik tertentu[1].

Aspek penting dari kesaksian Ahu adalah pengakuannya bahwa rombongan sudah memiliki rencana penjarahan yang terstruktur sebelum kejadian berlangsung. Ia menyebutkan adanya empat rumah yang menjadi target, dengan rumah Presiden Prabowo Subianto sebagai sasaran terakhir[1]. Namun, ia mengaku tidak diberitahu tentang rencana penjarahan rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani[1].

Pola Organisasi dan Koordinasi Penjarahan

Kesaksian Ahu mengungkap struktur organisasi yang jelas dalam aksi penjarahan. Adanya “pimpinan rombongan” yang mengumpulkan telepon genggam anggota dan memberikan briefing tentang target-target penjarahan menunjukkan tingkat koordinasi yang tinggi[1]. Deskripsi Ahu tentang target di “Jakarta Utara, dekat kota, daerah yang banyak mobil besarnya” merujuk pada kawasan elite seperti Tanjung Priok tempat tinggal Ahmad Sahroni[8][9].

Analisis saksi mata lain mendukung adanya koordinasi terorganisir. Dalam penjarahan rumah Sri Mulyani, para saksi melaporkan adanya aba-aba kembang api sebelum massa masuk kompleks[10][11]. Staf keamanan Ali dan Jayadi mencatat bahwa massa berkumpul terlebih dahulu sekitar pukul 12.30 dini hari sebelum bergerak secara terkoordinasi[10][11].

Kronologi dan Dampak Penjarahan

Rangkaian penjarahan terjadi dalam pola eskalasi yang sistematis:

30 Agustus 2025 (Sabtu):

  • Sore hari: Rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok digeruduk massa sejak pukul 15.00 WIB[12][9]
  • Malam hari: Rumah Eko Patrio di Kuningan (pukul 20.00-22.00 WIB)[13][14] dan rumah Uya Kuya di Duren Sawit[8][15]

31 Agustus 2025 (Minggu dini hari):

  • Pukul 01.00 dan 03.00 WIB: Rumah Sri Mulyani di Bintaro dalam dua gelombang terpisah[16][10]

Kerugian material yang dilaporkan meliputi kendaraan mewah (Tesla Model X dan Lexus milik Sahroni)[12], patung Iron Man seukuran manusia[12], perabotan rumah tangga[14][17], bahkan barang-barang sepele seperti jagung dan bumbu dapur[8]. Yang mengkhawatirkan, beberapa kucing peliharaan juga ikut “dijarah” oleh massa[14][17].

Dimensi Keamanan dan Respons Aparat

Keterbatasan aparat keamanan terlihat jelas dalam semua lokasi penjarahan. Di rumah Eko Patrio, personel TNI Kodam Jaya yang berjaga tidak mampu mengendalikan situasi karena jumlah massa yang terlalu banyak[13][17]. Situasi serupa terjadi di rumah Sri Mulyani, di mana satpam dan satu prajurit TNI hanya bisa “menenangkan massa agar tidak membakar rumah”[10][11].

Pola Organisasi dan Koordinasi Penjarahan

Kesaksian Ahu mengungkap struktur organisasi yang jelas dalam aksi penjarahan. Adanya “pimpinan rombongan” yang mengumpulkan telepon genggam anggota dan memberikan briefing tentang target-target penjarahan menunjukkan tingkat koordinasi yang tinggi[1]. Deskripsi Ahu tentang target di “Jakarta Utara, dekat kota, daerah yang banyak mobil besarnya” merujuk pada kawasan elite seperti Tanjung Priok tempat tinggal Ahmad Sahroni[8][9].

Analisis saksi mata lain mendukung adanya koordinasi terorganisir. Dalam penjarahan rumah Sri Mulyani, para saksi melaporkan adanya aba-aba kembang api sebelum massa masuk kompleks[10][11]. Staf keamanan Ali dan Jayadi mencatat bahwa massa berkumpul terlebih dahulu sekitar pukul 12.30 dini hari sebelum bergerak secara terkoordinasi[10][11].

Kronologi dan Dampak Penjarahan

Rangkaian penjarahan terjadi dalam pola eskalasi yang sistematis:

30 Agustus 2025 (Sabtu):

  • Sore hari: Rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok digeruduk massa sejak pukul 15.00 WIB[12][9]
  • Malam hari: Rumah Eko Patrio di Kuningan (pukul 20.00-22.00 WIB)[13][14] dan rumah Uya Kuya di Duren Sawit[8][15]

31 Agustus 2025 (Minggu dini hari):

  • Pukul 01.00 dan 03.00 WIB: Rumah Sri Mulyani di Bintaro dalam dua gelombang terpisah[16][10]

Kerugian material yang dilaporkan meliputi kendaraan mewah (Tesla Model X dan Lexus milik Sahroni)[12], patung Iron Man seukuran manusia[12], perabotan rumah tangga[14][17], bahkan barang-barang sepele seperti jagung dan bumbu dapur[8]. Yang mengkhawatirkan, beberapa kucing peliharaan juga ikut “dijarah” oleh massa[14][17].

Dimensi Keamanan dan Respons Aparat

Keterbatasan aparat keamanan terlihat jelas dalam semua lokasi penjarahan. Di rumah Eko Patrio, personel TNI Kodam Jaya yang berjaga tidak mampu mengendalikan situasi karena jumlah massa yang terlalu banyak[13][17]. Situasi serupa terjadi di rumah Sri Mulyani, di mana satpam dan satu prajurit TNI hanya bisa “menenangkan massa agar tidak membakar rumah”[10][11].

Peristiwa ini mencerminkan krisis legitimasi yang lebih dalam dalam sistem politik Indonesia, di mana kesenjangan antara elite politik dan rakyat semakin melebar. Kombinasi antara arogansi pejabat, kebijakan yang tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat, dan respons represif aparat menciptakan lingkaran setan yang berpotensi mengancam stabilitas nasional.

Tantangan ke depan adalah bagaimana pemerintah dapat memulihkan kepercayaan publik sambil memastikan bahwa aksi-aksi politik tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan instabilitas untuk kepentingan tertentu. Kesaksian Ahu menjadi pengingat penting bahwa di balik kemarahan massa yang genuine, seringkali terdapat aktor-aktor yang memiliki agenda politik tersembunyi.

KUTIPAN:

Komentar