oleh

Bangkitnya Media Massa Konvensional di Tengah Gempuran Media Digital: Persib Bandung dan Kreativitas Perkenalan Pemain Baru

Oleh: Rangga Saptya Mohamad Permana, S.I.Kom., M.I.Kom., Ph.D.[1]

DI TENGAH gempuran teknologi digital yang semakin masif, sebuah fenomena menarik terjadi di kota Bandung pada pertengahan tahun 2025. Persib Bandung, klub sepak bola kebanggaan masyarakat Jawa Barat, justru memilih jalan yang berbeda dalam memperkenalkan pemain-pemain barunya. Alih-alih mengandalkan media sosial atau platform digital yang kini mendominasi lanskap komunikasi massa, Persib malah kembali merangkul media konvensional dan media luar ruang dengan pendekatan yang sangat kreatif dan inovatif.

Strategi unik ini bukan sekadar nostalgia atau upaya mencari perhatian semata. Lebih dari itu, langkah Persib ini mencerminkan sebuah fenomena yang lebih besar: bangkitnya kembali media massa konvensional di era digital. Dalam dunia yang semakin dipenuhi notifikasi ponsel pintar, linimasa media sosial yang tak berujung, dan algoritma yang menentukan apa yang kita lihat, kehadiran media konvensional justru memberikan kejutan dan dampak yang lebih mendalam bagi masyarakat.

Revolusi Kreatif Persib: Dari Videotron hingga Televisi

Perjalanan kreatif Persib Bandung dalam memperkenalkan pemain baru dimulai pada Rabu, 11 Juni 2025, ketika Persib memperkenalkan pemain sayap lincah Saddil Ramdani sebagai rekrutan pertamanya melalui videotron di Jalan Ir. H. Juanda Dago, Bandung. Pilihan lokasi di Dago, salah satu kawasan paling ikonik di Bandung, bukan kebetulan. Jalan ini merupakan urat nadi kota yang dilalui ribuan orang setiap harinya, menjadikan videotron tersebut sebagai media yang efektif untuk menjangkau massa dalam jumlah besar.

Sebelas hari kemudian, pada Minggu, 22 Juni 2025, Persib kembali mengejutkan dengan strategi yang berbeda. Brosur dengan foto Al Hamra Hehanussa—adik kandung Rezaldi Hehanussa yang sebelumnya sudah ada di skuad Persib; keduanya berposisi sebagai pemain belakang—bertebaran di beberapa titik strategis kota Bandung, salah satunya di Summarecon Mall Bandung, tepat setelah acara bertajuk Sejarah Biru: Trophy Tour yang diadakan oleh Persib. Pendekatan ini mengingatkan kita pada era 1980-an dan 1990-an ketika brosur menjadi salah satu media promosi utama. Namun, dalam konteks modern, kehadiran brosur fisik justru menciptakan efek kejutan yang tidak bisa dicapai oleh media digital.

Kreativitas Persib semakin menggeliat pada Rabu, 25 Juni 2025, ketika Wiliam Marcilio asal Brasil dan Luciano Guaycochea asal Argentina—dua pemain yang berposisi sebagai playmaker—diperkenalkan melalui mobil videotron (mobitron) yang berkeliling kota Bandung. Konsep mobile advertising ini menggabungkan kekuatan teknologi digital dengan jangkauan media luar ruang. Mobitron yang bergerak dinamis di berbagai sudut kota menciptakan buzz yang tidak bisa diabaikan.

Esoknya, pada Kamis, 26 Juni 2025, dua pemain yang berposisi sebagai pemain bertahan, yakni Julio Cesar asal Brasil dan Alfreandra Dewangga yang sebelumnya menjadi pemain kunci PSIS Semarang, menjadi bintang dengan diumumkan melalui headline besar di halaman depan koran Pikiran Rakyat Bandung. Keputusan untuk menggunakan media cetak sebagai platform pengumuman resmi menunjukkan penghargaan Persib terhadap kredibilitas dan otoritas media massa konvensional. Di era hoaks dan informasi yang mudah dimanipulasi, koran masih dipandang sebagai sumber informasi yang terpercaya.

Pada Jumat, 27 Juni 2025, gelombang kreativitas berlanjut melalui medium audio. Nama Rosembergne da Silva (Berguinho) dan Uilliam Barros, dua penyerang asal Brasil, mengudara lewat siaran radio Ardan FM Bandung pada sore hari. Radio, sebagai media yang sempat diprediksi akan punah di era digital, justru menunjukkan kekuatannya dalam menciptakan intimasi dengan pendengar.

Inovasi paling spektakuler terjadi pada Sabtu, 28 Juni 2025, ketika Persib mengumumkan kedatangan rekrutan baru melalui layar bioskop di CGV Paris van Java Mall. Yang memukau, klub ini bahkan membuat video pendek dan poster film dengan judul “The Spear and The Shield” (Tombak dan Perisai), mengacu pada posisi dua pemain baru: Ramon de Andrade Silva “Tanque” (penyerang asal Brasil) dan Adam Przybek (kiper berkebangsaan Wales). Strategi ini menggabungkan entertainment dengan sports marketing, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Rangkaian kreativitas ini berlanjut pada Rabu, 16 Juli 2025, dengan perkenalan Frans Putros, pemain bertahan asing berkebangsaan Irak. Persib memilih cara yang paling tidak terduga: ucapan selamat dalam sebuah karangan bunga yang terpajang di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung. Yang lebih menarik, Walikota Bandung, M. Farhan, turut merangkai namanya secara langsung pada karangan bunga tersebut dengan dibantu maskot Persib, Prabu.

Selanjutnya, pada tanggal 27 Agustus 2025, Persib menggandeng TVRI Jawa Barat untuk mengumumkan kedatangan dua pemain baru, yakni bek flamboyan asal Italia, Federico Barba, dan gelandang naturalisasi berlabel timnas Indonesia yang dijuluki “Professor”, yaitu Thom Haye. Kedua pemain ini diperkenalkan dalam salah satu program buletin TVRI Jawa Barat, yaitu Jawa Barat Hari Ini, yang ditayangkan pada pukul 15.30 WIB. Pemilihan TVRI Jawa Barat untuk mengumukna kedua pemain ini melengkapi lini media massa konvensional yang digunakan oleh Persib; mulai dari media massa cetak hingga elektronik, serta merupakan upaya Persib untuk mendekatkan diri kepada masyarakat Jawa Barat yang memiliki keterbatasan terhadap akses media sosial.

Gebrakan transfer pemain baru Persib nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Empat hari kemudian, tepatnya di tanggal penutupan bursa transfer (31 Agustus 2025), Persib menutup rangkaian transfer pemain mereka dengan mengumumkan dua pemain baru lewat kanal-kanal media sosial mereka. Kedua pemain tersebut adalah penyerang agresif berkebangsaan Perancis, Andrew Jung, dan pemain naturalisasi versatile berlabel timnas Indonesia yakni Eliano Reijnders. Penggunaan media sosial untuk menutup aktivitas Persib di bursa transfer musim 2025/2026 ini juga menegaskan bahwa pihak manajemen Persib berhasil mengisi dan memanfaatkan kedua ceruk media dengan baik, sekaligus menjadi gebrakan baru yang inovatif dalam konteks perkenalan pemain baru.

Media Konvensional di Persimpangan Jalan Digital

Fenomena yang ditunjukkan Persib ini merefleksikan kondisi media massa konvensional yang sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, dominasi media digital tidak bisa dipungkiri. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 77,02% pada tahun 2024, dengan rata-rata waktu penggunaan internet mencapai 8 jam 52 menit per hari. Namun, di sisi lain, saturasi informasi di media digital justru menciptakan fenomena yang disebut “digital fatigue” atau kelelahan digital. Masyarakat mulai merasa jenuh dengan bombardir informasi yang tidak pernah berhenti, algoritma yang membatasi jangkauan konten, dan echo chamber yang mempersempit perspektif. Dalam kondisi seperti ini, media konvensional hadir sebagai alternatif yang menyegarkan.

Kekuatan media konvensional terletak pada karakteristiknya yang berbeda secara fundamental dengan media digital. Pertama, media konvensional memiliki sifat tangible atau dapat disentuh. Brosur, koran, atau poster memberikan pengalaman fisik yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. Kedua, media konvensional memiliki presence yang kuat di ruang publik, menciptakan shared experience di mana banyak orang melihat konten yang sama pada waktu yang bersamaan. Ketiga, media konvensional memiliki unsur credibility yang lebih tinggi. Masyarakat masih memandang koran, radio, dan televisi sebagai sumber informasi yang lebih terpercaya dibandingkan media sosial yang rentan terhadap hoaks. Keempat, media konvensional memiliki kemampuan untuk menciptakan surprise dan novelty. Di era di mana semua orang mengharapkan informasi datang melalui ponsel pintar, kehadiran media konvensional justru menciptakan kejutan yang berkesan.

Kreativitas sebagai Kunci Kebangkitan

Kisah Persib dalam memperkenalkan pemain-pemain barunya bukan sekadar cerita tentang strategi marketing yang kreatif. Lebih dari itu, ini adalah bukti bahwa media konvensional masih memiliki tempat yang penting dalam ekosistem komunikasi modern, asalkan dikelola dengan kreativitas, inovasi, dan pemahaman yang mendalam terhadap khalayak. Di tengah gempuran media digital yang semakin masif, media konvensional tidak perlu berkompetisi dengan cara yang sama. Mereka perlu menemukan kekuatan unik mereka dan mengeksploitasinya secara maksimal. Kekuatan tersebut terletak pada kemampuan menciptakan physical presence, shared experience, credibility, dan surprise yang tidak bisa ditiru oleh media digital.

Bangkitnya media konvensional di era digital bukan tentang kembali ke masa lalu, tetapi tentang mengintegrasikan wisdom dari masa lalu dengan inovasi masa kini. Persib telah menunjukkan jalan, sekarang giliran organisasi dan brand lain untuk mengikuti jejak kreativitas tersebut. Pada akhirnya, baik media konvensional maupun digital adalah tools yang efektivitasnya tergantung pada kreativitas dan strategi penggunaannya. Yang terpenting adalah memahami khalayak, memilih medium yang tepat, dan menyampaikan pesan dengan cara yang memorable dan meaningful. Dalam hal ini, Persib telah memberikan masterclass yang patut diapresiasi dan diduplikasi.(****

BIODATA PENULIS: Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, dan baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Program S-3 Film, Media, Communications and Journalism Monash University, Australia. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.


[1] Rangga Saptya Mohamad Permana adalah dosen tetap di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, dan baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di Program S-3 Film, Media, Communications and Journalism Monash University, Australia. Penulis biasa berkorespondensi melalui alamat email ranggasaptyamp@gmail.com.

Komentar