Oleh : Dede Farhan Aulawi
Ada kalanya penyesalan datang terlambat, saat kata-kata yang pernah terucap tak lagi bisa ditarik kembali, dan luka yang tercipta telah lebih dahulu menetap di hati. Dalam sunyi yang panjang, aku sering mengenang setiap tawa, setiap cerita, dan setiap momen yang pernah kita bagi bersama. Dari sanalah aku menyadari betapa berharganya dirimu dalam hidupku.
Aku tidak mencari pembenaran atas kesalahan yang telah kulakukan. Aku hanya ingin jujur bahwa aku menyesal. Andai waktu dapat diputar kembali, mungkin aku akan lebih berhati-hati menjaga perasaanmu, lebih bijaksana dalam bertindak, dan lebih sungguh-sungguh menghargai kehadiranmu.
Hari-hari berlalu dengan satu harapan yang masih kusimpan, yaitu maafmu. Bukan karena aku ingin menghapus kesalahan yang pernah terjadi, melainkan karena aku ingin memperbaiki apa yang masih mungkin diperbaiki. Maafmu bagiku adalah cahaya kecil yang memberi harapan bahwa tidak semua yang retak harus berakhir menjadi pecahan.
Aku mengerti jika hatimu masih menyimpan kecewa. Aku mengerti jika memaafkan bukan perkara mudah. Namun izinkan aku tetap berharap, sebab harapan itu lahir dari rasa sayang yang belum berubah. Jika suatu hari kau memilih membuka kembali pintu hatimu, aku ingin menjadi seseorang yang telah belajar dari kesalahan dan mampu mencintaimu dengan lebih baik.
Sampai saat itu tiba, aku akan tetap menjaga harapan sederhana ini. Semoga maafmu menemukan jalan menuju hatiku, sebagaimana rinduku yang tak pernah lelah menemukan jalan menuju namamu.














Komentar