oleh

Bisakah Indonesia Tidak Bergantung pada Dollar AS

Oleh: Abah Yusuf Bahtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Masyarakat Jawa Barat)

NKRI masih negeri jajahan AS, secara ekonomi, karena pertum buhan ekinomi slalu diukur dan dihitung bersandar pada standar Dollar AS.

Dollar AS jadi standar ekonomi dunia itu proses bertahap, tapi ada 2 titik penting:

  1. Mulai dominan sejak 1944 – Perjanjian Bretton Woods
    Ini momen resminya.

Setelah Perang Dunia II, 44 negara kumpul di Bretton Woods, AS, Juli 1944. Mereka sepakat bikin sistem keuangan baru:
●Dolar AS jadi mata uang acuan global
●Nilai dolar dipatok ke emas: 1 oz emas = $35
●Mata uang negara lain dipatok ke dolar, bukan langsung ke emas

Alasannya sederhana: AS keluar dari PD II jadi ekonomi terbesar dunia, dan punya cadangan emas terbesar saat itu. Negara lain percaya simpan dolar lebih aman daripada emas fisik.

Sistem ini bikin dolar jadi “mata uang cadangan utama” buat bank sentral seluruh dunia.

  1. Sebenarnya mulai naik sejak Perang Dunia I.
    Penelitian terbaru nunjukin dolar udah nyalip poundsterling Inggris sebagai mata uang cadangan utama di pertengahan tahun 1920-an.

Sebelum PD I, yang dominan itu Poundsterling Inggris. Tapi setelah PD I, ekonomi Eropa hancur sementara AS utuh. Banyak negara ninggalin standar emas dan mulai pakai dolar buat perdagangan.

Data cadangan devisa nunjukin:
■1900: Dolar 0%, Pound 62%
■1920: Dolar 28.4%, Pound 57.3%
■1940: Dolar 27.9%, Pound 68.9% f855

  1. Pasca 1971 sistem berubah tapi dolar tetap dominan
    1971 Presiden Nixon cabut konvertibilitas dolar ke emas, dikenal sebagai “Nixon Shock”. Dolar jadi fiat currency – nilainya berdasarkan kepercayaan ke ekonomi AS.

Meski standar emas hilang, dolar tetap jadi mata uang utama buat:
●Transaksi minyak, emas, komoditas
●Cadangan devisa negara
●Pembiayaan perdagangan internasional

Sekarang dolar masih pegang ∼60% cadangan devisa global, jauh di atas euro ∼20%.
Catatan
■Resmi jadi standar : 1944 lewat Bretton Woods
■Mulai dominan di pasar : pertengahan 1920-an
■Alasan utama : Ekonomi AS terbesar, pasar keuangan dalam & likuid, stabilitas politik, dan kebiasaan pakai dolar buat minyak.

BISAKAH NKRI TIDAK BERGANTUNG PADA DOLLAR AS

Kalau Indonesia mau lepas dari ketergantungan dollar AS dan pakai emas, ada konsekuensinya. Punya emas banyak itu aset bagus, tapi nggak otomatis bikin transaksi internasional jadi gampang.

Ini kerugiannya buat NKRI:

  1. Transaksi dagang jadi ribet dan mahal
    95%+ perdagangan dunia masih pakai dollar. Kalau Indonesia mau beli minyak dari Timur Tengah, jual CPO ke India, atau bayar mesin dari China tanpa dollar, harus:
    1.1 Bikin perjanjian barter atau pakai mata uang lokal bilateral. Proses negosiasinya lama.
    1.2Cari pihak ketiga buat nuker rupiah/emas ke mata uang negara tujuan. Ada biaya konversi 2x lipat.
    1.3Kehilangan diskon dan kecepatan. Pembeli pakai dollar dapat barang 2 minggu, kamu bisa 2 bulan.

Contoh nyata: Iran dan Rusia yang kena sanksi dollar udah ngerasain ini. Volume dagang mereka turun karena sistemnya nggak efisien.

  1. Cadangan devisa nggak likuid
    Emas itu likuid, tapi nggak selikuid dollar AS.
    2.1Dollar : Bisa langsung dipakai bayar utang luar negeri, impor, intervensi rupiah kapan aja. Pasar valas dollar 24 jam.
    2.2 Emas : Kalau mau bayar utang $1 miliar, Bank Indonesia harus jual emas dulu di London/LBMA. Butuh waktu 1-3 hari, dan harga bisa turun kalau jualnya besar-besaran.

Bank Indonesia butuh cadangan buat jaga stabilitas rupiah saat diserang spekulan. Dollar lebih cepat dipake buat intervensi pasar.

  1. Biaya utang luar negeri naik
    Utang Indonesia, Bada Usaha Milik  Negara-BUMN-, bukan Badan Utang Merugikan Negara-BUMN-?, dan perusahaan swasta sebagian besar dalam dollar. Kalau sistem kita lepas dollar:
    3.1 Investor asing lihat risiko naik, minta bunga lebih tinggi.
    3.2 Rating kredit Indonesia bisa turun karena dianggap “keluar dari sistem global”.
    3.3 Refinancing utang lama jadi mahal.

Contoh: Saat 2013 “taper tantrum”, rupiah melemah karena investor cabut dari aset negara yang nggak pakai dollar sebagai jangkar.

  1. Investasi asing bisa berkurang
    Investor asing butuh kepastian. Mereka bikin laporan keuangan, repatriasi keuntungan, dan bandingkan return dalam dollar.
    Kalau Indonesia punya sistem sendiri berbasis emas/rupiah, investor harus berfikir risiko nilai tukar tambahan. Banyak yang milih pindah ke Vietnam, India yang masih main di sistem dollar.
  2. Emas punya masalah sendiri
    Punya emas bukan berarti bebas masalah:
    5.1 Harga emas fluktuatif : 2020-2025 harga emas naik turun 30%. Kalau cadangan BI isinya emas semua, nilai cadangan ikut goyang.
    5.2 Biaya simpan & keamanan : Nyimpan 100 ton emas butuh brankas, asuransi, audit. Dollar disimpan digital di Fed biayanya nyaris nol.
    5.3 Tidak bisa hasilkan bunga : Dollar AS di obligasi US Treasury kasih imbal hasil 4-5%. Emas nggak kasih bunga. Bank sentral rugi peluang.
  3. Isolasi dari sistem pembayaran global
    SWIFT, CHIPS, dan sistem kliring internasional dibangun di atas dollar. Kalau kamu keluar, kamu harus bikin sistem sendiri kayak Rusia dengan SPFS atau China dengan CIPS.
    Masalahnya: nggak ada yang mau gabung kalau ekonomi kamu nggak sebesar China. Jadi terisolasi.

Tapi ada juga keuntungannya kalau dikurangi ketergantungannya

Nggak semua harus 100% dollar. Indonesia sekarang lagi dorong Local Currency Settlement/LCS dengan China, Jepang, Thailand, Malaysia. Tujuannya:
●Kurangi risiko kalau dollar tiba-tiba menguat
●Hemat biaya konversi
●Lindungi diri kalau AS pakai sanksi keuangan
BI juga nambah porsi emas di cadangan devisa dari 3% jadi ∼4.5% di Kalau Indonesia mau lepas dari ketergantungan dollar AS dan pakai emas, ada konsekuensinya. Punya emas banyak itu aset bagus, tapi nggak otomatis bikin transaksi internasional jadi gampang.

Kesimpulan singkat:
Lepas total dari dollar = ekonomi lebih “merdeka” secara politik, tapi lebih mahal, lebih lambat, dan lebih berisiko secara ekonomi. Makanya kebanyakan negara termasuk China dan Rusia pilih strategi “diversifikasi”, bukan “ganti total”.

Singkatnya: Sejak 1952
Rupiah sudah lebih lemah dari dollar AS dan nggak pernah balik lagi sejak devaluasi besar-besaran di Februari 1952.

Detailnya:

  1. 1945-1950: Masa awal, rupiah vs ORI
    Setelah merdeka, Indonesia pakai Oeang Republik Indonesia/ORI. Nilainya nggak stabil karena bersaing sama mata uang Hindia Belanda dan Jepang. Pemerintah akhirnya tarik ORI Maret 1950.
  2. 1950-1952: Masih sempat lebih kuat
    Pemerintah tetapkan kurs resmi Rp3,80 per 1 USD. Jadi waktu itu 1 rupiah = 0.26 USD, artinya rupiah lebih “mahal” dari dollar.
  3. Februari 1952: Titik balik
    Defisit anggaran bikin pemerintah devaluasi 66,7%. Kurs jadi Rp11,40 per USD.

Sejak saat itu 1 USD selalu > 1 IDR. Data CEIC nunjukin:
● Jul 1967: Rp137 per USD
●Jan 1987: Rp1.650 per USD
●Jan 1998: Rp8.325 per USD
●Sekarang Mei 2026: Rp17.516 per USD
Bukan karena rupiah “lemah” secara absolut, tapi karena:

  1. Inflasi kumulatif: Indonesia inflasinya rata-rata 6-10% per tahun di era 60-90an, sementara AS 2-4%. Beda inflasi ini bikin daya beli rupiah turun terus.
  2. Krisis besar : 1965 inflasi 635%, 1998 krisis moneter bikin rupiah anjlok dari Rp2.400 ke Rp16.000 per USD.
  3. Sistem kurs : Sejak 1971 Indonesia lepas dari kurs tetap. Setelah 1998 pakai sistem mengambang terkendali, jadi nilai ditentukan pasar.

Catatan penting

“Nilai tukar lebih rendah” itu maksudnya 1 USD butuh lebih dari 1 IDR buat ditukar. Jadi rupiah selalu lebih “rendah nilainya” per satuan dibanding dollar sejak 1952.

Tapi kalau tanya “kapan rupiah mulai melemah terus-menerus”, itu mulai terasa setelah 1997. Sebelumnya depresiasi masih pelan-pelan 3-5% per tahun. Setelah krisis 1998, angkanya lompat dan nggak pernah balik ke level Rp2.000-an lagi….
Cag@Abah Yusuf//Doct//Kabuyutan

Komentar