oleh

Budaya Sunda Panyeundak Budaya Nasional

Oleh: Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)

KERAGAMAN dan pesona budaya yang dimiliki oleh suku bangsa di Nusantara, patut dipandang sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional. Budaya daerah tersebut, dapat memperkaya corak maupun karakteristik kepribadian bangsa. Oleh sebab itu, usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, baik yang sedang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, tidak dapat dipisahkan dari upaya penggalian, penelitian, pembangunan, dan pengembangan sumber daya daerah yang banyak tersebar di seluruh peloksok Nusantara.

Sumber informasi budaya masa lampau yang kini masih tersebar dan hidup di setiap daerah dimaksud, sangat beragam dan sangat penting, yang dapat  dipandang sebagai kearifan lokal dan dokumen budaya, karena berisi berbagai data dan informasi ide, pikiran, perasaan, dan pengetahuan sejarah, serta budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kearifan lokal budaya daerah erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkan dan mendukungnya, berupa, situs, prasasti, naskah, bahasa, seni, folklor, adat istiadat beserta tradisi yang   mengiringinya,  juga  kearifan  lokal budaya lainnya yang meliputi beragam unsur budaya, dapat menjadi bukti bahwa kecerdasan dan keterampilan nenek moyang kita di masa lalu sungguh sangat luar biasa hebatnya. Isinya mengungkapkan peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya,

Tinggalan budaya Sunda, isinya mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa lampau yang menyiratkan aspek kehidupan masyarakat, terutama tentang keadaan sosial dan budaya yang sangat penting, dan dapat dijadikan sumber pengetahuan bagi masyarakat kini. Namun, tinggalan budaya termasuk kearifan lokal  daerah itu  banyak yang  masih tersebar di masyarakat dan kurang mendapat perhatian pemerintah, sehingga banyak yang tidak terawat, telantar, dan terbengkalai. Untuk mengumpulkan dan memperbaikinya kembali seringkali mengalami kesulitan, karena minimnya dana serta pakar yang cukup mumpuni di bidangnya. 

Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan, dan merupakan tantangan yang memerlukan penanganan yang serius dari para peneliti dan pemerhati, serta peminat budaya, demi melestarikan kebudayaan bangsa yang sangat berharga dan tidak bisa dinilai dengan materi. Sehubungan dengan permasalahan yang berkenaan dengan seni budaya dan  kearifan  lokal dimaksud, Majelis Adat Sunda (Masda) Jawa Barat, kerjasama dengan Yayasan Forum Silaturahmi Sunda Sabuana, dan Lembaga Independen Tradisi Adat, Sejarah dan  Budaya  Nusantara (Lintas Budaya Nusantara) menyelenggarakan acara “Sunda Sabuana Awards 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Ahad, 18 Oktober 2026 lalu, di Gedung YPK Bandung.

Kegiatan Masda dihadiri oleh tokoh nasional, sesepuh, inohong, budayawan, serta perwakilan paguyuban masyarakat Sunda dari berbagai daerah dan mancanegara, termasuk dari Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, yang pada acara itu juga dihadiri oleh Wakil Rektor Universitas Padjadjaran. Beliau merasa bangga saat menyaksikan mahasiswa Unpad tersebut menjemput Menteri Polkam RI, Jend. TNI Purn. Prof. Dr. H. Dudung Abdurahman, S,E., M.M., Ketua Umum  Majelis Adat Sunda Jabar, Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. Anton Charliyan, M.PKN, beserta pejabat dan tokoh nasional juga tokoh Jawa Barat  lainnya masuk ke gedung YPK, melalui tarian penyambutan tamu agung, diiringi musik gamelan yang juga dimainkan oleh Mahasiswa Sastra Sunda FIB Unpad.

Pada kesempatan itu, para tokoh Sunda, di antaranya Abah Anton Charliyan (panggilan Irjen Anton),   menyerukan agar masyarakat Sunda mampu “ngahiji,  raket, saiket, sabeungkeutan, satata, guyub sauyunan, tur sabobot sapiha–néan”.  Beliau pun menyarankan ada tokoh atau ‘figur’ yang dapat mempersatukan orang Sunda sa buana sebagai ‘panglimanya’. Jenderal Dudung yang dipilih, didaulat, dan dianggap tepat untuk memimpin beungkeutan dimaksud.

Ada pesan penting yang disampaikan oleh Menteri Polkam RI pada saat itu, bahwa orang Sunda ulah kuméok méméh dipacok, “jangan mundur/kalah sebelum berperang’. Masyarakat  Sunda pun ujarnya, harus semakin memperkuat rasa persaudaraan, serta  menghargai putra-putri terbaik Sunda yang telah berhasil di tingkat nasional. Masyarakat Sunda harus percaya diri, berani tampil di barisan terdepan. Keberhasilan harus menjadi kebanggaan sekaligus energi untuk membangun masyarakat Sunda, agar semakin percaya diri.

    Pada acara yang bertemakan “Budaya Sunda Panyeundak Budaya Nusantara” tersebut, diadakan upacara pengukuhan Masda Jabar, dan pemberian berbagai penghargaan kepada para tokoh, akademisi, rektor, budayawan, seniman, Datsun, dan lainnya, yang diiringi alunan musik dari Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, sehingga membuat suasana semakin meriah.     {****

Komentar