oleh

CHAUVINISME vs ASHOBIAH

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)

KETIKA dikumandangkan kemerdekaan Indonesia lepas dari kolonialis ,imperialis penjajah , Bung Karno memberikan isyarat, jangan sampai sikap Nasionalis, rasa kebanggaan sebagai bangsa yg merdeka, mengesampingkan bangsa2 lain. Sebab RI, NKRI adalah salah satu negara bangsa yg harus bisa berdampingan dengan Negara, Bangsa lainnya. Setelah solid pada tatanan Regional, selanjutnya solid pada tatanan Multilateral, Global dan hidup berdampingan serta menghormati kedaulatan negara bangsa masing2.
Kekhawitiran Bung Karno , tentang “Nasionalisme Ekstrim” atau “Chauvinisme” , bisa terjadi ketika masih belum terwujudnya Kemakmuran, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke 5, Pancasila), juga sebagai amanat mukadimah UUD’45.

Lepas dari cengkraman kolonial, imperialis, penjajah, ibarat keluar dari mulut buaya dan bila terjebak pada Nasionalisme Ekstrim , diumpakan masuk ke sarang harimau. Jadi sama saja berbahayanya, bagi Kemanusiaan , Keadilan, dan keberadaban (Sila ke 2, Pancasila).

Chauvinisme adalah sikap yang menunjukkan kesetiaan dan kebanggaan berlebihan terhadap negara, bangsa, atau kelompok sendiri, sering kali disertai dengan pandangan bahwa kelompoknya lebih unggul daripada yang lain. Ini bisa memicu sikap intoleransi, diskriminasi, atau bahkan agresi terhadap kelompok lain yang dianggap berbeda.

Chauvinisme bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti nasionalisme ekstrem, rasisme, atau fanatisme kelompok. Meskipun kesetiaan pada bangsa atau negara adalah hal yang wajar, chauvinisme cenderung mendorong sikap yang tidak adil dan merugikan hubungan antar kelompok.

Ashobiah adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab, yang merujuk pada sikap fanatisme atau kesetiaan berlebihan terhadap kelompok sendiri, seperti suku, ras, atau golongan, tanpa mempertimbangkan kebenaran atau keadilan. Ashobiah sering kali mendorong seseorang untuk membela kelompoknya tanpa peduli apakah tindakan tersebut benar atau salah, dan bisa memicu konflik dengan kelompok lain.

Dalam konteks modern, ashobiah bisa diartikan sebagai sikap yang memprioritaskan kepentingan kelompok sendiri di atas kepentingan yang lebih luas, seperti keadilan, kebenaran, atau kemanusiaan. Ashobiah dianggap sebagai sikap yang tidak seimbang dan bisa merusak hubungan sosial.

Perbedaan mendasar antara “Chauvinisme” dan “Ashobiah” terletak pada fokus dan cakupannya:

Chauvinisme:
Lebih sering dikaitkan dengan nasionalisme ekstrem atau kesetiaan berlebihan terhadap negara atau bangsa.
Fokusnya adalah pada :”bangsa atau negara”, sering kali dengan pandangan bahwa bangsa atau negaranya lebih unggul.
Contoh: Nasionalisme yang berlebihan hingga menganggap bangsa lain inferior.

Ashobiah:
Lebih umum merujuk pada “fanatisme kelompok “atau kesetiaan berlebihan terhadap kelompok tertentu, seperti suku, golongan, atau aliran.
Fokusnya bisa pada :kelompok apa pun”, tidak hanya bangsa atau negara, tapi bisa juga agama, partai, atau kelompok sosial.
Contoh: Fanatisme terhadap kelompok tertentu hingga membenarkan tindakan yang tidak adil.

Jadi, chauvinisme cenderung lebih terkait dengan :”nasionalisme ekstrem”, sementara ashobiah lebih luas dan bisa berlaku untuk “fanatisme kelompok apa pun”. Kedua istilah ini sama-sama menggambarkan sikap yang tidak seimbang dan bisa memicu konflik.

Ketika bangsa Indonesia , masih belum dewasa memahami nilai-nilai Pancasila dalam pengamalannya, maka jangankan bersaing dengan negara bangsa lain pada tatanan Global, pada persoalan dua kutub ekstrim Chauvinisme dan Ashobiah masih belum selesai..
Cag!@Abah Yusuf.Doct//Kabuyutan
27 Jumadil Awal 1447 H – 18 November 2025 M

Komentar