oleh

Dakwah, Antara Kewajiban Menyampaikan Ilmu dan Tuntutan Profesi

Oleh: Gus Qusyairi Zaini (Majlis Zikir Tauhid Padepokan Sadar Bumi Alif Kabupaten Sumenep)

Ketika dakwah mulai dipandang semata-mata sebagai profesi, maka perlahan ruh keikhlasan akan terkikis. Seorang da’i tidak lagi berdiri di mimbar karena rasa takut menyembunyikan kebenaran, tetapi karena merasa itu adalah “pekerjaannya”. Dari sini muncul penyakit-penyakit hati yang halus, yaitu bangga terhadap popularitas, senang dipuji, kecewa ketika tidak diundang, bahkan merasa nilai dirinya diukur dari banyaknya jamaah dan penghormatan manusia.

Padahal para ulama salaf memandang dakwah dan ilmu sebagai amanah yg sangat berat, bukan jalan mencari kemuliaan dunia.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:“Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridha Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan bagian dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits lain yg sangat mengguncang, Rasulullah SAW menyebutkan golongan pertama yang diseret ke neraka adalah orang berilmu yang mengajarkan ilmunya agar disebut alim dan dipuji manusia.

“…dia belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an… lalu Allah berkata: ‘Engkau dusta. Engkau belajar agar disebut alim, dan engkau membaca Al-Qur’an agar disebut qari’. Dan itu telah dikatakan manusia.’” (HR. Muslim)

Inilah bahaya ketika dakwah kehilangan ruh ubudiyah dan berubah menjadi identitas profesi. Secara lahiriah ia masih berbicara tentang agama, tetapi orientasi hatinya telah bergeser kepada manusia.

Para salaf sangat takut terhadap fitnah popularitas dalam dakwah.

Sufyan Ats-Tsauri berkata:“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku, karena ia selalu berbolak-balik padaku.”

Beliau juga berkata:“Jika engkau melihat seseorang senang dikenal, maka ketahuilah bahwa keikhlasannya bermasalah.”

Abdullah bin Mubarak berkata:“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.”

Karena itu para ulama dahulu lebih takut rusaknya hati daripada sedikitnya pengikut. Mereka sadar bahwa keberhasilan dakwah bukan diukur oleh gemuruh tepuk tangan, tetapi oleh keberkahan yg Allah turunkan pada ucapan tersebut.

Imam Malik pernah berkata:“Tidaklah seseorang merasa dirinya besar melainkan akan berkurang disisi Allah.”

Maka ketika seorang da’i mulai menikmati pujian, sibuk menjaga citra, merasa bangga dengan “profesi dakwah”-nya, dan menjadikan mimbar sebagai alat mempertahankan eksistensi, di situlah ilmu mulai kehilangan cahayanya.

Sebab ilmu bukan sekadar kepandaian berbicara. Ilmu adalah nur (cahaya). Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang dipenuhi riya’, ujub, dan ambisi dunia. Imam Malik bin Anas berkata:

ليس العلم بكثرة الرواية، ولكن العلم نور

Para salaf dahulu berdakwah dalam keadaan hati gemetar. Mereka khawatir ilmunya menjadi hujjah yang memberatkan dirinya sendiri. Bukan sibuk membangun branding, tetapi sibuk memperbaiki niat.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:“Orang alim itu adalah orang yg takut kepada Allah, meskipun manusia memuliakannya.”

Dan beliau juga berkata:“Sesungguhnya dahulu seseorang mencari ilmu untuk akhirat, maka ilmu itu tampak pada kekhusyukan, kezuhudan, lisan, dan pandangannya. Sedangkan hari ini sebagian orang mencari ilmu untuk dunia.”

Betapa tepat ucapan itu untuk zaman ini.

Hari ketika sebagian mimbar lebih sibuk mengejar viral daripada menyampaikan kebenaran. Ketika ceramah lebih diarahkan agar menghibur audiens daripada menyentuh hati dan menghidupkan rasa takut kepada Allah. Ketika ukuran sukses dakwah adalah banyaknya penonton, bukan banyaknya manusia yang bertaubat.

Padahal Allah telah mengingatkan:

﴿مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ﴾

“Perumpamaan amal-amal mereka orang² yg ingkar adalah seperti abu yang ditiup angin keras pada suatu hari yang berangin kencang.” (QS. Ibrahim: 18)

Amal yang kehilangan keikhlasan akan mudah beterbangan seperti debu dihempas angin. Tampak banyak, tetapi tidak memiliki bobot disisi Allah.

Karena itu, dakwah tidak boleh sekadar diperlakukan sebagai profesi. Ia adalah ibadah, amanah, dan jalan pengorbanan. Seorang da’i sejati tidak sibuk membesarkan namanya, tetapi sibuk menjaga hatinya. Tidak terlalu peduli apakah dirinya dikenal manusia, selama kebenaran tetap sampai dan Allah ridha kepadanya.

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah ramainya jamaah, panjangnya jadwal ceramah, atau tingginya popularitas; tetapi seberapa ikhlas hati saat menyampaikan satu kalimat kebenaran.(****

Komentar