oleh

Esai #15 Trust— Dua Arah Kepercayaan: Ikatan Horizontal dan Jangkar Vertikal

Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan & Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, Edisi 22 Mei 2026

Di jantung setiap peradaban besar, selalu ada dua gerakan yang terjadi bersamaan. Satu gerakan mengarah ke samping: manusia meraih tangan manusia lain, membangun jembatan, menenun jaringan, menciptakan handep. Inilah kepercayaan horizontal—kepercayaan yang dimiliki anggota komunitas satu sama lain. Gerakan lainnya mengarah ke atas: manusia mendongak ke langit, menamai yang tak terlihat, membangun altar, menciptakan doa. Inilah kepercayaan vertikal—kepercayaan yang dimiliki anggota komunitas terhadap institusi atau entitas yang membawahi mereka.

Seluruh rangkaian esai yang telah kita tulis—dari singularitas kepercayaan di Esai #1 hingga interferensi antar sistem di Esai #14—sebagian besar berbicara tentang gerakan pertama. Tentang bagaimana manusia saling percaya, bagaimana mereka membangun medan kesadaran bersama, bagaimana mereka mengkonversi nilai menjadi aset, bagaimana mereka melompat dari keterbatasan menuju kesejahteraan. Ini wajar. Karena kepercayaan horizontal adalah subjek yang lebih mudah diukur, lebih mudah diuji, lebih mudah dijadikan sains.

Tetapi diam-diam, di bawah seluruh bangunan Koperasi Kuantum, mengalir arus yang lain. Ia jarang disebut secara eksplisit dalam laporan keuangan atau dalam analisis parameter. Tetapi ia hadir. Ia hadir dalam doa yang membuka setiap RKM. Ia hadir dalam keyakinan bahwa handep bukan sekadar strategi, melainkan panggilan. Ia hadir dalam ketenangan aneh seorang pengurus yang ditanya, “Mengapa kamu tidak korupsi saja seperti yang lain?” dan menjawab dengan sederhana, “Karena Tuhan melihat.”

Pertanyaan yang harus kita ajukan—dan yang terlalu sering dihindari oleh sains sosial modern—adalah: apakah kepercayaan horizontal bisa bertahan lama tanpa kepercayaan vertikal? Apakah jembatan antar manusia bisa kokoh tanpa jangkar ke langit? Literatur kontemporer menunjukkan bahwa kedua bentuk kepercayaan ini saling terkait erat; perubahan besar pada satu arah akan menghasilkan perubahan serupa pada arah lainnya, dan kepercayaan horizontal di luar kelompok yang sangat erat biasanya sulit dipertahankan tanpa adanya kepercayaan vertikal.

Sejarah menyediakan jawaban yang menggoda sekaligus meresahkan. Uni Soviet adalah eksperimen raksasa dalam membangun solidaritas horizontal tanpa fondasi transenden. “Agama adalah candu,” kata Marx, dan Soviet menyingkirkan candu itu. Mereka membangun koperasi-koperasi pertanian (kolkhoz) yang di atas kertas mirip dengan KKKK: gotong royong, kepemilikan bersama, pembagian hasil. Kolkhoz—usaha pertanian kooperatif di atas tanah milik negara yang digarap oleh petani dari sejumlah rumah tangga sebagai pekerja bergaji—awalnya digagas sebagai persatuan sukarela para petani. Tetapi kolkhoz tidak bertahan, bukan karena diserang dari luar, melainkan karena membusuk dari dalam. Kontrol operasional dipegang oleh otoritas negara melalui penunjukan ketua kolkhoz dan penetapan kuota produksi yang dinegosiasikan sesuai target terencana secara sentral. Tanpa jangkar vertikal yang autentik, solidaritas horizontal berubah menjadi kepatuhan yang dipaksakan. Orang bekerja bersama bukan karena percaya, melainkan karena takut. Dan ketakutan, sebagaimana telah kita pelajari, bukanlah energi yang bisa dikonversi menjadi kesejahteraan jangka panjang.

Sebaliknya, KKKK lahir dan tumbuh dalam ekosistem di mana kepercayaan vertikal sangat hidup. Didirikan pada 25 Maret 1993 di kampung Tapang Sambas, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, koperasi ini kini memiliki lebih dari seratus ribu anggota dan aset sekitar Rp2,3 triliun. Spiritualitas Katolik masyarakat Dayak bukanlah tempelan. Ia adalah fondasi dari nilai-nilai handep dan hidop barentin. Handep sendiri adalah budaya yang memiliki nilai positif bagi gereja-gereja dalam eksistensi mereka di tengah masyarakat Dayak, berfungsi sebagai bentuk komunikasi kelompok yang menjalankan fungsi sosial, ekspresif, dan ritual. Ketika seorang anggota KKKK menolong tetangganya yang gagal bayar, ia melakukannya bukan hanya karena itu strategi yang baik untuk menjaga kredit macet tetap rendah. Ia melakukannya karena ia percaya bahwa menolong sesama adalah perintah dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Medan kesadaran KKKK memiliki dua dimensi: ia membentang ke samping, menghubungkan anggota ke anggota; dan ia menjulang ke atas, menghubungkan komunitas ke Yang Transenden.

Dalam bahasa parameter, kita bisa mengatakan bahwa kepercayaan vertikal adalah penguat amplitudo bagi seluruh spektrum frekuensi kepercayaan horizontal. Ia memperdalam λ (stabilitas nilai), karena nilai tidak lagi bersumber dari konsensus manusia yang bisa berubah, melainkan dari perintah ilahi yang abadi. Ia memperkuat ν (koherensi naratif), karena kisah Keling dan Kumang tidak berdiri sendiri—ia adalah gema dari kisah yang lebih besar, kisah tentang pengorbanan dan kesetiaan yang pola-polanya dapat ditemukan dalam kitab suci. Ia menambah ε (cadangan energi), karena setiap tindakan kebaikan memiliki makna ganda: ia membantu sesama dan ia menyenangkan Tuhan. Ia adalah investasi yang kembaliannya tidak hanya material, tetapi juga spiritual.

Inilah yang gagal dipahami oleh sekularisme reduksionis yang mendominasi ilmu-ilmu sosial modern. Mazhab ini memandang agama sebagai variabel pengganggu—sesuatu yang harus “dikendalikan” agar analisis menjadi objektif. Akibatnya, mereka kehilangan kemampuan untuk menjelaskan fenomena seperti KKKK secara utuh. Mereka bisa memotret λ, α, φ, ν, ε, μ, tetapi mereka tidak bisa menjelaskan mengapa parameter-parameter itu bertahan selama tiga dekade tanpa insentif material yang sepadan. Mereka tidak bisa menjelaskan mengapa seorang pengurus desa yang digaji jauh di bawah standar pasar tetap setia selama tiga puluh tahun. Mereka harus menyebutnya “anomali” atau “modal sosial yang luar biasa”—label yang hanya menamai tanpa menjelaskan.

Padahal jawabannya mungkin lebih sederhana dari seluruh kerumitan teoretis itu. Ia terletak pada satu kalimat yang mungkin diucapkan oleh pengurus itu sendiri jika ditanya: “Saya melakukan ini bukan untuk uang. Saya melakukan ini untuk Tuhan.”

Sekarang, kita harus berhati-hati. Menyatakan bahwa kepercayaan vertikal memperkuat kepercayaan horizontal bukanlah sama dengan menyatakan bahwa tanpa agama, tidak mungkin ada kepercayaan. Ada banyak komunitas sekuler yang berhasil membangun solidaritas—koperasi-koperasi di negara-negara Nordik, misalnya. Tetapi jika kita meneliti lebih dalam, kita akan menemukan bahwa banyak dari komunitas itu memiliki apa yang oleh sosiolog Émile Durkheim disebut sebagai “yang sakral sekuler”: nilai-nilai yang diperlakukan dengan penghormatan quasi-religius, seperti kesetaraan, keadilan, atau solidaritas itu sendiri. Mereka tidak menyebutnya “Tuhan”, tetapi mereka memperlakukannya dengan cara yang sangat mirip: sebagai sesuatu yang lebih besar dari individu, yang menuntut pengorbanan, dan yang memberikan makna. Teori Durkheim tentang yang sakral, relasinya dengan masyarakat, serta dampaknya terhadap moralitas dan pengetahuan membantu menjelaskan bagaimana ikatan sosial tetap bertahan bahkan dalam masyarakat sekuler sekalipun.

Dengan kata lain, kepercayaan horizontal yang kuat selalu membutuhkan sesuatu yang transenden—entitas, nilai, atau prinsip yang melampaui kepentingan individu dan bahkan melampaui kepentingan kolektif jangka pendek. Tanpa itu, setiap sistem solidaritas pada akhirnya akan dipertanyakan oleh pertanyaan yang paling merusak: “Untuk apa semua ini?” Dan jika pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang melampaui “supaya kita sejahtera”, maka pada saat kesejahteraan itu terancam—atau pada saat individu bisa mendapatkan kesejahteraan lebih besar di tempat lain—sistem itu akan runtuh.

KKKK memiliki jawaban untuk pertanyaan “untuk apa”. Jawabannya tidak hanya satu lapis, tetapi bertingkat. Di lapisan paling dekat: untuk membantu sesama. Di lapisan berikutnya: untuk menjaga tradisi leluhur, handep dan hidop barentin. Dan di lapisan terdalam: karena inilah yang dikehendaki oleh Tuhan. Tiga lapis jawaban ini saling menguatkan. Jika satu lapis melemah, lapisan lain masih menopang. Inilah arsitektur makna yang membuat medan kesadaran KKKK begitu tangguh.

Lalu, apakah ini berarti bahwa untuk mereplikasi model KKKK di tempat lain, kita harus “mengekspor” Katolik atau spiritualitas Dayak? Sama sekali tidak. Itu adalah kesalahpahaman mendasar. Yang perlu direplikasi bukanlah isi spesifik dari kepercayaan vertikal itu, melainkan struktur relasi antara kepercayaan horizontal dan vertikal. Setiap komunitas harus menemukan transendensinya sendiri—sesuatu yang mereka hormati melampaui diri mereka sendiri, yang memberi makna pada solidaritas mereka, yang menjawab pertanyaan “untuk apa”. Bagi komunitas Muslim di pesisir, itu mungkin adalah tauhid dan sunnah Rasul tentang tolong-menolong. Bagi komunitas adat di pegunungan, itu mungkin adalah leluhur dan tanah yang disucikan. Bagi komunitas sekuler yang berideologi kuat, itu mungkin adalah keadilan sosial atau kesetaraan radikal.

Yang penting bukanlah apa yang disembah, melainkan bahwa ada sesuatu yang disembah—bahwa ada entitas atau prinsip yang ditempatkan di atas kepentingan individu, yang menjadi rujukan terakhir ketika konflik terjadi, yang menjadi sumber kekuatan ketika lelah melanda, dan yang menjadi alasan untuk tetap setia ketika godaan untuk berkhianat begitu menggoda.

Di sinilah kita harus mengakui bahwa sains memiliki batas. Koperasi Kuantum, dengan seluruh parameternya yang elegan, dengan λ, α, φ, ν, ε, μ, δ, ω, dan θ, adalah upaya untuk mengukur dan mengelola kepercayaan horizontal dengan presisi setinggi mungkin. Ia adalah peta yang semakin akurat. Tetapi peta bukanlah wilayah. Di balik seluruh parameter itu, ada misteri yang tidak bisa direduksi menjadi angka: mengapa manusia bersedia berkorban untuk orang yang bahkan tidak mereka kenal? Mengapa mereka tetap jujur ketika tidak ada yang melihat? Mengapa mereka memilih untuk percaya, lagi dan lagi, meskipun pernah dikhianati?

Jawabannya, saya menduga, tidak akan pernah sepenuhnya ditemukan dalam persamaan. Ia berada di wilayah yang oleh para mistikus disebut sebagai rahmat, oleh para filsuf disebut sebagai Yang Absolut, dan oleh orang-orang biasa di Tapang Sambas disebut sebagai Tuhan. Sains, dengan segala metodologinya yang hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat fisik, memang tidak memiliki otoritas untuk menentukan ada atau tidak adanya Tuhan—itulah keterbatasan hakiki sains.

Sains bisa mengukur efek dari rahmat itu. Ia bisa mencatat bahwa λ bertahan di 0,85. Ia bisa mengamati bahwa ε terus terisi. Ia bisa menghitung bahwa θ mencapai 1 dan sistem melompat. Itu semua penting. Tetapi sains tidak bisa—dan tidak perlu—menjelaskan dari mana rahmat itu berasal. Ia hanya bisa mencatat kehadirannya dengan penuh syukur dan kagum.

Maka, bagi siapa pun yang ingin membangun peradaban berbasis kepercayaan, pelajaran dari KKKK adalah ini: bangunlah sistem terbaik yang bisa Anda bangun. Ukurlah parameter-parameter Anda. Jaga λ, rawat φ, hidupkan ν, isi ulang ε. Tetapi jangan lupa untuk menengadah ke langit. Karena jembatan antar manusia, sekuat apa pun ia dibangun, akan lebih kuat lagi jika ia memiliki jangkar yang tertambat di tempat yang tidak bisa digoyahkan oleh gempa bumi, krisis moneter, atau pengkhianatan manusia.

Handep bukan hanya strategi. Ia adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan.


Daftar Pustaka

  1. Trust in Public Institutions: Building Blocks of a Conceptual Framework. Semantic Scholar, 2020. Menjelaskan perbedaan antara kepercayaan horizontal (antar anggota komunitas) dan vertikal (terhadap institusi). https://www.semanticscholar.org/paper/Trust-in-public-institutions-Building-blocks-of-a/7406ce3fc7e553b1dedd142725df235c14a8ad32/figure/1
  2. Starosta, Paweł & Brzeziński, Kamil. “The Structure of Social Trust in Post-Industrial Cities of Central and Eastern Europe.” Łódzkie Towarzystwo Naukowe, 2014. Menunjukkan koherensi antara ketiga bentuk kepercayaan (umum, horizontal, vertikal). https://www.ceeol.com/search/article-detail?id=101205
  3. “Kolkhoz.” Encyclopædia Britannica. Menjelaskan struktur dan sejarah kolkhoz Soviet. https://www.britannica.com/topic/kolkhoz
  4. “Koperasi Keling Kumang dan Geliat Perlawanan dari Tanah Dayak.” Wartakoperasi.net. Mendokumentasikan pendirian CU Keling Kumang pada 25 Maret 1993 di Tapang Sambas. https://wartakoperasi.net
  5. “Kepercayaan Bukan Hasil Akhir, Tapi Syarat Awal: Pelajaran dari Koperasi Keling Kumang.” Pikiran Rakyat, 20 Mei 2026. Mencatat data anggota dan aset KKKK. https://www.pikiran-rakyat.com
    0
  6. “Belajar dari Koperasi Kredit Keling Kumang: Kapabilitas, Solidaritas, dan Regenerasi Koperasi Desa Merah Putih.” Tabloid Lintas Pena, 11 November 2025. Mencatat 232.000 anggota dan aset Rp2,23 triliun pada 2025. https://tabloidlintaspena.com
  7. Widyasari, Yolantya & Jeniva, Isabella. “The Role of Handep in Communication between Church and Culture in Central Kalimantan.” Proceedings of ICC-IRS 2024, 2025. Menjelaskan fungsi handep sebagai komunikasi sosial, ekspresif, dan ritual. https://d2aajrv7hou1it.cloudfront.net/proceedings/icc-irs-24/126012345
  8. Koenig, Matthias. “Émile Durkheim and the Sociology of Religion.” The Oxford Handbook of Émile Durkheim, 2020. Membahas relevansi teori sakral Durkheim untuk memahami ikatan sosial dalam masyarakat sekuler. https://academic.oup.com/edited-volume/28224/chapter-abstract/213245297
  9. “Review of Frevert, Ute, Vertrauen: Historische Annäherungen.” H-Net Reviews. Menyatakan bahwa kepercayaan horizontal di luar kelompok erat sulit dipertahankan tanpa kepercayaan vertikal. https://rmtrain.h-net.org