Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan & Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Esai Pembuka #1 Trust, Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi
Hari ini, 8 Mei 2026, saya memulai sesuatu yang mungkin tampak ambisius: menyampaikan delapan belas esai bersambung tentang satu kata yang begitu sering kita ucapkan, namun begitu jarang kita pahami. Kata itu adalah percaya.
Delapan belas esai. Delapan belas stasiun. Sebuah perjalanan yang akan membawa kita dari dusun kecil bernama Tapang Sambas di jantung Kalimantan, menyeberangi samudra fisika kuantum, mendaki puncak-puncak sosiologi, menyelami palung psikologi trauma, hingga akhirnya berdiri di depan cermin peradaban abad ke-21 dan bertanya: masihkah kita bisa saling percaya?
Mengapa delapan belas? Karena kata “percaya” menyimpan lapisan-lapisan yang tidak bisa dibongkar dalam satu atau dua tulisan. Ia seperti bawang yang, ketika dikupas, terus menampakkan kulit berikutnya. Ia adalah energi primordial yang ada sebelum uang, sebelum negara, sebelum agama melembaga—sebagaimana akan kita lihat di esai pertama. Ia adalah dualitas manusia yang tak terpecahkan: makhluk egois sekaligus makhluk sosial, yang seperti cahaya dalam eksperimen celah ganda, bisa berada dalam dua keadaan sekaligus. Ia adalah sesuatu yang, luar biasanya, bisa diukur—memiliki konstanta-konstanta fundamental seperti Lambda dan Alpha yang akan kita bedah sebagai “fisika sosial” yang selama ini tak terlihat oleh ekonomi konvensional.
Tapi ia juga bisa runtuh. Ia memiliki entropi. Ia bisa terluka dan menyimpan trauma sebagai getaran-getaran negatif yang merambat dalam jaringan sosial selama bertahun-tahun. Ia membutuhkan arsitek—pemimpin yang bukan sekadar manajer, melainkan sumber koherensi. Ia harus bertarung melawan algoritma yang memecah belah, melawan logika pasar yang mereduksi segalanya menjadi transaksi, melawan godaan untuk menyerah pada sinisme.
Semua itu akan kita tempuh.
Apa yang membuat perjalanan ini istimewa—dan apa yang membuatnya berbeda dari sekadar diskusi akademik tentang “modal sosial”—adalah bahwa ia memiliki jangkar. Jangkar itu bernama Koperasi Kredit Keling Kumang, atau KKKK. Sebuah koperasi yang lahir dari modal awal Rp291.000, yang kini memiliki lebih dari 232.000 anggota dan aset triliunan rupiah, yang bertahan melintasi krisis moneter 1998, krisis finansial 2008, dan pandemi 2020, dan yang melakukannya bukan dengan teknologi canggih atau dukungan investor raksasa, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih kompleks: kepercayaan yang dirawat.
KKKK bukan sekadar studi kasus. Ia adalah laboratorium hidup. Ia adalah bukti bahwa apa yang akan kita bicarakan dalam delapan belas esai ini bukanlah teori abstrak. Ia adalah realitas yang berjalan, bernapas, dan terus membuktikan dirinya di tiga belas kabupaten di Kalimantan Barat.
Kerangka yang akan kita gunakan untuk membedah KKKK dan kepercayaan secara umum adalah apa yang saya sebut sebagai Koperasi Kuantum—sebuah pendekatan yang meminjam konsep-konsep dari mekanika kuantum bukan sekadar sebagai metafora puitis, melainkan sebagai alat ukur yang presisi. Superposisi. Keruntuhan fungsi gelombang. Keterjeratan non-lokal. Gelombang pemandu. Teleportasi. Lompatan kuantum. Satu per satu, kita akan melihat bagaimana konsep-konsep ini memiliki padanan yang operasional dalam dunia sosial.
Tujuan akhir dari perjalanan ini bukan sekadar memahami KKKK. Tujuan akhirnya adalah menjawab pertanyaan yang menggantung di udara zaman ini: di tengah krisis kepercayaan global, di tengah polarisasi politik, di tengah algoritma yang merobek koherensi naratif kita, di tengah pasar yang mendidik kita untuk saling curiga—apakah masih ada jalan menuju peradaban yang saling percaya?
Tapang Sambas berbisik: ada. Dan bisikan itu layak didengarkan.
Saya mengundang Anda untuk mendengarkannya bersama saya.
Mulai hari ini, 8 Mei 2026, dan selama tujuh belas hari ke depan, satu esai akan hadir setiap hari. Delapan belas hari berturut-turut. Masing-masing berdiri sendiri, namun terhubung oleh benang merah yang sama. Masing-masing adalah satu anak tangga menuju pemahaman yang—saya harap—akan mengubah bukan hanya cara kita berpikir tentang kepercayaan, tetapi juga cara kita menghidupinya.
Ini adalah undangan. Dari Tapang Sambas, untuk Indonesia. Dari Indonesia, untuk siapa pun yang masih percaya bahwa percaya itu mungkin.
Perjalanan dimulai sekarang.
Esai #1 — Sebelum Segala Sesuatu Ada: Asal-Usul Kepercayaan
Pernahkah kita bertanya, apa yang ada sebelum sebuah peradaban berdiri? Sebelum uang diciptakan, sebelum konstitusi ditulis, sebelum candi-candi batu pertama disusun?
Jawaban intuitif kita mungkin: kekuasaan, atau sumber daya alam, atau mungkin ideologi besar. Tapi semua jawaban itu adalah produk, bukan kondisi awal. Kekuasaan mensyaratkan adanya yang taat. Sumber daya alam mensyaratkan kesepakatan atas kepemilikan. Ideologi mensyaratkan adanya keyakinan bersama. Semuanya bergantung pada satu elemen yang lebih purba, lebih fundamental, dan sering kali tak kasat mata: kepercayaan.
Kepercayaan bukanlah hasil samping peradaban. Ia adalah energi primordialnya. Ia adalah “singularitas” sosial yang darinya segala sesuatu meledak menjadi ada. Gagasan ini bukan sekadar spekulasi filosofis. Ia memiliki fondasi yang kokoh dalam sains modern. Seperti yang ditunjukkan oleh Fukuyama (1995), kepercayaan adalah “perekat sosial” (social glue) yang mendahului dan memungkinkan terbentuknya institusi-institusi besar. Negara, pasar, dan hukum bukanlah pencipta kepercayaan; mereka adalah bangunan yang berdiri di atas fondasi yang sudah lebih dulu ada.
Jauh sebelum manusia mampu merumuskan kata “percaya”, biologi kita sudah lebih dulu merancangnya. Oksitosin, molekul yang sering disederhanakan sebagai “hormon cinta”, adalah fondasi biokimiawi pertama dari kepercayaan. Penelitian Zak (2017) menunjukkan bahwa zat ini, yang dilepaskan saat seorang ibu menyusui atau saat dua manusia berpelukan, adalah perekat biologis yang memungkinkan ikatan melampaui sekadar transaksi instingtif. Ini adalah langkah pertama melampaui ego absolut. Alam telah menyiapkan suatu kanvas biologis agar kepercayaan bisa dilukiskan.
Namun, otak kita memiliki batas. Antropolog Robin Dunbar (1992) merumuskan “Angka Dunbar”—sekitar 150 individu—sebagai kapasitas maksimal otak kita untuk memelihara hubungan sosial yang stabil dan penuh makna. Dalam lingkup kecil inilah kepercayaan konkret pertama kali tumbuh: bukan dari kontrak, tapi dari kontak mata; bukan dari audit, tapi dari saling tahu nama, muka, dan riwayat. Kepercayaan lahir dari kedekatan, sebuah fenomena lokal yang sangat intim.
Lalu, bagaimana jembatannya dari 150 orang ini menuju peradaban berjuta-juta manusia? Bagaimana kepercayaan yang begitu personal bisa diskalakan? Di sinilah letak keajaiban evolusi kultural. Manusia menciptakan “fiksi kolektif”—narasi besar seperti dewa, negara, uang, dan hukum—yang berfungsi sebagai teknologi untuk memperluas radius kepercayaan. Seperti yang diargumentasikan oleh Harari (2014), kemampuan Homo sapiens untuk percaya pada hal-hal yang tidak ada secara fisik—kisah-kisah bersama, mitos-mitos, identitas kolektif—adalah kunci yang memungkinkan spesies kita bekerja sama dalam skala masif, melampaui batas-batas biologis. Kita belajar percaya pada orang asing yang memegang simbol yang sama, berbagi cerita yang sama, atau tunduk pada aturan yang sama. Inilah Big Bang sosial yang sesungguhnya.
Dalam kosmologi fisika, Dentuman Besar bermula dari “fluktuasi vakum”—sebuah riak energi di dalam kehampaan yang memicu pemuaian realitas (Hawking, 1988). Dalam kosmologi sosial, saya melihat handep dan hidop barentin—falsafah hidup masyarakat Dayak yang berarti gotong royong dan hidup saling menghidupi—sebagai “fluktuasi vakum sosial” itu. Ia bukanlah sekadar tradisi. Ia adalah riak energi kepercayaan murni, sebuah gelombang koheren dalam ruang sosial yang masih kosong dari struktur formal, yang memicu lahirnya satu semesta baru: Koperasi Kredit Keling Kumang (KKKK).
Lihatlah prosesnya. Bukan dimulai dari modal besar, bukan dari gedung megah, bukan dari pakar ekonomi. Ia dimulai dari lingkaran duduk bersama, dari secangkir kopi pahit, dari keberanian satu orang untuk berkata, “Saya butuh bantuan,” dan keberanian yang lain menjawab, “Kami siap membantu.” Di situlah handep mengambil bentuk paling purbanya: sebuah lompatan iman. Dan dari lompatan iman kecil berulang-ulang itu, meledaklah sebuah kenyataan sosial baru: sebuah koperasi simpan pinjam berbasis komunitas yang kini memiliki lebih dari 230.000 anggota (Pakpahan, 2025).
Di sinilah esensi fundamental pertama yang harus kita pahami: KKKK bukanlah contoh kepercayaan yang muncul setelah sebuah institusi berhasil. Ia adalah bukti bahwa institusi yang berhasil hanya bisa lahir dari kepercayaan yang sudah ada sebagai kondisi awal. Struktur, aturan, sistem pengawasan di KKKK adalah produk lanjutan. Ia adalah materi yang mengkristal dari energi kepercayaan purba. Struktur itu penting, tapi ia adalah efek, bukan sebab.
Kita sering kali, dalam ilmu sosial modern, terjebak berpikir secara terbalik. Kita mengira membangun kepercayaan adalah dengan memperkuat institusi, mengetatkan regulasi, dan memperberat hukuman. Padahal, itu seperti mencoba menyalakan api dengan menyusun abunya. Abunya penting sebagai bukti, tapi ia bukan sumber panas. Sumber panasnya adalah ketulusan interaksi, keberanian untuk jujur akan keterbatasan, dan kerelaan untuk menanggung beban bersama. Inilah energi primordial yang, dalam TRUST: Energi Pengikat Peradaban (Pakpahan, 2025), dijabarkan bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai realitas yang dapat diamati, diukur, dan dikelola.
Energi primordial ini sangat rapuh, namun sekaligus sangat dahsyat. Ia bisa padam oleh satu pengkhianatan, namun bisa juga membakar habis tembok-tembok ketidakmungkinan. Esai-esai ke depan dalam seri ini akan mengupas bagaimana energi ini memiliki hukum-hukumnya sendiri—sebuah “mekanika kuantum sosial”—yang bisa mengukur stabilitasnya, dualitasnya, hingga kemampuannya menciptakan lompatan eksponensial.
Maka, marilah kita akhiri permenungan ini dengan sebuah kepastian, bukan dengan tanda tanya. Sebelum gedung KKKK berdiri, sebelum neraca keuangannya dibukukan, sebelum ribuan orang merasakan dampaknya, yang ada hanyalah kepercayaan. Ia adalah singularitas yang meriak. Ia adalah kondisi awal yang tak terhindarkan bagi setiap peradaban yang ingin bertahan. Inilah fondasi yang tidak bisa dinegosiasikan: tidak ada institusi hebat tanpa kepercayaan yang mendahuluinya. Dari Tapang Sambas, dari handep dan hidop barentin, kita belajar bahwa membangun peradaban bukanlah soal menunggu struktur yang sempurna. Ia adalah soal keberanian untuk memulai dari energi yang paling sederhana dan paling purba: percaya.
Esai berikutnya akan membawa kita ke dalam laboratorium sosial KKKK untuk menjawab satu pertanyaan yang mengguncang: jika manusia adalah makhluk yang bisa egois sekaligus altruis—bagaimana kedua dorongan yang bertentangan itu bisa hidup berdampingan secara stabil? Inilah “Eksperimen Celah Ganda Kepercayaan”, yang akan membuktikan bahwa manusia tidak harus memilih salah satu. Ia bisa menjadi keduanya sekaligus.
Bersambung.
Daftar Pustaka
- Dunbar, R. I. M. (1992). Neocortex size as a constraint on group size in primates. Journal of Human Evolution, 22(6), 469–493.
- Fukuyama, F. (1995). Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. New York: Free Press.
- Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A Brief History of Humankind. London: Harvill Secker.
- Hawking, S. (1988). A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes. New York: Bantam Books.
- Pakpahan, A. (2025). TRUST: Energi Pengikat Peradaban. Manuskrip.
- Zak, P. J. (2017). Trust Factor: The Science of Creating High-Performance Companies. New York: AMACOM.
Edisi 8 Mei 2026










Komentar