Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
SIFAT manusia umumnya, ketika terjadi bencana alam, banjir, gempa, wabah, bahkan kebakaran, terbelah menjadi dua bagian. Saling menyalahkan dan disalahkan. Rakyat yang terdampak korban bencana, mereka bingung dan pasrah, ketika penguasa tidak bersikap empati. Pengusaha yang diuntungkan dari kekayaan alam yang mereka keruk, menghilang bak ditelan gelapnya malam.
Penguasa dan pengusaha, saling cuci tangan. Ketika mereka keduanya, tak punya hati, maka ribuan yang terdampak, masih didefinusikan, apakah bencana lokal atau nasional. Perdebatan, dan perbedaan
melihat kejadian bencana, menyeruak di medsos, pro kontra, dan sibuk penyumbang sibuk ada yang membagikan makanan bagi para korban. Bupati, Walikota, Gubernur, dan Pejabat lainya-DPRD dan DPR RI, termasuk TNI dan POLRI. Tidak sepantasnya saling tuding atau saling menyalahkan. Mari duduk bareng melihat secara seksama atas bencana yang terjadi.
Larae belakang, munculnya saling tuding, boleh jadi informasi yang tidak konfrehensif atau perbedaan takaran penilaian berdasarkan keyakinan yang masing-masing mereka fahami. Presiden menghimbau, :”awas jangan sampai terjadi penyimpangan, penyelewengan atas anggaran biaya penanggulangan Bencana, apakah dari APBD atau APBN. Dari sumber anggaran pemerintah bisa diaudit. Namun
dari Pribadi, kelompok masyarakat, termasuk para pengusaha yg dari kerabat yg terdampak bencana. Siapa yg mau dan bisa mengaudit. Silahkan untuk beramal shaleh tidak perlu saling menyalahkan.
Ada yang perlu dicurigai, jangan-jangan ada pengaruh pemikiran, Fatalisme, Determinisme, Qadariyyah, dan Jabariyyah. Perbedaan, perdebatan, sah-sah saja secara konseptual. Namun bencana adalah faktual.
FATALISME
Fatalisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa semua kejadian, termasuk tindakan manusia, telah ditentukan sebelumnya oleh kekuatan yang lebih tinggi atau takdir, sehingga manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan atau mengubah nasibnya.
Dalam fatalisme, semua yang terjadi di dunia ini telah diprediksi dan telah ditentukan, sehingga tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Aliran ini sering dikaitkan dengan konsep predestinasi, yaitu keyakinan bahwa Tuhan telah menentukan nasib setiap individu sebelum mereka lahir.
Fatalisme dapat ditemukan dalam berbagai tradisi filsafat, termasuk:
Filsafat Yunani Kuno: Fatalisme dapat ditemukan dalam karya-karya filsuf seperti Heraklitus dan Stoikisme.
Filsafat Islam: Fatalisme dapat ditemukan dalam konsep “qada’ dan qadar” (ketentuan dan takdir) dalam Islam.
Filsafat Barat Modern: Fatalisme dapat ditemukan dalam karya-karya filsuf seperti Spinoza dan Nietzsche.
Kritik terhadap fatalisme menyatakan bahwa aliran ini dapat menyebabkan sikap pasif dan tidak bertanggung jawab, karena manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan atau mengubah nasibnya. Namun, pendukung fatalisme berargumen bahwa aliran ini dapat memberikan ketenangan dan penerimaan terhadap keadaan yang tidak dapat diubah.
DETERMINISME
Determinisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa semua kejadian, termasuk tindakan manusia, ditentukan oleh sebab-sebab yang ada sebelumnya dan tidak ada kebebasan untuk membuat pilihan yang berbeda.
Dalam determinisme, semua yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh faktor-faktor yang ada sebelumnya, seperti hukum alam, kondisi lingkungan, dan sejarah individu. Aliran ini menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan yang tidak ditentukan oleh faktor-faktor tersebut.
Determinisme dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti:Determinisme kausal: menyatakan bahwa semua kejadian disebabkan oleh sebab-sebab yang ada sebelumnya.
Determinisme logis: menyatakan bahwa semua kejadian harus terjadi karena alasan logis.
Determinisme teologis: menyatakan bahwa semua kejadian ditentukan oleh Tuhan.
Kritik terhadap determinisme menyatakan
bahwa aliran ini dapat menyebabkan sikap pasif dan tidak bertanggung jawab, karena manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan. Namun, pendukung determinisme berargumen bahwa aliran ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dunia dan manusia.
Beberapa filsuf terkenal yang terkait dengan determinisme adalah:
Spinoza: menyatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya substansi yang ada, dan semua kejadian ditentukan oleh-Nya.
Hume: menyatakan bahwa semua kejadian disebabkan oleh sebab-sebab yang ada sebelumnya.
Darwin: menyatakan bahwa evolusi terjadi karena seleksi alam yang menentukan perkembangan spesies.
PERBEDAAN FUNDAMENTAL FATALISME vs DETERMINISME
Perbedaan fundamental antara Fatalisme dan Determinisme adalah sebagai berikut:
1. Sumber Penentuan:
Fatalisme: Penentuan berasal dari kekuatan yang lebih tinggi atau takdir yang tidak dapat diubah.
Determinisme: Penentuan berasal dari sebab-sebab yang ada sebelumnya, seperti hukum alam, kondisi lingkungan, dan sejarah individu.
2. Kebebasan Manusia :
Fatalisme: Manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan atau mengubah nasibnya.
Determinisme: Manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan yang
berbeda dari yang telah ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya.
3. Tanggung Jawab :
Fatalisme: Manusia tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka, karena semuanya telah ditentukan oleh takdir.
Determinisme: Manusia bertanggung jawab atas tindakan mereka, karena mereka adalah bagian dari rantai sebab-akibat yang menentukan.
4. Sifat Penentuan :
Fatalisme: Penentuan adalah mutlak dan tidak dapat diubah.
Determinisme: Penentuan adalah hasil dari interaksi antara sebab-sebab yang ada sebelumnya, dan dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi yang ada.
5. Implikasi :
Fatalisme: Dapat menyebabkan sikap pasif dan tidak bertanggung jawab, karena manusia tidak memiliki kebebasan untuk membuat pilihan.Determinisme: Dapat menyebabkan sikap yang lebih realistis dan bertanggung jawab, karena manusia memahami bahwa tindakan mereka adalah hasil dari sebab-sebab yang ada sebelumnya.
Dalam singkat, Fatalisme menekankan bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh takdir, sedangkan Determinisme menekankan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh sebab-sebab yang ada sebelumnya.
QADARIYYAH
Qadariyah adalah aliran teologi Islam yang menekankan kebebasan manusia dalam membuat pilihan dan tindakan. Aliran ini
percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas (ikhtiar) untuk memilih antara baik dan buruk, dan bahwa Allah tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu.
Qadariyah berasal dari kata “qadar” yang berarti “kekuasaan” atau “kehendak”. Aliran ini muncul pada abad ke-7 M di Basra, Irak, dan dipimpin oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghailan al-Dimashqi.
Qadariyah memiliki beberapa prinsip utama, yaitu:Manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih antara baik dan buruk.Allah tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu.Manusia bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Allah tidak menentukan nasib manusia, tetapi memberikan petunjuk dan bimbingan.
Aliran Qadariyah ini berbeda dengan aliran Jabariyah yang percaya bahwa Allah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, dan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas.
Qadariyah juga berbeda dengan aliran Mu’tazilah yang percaya bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia, tetapi juga menekankan pentingnya akal dan rasionalitas dalam memahami agama.
Qadariyah memiliki pengaruh besar dalam sejarah Islam, terutama dalam bidang teologi dan filsafat. Namun, aliran ini juga memiliki kritik dan kontroversi, terutama dari aliran Jabariyah dan Ash’ariyah yang percaya bahwa Allah menentukan segala sesuatu.
JABARRIYAH
Jabariyah adalah aliran teologi Islam yang menekankan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, dan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas. Aliran ini percaya bahwa Allah adalah satu-satunya yang memiliki kekuasaan dan kehendak, dan bahwa manusia hanya menjalankan apa yang telah ditentukan oleh Allah.
Jabariyah berasal dari kata “jabr” yang berarti “pemaksaan” atau “penentuan”. Aliran ini muncul pada abad ke-7 M di Suriah dan Irak, dan dipimpin oleh Jahm bin Safwan.
Jabariyah memiliki beberapa prinsip utama, yaitu:Allah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan manusia.Manusia tidak memiliki kehendak bebas dan hanya menjalankan apa yang telah ditentukan oleh Allah.
Allah adalah satu-satunya yang memiliki kekuasaan dan kehendak.
Manusia tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, karena mereka hanya menjalankan apa yang telah ditentukan oleh Allah.
Aliran Jabariyah ini berbeda dengan aliran Qadariyah yang percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Jabariyah juga berbeda dengan aliran
Mu’tazilah yang percaya bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia, tetapi juga menekankan pentingnya akal dan rasionalitas dalam memahami agama.
Jabariyah memiliki pengaruh besar dalam sejarah Islam, terutama dalam bidang teologi dan filsafat. Namun, aliran ini juga memiliki kritik dan kontroversi, terutama dari aliran Qadariyah dan Mu’tazilah yang percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
PERBEDAAN FUNDAMENTAL QADARIYYAH vs JABARIYYAH
Perbedaan fundamental antara Qadariyyah dan Jabariyyah adalah sebagai berikut:
1. Kebebasan Manusia:
Qadariyyah: Manusia memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dan tindakan.
Jabariyyah: Manusia tidak memiliki kebebasan, karena Allah menentukan segala sesuatu.
2. Penentuan Allah :
Qadariyyah: Allah memberikan petunjuk dan bimbingan, tetapi manusia memiliki kebebasan untuk memilih.
Jabariyyah: Allah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan manusia.
3. Tanggung Jawab:
Qadariyyah: Manusia bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
Jabariyyah: Manusia tidak bertanggung jawab, karena Allah menentukan segala sesuatu.
4. Sifat Allah:
Qadariyyah: Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana, memberikan kebebasan kepada manusia.
Jabariyyah: Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Menentukan, menentukan segala sesuatu.
5. Implikasi:
Qadariyyah: Manusia harus berusaha dan berdoa untuk mencapai kebaikan.
Jabariyyah: Manusia harus pasrah dan menerima apa adanya, karena Allah menentukan segala sesuatu.
Dalam singkat, Qadariyyah menekankan kebebasan manusia dan tanggung jawab, sedangkan Jabariyyah menekankan penentuan Allah dan ketergantungan manusia pada-Nya.
Apa hubungannya pembahasan
Fatalusme, Determinisme, Qadariyyah, dan Jabariyyah dengan bencana alam. Tentu sisi kelambanan, saling hujat, adakah sisi negatif yang perlu dihindari.
Kembali siapa bertanggungjawab pada apa dan siapa?
Mari berdo’a untuk saudara saudara sebangsa dan setanah air yang terdampak bencana. Tidak bisa kirim bantuan logistik, ya kita kirim do’a.
Cag!@ Abah Yusuf-Doct// Kabuyutan
20 Jumadil Akhir 1447 H – 11 Desember 2025









Komentar