oleh

Gibran Rakabuming Raka dan Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV: Manfaatkan Artificial Intelligence dengan Pedoman Etika

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA., pemerhati ekonomi dan politik, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.

KUASAI teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas dan lebih bermartabat.” – Gibran Rakabuming Raka

Perhatian Wapres Gibran dalam tayangan videonya tentang Artificial Intelligence (AI) pertama kali muncul dan menjadi sorotan publik pada 16 Juni 2026. Video pesan khusus tersebut diunggah di akun Instagram resminya dan kanal YouTube Sekretariat Wakil Presiden. Sebelumnya Paus Leo XIV baru saja merilis ensiklik (surat edaran resmi) pertamanya yang bertajuk “Magnifica Humanitas”.

Ensiklik Magnifica Humanitas dilansir di Vatican pada tanggal 25 Mei 2026. Dokumen ini sebenarnya sudah ditandatanganinya pada tanggal 15 Mei 2026. Ensiklik ini membahas tentang perlindungan martabat manusia di era kecerdasan buatan.

Dengan teknologi Artificial Intelligence manusia dimampukan untuk mengakses data dan informasi terpilih tentang hampir semua aspek. Sekaligus juga mengubah-ubah (memodifikasi) atau bahkan meng-kreasi foto atau video menjadi tampilan baru.

Pemanfaatan teknologi AI ini memang luar biasa. Tapi selain untuk hal-hal yang positif dan membangun (edukatif), teknologi AI pun kerap digunakan untuk memanipulasi publik (demi kepentingan bisnis maupun kepentingan politik tertentu).

Kita ingat bahwa kebohongan, dusta, tipu-tipu dan memanipulasi adalah pekerjaan iblis. Begitu ajaran yang diyakini kaum beragama, apa pun aliran kepercayaannya.

Kalau dulu Nabi Musa menerima sepuluh perintah Allah yang terukir dalam dua loh batu, salah satu itu perintah adalah: jangan bersaksi dusta (berbohong) tentang sesamamu.

Di era komunikasi dan informasi digital seperti sekarang ini, godaan untuk berbohong (memanipulasi fakta) demi mencapai tujuan bisnis atau politik tertentu dengan mudah dilakukan diatas platform Artificial Intelligence (AI). Politik manipulatif jadi trend yang cukup massif. 

Mendeteksi munculnya kecenderungan negatif seperti ini, Paus Leo XIV merilis ensikliknya yang bertajuk dalam bahasa Latin “Magnifica Humanitas”, yang secara harafiah berarti “Kemanusiaan yang Agung”. Inti pesan dari ensikilik ini adalah bahwa kecerdasan buatan (AI) harus selalu melayani manusia, bukan menggantikan atau menguasai manusia.

Dalam pertimbangannya, Paus Leo menekankan bahwa martabat pribadi manusia adalah nilai yang tidak dapat dikorbankan demi efisiensi, keuntungan ekonomi, ataupun kemajuan teknologi.

Martabat manusia adalah pusat. Diingatkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah sehingga memiliki martabat yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar data, algoritma, atau objek ekonomi.

AI adalah alat, bukan pengganti manusia. Teknologi harus melayani kebaikan bersama. Kemajuan teknologi dinilai baik apabila meningkatkan kesejahteraan, keadilan, solidaritas, dan perdamaian, bukan memperbesar ketimpangan atau memperkuat dominasi segelintir pihak.

Maka etika harus mendahului inovasi. Pengembangan AI memerlukan tanggung jawab moral. Paus mengingatkan agar manusia tidak menyerahkan keputusan-keputusan moral sepenuhnya kepada mesin atau algoritma.

Pekerjaan manusia harus dihormati. Otomatisasi tidak boleh menghilangkan nilai kerja manusia atau memperlakukan pekerja hanya sebagai biaya produksi. AI harus membantu manusia bekerja lebih bermartabat, bukan menggantikannya secara semena-mena.

Paus Leo terang-terangan menolak penyalahgunaan AI. Ensiklik secara khusus memperingatkan bahaya AI yang digunakan untuk manipulasi informasi, pengawasan yang melanggar kebebasan, diskriminasi algoritmik, dan terutama pengembangan senjata otonom.

Teknologi secanggih apa pun hanya bernilai apabila menjaga dan mengembangkan martabat manusia, melayani kebaikan bersama, serta diarahkan oleh kebenaran, keadilan, dan kasih.

Dalam ensiklik tentang tanggung jawab moral dan kemanusiaan ini, Paus menegaskan bahwa meskipun AI membawa manfaat besar (seperti dalam diagnosis kesehatan), teknologi ini perlu “dilucuti” dari ancaman bahaya dan harus senantiasa didorong agar melayani martabat serta kebaikan bersama.

Di era digital, keluhuran manusia tetap menjadi fondasi utama. Segala sistem (politik, ekonomi, atau ilmu pengetahuan) harus tunduk pada kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya. Ensiklik ini menjabarkan perlunya pedoman etis agar harkat kemanusiaan tidak direduksi oleh kalkulasi mesin atau kekuatan korporasi teknologi.

Paus Leo mengingatkan agar kecerdasan buatan dan digitalisasi diarahkan untuk melayani kebaikan bersama, bukan untuk mendominasi, membatasi kebebasan, atau mengeksploitasi pekerja. Pemanfaatannya adalah untuk mengajak manusia beralih dari budaya kekuasaan egois ke budaya solidaritas, dialog (termasuk antar agama), dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam tayangan videonya memandang Artificial Intelligence (AI) sebagai teknologi yang harus dikuasai untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.

Gibran menegaskan AI adalah alat untuk mempercepat belajar dan meningkatkan kreativitas, bukan untuk membuat malas. Ia juga mengingatkan bahwa teknologi tanpa etika itu berbahaya dan mudah disalahgunakan.

Dalam pandangan Gibran, AI membantu mencari data, mempelajari bahasa asing lebih cepat, dan memahami rumus rumit dengan mudah. Tetapi AI tidak akan menggantikan manusia karena manusia tetap dibutuhkan untuk memberikan perintah (prompting) pada AI.

Memang perkembangan teknologi memunculkan banyak profesi baru, seperti analis AI. Tapi AI berbahaya tanpa etika, teknologi AI bisa digunakan untuk menyebarkan berita bohong (hoaks), menjiplak karya orang lain (plagiarisme), atau melanggar privasi.

Karena itu dibutuhkan integritas, pengguna AI tidak boleh menggunakannya untuk menipu atau menjatuhkan orang lain. Pergunakan AI untuk membantu kita berpikir kritis dan untuk memicu dan memacu kreativitas, bukan sebagai jalan pintas untuk bermalas-malasan.

Bagi para guru harus terus belajar agar bisa menyajikan materi yang menarik dan lebih banyak menyentuh sisi karakter murid. Sementara bagi orang tua berperan mendampingi anak dalam menggunakan teknologi agar anak tidak mengakses hal negatif.

Gibran juga menggaris bawahi peran pemerintah agar fokus menyiapkan ekosistem dan tata kelola AI yang baik. Indonesia telah menyelesaikan penilaian kesiapan AI dari UNESCO agar teknologi ini dipakai untuk kesejahteraan bersama. Readiness Assesment Methodology untuk AI yang disusun UNESCO berfungsi sebagai alat diagnose, untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI di Indonesia di masa datang sesuai pedoman etika.

“Tugas pemerintah adalah menyiapkan ekosistemnya dan tugas kita semua adalah mempersiapkan kapasitas diri kita masing-masing,” kata Gibran. 

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengingatkan bahwa AI bukan masa depan, tetapi hari ini. Sekarang sedang terjadi transformasi dari literasi baca tulis menjadi literasi digital. AI berada di puncak transformasi itu. Masyarakat hendaknya tak sekedar jadi penonton, tetapi menjadi pemain dan penguasa AI.

“Kita tidak bisa lagi menutup mata, atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut,” tegas Gibran.

Gibran juga berpesan kepada orang tua harus bisa mendampingi anak. Jangan sampai anak terbang tinggi dengan teknologi, tapi orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses.

Akhirnya Gibran juga menyoroti soal etika pemanfaatan AI, dia menyebut hal ini jauh lebih penting daripada teknis penguasaan AI. “Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme atau melanggar privasi orang lain,” ujarnya.

“Saya ingin mengingatkan pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas. Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial,” tutur Gibran sambil mengelus kucing di pangkauannya.

Kemajuan teknologi disebut harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas masyarakat sebagai bangsa yang beradab.

Pesan penting dari dua tokoh penting, Paus Leo XIV dan Wapres Gibran tentang fenomena penting yang sedang melanda Abad 21. Gelombang perubahan yang dipicu perkembangan teknologi Artificial Inteligence.

Kita tutup dengan pesan dari Friedrich Nietzsche, “Aku tidak kesal karena kamu berbohong padaku, aku kesal karena mulai sekarang aku tidak bisa memercayaimu.” Maka, jagalah integritas.

Bandung, Selasa 21 Juli 2026

Komentar