oleh

GOTT IS TOT vs RELIGION IS OPIUM: “Tuhan Telah Mati vs Agama Adalah Candu”

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)***

SECARA emosional, kaum Agamawan dan kaum Kapitalis, saat itu di German marah. Kaum Agamawan melarang Friedrich Nietzsche , untuk berkhotbah lagi di Greja, ahirnya diasingkan dan dijadikan tahanan rumah, Nietzsche berkarya ,Also sprach Zarathustra” (Jerman: “Also sprach Zarathustra”. Sementara Karl Marx pun, mengalami nasib yang sama, setelah ia menulis buku “Das Capitalisme”. Buku Das Kapital membahas tentang sistem kapitalisme dan bagaimana sistem ini menciptakan kesenjangan ekonomi dan eksploitasi kelas pekerja.

Dari kedua filosof German ini , mari telusuri betsama, agar tidak gagal faham , sehingga dapat diketahui kearah mana Bangsa German akan dibawa.

ZARATUSTRA -Kematian Tuhan-

“Also sprach Zarathustra” (Jerman: “Also sprach Zarathustra”) adalah sebuah buku yang ditulis oleh Friedrich Nietzsche pada tahun 1883-1885. Buku ini merupakan salah satu karya paling terkenal Nietzsche dan dianggap sebagai magnum opusnya.

Buku ini menceritakan kisah Zarathustra, seorang filsuf yang turun dari gunung untuk membagikan ajarannya kepada manusia. Zarathustra mengajarkan tentang konsep “Übermensch” (manusia super), yang merupakan tujuan akhir manusia.

Nietzsche menggunakan Zarathustra sebagai tokoh fiktif untuk menyampaikan ide-ide filsafatnya, seperti:

“Kematian Tuhan” (Gott ist tot): Nietzsche menyatakan bahwa Tuhan telah mati, dan manusia harus menciptakan nilai-nilai sendiri.

“Übermensch” (manusia super): Manusia harus berusaha menjadi lebih kuat dan lebih bijak untuk mencapai tujuan akhir.

“Eternal Recurrence” (pengulangan abadi): Semua peristiwa akan berulang kembali dalam siklus yang abadi.

Buku ini ditulis dalam gaya prosa puitis dan menggunakan banyak metafora, sehingga membuatnya sulit dipahami. Namun, “Also sprach Zarathustra” telah menjadi salah satu karya filsafat paling berpengaruh di abad ke-20.

Nietzsche sendiri mengatakan bahwa buku ini adalah “buku untuk semua dan untuk tidak ada”, yang berarti bahwa buku ini dapat dipahami oleh siapa saja, tetapi juga tidak dapat dipahami oleh siapa saja.

Kronologis Kondisi Nietzsche

Friedrich Nietzsche menulis “Also sprach Zarathustra” dalam kondisi yang sangat sulit dan menyakitkan. Pada saat itu, Nietzsche mengalami beberapa masalah kesehatan, termasuk:

Sakit kepala yang parah dan kronis

Masalah penglihatan yang semakin buruk

Kelelahan yang ekstrem

Depresi dan kesepian

Nietzsche juga mengalami beberapa kegilaan dan keanehan perilaku, seperti:

Berbicara sendiri dan berdebat dengan dirinya sendiri

Menulis surat-surat yang aneh dan tidak masuk akal

Mengalami halusinasi dan delusi

Kondisi kesehatan Nietzsche semakin memburuk pada tahun 1882, ketika ia mengalami kegilaan yang parah dan harus dirawat di rumah sakit. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya di Sils-Maria, Swiss, dan mulai menulis “Also sprach Zarathustra”.

Nietzsche menulis buku ini dalam waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar 10 hari, dan dalam kondisi yang sangat intens dan emosional. Ia sendiri mengatakan bahwa buku ini adalah “hasil dari inspirasi” dan bahwa ia tidak dapat menjelaskan bagaimana ia dapat menulisnya.

Setelah menyelesaikan buku ini, kondisi kesehatan Nietzsche semakin memburuk, dan ia akhirnya mengalami kegilaan yang parah pada tahun 1889. Ia dirawat di rumah sakit dan tidak pernah pulih lagi, hingga kematiannya pada tahun 1900.

Friedrich Nietzsche memang dikenal sebagai filsuf yang menyatakan bahwa “Tuhan telah mati” (Gott ist tot). Namun, perlu diingat bahwa pernyataan ini bukanlah sebuah pernyataan literal, melainkan sebuah metafora yang digunakan Nietzsche untuk mengungkapkan krisis nilai-nilai tradisional dan kepercayaan agama pada masa itu.

Nietzsche tidak menyatakan bahwa Tuhan secara literal telah mati, tetapi lebih kepada bahwa konsep Tuhan sebagai sumber nilai-nilai dan makna telah kehilangan kekuatannya dalam masyarakat modern. Ia berpendapat bahwa manusia telah kehilangan kepercayaan pada Tuhan dan agama, dan bahwa nilai-nilai tradisional telah menjadi tidak relevan.

Pernyataan Nietzsche ini memang menimbulkan kontroversi dan kritik dari banyak orang, terutama dari kalangan agama dan konservatif. Ia dianggap sebagai seorang ateis dan nihilil, dan banyak orang yang menganggap bahwa pemikirannya adalah berbahaya dan merusak.

Nietzsche sendiri tidak pernah menganggap dirinya sebagai penfakwah, tetapi lebih kepada seorang filsuf yang ingin mengungkapkan kebenaran dan memicu perubahan dalam cara berpikir manusia. Ia tidak memiliki niat untuk mengasingkan diri, tetapi lebih kepada bahwa ia tidak dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena pemikirannya yang radikal dan tidak konvensional.

Nietzsche hidup dalam kesepian dan isolasi, dan banyak dari karyanya yang tidak dipublikasikan selama hidupnya. Baru setelah kematiannya, pemikirannya menjadi lebih dikenal dan berpengaruh dalam dunia filsafat dan budaya.

KARL MARX -Agama itu Candu-

Karl Marx memang menyatakan bahwa “Agama adalah candu rakyat” (Religion is the opium of the people) dalam karyanya “Critique of Hegel’s Philosophy of Right” pada tahun 1843. Pernyataan ini sering kali dikutip sebagai contoh kritik Marx terhadap agama, tetapi perlu diingat bahwa konteks dan makna pernyataan ini lebih kompleks daripada sekadar kritik terhadap agama.

Marx berpendapat bahwa agama dapat digunakan sebagai alat untuk menindas dan mengendalikan rakyat, dengan janji-janji tentang kehidupan setelah kematian dan pahala di akhirat. Ia melihat agama sebagai cara untuk mengalihkan perhatian rakyat dari perjuangan kelas dan eksploitasi ekonomi yang mereka alami.

Dalam konteks ini, Marx menyatakan bahwa agama dapat menjadi “candu” yang membuat rakyat tidak sadar akan kondisi mereka yang sebenarnya dan tidak berjuang untuk perubahan. Ia berpendapat bahwa rakyat perlu sadar akan kondisi mereka dan berjuang untuk mengubah sistem kapitalisme yang eksploitatif.

Kondisi masyarakat pada masa Marx memang sangat rentan terhadap kapitalisme. Revolusi Industri telah menciptakan kelas pekerja yang besar dan miskin, yang bekerja dalam kondisi yang buruk dan tidak adil. Kapitalisme telah menciptakan kesenjangan ekonomi yang besar antara kelas borjuis dan proletar, dan banyak orang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan.

Dalam situasi ini, Marx melihat agama sebagai salah satu cara untuk mempertahankan status quo dan zmencegah perubahan. Ia berpendapat bahwa rakyat perlu memiliki kesadaran kelas dan berjuang untuk mengubah sistem kapitalisme, bukan hanya mengandalkan agama untuk memberikan harapan dan kesabaran.

Namun, perlu diingat bahwa pernyataan Marx tentang agama tidak berarti bahwa ia menolak semua bentuk agama atau spiritualitas. Ia sendiri memiliki latar belakang Yahudi dan dipengaruhi oleh pemikiran agama, tetapi ia melihat agama sebagai salah satu aspek kehidupan yang perlu dikritik dan diubah.

Karl Marx dan Friedrich Nietzsche memiliki pandangan yang berbeda tentang agama, meskipun keduanya memiliki kritik terhadap agama.

Karl Marx:

Marx melihat agama sebagai “candu rakyat” (opium of the people), yaitu sebagai alat untuk menindas dan mengendalikan rakyat.

Ia berpendapat bahwa agama digunakan oleh kelas borjuis untuk mempertahankan status quo dan mencegah perubahan sosial.

Marx melihat agama sebagai salah satu aspek kehidupan yang perlu dikritik dan diubah, karena ia percaya bahwa agama dapat mengalihkan perhatian rakyat dari perjuangan kelas dan eksploitasi ekonomi.

Bagi Marx, agama bukanlah tujuan akhir, tetapi lebih kepada sebagai salah satu aspek kehidupan yang perlu diubah dalam proses menuju masyarakat yang lebih adil dan setara.

Friedrich Nietzsche:

Nietzsche menyatakan bahwa “Tuhan telah mati” (Gott ist tot), yang berarti bahwa konsep Tuhan sebagai sumber nilai-nilai dan makna telah kehilangan kekuatannya dalam masyarakat modern.

Ia berpendapat bahwa agama telah menjadi tidak relevan dan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang kehidupan dan eksistensi.

Nietzsche melihat agama sebagai salah satu bentuk “moralitas budak” yang menekankan kelemahan dan kepatuhan, dan ia berpendapat bahwa manusia perlu menciptakan nilai-nilai sendiri dan menjadi “Übermensch” (manusia super).

Bagi Nietzsche, kematian Tuhan bukanlah sebuah tragedi, tetapi lebih kepada sebagai sebuah kesempatan bagi manusia untuk menciptakan nilai-nilai sendiri dan mencapai kebebasan.

Perbedaan prinsip antara Marx dan Nietzsche tentang agama adalah:

Marx melihat agama sebagai alat untuk menindas, sedangkan Nietzsche melihat agama sebagai konsep yang telah kehilangan kekuatannya.

Marx berpendapat bahwa agama perlu diubah dan dihapuskan dalam proses menuju masyarakat yang lebih adil, sedangkan Nietzsche berpendapat bahwa agama perlu ditinggalkan dan digantikan dengan nilai-nilai baru yang diciptakan oleh manusia sendiri.

Marx memiliki pandangan yang lebih materialistis dan fokus pada perjuangan  kelas, sedangkan Nietzsche memiliki pandangan yang lebih filosofis dan fokus pada kebebasan individu.

Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan

27 Jumadil Akhir 1447 H – 17 Desember 2025

Komentar