Oleh: Aditya Perdana Saputra
DISTRIBUSI smart TV digadang sebagai terobosan pemerataan pendidikan. Presiden Prabowo Subianto menekankan, rekaman pengajaran guru terbaik bisa dihadirkan di kelas yang kekurangan pendidik. Namun, sebagaimana pepatah, “Smart TV dapat menampilkan wajah guru hebat di layar, tetapi hanya guru yang hadir di kelas yang mampu menyentuh hati dan menumbuhkan karakter murid.”
Risiko Proyek dan Tata Kelola
Indonesia berulang kali menghadapi masalah dalam proyek teknologi pendidikan. Kasus pengadaan Chromebook yang kini diusut KPK menunjukkan, niat baik dapat berubah menjadi ruang penyalahgunaan bila tata kelola lemah.
Distribusi ratusan ribu smart TV pun berpotensi menghadirkan risiko serupa. Nilai kontrak besar rawan menjelma proyek penyerapan anggaran tanpa menyentuh akar persoalan pendidikan. Keraguan publik bahwa kebijakan ini lebih berorientasi proyek daripada substansi hanya bisa dijawab dengan transparansi dan pengawasan ketat.
Teknologi Bukan Pengganti Guru
Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan relasi kemanusiaan. Guru menanamkan nilai, membangun kepercayaan diri, dan menjadi teladan. Peran ini tak tergantikan oleh layar, betapapun canggih perangkatnya.
Pengalaman pandemi Covid-19 membuktikan: pembelajaran daring memang membuka akses materi, tetapi banyak siswa kesulitan fokus, mudah bosan, dan tidak memperoleh pemahaman utuh. Kehadiran guru tetap inti dari pendidikan bermakna. Menjadikan smart TV sebagai substitusi guru adalah kekeliruan pedagogis.
Sebagaimana pesan Ki Hadjar Dewantara: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Guru adalah teladan, penggerak, sekaligus penuntun yang tidak bisa digantikan perangkat digital.
Akar Masalah Pendidikan
Masalah pendidikan Indonesia bukan ketiadaan layar, melainkan tiga hal mendasar.
- Pertama, distribusi guru timpang. Data Kemendikbudristek 2023 mencatat lebih dari 30 ribu SD kekurangan guru ASN, terutama di daerah terpencil.
- Kedua, kompetensi guru belum merata. Asesmen Nasional 2022 memperlihatkan disparitas mutu pembelajaran antara kota besar dan daerah tertinggal.
- Ketiga, kesejahteraan guru rendah. Banyak pendidik enggan ditempatkan di pelosok karena fasilitas minim, akses terbatas, dan insentif tak sepadan.
Data BPS 2023 menegaskan, rasio guru-murid di kota besar rata-rata 1:20, sementara di daerah terpencil bisa mencapai 1:40 atau lebih. Ini menunjukkan, persoalan utama bukan kurangnya perangkat digital, melainkan ketidakadilan distribusi tenaga pendidik.
Ilusi Solusi Instan
Di banyak daerah, infrastruktur dasar saja masih menjadi tantangan. Listrik padam berjam-jam, jaringan internet tidak stabil, dan ruang kelas kekurangan meja kursi. Dalam kondisi demikian, bagaimana mungkin smart TV berfungsi optimal?
Kita pernah melihat komputer bantuan pemerintah berakhir jadi pajangan karena listrik terbatas dan guru tidak terlatih mengoperasikannya. Jangan sampai sejarah berulang dengan wajah baru.
Alternatif yang Lebih Tepat
Jika tujuan utama adalah pemerataan mutu pendidikan, langkah lebih substansial tersedia.
- Pertama, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan intensif dan berkelanjutan.
- Kedua, redistribusi tenaga pendidik. Pemerintah perlu menyiapkan insentif, perumahan dinas, serta jaminan keamanan agar guru berkualitas mau mengajar di daerah terpencil. Skema tunjangan daerah khusus yang sudah ada sebaiknya diperluas dan dievaluasi.
- Ketiga, penguatan infrastruktur dasar. Listrik stabil dan internet memadai adalah prasyarat mutlak sebelum bicara digitalisasi sekolah.
UNESCO dalam Global Education Monitoring Report (2023) menegaskan, kualitas guru adalah faktor penentu utama keberhasilan pendidikan, jauh lebih penting dibanding sekadar ketersediaan perangkat teknologi.
Smart TV bisa bermanfaat bila ditempatkan dalam kerangka yang tepat: sebagai media tambahan untuk memperkaya pembelajaran, bukan solusi instan pengganti guru.
Penutup
Pemerintah patut diapresiasi atas niat menghadirkan inovasi pendidikan. Namun, inovasi tak boleh terjebak dalam proyek teknologi semata. Pendidikan adalah proses kemanusiaan yang kompleks, bukan eksperimen perangkat digital.
Smart TV memang dapat menampilkan wajah guru hebat di layar. Tetapi hanya guru yang hadir di kelaslah yang mampu menyentuh hati, menumbuhkan karakter, dan menyalakan masa depan murid-murid Indonesia.(****









Komentar