oleh

H.Jafri Syair Pulang Ke Rahmatullah, Putra Pesisir Selatan yang Menggembleng Presiden Prabowo hingga SBY di Kopassus

KABAR DUKA datang dari tokoh Pesisir Selatan asal Kecamatan Sutera H. Jafri Syair. Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sekaligus entrepreneur tersebut meninggal dunia pada Rabu (4/2/2026) malam dalam usia 84 tahun.Almarhum lahir di Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, pada 19 Agustus 1941.Rencananya, jenazah akan dimakamkan pada hari ini, Kamis (5/2/2026), di DT Memorial Park, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Jafri Syair dikenal sebagai sosok prajurit tangguh sekaligus dermawan yang memiliki rekam jejak panjang dalam pengabdian kepada bangsa dan daerah asalnya.

Ia memulai karier militernya dengan bergabung ke Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada Juli 1960, satuan elite yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dalam perjalanan karier militernya, almarhum terlibat aktif dalam berbagai operasi penting demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Salah satu peristiwa bersejarah yang diikutinya adalah misi menancapkan Bendera Merah Putih di tanah Papua pada tahun 1962, sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17.

Misi tersebut dijalankan atas perintah langsung Presiden Soekarno dan berhasil dilaksanakan dengan sukses, menandai kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi.Setahun setelah peristiwa itu, Jafri Syair ditugaskan membina taruna di Akademi Militer. Di antara taruna yang pernah dibinanya terdapat sejumlah tokoh penting nasional, salah satunya Sintong Panjaitan.

Pada tahun 1964, almarhum juga pernah bertugas mengawal Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono, yang saat itu masih menempuh pendidikan di SMA Polonia Jakarta, ketika ayahnya Sarwo Edhie Wibowo menjalani pendidikan militer di Australia.Tahun 1965, Jafri Syair ditugaskan sebagai guru militer di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, menggantikan instruktur militer dari Jepang dan Belanda.Di tahun yang sama, ia menempuh pendidikan Jump Master (pelatih terjun payung) dan melatih taruna yang kelak menjadi perwira tinggi TNI.

Berbagai penugasan penting terus dijalaninya, termasuk melatih satu batalyon Tentara Diraja Malaysia pada tahun 1970, mengikuti pendidikan intelijen bersama Mobile Training Team (MTT) Angkatan Bersenjata Amerika Serikat pada 1975, serta membina taruna Akmil Magelang pada 1976.Sejumlah nama besar TNI seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Prabowo Subianto, dan Susilo Bambang Yudhoyono pernah menjadi anak didiknya.Setelah 31 tahun mengabdi di dunia militer, Jafri Syair purna tugas pada tahun 1991.

Menembus Belantara Papua atas Mandat Soekarno

Lahir di Surantih pada tahun 1941, Jafri Syair membawa semangat petarung Minang saat memutuskan bergabung dengan RPKAD (sekarang Kopassus) pada tahun 1960. Namanya terukir abadi dalam sejarah Operasi Trikora 1962.

Sebagai prajurit komando muda, ia mengemban tugas maha berat dari Presiden Soekarno: menembus belantara Papua untuk menancapkan Bendera Merah Putih. Keberhasilan misi ini menjadi tonggak sejarah kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, sekaligus mengukuhkan Jafri sebagai salah satu pejuang kedaulatan yang paling berani di masanya.

Mentor bagi Prabowo, SBY, hingga Luhut

Titik balik paling mengesankan dalam kariernya adalah ketika ia ditarik ke Batujajar untuk menjadi instruktur atau Guru Militer (Gumil) pada 1965. Jafri bukan sekadar menggantikan posisi instruktur asing asal Jepang dan Belanda, ia membawa napas tempur asli Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan pasukan khusus.

Dari tangan dinginnyalah lahir pemimpin-pemimpin besar. Nama-nama seperti Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Luhut Binsar Pandjaitan pernah menjadi anak didiknya di lapangan. Ketajaman ilmu Jafri bahkan diakui dunia ketika ia dipercaya melatih satu batalyon Tentara Diraja Malaysia pada 1970. Ia bukan hanya guru bagi bangsanya, tapi guru bagi dunia militer Asia.

Cinta Tanpa Syarat untuk Surantih

Meski telah sukses sebagai pengusaha di Bandung setelah masa pensiun, Jafri Syair tidak pernah lupa daratan. Baginya, Pesisir Selatan adalah akar tempatnya pulang. Ia membuktikan cintanya melalui aksi nyata:

Menghibahkan lahan 8.000 meter persegi untuk pembangunan kantor Camat Sutera.

Menjadi aktor di balik berdirinya SMA Negeri 1 Sutera.

Membina dan membangun puluhan masjid serta pesantren di kampung halamannya.

Penghormatan Terakhir Sang Patriot

Almarhum dimakamkan pada Kamis (5/2/2026) di DT Memorial Park, Bandung Barat, dengan penghormatan militer. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisannya abadi.

Setiap kali kita melihat kepemimpinan Prabowo atau mengenang era SBY, di sana ada jejak didikan Jafri Syair. Dari Surantih ia melangkah, ke Papua ia berjuang, dan melalui murid-muridnya, ia menjaga Indonesia selamanya.

Selamat jalan, Sang Patriot. Tugasmu telah usai dengan paripurna.

Kepergian Jafri Syair meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Pesisir Selatan yang mengenal almarhum sebagai sosok pejuang, pendidik, dan dermawan yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk bangsa dan kampung halaman.

Sumber: Bandasapuluah – “Jafri Syair Tutup Usia, Tokoh Pesisir Selatan yang Pernah Melatih SBY hingga Prabowo di Militer”

#JafriSyair #Kopassus #sejarah #bangsa #indonesia #patriotbangsa

Komentar