oleh

Ibu Pertiwi  Jadi Sarang Penyamun

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)

KETUT TANTRI, yang nama aslinya adalah Muriel Stuart Walker, bukanlah seorang Noni Belanda, melainkan seorang wanita berkebangsaan Skotlandia-Amerika yang menjadi pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai “Soerabaja Sue” karena perannya sebagai penyiar radio dalam menyuarakan perjuangan Indonesia ke dunia internasional selama Revolusi Nasional Indonesia.

Ketut Tantri pindah ke Bali pada tahun 1932 setelah terinspirasi oleh film “Bali: The Last Paradise”. Ia diangkat sebagai anak oleh Raja Bali dan diberi nama Ketut Tantri. Ketika Jepang menduduki Indonesia, ia aktif dalam gerakan bawah tanah bersama para pejuang Indonesia. Ia bahkan ditangkap, disiksa oleh Jepang, dan nyaris dieksekusi. Namun, ia tetap teguh mendukung perjuangan rakyat Indonesia.

Ketut Tantri berperan penting dalam propaganda internasional melalui siaran radio berbahasa Inggris, bekerja sama dengan tokoh-tokoh seperti Bung Tomo. Siarannya membantu menarik perhatian dunia terhadap perjuangan Indonesia melawan penjajahan Belanda, sekaligus membangun solidaritas internasional, terutama di Australia dan Singapura .

Kisah Ketut Tantri, melengkap peringatan hari Pahlawan , karena ia bukan Orang Indonesia, maka tdk mendapat gelar Pahlawan. Seharusnya ia patut mendapat gekar Pahlawan, sebagai orang Asing yg mencintai dan ikut Pergerakan

Kemerdekaan RI.

Di bawah, merupakan kisah kisah roman percintaan yang ditulis oleh para santrawan, pujangga, budayawan , mereka melakukan kritik sosial, penindasan dan kekuasaan saat itu. “Perawan di Sarang Penyamun” Sutan Takdir Alisjahbana yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1940. Roman ini menceritakan kisah  Sayu , seorang gadis yang diculik oleh gerombolan penyamun yang dipimpin oleh Medasing.  Meski awalnya penuh ketakutan, hubungan antara Sayu dan Medasing berkembang secara kompleks, menggambarkan konflik antara kebaikan dan kejahatan dalam diri manusia .

Novel *Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya Buya HAMKA menggambarkan kisah cinta tragis yang terhalang oleh adat istiadat dan perbedaan status sosial. Cerita ini berpusat pada tokoh  Zainuddin, seorang pemuda berdarah Minangkabau-Bugis, yang jatuh cinta pada Hayati, seorang perempuan Minangkabau. Namun, hubungan mereka tidak direstui karena Zainuddin dianggap bukan “orang asli Minang” dan tidak memiliki status sosial yang tinggi.

Tema utama yang diangkat dalam novel ini adalah:

  1. Kritik terhadap adat yang kaku: HAMKA menggambarkan bagaimana adat yang terlalu ketat dapat merenggut kebahagiaan individu.
  2. Ketidakadilan sosial: Perbedaan status sosial menjadi penghalang cinta antara Zainuddin dan Hayati.
  3. Keteguhan dan pengorbanan: Zainuddin menunjukkan ketabahan menghadapi penderitaan, meskipun akhirnya cinta mereka tidak berakhir bahagia.

Novel ini juga mengangkat pesan tentang pentingnya kemanusiaan, cinta yang tulus, dan perjuangan melawan ketidakadilan.

“Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” adalah karya Marah Rusli, seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1922 dan menjadi salah satu karya sastra klasik Indonesia yang paling terkenal. Ceritanya menggambarkan kisah cinta tragis antara Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri, yang harus berpisah karena adat perjodohan dan tekanan sosial.

Tema utama dari novel ini adalah:

  1. Kritik terhadap adat kawin paksa: Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih demi melunasi utang ayahnya, meskipun ia mencintai Syamsul Bahri.
  2. Ketidakadilan sosial: Novel ini menyoroti ketimpangan kekuasaan dan bagaimana masyarakat terjebak dalam tradisi yang merugikan.
  3. Perjuangan cinta dan kehormatan: Kisah ini juga menggambarkan pengorbanan cinta demi mempertahankan harga diri dan martabat.

Novel ini sering dianggap sebagai simbol kritik terhadap adat istiadat yang tidak berpihak pada kebebasan individu.”Burung-Burung Manyar” adalah novel karya Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun)

yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1981. Novel ini menggambarkan kisah cinta yang tragis antara  Setadewa (Teto) dan bAtik, yang berlatar belakang konflik sejarah dan sosial-politik Indonesia pada masa penjajahan Belanda, revolusi kemerdekaan, hingga era pasca-kemerdekaan.

Gambaran utama dalam novel ini:

  1. Konflik ideologi dan nasionalisme: Teto, yang berpihak pada Belanda, dan Atik, yang setia pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, terjebak dalam perbedaan ideologi yang membuat cinta mereka sulit bersatu.
  2. Kisah cinta yang tragis: Hubungan Teto dan Atik menggambarkan cinta yang tidak bisa bersatu karena perbedaan prinsip, meskipun mereka tetap saling mencintai.
  3. Simbolisme burung manyar: Burung manyar melambangkan kebebasan, ketahanan, dan kemampuan untuk bertahan dalam situasi sulit, yang mencerminkan perjuangan para tokoh dalam menghadapi hidup.

Novel ini bukan hanya kisah cinta, tetapi juga kritik sosial dan refleksi tentang perjuangan manusia menghadapi konflik batin dan sejarah.

“Lusi Lindri” adalah karya Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) yang diterbitkan pada tahun 1983. Novel ini merupakan bagian kedua dari trilogi “Rara Mendut”, yang mengisahkan kehidupan perempuan Jawa pada masa penjajahan Mataram di abad ke-17. Lusi Lindri “, sebagai tokoh utama, adalah seorang perempuan pemberani yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan, dan patriarki.

Gambaran utama dalam novel ini:

  1. Perjuangan melawan patriarki dan kekuasaan: Lusi Lindri digambarkan sebagai perempuan yang cerdas, tangguh, dan berani melawan sistem feodal serta kekuasaan yang menindas.
  2. Kritik terhadap sistem feodal: Novel ini mengkritik struktur sosial yang menempatkan perempuan sebagai objek kekuasaan dan subordinasi dalam masyarakat tradisional.
  3. Kebebasan dan harga diri perempuan: Melalui tokoh Lusi Lindri, Romo Mangun menekankan pentingnya kebebasan dan martabat perempuan, meskipun harus menghadapi risiko besar.

Novel ini tidak hanya mengangkat tema  sejarah, tetapi juga relevan dengan isu-isu sosial dan gender di masyarakat. “Gadis Pantai” adalah karya  Pramoedya Ananta Toer yang menggambarkan kehidupan seorang gadis muda dari desa nelayan yang dinikahkan dengan seorang priyayi (bangsawan) Jawa. Novel ini berlatar belakang masyarakat feodal Jawa pada masa kolonialisme Belanda dan mengangkat tema ketidakadilan sosial, perbedaan kelas, serta penindasan terhadap perempuan.

Gambaran utama dalam novel ini:

  1. Ketidakadilan kelas sosial: Gadis Pantai, seorang anak nelayan sederhana, diperlakukan tidak lebih dari “istri simpanan” oleh sang priyayi, tanpa hak dan kebebasan.
  2. Penindasan perempuan: Novel ini menggambarkan bagaimana perempuan dari kelas bawah sering menjadi korban sistem patriarki dan feodalisme.
  3. Kritik terhadap feodalisme: Pramoedya mengkritik sistem sosial feodal yang menempatkan kelas atas sebagai penguasa mutlak atas kelas bawah, tanpa melihat nilai kemanusiaan.

Sayangnya, novel ini adalah bagian pertama dari trilogi yang direncanakan, tetapi manuskrip dua bagian berikutnya dihancurkan oleh pemerintah Orde Baru. Dengan tema yang begitu kuat, menurut

Para sastrawan, pujangga, budayawan, melakukan kritik sosial politik, dengan gaya bahasa dan imajinatif, yg perlu ditafir ulang. ST.Alisyahbana, menulis “Perawan di Sarang Penyamun”. Sekarang faktanya

Penyamun, -“Koruptor dan Mafia” – bersarang di Ibu Pertiwi, tangisan Ibu Pertiwi bagi para Penyamun sekarang tak digubris  melainkan mereka senang jika Ibu Pertiwi Hancur , tercabik-cabik, yg mereka bersenang senang diatas derita jutaan rakyat banyak yg sedang menanti dan menuntut keadilan, kemakmuran dan keadaban. Mereka melanggar UUD 45  karena merampok kekayaan negara dan membuat rakyat menderita.

Satu kalimat yg pantas bagi , “Penyamun” , “Hukum Mati”. Kalau Hakim masih pakai palu tumpul  maka “Justice Baw” menggunakan Golok Naga, tuk memenggal para Penyamun.

Wahai Ketut Tantri, Kau yg mencintai Ibu Pertiwi, penuh dengan derita. ST Alisyahbana , Buya HAMKA, Romo Mangun , dan Pramudiya , jika kalian masih hidup  maka kalian akan menulis roman ” Para Penyamun bersarang di Ibu Pertiwi”…

Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan

18 Jumadil Awal 1447 H – 11 November 2025 M

Komentar