Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)
BILA pengetuan, yang secara turun temurun diwariskan dan menjadi nilai-nilai budaya, boleh jadi bukan hanya sekedar pengetahuan, akan tetapi ilmu Tuhan yang disampaikan melalui manusia yang mampu membaca dan menyatu dengan alam.
Konsep Trihitakarana , kemenyatuan dengan alam , mahluk lain dan Tuhan. Wahdatul wujud. Wujud Tuhan secara Tajali (derivasi) yang tampak pada ciptaannya. Para ahli kalam , teolog , teosof pun dalam memahami tentang Tuhan , sangat beragam argumentasinya, tentu sesuai dengan kadar aqal, teks dan konteksnya.
Ketika, bahasa merupakan alat untuk membuka cakrawala pengetahuan, sehingga sampai pada ilmu. Tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Tapi ilmu sdh pasti pengetahuan ada didalamnya.
Para nabi, rasul, dan manusia suci, mereka ada yg mendeklarasijan dirinya nabi, nabi-rasul-manusia suci. Kesemuanya menjadi tangan tangan Tuhan, wujud Tuhan yang boleh jadi tidak perlu pengakuan dari manusia lainnya. Mereka dipilih Tuhan, bukan dipilih manusia.
Ilmu Astronomi, Astrologi, Horoscop, yang pertama kali mendapat titah Tuhan adalah Nabi Idris As, generasi ketiga dari kemanusiaan Adam as. Rasi bintang, wuluku (alat bajak sawah), bagi para petani sudah menjadi patok, bahwa musim hujan akan tiba, ketika hujan 7 hari berturut-turut , setelahnya baru membajak sawah. Begitupun Rasi bintang layang-layang, menandakan musim angin tiba , para nelayan dan pelaut menentukan kapan waktu melaut. Maka tunggu angin laut dan angin darat.Tentu untuk mendalami ilmu tersebut, tidak semua orang mampu untuk memahaminya, maka untuk awam cukup sekedar mengetahui ,pengetahuan umum saja.
Ketika orang orang awam menimbang pengetahun Astrologi, dimana mereka tidak punya kapasitas, maka abaikan perdebatan awam tersebut. Ketika, para ahli berdebat dan menguji satu masalah alam, hingga berdiri lembaga Meteorologi , Klimatologi, BMKG, institusi harus dijadikan acuan agar kebanyakan orang tidak tena dampak.
Dikaitkan binatang (mahluk lainnya). Tradisi pengetahuan tentang karakter binatang di dunia Timur -Nusantara -Tiongkok-Asia-Afrika. Para ahli mengaitkan dengan pengetahuan perilaku binatang.
Pada tradisi Nusantara (urang Sunda), ada simbol binatang yang dikaitkan dengan periode waktu, hitungan windu ( periode per 8 tahun). Tahun pertama dengan simbol binatang Kerbau, Tahun kedua dengan simbol binatang Kambing , Tahun ketiga dengan simbol binatang Monyet, Tahun keeempat dengan simbol binatang Hurang
Tembey (Udang yang ada di muara), Tahun kelima dengan simbol binatang Keyep ( Kepiting), Tahun keenam dengan simbol binatang Babakhaur ( Kelabang), Tahun ketujuh dengan simbol binatang Cacing, dan Tahun kedelapan adalah dengan simbol Hurang Tutug ( Udang didasar Laut). Periode waktu, kala, 8 tahun disebut satu windu. Perhitungan waktu yang didasarkan pada unsur planet (Tribuwana), Matahari, Bintang, dan Bulan, ditambah dengan Binatang yang jadi simbol, akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia.
Pertanyaan mendasar, siapa manusianya yang pertamakali memberikan simbol binatang tsb pada perhitungan waktu.?
- Pada budaya Tiongkok , lain lagi simbol binatang yg dipakai, ada Ular (Naga api’ kayu-tanah), Harimau , Kuda, Kelinci , Babi , Kelabang , Tikus, Ayam, Kerbau , dsb.
- Dan d dunia barat terkenal zodiak , Aquarius, Sagitarius, Taurus , Cancer, Libra, Virgo, Gemini, Scorpio.
Pengetahuan tersebut menarik untuk dibahas dan dikaji, sekali lagi bukan untuk awam. Awam cukup mengenal atau mengetahui, memahami tapi tdk untuk mendalami.Luar biasa konstruksi pengetahuan yg menjadi ilmu wqrisan Idris As, yang berlanjut hingga hari ini, bahkan sampai akhir kehidupan manusia di bumi alam.
Bagi yang memahami Agama dari kitab suci yg dikenal ( Taurat, Zabur, Injil, Al Quran), dan itupun tidak ahlinya, maka pengetahuan Astrologi, Primbon, akan disebut sesat dan menyesatkan oleh mereka yang tidak faham dan bukan ahlinya. Abaikan. Semoga Tuhan memberikan pencerahan, sehingga manusia damai di bumi alam.
Cag!@Abah Yusuf-Doct/ Kabuyutan
29 Rabiul Akhir 1446 H
22 Oktober 2025









Komentar