
Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Geger Kalong Bandung & Tokoh Budaya Sunda)
KETIKA tukang sate kambing ditanya oleh pelanggan ini betul daging kambing atau domba. Dia menjawab ini daging kambing. Pelanggan tahu, padahal yang ia jual bukan daging kambing, tapi daging domba. Pelanggan tidak protes, ia minta tanpa selap gaji (lemak). Karena daging kambing hampir tak berlemak. Jika yang protes itu domba dan kambing , maka tukang sate kambing pasti akan malu. Kata domba , gua yang punya daging kok kambing yang punya nama.
Waspadalah suatu saat ada penguasa , yang asalnya tukang kambing. Ketika kekuasaan ditangan, bukan hanya domba yang ditipu, rakyatpun bisa disate. NEGARA BANGSA, dibutuhkan Persatuan bukan Persatean. Pada tatanan kenegaraan yang beragam adat budaya dan keyakinan, seorang pemimpin ia harus mendahulukan persatuan, dengan berpedoman pada empat konsensus kebangsaan. Barulah pemimpin dapat mempersatukan bangsa yang beragam adat budaya dan keyakinan. Bila pemimpin punya kecenderungan pada keyakinan tertentu, maka yang terjadi adalah konflik, dan cenderung perpecahan.
Ketika pulau daratan yang memiliki potensi SDA , emas, timah, tembaga, nikel, minyak, maka yang harus makmur terlebih dahulu adalah masyarakat penghuni pulau tersebut. Pendidikan dari TK sampai PT dan kesehatan gratis. Fakta membuktikan, Freport (AS investasi) dan tempat lainnya, kekayaan hasil tambang dikuras dan dibawa oleh fihak investor yg tak sebanding. Papua Newgini , Inggris Investasi, hasil tambangnya Inggris 25 % dan PN 75 %, maka makmur rakyatnya hingga memerdekakan diri. Kalimantan dengan SDA batu bara , maka Rakyat Kalimantan harus makmur terlebih dahulu. Sumatera, Sulawesi dan lainnya harus diperlakukan secara Adil. Fakta kekuasaan memusat di Jakarta, hingga keputusan-keputusan, kebijakan regulasi keuangan daerah diputuskan oleh pusat.
IKN dibangun, kebijakan dari pusat , yang ribut pertama adalah orang-orang yang hidup sudah mapan di Jakarta. Jadilah bahan dagelan politik ekonomi. Bila Anggota DPR RI memutuskan IKN tahun 2020, maka 2024 sudah rampung.
Semua warga bangsa, mulai dari Pemangku negara , aparat negara, bersama rakyat bahu membahu untuk membangun NKRI yg berkeadilan dan makmur sebagaimana amanat UUD 45.
Generasi bangsa kelihatannya sudah bosan mendengarvdan melihat konflik , wajar kalau mereka Milenial dan Zilenial , asyik pada dunianya. Generasi tua, masih ego dengan merasa , bahwa merekalah pewaris kekuasaan di NKRI. Ini penyakit bisa menular , dan membuat GM tak acuh , karena peluang untuk jadi pemimpin negeri sulit.
Seorang pemimpin berkewajiban bukan hanya memikirkan dan bahkan wajib melayani rakyat. Sekarang masih tampak rakyat yang berkewajiban melayani pemimpin. Pemimpin dan aparatut negara berkewajiban memagari rakyatnya, bukan rakyat dijadikan pagar. Pemimpin berlelah lelah, memikirkan dengan kekuatan logika, agar negara bangsa keluar dari akar krisis masalah.
Rakyat jangan dijadikan kambinh, apalagi kambing conge. Bangun NKRI untuk Rakyat , bukan atas nama Rakyat. Bangun NKRI untuk Bangsa, bukan atas nama bangsa. Kekuatan logika yang dibangun bukan logika kekuatan (logika kekuasaan).
“Sumpah Pemuda hari Esok 28 Oktober merupakan momentum, bagi para kesatria dan seluruh warga bangsa untuk bersumpah setia pada 4 Konsensus kebangsaan dan kawal Presiden Prabowo dalam kepemimpinannya agar bisa amanah sesuai yang digarisan UUD45..”.Bangun dan jaga Persatuan Bangsa agar NKRI DIGJAYA
.cag@Abah Yusuf-Doct/Kabuyutan
12 Oktober 2025


Komentar