oleh

“KOMPAS” Menggelar Acara Evaluasi dan Refleksi 14 Tahun Kabupaten Pangandaran

​Pangandaran LINTAS PENA – Mantan Bupati Pangandaran dua periode, Jeje Wiradinata, membeberkan evaluasi komprehensif terkait arah pembangunan Kabupaten Pangandaran saat ini. Dalam sebuah forum  komunita Masyarakat Pangandaran Sauyunan ( KOMPAS) Jeje menunjukkan kepeduliannya terhadap kesinambungan pembangunan dan kebijakan daerah melalui berbagai kritik serta masukan konstruktif kepada pemerintah saat ini di bawah kepemimpinan Bupati Citra Pitriyami

Bertempat di Taman  Sagati  Desa Margacinta Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, Acara tersebut dihadiri oleh anggota DPRD dan tokoh masyarakat, Jeje mengajak semua pihak untuk mengukur pencapaian pemerintah daerah tidak hanya menggunakan perasaan, melainkan dengan tolak ukur yang terstruktur. 

​Terlihat dalam spanduk mestinya acara tersebut dihadiri oleh Bupati Pangandaran Citra Pitriyami , akan menambah hangat saat forum ingin lansung berdialog hal terkait. Jeje, yang juga merupakan salah satu konseptor pemenangan Bupati saat ini, merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan arah kebijakan agar tetap berada pada jalurnya. 

​Gunakan “Pisau Analisis” RPJMD

​Menurut Jeje, keberhasilan atau kegagalan pembangunan saat ini harus diukur menggunakan “pisau analisis” yang jelas, yakni Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). RPJMD lima tahunan ini adalah payung hukum yang memuat visi, misi, dan janji politik kepala daerah. 

​”Apakah pembangunan ini sudah on the track pada relnya atau belum? Apakah pembangunannya ada bias atau tidak pas? Maka kita harus punya alat ukurnya,” tegas Jeje. 

​Ia mengingatkan bahwa ada 14 janji politik bupati saat kampanye yang kini masuk ke dalam dokumen RPJMD dan harus dievaluasi realisasinya. Visi utama pembangunan tersebut berfokus pada perwujudan wisata Pangandaran mendunia, yang dititik beratkan pada pendidikan agama dan karakter. 

​Warisan Pembangunan Era Jeje Wiradinata

​Sebagai bahan perbandingan untuk melanjutkan estafet pembangunan, Jeje memaparkan sejumlah pencapaian masif di masa jabatannya. Ketika ia awal menjabat, ia langsung tancap gas membangun infrastruktur krusial.

– ​Pembangunan Jalan: Era Jeje sukses merampungkan 544,18 kilometer jalan kabupaten. Selain itu, ia juga mengeksekusi jalan lintas pantai sepanjang 101 kilometer untuk mengurai kemacetan wisata.

– ​Infrastruktur Kesehatan: Jeje berhasil membangun rumah sakit daerah meskipun di awal masa jabatan pemda tidak memiliki anggaran yang cukup. Ia secara aktif melobi dana dari Gubernur hingga Presiden Jokowi yang berujung pada kucuran dana miliaran rupiah. 

– ​Pembangunan Jembatan: Terdapat tujuh jembatan yang berhasil dibangun pada masanya. 

​Jeje menekankan bahwa sebagian besar infrastruktur dasar kini sudah selesai. Jika pemerintahan saat ini tidak terbebani utang, dengan uang Rp52 Miliar yang ada, pemda bisa membangun tambahan jalan desa sepanjang 20 kilometer setiap tahunnya. 

​Kemudian Sentilan Keras: Utang Desa dan Kepekaan Pemimpin

​Di balik evaluasi strukturalnya, Jeje juga memberikan sentilan keras terhadap gaya kepemimpinan dan sensitivitas pemerintah daerah saat ini. Ia menyoroti skala prioritas anggaran yang dinilai kurang berpihak pada masalah mendesak di masyarakat. 

​Jeje mengingatkan agar bupati memiliki kepekaan yang tinggi. Ia mencontohkan sikap yang menurutnya kurang etis , di moment tahunan Milangkala ” tidak semua masyarakat dalam keadaan menerima situasi seperti itu terlebih saat situasi ekonomi seperti sekarang dan masa krisis air bersih dampak kemarau panjang””

​Lebih lanjut, Jeje menyoroti masalah tunggakan utang pemerintah daerah kepada desa, di tengah kondisi di mana pemda masih bisa mengalokasikan dana untuk keperluan yang dianggap kurang mendesak. 

​”Saya ini kan ketua partainya, konseptor pemenangannya. Masa wajar mengingatkan, ‘Hei Bu, lagi kemarau, jangan joget-joget. Jangan ada air mata, rakyat lagi kekeringan’,” ucap Jeje menirukan tegurannya. 

​Di penghujung acara , Jeje menegaskan bahwa evaluasi ini bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan sebagai bentuk pengingat agar pembangunan Pangandaran ke depan semakin bagus, terkontrol, dan transparan demi kepentingan seluruh masyarakat. pungkasnya. (EL).

Komentar