oleh

Koperasi Tidak Sama Dengan Korporasi, Ia Dijawab Sendiri oleh Makna Isme Dalam Capitalism VS Cooperativism

Oleh: Agus Pakpahan (Ekonom Kelembagaan/ Rektor Universitas Koperasi Indonesia)
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi,Edisi 17 Juli 2026

Kita harus memulai dari arti isme itu sendiri. Isme bukanlah soal teknis, melainkan soal ideologi—sebuah sistem keyakinan yang menjadi fondasi cara pandang, cara bertindak, dan cara mengorganisasikan kehidupan bersama. Ketika kita berbicara tentang kapitalisme dan kooperativisme, kita sedang berbicara tentang dua ideologi yang bertolak belakang secara fundamental.

Kapitalisme: Isme tentang Capital sebagai Segalanya

Kapitalisme adalah isme tentang capital. Dalam logika kapitalisme, modal adalah segalanya. Modal menjadi pusat, poros, dan tujuan dari seluruh aktivitas ekonomi. Manusia, dalam kerangka ini, hanyalah faktor produksi—salah satu input di antara input lainnya seperti tanah, mesin, dan teknologi. Nilai seorang manusia diukur dari kontribusinya terhadap akumulasi modal. Ia penting sejauh ia mampu menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal.

Inilah yang diuraikan dengan elegan oleh Oliver Williamson, penerima penghargaan Nobel dalam Ilmu Ekonomi tahun 2009, dalam The Economic Institutions of Capitalism. Baginya, institusi kapitalisme adalah tentang bagaimana mengatur transaksi ekonomi agar biaya—transaction costs—seminimal mungkin. Asumsi dasarnya adalah opportunism—kecenderungan manusia untuk bertindak mementingkan diri sendiri secara licik. Dalam dunia yang penuh oportunisme, korporasi hadir sebagai solusi: sebuah mekanisme kontrol untuk meminimalkan biaya dan memaksimalkan efisiensi. Korporasi, dengan kata lain, adalah kumpulan modal yang diorganisasikan untuk melayani modal.

Kooperativisme: Isme tentang Manusia dan Kerjasama

Kooperativisme adalah isme tentang manusia. Tentang cooperation—kerjasama. Dalam logika kooperativisme, manusia bukanlah faktor produksi, melainkan subjek. Manusia adalah tujuan, sekaligus pelaku utama dari seluruh aktivitas ekonomi. Modal hanyalah alat, bukan tujuan. Ia hadir untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.

Inilah yang membedakan koperasi dari korporasi secara ideologis. Pertama, tujuan: korporasi mengejar keuntungan bagi pemilik modal, sedangkan koperasi menyelenggarakan usaha untuk memenuhi kebutuhan produktif anggotanya. Kedua, kontrol: korporasi dikendalikan oleh modal melalui prinsip one share one vote, sedangkan koperasi dikendalikan oleh manusia melalui prinsip one person one vote. Ketiga, relasi: korporasi adalah relasi kontraktual antar modal, sedangkan koperasi adalah relasi sosial antar manusia yang memiliki kesamaan dan kesetaraan sumber daya produktif. Keempat, keuntungan: keuntungan korporasi dinikmati oleh pemilik modal berdasarkan kepemilikan saham, sedangkan Sisa Hasil Usaha koperasi dikembalikan kepada anggota berdasarkan jasa dan partisipasi mereka dalam kegiatan koperasi.

Manusia vs Modal: Sebuah Pilihan Ideologis

Inilah perbedaan fundamental yang tidak bisa dikompromikan. Kapitalisme menempatkan modal di atas manusia. Kooperativisme menempatkan manusia di atas modal. Kapitalisme mengajarkan bahwa manusia harus bersaing untuk memperebutkan modal. Kooperativisme mengajarkan bahwa manusia harus bekerja sama untuk saling memberdayakan.

Kapitalisme melihat manusia sebagai homo economicus—makhluk rasional yang selalu mencari keuntungan pribadi. Kooperativisme melihat manusia sebagai homo cooperativus—makhluk sosial yang memiliki kapasitas untuk bekerja sama, saling percaya, dan membangun kebersamaan. Namun di sinilah kita mesti merenung lebih jernih: koperasi bukanlah surga bagi para malaikat yang telah bebas dari dosa asal oportunisme. Koperasi adalah sekolah, sebuah ruang belajar yang keras dan kadang menyakitkan, tempat manusia biasa—lengkap dengan egonya, curiganya, dan hasrat berkuasanya—berlatih untuk menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Konflik internal, perebutan pengaruh, anggota yang hanya numpang nama, elite yang perlahan-lahan membusuk karena kekuasaan—semua ini bukanlah tanda kegagalan koperasi. Justru di situlah letak medan juangnya yang sesungguhnya.

Koperasi tidak menyangkal adanya kepentingan diri; ia hanya menolak untuk mendewakannya. Ia berkata kepada anggotanya: “Kepentinganmu sah, tetapi ia hanya akan menemukan maknanya yang paling penuh ketika engkau temukan bahwa kepentingan sejatimu ternyata tidak bisa dipisahkan dari kepentingan sesamamu.” Ini bukanlah penyangkalan terhadap realitas manusia, melainkan transfigurasi atasnya—sebuah proses mengubah logam biasa menjadi emas, sebuah alkimia sosial yang berlangsung setiap hari di dalam rapat-rapat anggota yang melelahkan, di dalam debat-debat kecil soal harga dan pelayanan, di dalam kesabaran mendengarkan keluhan yang berulang-ulang.

Paradoks Modal: Antara Tuan dan Hamba

Kita telah menyatakan dengan tegas: dalam koperasi, modal adalah alat, bukan tujuan. Sebuah pernyataan yang benar secara prinsipil, namun menyimpan paradoks yang harus kita tatap dengan jujur. Dalam dunia yang masih dikuasai oleh logika kapital, koperasi tidak bisa melarikan diri dari keharusan mengakumulasi modal. Ia harus bertahan, harus tumbuh, harus berinvestasi—dan semua ini membutuhkan modal. Lalu, di manakah letak perbedaannya? Bukankah koperasi akhirnya juga berburu modal seperti korporasi?

Perbedaannya terletak pada siapa yang memutuskan untuk apa modal itu digunakan. Dalam korporasi, modal memiliki suara, dan suaranya sebanding dengan besarnya. Dalam koperasi, modal dibungkam sebagai majikan dan diubah menjadi pelayan. Ia tetap diundang ke meja, tetapi ia duduk di kursi paling ujung. Keputusan tentang apa yang akan dilakukan dengan modal itu tidak ditentukan oleh berapa banyak modal yang ditanam, melainkan oleh kenyataan bahwa engkau adalah manusia yang memiliki kebutuhan, yang memiliki suara, dan suaramu setara dengan suara manusia lainnya.

Inilah demokrasi ekonomi dalam maknanya yang paling radikal: bukan menghapuskan modal, melainkan mencabut mahkotanya. Modal tetap ada, tetap bekerja, tetap penting—tetapi ia tidak lagi memerintah. Ia melayani. Dan dalam pelayanannya itulah ia menemukan kembali fitrahnya yang hilang sejak kapitalisme merampasnya dan menjadikannya berhala.

Misteri Kebutuhan Bersama: Antara “Aku” dan “Kita”

Tujuan koperasi telah dirumuskan dengan indah: menyelenggarakan usaha untuk memenuhi kebutuhan produktif anggotanya. Sebuah definisi yang jernih, namun di balik kejernihannya tersembunyi sebuah misteri yang layak direnungkan. Kebutuhan bersama—apakah ia sesuatu yang sudah ada di sana, tinggal ditemukan, seperti mata air yang mengalir di bawah tanah? Ataukah ia sesuatu yang harus diciptakan, ditempa melalui percakapan, perdebatan, dan kadang pertengkaran yang melelahkan?

Seorang petani anggota koperasi bisa menginginkan harga pupuk yang serendah-rendahnya. Koperasinya, agar bisa bertahan dan melayani lebih banyak petani, mungkin perlu menetapkan harga yang sedikit lebih tinggi. Di sinilah “kebutuhan bersama” tidak muncul begitu saja sebagai fakta objektif, melainkan harus dijahit dari kepingan-kepingan kepentingan yang berbeda, ditenun dalam proses musyawarah yang sabar, kadang berdarah-darah secara metaforis.

Inilah keindahan dan penderitaan koperasi sekaligus: ia adalah sebuah proyek epistemologis, sebuah usaha terus-menerus untuk menjawab pertanyaan “apa yang sebenarnya kami butuhkan bersama?” Pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh teori, tidak bisa diputuskan oleh pengurus sendirian, tidak bisa diselesaikan dalam satu rapat. Ia adalah nyala api yang harus terus dijaga, karena begitu ia padam, koperasi berubah menjadi korporasi—meskipun papan namanya tetap bertuliskan “Koperasi”.

Koperasi Bukanlah Hibrida, Melainkan Sebuah Kutub yang Berdiri Sendiri

Memahami koperasi sebagai entitas sui generis—khas—memiliki implikasi penting. Koperasi bukanlah “hibrida” yang berada di antara pasar dan firma, sebagaimana sering digambarkan dalam ekonomi neoklasik. Koperasi bukanlah korporasi dengan “wajah lebih ramah”. Koperasi adalah sebuah kutub organisasi yang berdiri sendiri, dengan logika, nilai, dan prinsip yang berbeda secara fundamental dari korporasi.

Jika kita memaksa koperasi untuk berperilaku seperti korporasi—mengejar keuntungan semata, mengabaikan partisipasi anggota, dan meniru struktur hierarkis—kita telah kehilangan esensi kooperativisme. Sebaliknya, kekuatan koperasi justru terletak pada kemampuannya untuk menjadi alternatif: sebuah institusi yang mengutamakan nilai, memberdayakan anggota, dan membangun ekosistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Warisan Imperialisme: Mengapa Bangsa Kita Miskin Modal

Di sinilah kita mesti membaca realitas secara jujur. Mengapa bangsa-bangsa seperti Indonesia—dan begitu banyak bangsa di belahan bumi Selatan—hidup dalam kemiskinan modal? Dan lebih dari 80 tahun membangun dibantu oleh lembaga-lembaga dunia dengan pikiran kapitalisme di negara maju, ternyata sampai sekarang negara-negara di wilayah tropika belum ada yang menjadi negara maju (Singapura kita keluarkan dari populasi). Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang imperialisme dan kolonialisme. Selama ratusan tahun, kekayaan Nusantara diperas dan dialirkan ke pusat-pusat kapital di Eropa. Rempah-rempah, hasil bumi, tenaga kerja, bahkan martabat manusia—semuanya dikeruk untuk mengakumulasi modal di negeri-negeri penjajah. Imperialisme bukan sekadar penaklukan militer; ia adalah mesin raksasa pemindahan modal dari pinggiran ke pusat, dari yang terjajah kepada yang menjajah. Kapitalisme dan imperialisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama: yang satu adalah ideologi, yang lain adalah kendaraan penakluknya.

Akibatnya, ketika bangsa-bangsa bekas jajahan akhirnya merebut kemerdekaan politik, mereka mewarisi sebuah struktur ekonomi yang timpang: mayoritas rakyat tidak memiliki modal, sementara modal yang tersisa terkonsentrasi pada segelintir elite—baik elite lokal warisan kolonial maupun elite baru yang belajar dengan cepat bahwa logika kapitalisme menguntungkan mereka yang sudah lebih dulu berada di puncak. Dalam kondisi seperti ini, memaksa rakyat untuk bersaing dalam permainan kapitalisme adalah sebuah lelucon yang kejam. Bagaimana mungkin mereka yang tidak memiliki modal bisa bersaing dengan mereka yang telah mengakumulasinya selama berabad-abad?

Gotong Royong Riil: Daya Lompat Kuantum Menuju Kemakmuran Bersama

Justru di sinilah koperasi menemukan panggilan sejarahnya yang paling dalam. Koperasi bukan sekadar alternatif ideologis yang indah di atas kertas; ia adalah jawaban strategis atas kemiskinan modal yang diwariskan oleh imperialisme. Ketika modal tidak dimiliki secara individual, gotong royong menjadi kekuatan yang tidak bisa dibeli oleh kapital mana pun. Gotong royong adalah modal sosial yang tidak tercatat dalam neraca keuangan, tetapi memiliki daya ledak ekonomi yang luar biasa.

Kita menyebutnya sebagai daya lompat kuantum—sebuah loncatan yang tidak linear, tidak bertahap seperti yang diajarkan oleh teori pertumbuhan konvensional. Mengapa? Karena ketika orang-orang yang sendiri-sendiri lemah, sendiri-sendiri tidak bermodal, sendiri-sendiri tidak berdaya—kemudian mereka menghimpun diri dalam koperasi, sesuatu yang baru lahir: sebuah entitas kolektif yang memiliki kekuatan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan menjumlahkan bagian-bagiannya. Inilah esensi dari sinergi gotong royong: keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.

CUKK Dayak Iban: Ketika Gotong Royong Melompati Batas-Batas Sejarah

Mari kita menatap sebuah bukti yang hidup, bukan dari buku teks atau jurnal akademik, melainkan dari tanah Kalimantan, dari saudara-saudara kita Dayak Iban. Di sanalah berdiri CUKK—Credit Union Keling Kumang—sebuah koperasi kredit yang lahir dari rahim gotong royong dan telah menjadi saksi bisu bahwa daya lompat kuantum itu bukanlah metafora belaka. Ia adalah kenyataan yang berdenyut.

Bayangkanlah: komunitas Dayak Iban yang selama berabad-abad hidup di pinggiran sejarah, yang tanah dan hutannya dikeruk oleh kapital-kapital asing sejak zaman kolonial hingga hari ini, yang tidak pernah diundang ke meja perjamuan kapitalisme global. Mereka bukanlah pemilik modal. Mereka adalah masyarakat adat yang kekayaannya justru terletak pada sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang: hutan yang mereka jaga, sungai yang mereka hormati, dan yang terutama—ikatan komunal yang telah diwariskan oleh leluhur mereka selama ratusan generasi.

Dari ketidakbermodalannya itulah CUKK lahir. Bukan dengan menunggu investor datang, bukan dengan berutang ke bank, bukan pula dengan menjual tanah leluhur kepada korporasi sawit atau tambang. Mereka memulainya dengan cara yang paling kuno dan paling revolusioner sekaligus: duduk bersama, saling menatap mata, dan bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan bersama?” Modal pertama mereka bukanlah rupiah, melainkan kepercayaan. Modal pertama mereka adalah kesediaan untuk saling menanggung beban.

Apa yang terjadi kemudian adalah sebuah keajaiban yang hanya bisa dijelaskan oleh logika gotong royong. Dari hanya 12 orang pada saat berdiri di tahun 1993, dari modal awal yang mungkin terlihat remeh di mata para bankir Jakarta—hanya Rp 291.000, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu pucuk pulpen mewah di meja seorang direktur bank—CUKK bertumbuh menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang mencengangkan. Kini anggotanya berkembang menuju 300.000 orang. Asetnya membengkak dari angka yang nyaris tak berarti menjadi mendekati Rp 3 triliun.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah narasi tentang kebangkitan. Dua belas orang yang percaya satu sama lain telah melipatgandakan diri mereka menjadi ratusan ribu. Modal yang semula hanya cukup untuk membeli beberapa liter beras kini telah menjadi triliunan rupiah yang berputar di dalam komunitas, membiayai pendidikan anak-anak Dayak yang dulu hanya bisa bermimpi tentang bangku kuliah, mendanai usaha-usaha kecil yang dulu tidak pernah dilirik oleh perbankan konvensional, menjadi tiang penyangga ekonomi komunitas yang dulu hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Inilah daya lompat kuantum itu dalam wujudnya yang paling konkret. Modal yang semula hampir tidak ada, tiba-tiba hadir dalam jumlah yang signifikan—bukan dari langit, bukan dari utang, bukan dari investor asing yang datang dengan syarat-syarat yang mencekik, melainkan dari penghimpunan daya yang terserak. Daya yang semula tercerai-berai dalam individu-individu yang sendiri-sendiri lemah, tiba-tiba menyatu menjadi kekuatan kolektif yang bisa menegosiasikan harga, membangun infrastruktur, dan menyediakan layanan keuangan yang terjangkau. Dalam logika kapitalisme konvensional, ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak punya agunan, tidak punya credit history, tidak punya collateral bisa membangun lembaga keuangan yang sehat dan berkelanjutan? Tetapi di situlah letak keajaibannya: agunan mereka adalah solidaritas, credit history mereka adalah kepercayaan yang diwariskan turun-temurun, collateral mereka adalah nama baik keluarga dan komunitas.

CUKK membuktikan bahwa gotong royong bukanlah romantisme masa lalu yang hanya cocok untuk lagu-lagu perjuangan. Ia adalah teknologi sosial yang paling canggih untuk menghadapi kemiskinan struktural akibat imperialisme. Ketika bank-bank konvensional mensyaratkan modal untuk memberi modal—sebuah paradoks yang hanya menguntungkan mereka yang sudah bermodal—CUKK memberikan jalan keluar: modal lahir dari kebersamaan, dan kebersamaan itu sendiri sudah menjadi modal sebelum modal itu ada.

Petani yang sendiri-sendiri tidak bisa membeli traktor, bersama-sama dalam koperasi bisa memilikinya. Nelayan yang sendiri-sendiri tidak punya akses ke pasar ekspor, bersama-sama dalam koperasi bisa menembusnya. Anggota CUKK yang sendiri-sendiri tidak bisa mengakses kredit perbankan, bersama-sama bisa membiayai pendidikan anak-anak mereka, membangun rumah, memulai usaha. Dalam setiap kasus ini, koperasi tidak sekadar menambahkan sumber daya; ia melipatgandakannya. Dari Rp 291.000 menjadi Rp 3 triliun. Dari 12 orang menjadi 300.000. Inilah daya lompat kuantum itu: dari ketidakberdayaan individu menuju kekuatan kolektif, dari kemiskinan modal menuju kemakmuran bersama.

Hidup di Perbatasan: Dualisme yang Strategis

Akhirnya, kita tiba pada pertanyaan yang paling eksistensial: bagaimana koperasi bisa hidup di dunia yang belum koperatif? Pilihan yang tampak di hadapan kita seolah-olah biner: tunduk pada logika modal, atau membangun peradaban kerjasama. Namun kehidupan selalu lebih rumit dari sekadar pilihan hitam-putih.

Koperasi sejati—dan CUKK adalah contohnya—hidup di perbatasan. Secara internal, ia adalah oase dari logika kerjasama, sebuah ruang di mana orang Dayak Iban diperlakukan sebagai manusia bermartabat, di mana suara dihitung bukan ditimbang, di mana keuntungan kembali kepada mereka yang berkeringat. Tetapi secara eksternal, ia harus keluar ke padang gurun pasar kapitalis, berhadapan dengan bank-bank raksasa, berkompetisi di dunia yang tidak mengenal belas kasihan.

Di sinilah kearifan sejati diperlukan: bukan menolak pasar sepenuhnya, bukan pula menyerah kepadanya, melainkan menari di perbatasan. CUKK masuk ke pasar keuangan bukan untuk menjadi bank konvensional, melainkan untuk mengubahnya dari dalam, sepelan dan sesabar air yang mengikis batu. Ia menggunakan bahasa yang dipahami pasar—efisiensi, kualitas, daya saing—tetapi dengan logat yang berbeda, aksen yang tidak bisa disembunyikan, karena di dalam setiap transaksinya ia membawa serta seluruh nilai dan prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan: solidaritas, subsidiaritas, dan keberpihakan kepada yang paling lemah.

Ini bukanlah kompromi. Ini adalah subversi yang anggun. Sebuah revolusi yang tidak berteriak, tetapi bekerja dalam diam, mengubah dunia satu koperasi pada satu waktu, satu anggota pada satu saat, satu keputusan rapat pada satu kesempatan. Dan bagi bangsa yang telah berabad-abad dikuras modalnya oleh imperialisme dan kolonialisme koperasi bukan sekadar pilihan—ia adalah jalan pulang menuju kedaulatan ekonomi yang sejati.

Penutup: Koperasi sebagai Jawaban atas Krisis Kapitalisme, Koperasi sebagai Sikap Hidup

Krisis kapitalisme yang kita saksikan hari ini—ketimpangan yang melebar, eksploitasi sumber daya, hilangnya makna kerja—adalah cerminan dari kegagalan ideologi yang menempatkan modal di atas manusia. Kooperativisme menawarkan jalan keluar: sebuah ideologi yang mengembalikan manusia sebagai pusat dari aktivitas ekonomi. Koperasi adalah institusi yang mewujudkan ideologi tersebut dalam kehidupan nyata. CUKK Dayak Iban telah membuktikan bahwa ideologi ini bukanlah utopia; ia bekerja, ia berbuah, ia memakmurkan.

Sebagaimana disampaikan oleh Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, “Koperasi adalah alat perjuangan ekonomi untuk meninggikan derajat rakyat.” Ini bukan sekadar pernyataan teknis tentang cara berbisnis. Ini adalah pernyataan ideologis tentang bagaimana kita memilih untuk hidup bersama—apakah kita akan tunduk pada logika modal, ataukah kita akan membangun peradaban berdasarkan kerjasama manusia.

Bung Hatta tidak hanya mewariskan kepada kita sebuah bentuk usaha. Beliau mewariskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap generasi: “Apakah engkau bersedia membangun peradaban yang menempatkan manusia di atas modal?” Jawaban atas pertanyaan itu tidak ditemukan di dalam buku, tidak pula di dalam esai semegah apa pun. Ia hanya bisa ditemukan di dalam tindakan sehari-hari—di dalam koperasi-koperasi kecil di pelosok desa, di dalam rapat anggota yang dihadiri dengan setia, di dalam kesediaan untuk terus percaya bahwa kerjasama, meskipun lebih lambat, pada akhirnya adalah jalan yang lebih manusiawi. Ia bisa ditemukan di rumah-rumah betang Dayak Iban, di mana keputusan-keputusan ekonomi diambil bukan oleh segelintir pemilik modal, melainkan oleh seluruh anggota komunitas yang duduk dalam lingkaran yang sama.

Koperasi bukanlah sekadar institusi ekonomi. Ia adalah sebuah pernyataan tentang apa artinya menjadi manusia. Dan bagi bangsa yang pernah dijajah, koperasi adalah pernyataan tentang apa artinya menjadi bangsa yang merdeka—tidak hanya secara politik, tetapi juga secara ekonomi. Selama masih ada manusia yang bersedia menyatakan diri untuk yang lebih tinggi dari sekadar akumulasi modal, selama itu pula api kooperativisme akan terus menyala, meskipun kadang redup, meskipun sering diguncang angin. Sebab ia bukanlah api yang bergantung pada besarnya modal; ia adalah api yang bergantung pada dalamnya keyakinan, dan keyakinan itu bernama gotong royong.

Saudara-saudara kita Dayak Iban telah menyalakan api itu di tanah Kalimantan. Dari 12 orang menjadi 300.000, dari Rp 291.000 menjadi hampir Rp 3 triliun. Kini giliran kita semua untuk menjawab: akankah kita biarkan api itu padam, ataukah kita tiupkan angin segar agar ia menjalar ke seluruh Nusantara?(****

Komentar

News Feed