BANDUNG—Tembang Sunda berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” karya cipta Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein yang akrab dipanggil Om Zein , pada pekan ini viral, karena menjadi perbincangan publik setelah menuai kritik dari berbagai kalangan hingga menuai karena dinilai memuat stereotip terhadap perempuan.Banyak yang penasaran dengan isi lirik dan arti lagu berbahasa Sunda yang diciptrakan oleh Om Zein tersebut. Bahkan, Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) sempat memanggil Om Zein untuk mendapat penjelasan langsung soal lagu tersebut dari Bupati Purwakarta sebagaimana dilansir channel youtube Kang Dedi Mulyadi.
Kritik Keras Atalia Praratya
Perdebatan semakin meluas setelah anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menyampaikan kritik terbuka terhadap isi lagu tersebut melalui media sosial pribadinya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku berusaha memahami makna lagu tersebut, tetapi tidak menemukan pesan yang menunjukkan penghormatan terhadap perempuan.”Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” ujarnya.
Menurut Atalia, persoalan tersebut tidak bisa dipandang hanya sebagai masalah selera seni atau kebebasan berekspresi.Ia juga mempertanyakan alasan pemilihan diksi dalam lagu yang dinilai bertolak belakang dengan nilai budaya Sunda.”Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” ujarnya.
Atalia juga mengaitkan polemik tersebut dengan perjuangan menghapus budaya patriarki yang masih menjadi tantangan di Indonesia.”Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?”tanya dia
Polemik tidak berhenti di ruang diskusi publik karena Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jabar kemudian melayangkan somasi terbuka kepada Om Zein dan meminta lagu tersebut ditarik dari seluruh platform digital.
LBH Jabar Somasi
Ketua LBH Jabar, Riyan Bintana, menjelaskan bahwa somasi tersebut tertuang dalam Surat Nomor 023/SOM/JBH/VII/2026.Menurutnya, lembaga yang fokus pada isu perempuan dan anak itu telah melakukan transkripsi, telaah yuridis, serta analisis semiotika hukum terhadap isi lagu.”Ditemukan fakta hukum yang tidak terbantahkan bahwa lagu tersebut memuat diksi, narasi, dan substansi yang bersifat misoginis, merendahkan derajat eksistensial manusia, serta mendegradasi harkat dan martabat kaum perempuan secara vulgar,” ujarnya dalam keterangan resmi.
LBH Jabar juga menyoroti beberapa bagian lirik yang dianggap menghina tubuh dan kesehatan reproduksi perempuan, termasuk penyebutan keguguran pada anak usia SMP, penggunaan bra, hingga keterlambatan menstruasi.
Menurut Riyan, lirik-lirik tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai kritik sosial yang sehat.Dalam surat somasi, LBH Jabar meminta Om Zein menghentikan penyebaran lagu, menghapus seluruh unggahan dari berbagai platform digital, serta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dalam waktu 3 x 24 jam.
LBH Jabar juga menyatakan akan menempuh jalur hukum apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi.”Kami akan menggunakan seluruh instrumen hukum yang tersedia, baik dengan mengajukan laporan pidana atas dugaan pelanggaran UU ITE dan UU TPKS, maupun mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) secara perdata di Pengadilan Negeri untuk menuntut ganti kerugian immateriil,” ujarnya.
Permintaan Maaf Om Zein
Karena lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” karya cipta Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein ini viral dan menjadi polemik, karena menjadi perbincangan publik, Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) sempat memanggil Om Zein untuk mendapat penjelasan langsung soal lagu tersebut dari Bupati Purwakarta sebagaimana dilansir channel youtube Kang Dedi Mulyadi.
Sebenarnya, Om Zein menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan ketersinggungan pihak lain terkait lirik lagu tersebut. Ia mengatakan tidak ada maksud untuk merendahkan atau melakukan pelecehan seksual secara verbal.”Pertama-tama, saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan ini, dan mohon maaf jika kata-kata dalam lagu itu membuat beberapa pihak ada yang tersinggung. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak mendeskripsikan siapa pun,” ujar Om Zein Binzein ditemui di Lapangan Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, dilansir detikJabar, Kamis (2/7/2026).
Dalam tayangan channel youtube Kang Dedi Mulyadi Channel https://www.youtube.com/watch?v=CyfooQ-PdRY , Om Zein menjelaskan lirik lagu itu dibuat pada 2020 saat ia masih menganggap dirinya nakal. Namun ia bersyukur menjadi seorang laki-laki yang tidak terjebak kenakalan remaja lebih dalam. Menurutnya, puisi itu merupakan refleksi perjalanan hidup dan perjalanan spiritual pribadinya saat masih menjadi seorang pengembara.”Itu berawal dari sebuah puisi yang saya buat pada tahun 2020. Saat itu dibuat oleh seorang Om Zein yang masih seorang pengembara, bukan oleh Om Zein sebagai bupati, karena tahun 2020 saya belum menjadi bupati,” ungkapnya
Om Zein menyampaikan setiap orang memiliki perjalanan spiritual, kisah hidup, hingga pengalaman cinta yang berbeda-beda. Begitu pula dirinya yang mengaku pernah berada dalam fase kehidupan yang menurutnya ‘berandalan’ atau nakal.”Dulu saya merasa dalam kategori berandalan atau nakal. Saya kemudian merenung dan berpikir, ya Tuhan, untung saya diciptakan menjadi laki-laki. Kalau menjadi perempuan bagaimana jadinya saya. Itulah yang ingin saya ungkapkan. Saat itu saja sebagai laki-laki rambut saya panjang, apalagi kalau menjadi perempuan. Hal-hal itulah yang kemudian tertuang dalam lirik lagu,” ungkapnya.
Menurutnya, puisi itu kerap ia bacakan dalam berbagai kesempatan. Hingga pada 2023, seorang seniman datang kepadanya dan meminta izin untuk mengaransemen puisi tersebut menjadi sebuah lagu.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar KDM memahami apa yang terjadi terkait lagu tersebut. ”Jadi intinya, Om Zein sudah menyampaikan yang menjadi latar belakang soal lagu itu.Artinya, itu tidak ada niat ingin menyudutkan siapapun, terutama mendiskreditkan kaum wanita. Lirik lagunya itu hanya menggambarkan dirinya sendiri, kisah hidupnya sendiri di masa lalu, kalau dia jadi perempuan.”ungkap KDM didampingi Sekda Jabar, Inspektorat Jabar dan pejabat lainnya.
Walaupun bukan kewenangannya, Gubernur KDM pada pertemuan tersebut tidak memberikan sanksi apapun. Namun, KDM meminta kepada Bupati Purwakarta Om Zein untuk memuliakan 10 orang janda muda,khususnya warga Kabupaten Purwakarta tentunya.”Saya meminta kepada Pak Bupati Purwakarta untuk membangun 10 rumah janda muda, menyekolahkan anak anaknya, dan memberikan pekerjaan.”pungkasnya.
Lirik Lagu ”Lalaki Langit, Lalanang Bejat
Lagu berbahasa Sunda berjudul ”Lalaki Langit, Lalanang Bejat” pertama kali diperkenalkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti.Saat diperkenalkan, lagu tersebut disebut sebagai ungkapan rasa syukur karena terlahir sebagai laki-laki.Belakangan, Om Zein mengunggah lagu itu melalui akun TikTok pribadinya pada 18 Januari 2026. Inilah lirik ”Lalaki Langit, Lalanang Bejat dan artinya.
- Nuhun Gusti
- Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
- Cacak mun jadi awewe
- ES-Em-Pe kelas tilu
- Tos Karuron tujuh kali
- Nuhun Gusti
- Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
- Teu kudu meuli kutang
- Nu busana leuwih gede batan susu
- Nuhun Gusti
- Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
- Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
- Alatan telat bulan
- Nuhun Gusti
- Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
- Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
- Sakalina ngiceup hese beunta
- Lalaki langit
- Lalanang bejad
Terima kasih Tuhan
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Andai saja jadi perempuan
SMP kelas tiga
Sudah keguguran tujuh kali
Terima kasih Tuhan
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah membeli bra
yang busanya lebih besar dari payudara
Terima kasih Tuhan
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tak perlu cari apotek
Karena telat datang bulan (haid)
Terima kasih Tuhan
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Tidak usah melukis alis dan bulu mata
Sekali kedip susah melek
Lelaki langit
Lelaki bejat
(REDI MULYADI/Berbagai Sumber)****








Komentar