oleh

Malik Bin Dinar (Raja Dinar)

Oleh: Abah Yusuf Bachtiar (Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong Bandung dan Tokoh Budaya Sunda)

MALIK   ia seorang raja, yang dikamar dan singgasana Dinar (mata uang emas) menjadi bantalannya. Suatu malam,  ia bermimpi, emas yang berpeti-peti tersebut menyala dan lidah apinya menyambar ke wajahnya. Sontak , Malik terbangun dan ia mendengar suara. ”Ya Malik, jika engkau ingin selamat dari jilatan api neraka diahirat nanti, maka  engkau harus bagikan Dinar tersebut pada faqir miskin.”

Esok harinya , Malik membawa karung goni yang didalamnya dinar, setiap bertemu satu fakir miskin , diberinya satu dinar, setelah habis satu karung, esok harinya ia, cari lagi di setiap sudut kota fakir miskin dan ia memberi sekeping dinar. Begitu seterusnya hingga Dinar habis tak ada sekepingpun di istananya.

Setelah Dinar habis terbagikan, Malik mendengar suara lagi, ya malik amal kebajikan telah menyelamatkanmu dari jilatan api neraka. Sekarang engkau harus pergi ke satu pulau yg kosong, agar engkau lebih banyak mendengar suara bisikan yg menyelamatkanmu. Malik pergi berjalan kaki, hingga kakinya melepuh dan pakaiannya yg lusuh mulai ada yg sobek. Sampai di dermaga, untuk naik kapal, dikenakan tarip satu Dinar. Malik tak memilikinya , suara gaib datang menyuruhnya ke pinggir pantai dan memohon pada Allah , agar ikan -ikan membewa sekeping dinar. Malik munajat, selesai munajat ikan- ikan berdatangan membawa sekeping Dinar. Malik hanya butuh satu keping  ia mengambilnya dari mulut ikan satu saja. Setelah itu, ikan yang mengantarkan dinar dan rombongannya menghilang dikedalaman lautan. Malik serahkan sekeping dinar agar ia bisa numpang dan menuju pulau. Akhirnya, Malik sampai di pulau tersebut. Di pulau kosong tersebut, datanglah seorang tua yang ditangannya ada lembaran-lembaran al Quran. Orang yang berpakaian putih, berkata “Ya Malik, aku berpesan padamu:

“Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka bacalah Al-Qur’an. Barangsiapa yang ingin mendengar perkataan Allah, maka bacalah Al-Qur’an.”

Orang tuapun menghilang, Malik  hanya ingat kata-kata orang tua tersebut. Setiap  waktu, ia manfaatkan untuk beribadah dan membaca Al Quran.

Penduduk , Persia, Iran,  heboh  karena sang Raja yang jadi tuannya hilang, setelah Dinar di istana habis dibagikan pada fakir miskin. Malik setelah ditempa dipulau tersebut, dan ia mendapat perintah harus segera kembali  untuk menyampaikan kebenaran al Quran dan membimbing rakyatnya agar selamat dunia akhirat..

Malik bin Dinar  adalah seorang ulama, ahli hadist, dan salah satu tokoh sufi terkenal di awal sejarah Islam. Ia lahir pada abad ke-7 M di wilayah Persia (sekarang Iran) dan wafat sekitar tahun 748 M di Basra, Irak. Malik bin Dinar dikenal sebagai salah satu Tabi’in, yaitu generasi setelah Sahabat Nabi, dan merupakan murid dari beberapa sahabat Nabi, termasuk Anas bin Malik.

Keutamaan Malik bin Dinar:

  1. Zuhud dan Kesalehan: Malik bin Dinar dikenal karena kezuhudannya (ketidakpeduliannya terhadap dunia) dan kesalehannya. Ia sering kali menghabiskan waktu dengan beribadah, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an.
  2. Ahli Hadis: Malik bin Dinar adalah seorang ahli hadist yang terpercaya. Ia meriwayatkan hadis dari beberapa sahabat Nabi, dan hadis-hadisnya diriwayatkan oleh banyak ulama besar, termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim.
  3. Sufi dan Tasawuf: Malik bin Dinar sering dikaitkan dengan gerakan tasawuf awal. Ia menekankan pentingnya cinta kepada Allah, introspeksi diri, dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
  4. Karya dan Nasihat: Banyak nasihat dan kata-kata bijaknya yang diriwayatkan, terutama tentang pentingnya takwa, introspeksi, dan menjauhi dosa. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah: “Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka bacalah Al-Qur’an. Barangsiapa yang ingin mendengar perkataan Allah, maka bacalah Al-Qur’an.”

Malik bin Dinar hidup di Basra, yang pada masa itu menjadi pusat keilmuan dan spiritualitas Islam. Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam, terutama di bidang tasawuf dan pendidikan agama.

Semoga kisah  Malik bin Dinar, menjadi pelajaran berharga bagi para pembaca, pemerhati Agama, dan pecinta ilmu serta para dernawan.

Cag!@Abah Yusuf-Doct//Kabuyutan

19 Jumadil Awal 1447 H – 12 November 2025 M

Komentar