Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S. (Rektor IKOPIN)
Pendahuluan: Warisan Pahit Kolonialisme Ekonomi
Mereka menjajah kita dua kali: pertama dengan senapan, kedua dengan dogma. Liberalisme, pasar bebas, korporatisasi dan globalisasi—adalah mantra yang dipaksakan melalui policy coercion (pemaksaan kebijakan), persis seperti kritik Ha-Joon Chang dalam Bad Samaritans: The Myth of Free Trade and the Secret History of Capitalism. Buku ini terbit tahun 2007 ketika Chang menjadi profesor di Cambridge University.
Dalam buku ini, Chang mengkritik keras dogma neoliberal dan menunjukkan bagaimana negara-negara maju sebenarnya menggunakan proteksionisme dan intervensi negara untuk membangun kekuatan ekonominya—berlawanan dengan nasihat yang mereka berikan kepada negara berkembang. Ia menyebut negara-negara kaya sebagai “Bad Samaritans” karena mendorong kebijakan yang justru menghambat pembangunan negara miskin.
Chang membongkar hipokrisi:
· Negara maju melindungi industri mereka saat berkembang, tetapi memaksa kita membuka pasar.
· AS dan Eropa mencapai kejayaan via proteksionisme, tetapi menyuruh kita berliberalisasi.
· Krisis 1998 adalah buah pahit dari resep yang memaksa liberalisasi finansial prematur.
Ini bukan kesalahan sistem, tapi perilaku Bad Samaritans yang terstruktur.
Bangkit dari Reruntuhan: Kekuatan Kolektif yang Dikerdilkan
Sementara IMF dan Bank Dunia memaksa kita menyelamatkan konglomerat, di pedalaman Kalimantan, Credit Union Keling Kumang membangun kedaulatan diam-diam. Mereka menolak dogma free market fundamentalism.
Data yang bertolak belakang dengan pemikiran Barat yang kita ikuti selama ini:
· 230.000 orang anggota mandiri
· Rp 2,23 triliun aset tanpa utang luar negeri atau utang bank
· 72% petani sebagai anggota dan pemilik koperasi. Ini bukti petani benar kecil usahanya tetapi kalau bersatu menjadi kuat sekali. Model ini sama dengan model yang telah terlebih dahulu berkembang di Amerika Serkat (CHS, Land O’Lakes dan masih banyak lagi; Zen-Noh di Jepang dan Nonghyup di Korea Selatan, menyebut beberapa contoh).
Mereka membuktikan: ekonomi kerakyatan bukan mitos—tetapi senjata melawan penjajahan model baru.
Gelombang Kondratieff VI: Momen Tropikanisasi
Gelombang Kondratieff adalah siklus teknologi dan ekonomi global setiap 40–60 tahun. Kita kini memasuki gelombang ke-6.
Gelombang ekonomi baru sekarang adalah—AI, bioteknologi, energi hijau, kesehatan holistik, nano teknologi, teknologi lingkungan dan koperasi. Kawasan tropika berpotensi besar memanfaatkan gravitasi ekonomi baru ini.
Tapi kita akan kembali dijajah dengan techno-colonialism, apabila kita tidak membangun warisan institusi leluhur yaitu koperasi, dengan melakukan:
· Menjual algoritma iklim temperate untuk gambut tropis
· Mematenkan gen tanaman obat nusantara
· Memaksa kita impor panel surya untuk energi tropis
Tropikanisasi sebagai jawaban:
° Bioteknologi tropis: Jamu modern dengan nano-encapsulation
° AI gambut: Sensor cerdas buatan Institut Teknologi Keling Kumang
° Energi desa: Solar grid mandiri berbasis koperasi
° Kesehatan holistik berbasis keanekaragaman hayati
° Menjadikan panas, lembab, sinar matahari, keanekaragaman hayati dan keanekaragaman sosial budaya sebagai “mesin alami” kedaulatan pangan dan kemakmuran tropika.
Perilaku Bad Samaritans Abad 21:
Data terbaru memperlihatkan kelakuan bad samaritans modern:
· Apple menghindari pajak USD 100 miliar via double Irish with Dutch sandwich
· Nestlé mematenkan genetik padi lokal India dan Afrika (biopiracy)
· Shell dan Exxon tutupi data perubahan iklim selama 40 tahun sambil eksploitasi energi fosil Global South.
° perang dagang antar-negara yang dipaksakan oleh negara adikuasa.
Model Kedaulatan Kooperatif-Tropis: Sintesis Penyelamatan
Model ini adalah antitesis dari Bad Samaritans:
1. Kooperatisasi = Proteksionisme Kerakyatan
Seperti Jerman dan AS di abad 19 yang melindungi industri nasional, kita lindungi koperasi dengan kebijakan afirmatif.
2. Tropikanisasi Teknologi
Menciptakan teknologi tropis:
· Algoritma pertanian tropika
· Biokonversi sebagai basis ekonomi sirkular tropika
· Teknologi pengolahan pangan tropika
3. Kemandirian Finansial
Modal dari rakyat, untuk rakyat—seperti CU Keling Kumang yang tumbuh tanpa utang dari bank apalagi utang luar negeri.
Langkah Strategis: Dari Teori ke Aksi
1. Replikasi Koperasi Kredit Keling Kumang
Koperasi Kredit Keling Kumang tidak hanya mengelola aset, tapi juga membangun sistem pendidikan, kesehatan, dan teknologi lokal berbasis nilai Dayak.
Andaikan Keling Kumang direplikasi untuk Indonesia. Andaikan dari 280 juta penduduk, 200 juta orang dari padanya menjadi anggota Koperasi Bangun Indonesia yang mandiri berbasis teknologi—proteksi industri kerakyatan seperti yang dilakukan Korea Selatan di era 1970-an. Kita akan mendapatkan gambaran sebagai berikut:
1. Populasi Indonesia saat ini (perkiraan 2025) sekitar 280 juta jiwa
2. Ukuran satu unit koperasi Keling Kumang
– Anggota: 230.000 orang
– Aset: Rp 2,23 triliun
3. Jumlah koperasi yang dibutuhkan:
1.217 unit koperasi
Jadi, dibutuhkan sekitar 1.217 koperasi seukuran Koperasi Kredit Keling Kumang untuk mencakup seluruh penduduk Indonesia.
4. Total aset nasional menjadi:
1.217 ujit x Rp 2,23 triliun = Rp 2.714,91 triliun
Total aset: Rp 2.714 triliun atau Rp 2,7 kuadriliun rupiah.
Konversi ke dolar (kurs Rp 16.000 per USD) menjadi:USD 169.68 miliar
Jumlah ini hampir mencapai 40% dari total utang luar negeri Indonesia pada tahun 2025 yaitu sekitar USD 433 miliar.
Makna naratif untuk Tropikanisasi
Bayangkan:
– 1.217 koperasi berbasis komunitas, spiritualitas, dan kedaulatan lokal
– Masing-masing mengelola aset triliunan rupiah
– Terhubung dalam federasi tropikal yang saling mendukung, bukan bersaing
– Menggantikan model ekstraktif dengan model regeneratif
Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kerangka alternatif pembangunan nasional—berbasis spiritual, tanah, dan solidaritas tropika.
2. Institut Teknologi Tropika
Lahirkan insinyur-insinyur tropika yang mengembangkan teknologi berdasarkan karakteristik intrinsik tropika (panas, lembab, basah, keanekaragaman hayati, keanekaragaman sosial budaya, kehadiran matahari setiap hari sepanjang tahun, plus struktur kepulauan bagi negara seperti Indonesia —yang fokus pada teknologi adaptif dan inovatif tropika.
3. Kebijakan Pro-Koperasi
Tolak Foreign Trade Agreement (FTA) yang mematikan koperasi.
4. Jaringan Global Ekonomi Tropika
Ekspor tropical technology ke Afrika dan Amerika Latin—menjadi Good Samaritan yang tidak hipokrit.
Penutup: Revolusi Dimulai dari Bawah
Mereka bilang kita melawan arus.
Mereka bilang koperasi tidak kompetitif.
Tapi mereka lupa:
· Ha-Joon Chang membongkar kebohongan sistem kapitalisme antara negara kolonial dengan negara bekas jajahan.
· Steve Jobs membangun Apple dari garasi.
· Koperasi Kredit Keling Kumang membangun triliunan rupiah tanpa utang bank apalagi utang luar negeri dengan 72 % anggotanya para petani di pedalaman Kalimantan Barat.
Berdasarkan sejarah dan data—kitalah yang benar.
Mari tolak jadi Bad Samaritans—jadilah Good Cooperators.
Mulailah dari desa. Bangun koperasi. Ajarkan tropikanisasi. Bentuk federasi. Revolusi tropis dimulai dari tanah yang kita injak.
“Setiap negara yang sukses melindungi industri domestiknya saat berkembang—termasuk AS dan Inggris. Tapi mereka memaksa kita membuka pasar.”
– Ha-Joon Chang, Bad Samaritans
“Tropikanisasi-kooperatisasi adalah penyelamatan terhadap penjajahan model baru.”
– Multatuli dalam semangat perlawanan kolonialisme
Ciburial, 7 September 2025









Komentar