Kab.Tasik LINTAS PENA – Belakangan ini marak kasus bullying atau perundungan terjadi, khususnya di lingkungan sekolah. Membuat miris kondisi dunia pendidikan pada saat ini, sehingga pembinaan dan pengawasan ekstra sangat diperlukan oleh semua pihak, baik dari pihak guru selaku Pendidik ataupun orang tua siswa dan masyarakat serta lembaga terkait.
Antisipasi untuk mencegah hal tersebut, SMKN Rajapoah mengambil sikap untuk terus mensosilisasikan dan meningkatkan pembinaan kepada semua siswa-siswi dengan menggelar acara sosialisasi intensif terkait bullying.
Wakasek Kesiswaan Toni Sukandar S.Pd, MM. dan Pembina kesiswaan SMKN Rajapolan Januar Prayitno S.Pd mengatakan, bukan hanya kepada siswa-siswi, namun acara terkait bullying itu juga dikhususkan kepada semua guru yang ada di sekolahnya.
“Makanya kita adakan sosialisasi intensif sebulan sekali terhadap siswa dan guru. Kita mengundang ahlinya dan juga pihak TNI/ POLRI” ujar Toni Sukandar S.Pd, MM. kepada Lintaspena selasa (3 /10/2023).
Dia menambahkan, selain sosialisasi intensif, pihak sekolah juga selalu mengingatkan kepada siswa-siswi untuk menghindari bullying dalam bentuk verbal. Sebagai contoh, memanggil teman dengan nama orang tua, menghina dengan panggilan-panggilan yang merendahkan, melecehkan dengan kata-kata yang menyakitkan perasaan dan lain sebagainnya.
“Makanya secara pribadi selalu mengingatkan kepada anak-anak (siswa/siswi) terutama pada saat pembinaan waktu upacara bendera, jadi habis upacara, mereka tidak masuk kelas terlebih dahulu, tapi ada pembinaan, himbauan dan arahan jika menemukan tindakan bullying baik kepada pribadinya atau kepada rekan yang lainnya, apalagi jangan sampai kalian (siswa-siswi) melakukan penghinaan kepada teman lain dengan cara apapun.” papar Toni Sukandar S.Pd, MM, yang di dampingi Pembina kesiswaan , Januar Prayitno, dan Pembina OSIS, Sandi Muharom Permana. S.Pd.I.
Pihak sekolah, lanjut dia, selalu mengontrol, terutama pada saat kegiatan siswa dan didampingi oleh pembinannya, Misalnya, latihan kepemimpinan OSIS, ekstrakurikuler, dan lainnya.“Jangan sampai pada saat ada kegiatan itu mereka ada tindakan kekerasan, sehingga berpeluang terjadi bullying disana. Nah, kita selalu mengingatkan itu, agar pembina dipastikan ada di dalam kegiatan tersebut, jika tidak, kami tidak menyetujui kegiatan tersebut,” jelas Toni Sukandar S.Pd, MM. Wakasek Kesiswaan.
Hal yang sama di ungkapkan Tata Suhendar S.Pd, Guru Program Keahlian TJKT Dia berpendapat, bullying itu memang sulit dihindari, apalagi dengan maraknya pemberitaan di media, yang bisa saja menjadi inspirasi bagi anak, sementara banyak kesempatan siswa tidak terpantau oleh pihak guru, akan tetapi pihak sekolah juga mengusahakan dengan maksimal agar kasus-kasus bullying tidak terjadi di sekolahnnya.
“Bullying itu sangat merugikan semua orang. Makanya, kami pihak sekolah selalu melakukan pembinaan, supaya jangan sampai terjadi bullying di sekolah,” tambahnya.
Tata Suhendar menambahkan, bahwa setiap ada kasus bullying, pihak sekolah selalu berupaya menyelesaikan secara sinergis bersama unsur-unsur terkait di setiap kejadiannya. “Jika ada laporan kasus bullying, Saya menghubungi guru BP/BK, bagaimana soslusinya, dan guru BP/BK pun selalu membantu menyelesaikan masalah siswa baik terkait secara program bimbingan maupun memberikan pengawasan dan pendampingan psikologis ,” ucapnya.
Dia menambahkan, bahwa dengan adanya guru BP/BK, siswa-siswi itu merasa nyaman. Guru BP/BK fungsinya untuk mengetahui dan memahami perilaku dan juga memberikan konseling kepada siswa.“Bullying itu bahaya, dapat merusak mental anak, dapat mengganggu pola pikir anak,” pungkasnya.( JOHAN. R)








Komentar